Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 25



"Dia membutuhkan transfusi darah secepatnya. Kadar darah merahnya sudah berada di bawah rata-rata. Ini disebabkan karena dia kurang tidur dan kurang beristirahat. Gula darahnya juga rendah," kata seorang dokter saat memeriksa Jenna yang tak sadarkan diri sore itu.


Zac dan Ortega menawarkan darahnya untuk diperiksa oleh dokter. "Ambil darah saya saja, Dok," ucap mereka bersamaan.


Dokter itu tersenyum. "Nona Lake bergolongan darah O dengan rhesus positif. Siapa yang golongan darahnya sama dengan Nona Lake, bisa daftarkan diri kalian ke perawat yang berada di nurse station."


"Aku tidak bisa. Tapi, aku akan mencari darah dengan golongan yang sama dengan Jenna supaya malam ini, dia sudah bisa menerima transfusi," ucap Zac. Dia segera menyambar tas dan mengambil ponselnya. Tak lama, terdengar suara pria itu sedang bercakap-cakap dengan seseorang.


Ortega melihat Jenna yang sedang terpasangi infusan. Dia teringat kata-kata Volkov, darah mereka tidak dapat tercampur atau, Jenna dapat mengingat segalanya dan Ortega pun menjadi tergantung pada gadis itu.


Tiba-tiba saja, Volkov datang menghampirinya. "Ingat, kau tidak bisa mencampur darahmu dengan darahnya, Ortega,"


"Aku tidak bisa membiarkan dia seperti ini terus! Hatiku sakit rasanya!" tukas Ortega sambil mencengkeram pembatas ranjang dengan kuat.


Volkov mengangkat kedua bahunya. "Semua keputusan ada padamu, Ortega. Kau bebas melakukan apa saja sesukamu. Saat ini, yang bisa aku cium darimu hanyalah rasa cintamu yang menggebu-gebu padanya. Luar biasa,"


"Jadi?" tanya Ortega.


Volkov kembali mengangkat kedua bahunya. "Terserah. Aku sudah memperingatkan,"


Ortega kembali melihat Jenna. Dia memegang tangan gadis itu. "Aku sudah memutuskan, ka-,"


"Apa yang kau pikirkan? Kau mau gerbang dunia kita terbuka kembali dan segalanya tercampur aduk di sini? Kepergian kita kali ini tidak terdeteksi oleh siapa pun! Bahkan rajamu dan Artemis!" tukas Volkov kesal. Matanya menatap tajam pada Ortega.


Pria itu kembali berpikir. Dia tidak ingin, Jenna menghadapi bahaya lagi, tetapi dia ingin gadis manusia itu sehat dan mengingatnya kembali.


Ortega mengetuk-ngetukan jarinya dengan cepat ke pembatas ranjang. "Eerrgghh! Biarlah itu terjadi!"


Ketika Ortega sudah siap menancapkan taringnya di leher Jenna, Zac masuk ke dalam ruangan Jenna. Seketika itu juga, Ortega menyembunyikan taringnya.


"Kita dapat pendonor! Syukurlah, Jen! Syukurlah," ucap Zac, dia menggenggam tangan Jenna dan mengecup punggung tangannya.


Raut wajah Zac tampak khawatir sekaligus lega begitu ada salah satu dari temannya yang berkenan menyumbangkan darahnya untuk Jenna. Tak lama, dia pergi keluar kembali. "Aku akan memberitahukan ini kepada para perawat. Tolong jaga cintaku,"


"Ci-, cintamu?" tanya Ortega. Namun saat itu, Zac sudah berlari keluar ruangan. "Cih!"


"Kau lihat, keberuntungan belum memihakmu, Ortega. Aku pergi," ucap Volkov yang tiba-tiba saja menghilang dengan mendadak, sama seperti saat dia datang. Tiba-tiba saja muncul di hadapan Ortega.


Beberapa hari kemudian, Jenna pun diperbolehkan pulang oleh dokter. Berkat pendonor yang baik hati, akhirnya Jenna berhasil melewati masa kritisnya. Wajahnya kini terlihat lebih cerah dibandingkan dengan sebelumnya.


"Hei, kau menjengukku juga, Pria Asing?" tanya Jenna tersenyum saat dia melihat Ortega datang dengan membawa satu tas kertas cokelat yang cukup besar berisi mie cup.


Ortega membalas senyuman Jenna. "Aku membalas kebaikanmu malam itu, Jenna. Ini untukmu,"


"Hahaha, dia banyak mendapatkan tips dari para tamu wanita dan dia berniat membelikanmu sesuatu untuk dibawa ke sini,"


"Mr. Klaus? Terima kasih atas kunjungan kalian. Aku sangat menghargainya," ucap Jenna.


Dia menerima semua hadiah dan cinta dari mr. Klaus dan Ortega. Ada beberapa yang memberikan Jenna kotak cokelat, buket bunga, dan sisanya adalah makanan.


Volkov memberikan sekotak besar cokelat dengan pesan yang cukup panjang. Entah darimana pria itu mendapatkan uang untuk membeli cokelat sebanyak itu.


Jenna mengulurkan tangannya kepada Ortega. "Kita belum berkenalan secara resmi. Siapa namamu?"


"Ortega," jawab Ortega dengan senyum lebar.


Jantung Jenna kembali bergemuruh saat melihat senyum Ortega. Pria itu terlihat tampan sekali dengan balutan kemeja putih polos dan celana panjang hitam.


Tiba-tiba saja, bayangan hitam sekelebat muncul di benaknya. Dia memegangi kepalanya. Ortega dan mr. Klaus nampak panik.


Mr. Klaus menekan tombol perawat dan meminta mereka untuk segera datang. Suara-suara itu terdengar semakin menjauh. Sekelebat bayangan hitam kembali muncul dan melayang. Jenna memejamkan kedua matanya.


Volkov datang dan menarik Ortega untuk menghilang dari ruangan itu untuk sementara. "Kenapa kau menarikku!"


"Gadis manusia itu sedang mengingat kita! Kalau dia berhasil mematahkan kutukan itu, berarti dia memiliki kekuatan. Entah apa itu. Mungkin keluarganya keturunan penyihir dan dia bukan manusia seutuhnya," tutur Volkov.


Ortega melihat Jenna dari kejauhan. "Maksudmu, dia seperti kita?"


"Ya. Kau ingat saat kita memberikan darah kepadanya di malam itu? Seharusnya, dia hanya memiliki satu kekuatan. Kekuatanku sebagai manusia serigala atau kekuatanmu sebagai seorang vampir. Tapi, ternyata dia memiliki empat kekuatan! Dan bahkan, dia mampu mengontrol dirinya sendiri! Itu gila!" ucap Volkov.


"Begitukah?" tanya Ortega. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


"Jauhi dia!" jawab Volkov tegas.


"Mimpi buruknya akan datang di malam hari dan hanya aku yang bisa menangkap mimpi buruknya," kata Ortega. "Lagi pula aku tidak bisa menjauh darinya. Ada monster di dalam diriku yang meraung-raung kalau aku menjauh dari Jenna. Apalagi ketika aku melihat kedekatan antara Jenna dengan Zac," jawab Ortega putus asa.


Volkov meraung di hadapan Ortega. Wajahnya tampak seram dan kedua manik matanya berubah menjadi menyeramkan. "Buang rasa cintamu! Saat itu, sudah kukatakan kepadamu, hubungan kau dengan manusia itu, tidak akan pernah berhasil, Ortega! Kami, para manusia serigala dapat mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan dan kalian, tidak bersama!"


"Itu masa depan yang ada dalam pikiranmu, tapi masa depan yang ada di depanku, hanyalah dia! Kembalilah! Aku tetap tinggal di sini! Aku tidak pernah memintamu untuk menyusulku, kau yang selalu mengikutiku, Volkov! Pergilah!" ucap Ortega dan dia kembali melayang masuk ke dalam ruangan Jenna, yang kini sudah dipenuhi oleh dokter dan perawat. Wajah panik tercetak jelas pada wajah Zac dan Mr. Klaus.


Volkov menghampirinya dan mendekat. "Jika dia selalu bersamamu, dia akan selalu berada dalam bahaya. Sadarlah, Ortega! Kau atau dia yang akan mati!"


"Tidak ada yang boleh mati! Aku dan dia, tidak akan mati, Volkov! Mau dia penyihir, drakula, peri, atau apa pun itu, aku akan tetap di sampingnya! Aku akan merubah masa depan kami!" tegas Ortega. Dia memunculkan dirinya di ruangan itu dan bergabung bersama para dokter dan perawat untuk melihat bagaimana kondisi gadis manusia yang dicintainya itu.


...----------------...