Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 55



Matahari mulai memunculkan sinar hangatnya. Namun, tidak kepada Adrian. Pria itu masih merasakan sisa rasa malam yang mencekam dan dingin, hingga pagi ini. Saat Jenna terjatuh, dia segera berlari menghampiri gadis itu dan mendekapnya erat. "Jenna! Hei, Jen! Ini aku, sadarlah!" tukas Adrian sambil memeluk gadis yang dia cintai itu.


Jenna terus merintih kesakitan, entah apa yang dia rasakan saat itu. Setelah kemarahannya membuncah, kini gadis itu terjatuh, meringkuk, dan merintih kesakitan.


Tiba-tiba, Adrian teringat ucapan Kamila yang mengatakan Ortega dan Jenna saling terhubung, begitu pula dengan Volkov. Apakah ini berarti terjadi sesuatu kepada salah satu dari mereka?


Adrian mengangakat Jenna ke atas ranjang dan membaringkan gadis itu di sana. Setelah itu, dia mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Kamila yang masih berada di kastil.


Satu kali dering,


Dua kali dering,


Tiga kali dering,


Adrian pun tersambung dengan pesan suara dan dia segera mematikan panggilannya itu. Kemudian dia menatap Jenna dan melihat gadis itu jauh lebih tenang dan dia tertidur.


Pria itu menyelimuti Jenna dan dia berjalan keluar. "Hei, apa kami akan mendapatkan sarapan?" tanyanya pada pria penjaga hotel tersebut.


Pria penjaga itu memberikan selembar kertas yang dilaminating seadanya bertuliskan jenis-jenis makanan yang merek hidangkan. "Pilih saja, nanti akan kuantar,"


"Bawakan apa saja, setelah itu tolong tinggalkan di depan pintu kamar. Aku ada keperluan sebentar dan harus meninggalkan istriku. Dia masih tertidur, kau tau? Kami pengantin baru, jadi baru tidur menjelang pagi. Aku tidak mau membangunkan dia." Adrian mengeluarkan dompetnya dan menarik beberapa lembar uang kertas. "Ini tip untukmu,"


Pria penjaga itu menyeringai lebar. "Thank's. Akan kukerjakan sesuai instruksi,"


Setelah itu, Adrian bergegas keluar dari hotel berbangunan tua itu. Dia berjalan menuju kastil tua, tempat pesta dansa diadakan. Pagi itu, jalanan sangat bersih, tidak tampak darah atau bekas pertarungan.


Jarak hotel tua tempat mereka menginap, tidak terlalu jauh dengan kastil. Sehingga setelah beberapa meter Adrian berjalan, bangunan kastil yang menjulang itu sudah terlihat.


Adrian mempercepat langkahnya dan setibanya dia di depan pintu gerbang kastil yang sudah ambruk setengahnya itu, dia kembali menghubungi Kamila.


Lagi-lagi, wanita ketimuran itu tidak menjawab panggilannya. Adrian melompati gerbang itu dan berjalan masuk ke dalam dengan senapan di tangannya.


Kastil itu tampak tidak berpenghuni dari luar dan Adrian juga tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di dalam kastil itu. Begitu sampai di depan pintu berpilar besar kastil itu, Adrian mengetuk pintunya. "Hallo! Kamila!" tukasnya.


Tidak ada jawaban dari dalam, tetapi Adrian terus mengetuk pintu itu sambil memanggil-manggil semua nama yang dia kenal tanpa lelah.


Namun kesabarannya yang tipis dan buku jarinya mulai sakit karena terus mengetuk, dia menendang pintu kayu kokoh itu. Dia terus mencoba menendang, sampai akhirnya dia mendobrak pintu itu dengan tubuh kekarnya.


"Yes!" Adrian merayakan kemenangannya saat pintu itu terbuka lebar. Dia membiarkan pintu itu terbuka lebar karena entah mengapa, firasatnya tidak enak saat dia memasuki kastil itu.


"Hallo! Kamila! Ortega!" seru Adrian.


Kastil itu gelap gulita, Adrian terpaksa mengaktifkan penerangan dari ponselnya untuk dapat melihat dalam kegelapan yang menggelayut memenuhi ruangan itu.


Adrian menemukan sebuah jendela panjang dan dia membuka tirai yang menutupi jendela itu. Terdengar suara dengkuran menyeramkan dari dalam.


"Grrr!"


Adrian mengarahkan senapannya ke arah suara. "Siapa di sana?"


Napas pria itu memburu. Andaikan ada belasan feral, dia pasti akan kalah tanpa perlawanan. Adrian memincingkan matanya supaya dapat melihat dengan lebih jelas.


Perlahan, dia berjalan kembali dan masuk ke dalam kastil lebih dalam. "Kamila!"


"Hallooooo, ...!"


Tanpa dia sadari, beberapa pasang manik berwarna merah sedang mengawasinya dan menatapnya dengan tatapan lapar.


"Ortega! Hei, keluarlah! Aku malas mengakui ini sebenarnya, tapi Jenna membutuhkanmu! Keluarlah jika kau masih hidup!" tukas Adrian. Dia merasa sedikit bodoh karena berbicara sendiri.


Karena tak ada jawaban, Adrian berbalik arah dan berniat mencari teman vampirnya di bagian ruangan lain dari kastil itu.


Saat Adrian berjalan, dia mendengar suara langkah kaki berderak di belakangnya. Pria itu juga dapat merasakan deru napas berat di ceruk lehernya.


Perlahan, Adrian berbalik dan dia mengumpat keras saat melihat Kamila berdiri di belakangnya dengan kedua taring mencuat dan manik matanya yang merah menyala. "Shitt!"


"Grrrr!" geram Kamila.


Adrian berlari ke arah pintu keluar secepat mungkin. Dia tidak ingin melukai Kamila atau siapa pun yang berada di dalam kastil ini.


Namun, langkahnya terhenti begitu dia melihat sekumpulan orang yang dikenalnya, menatap ke arahnya dengan tatapan lapar dan liur menetes dari sudut bibir mereka.


Netranya bertemu dengan Ortega yang sedang memiringkan kepala ke arahnya. Hanya dia dan Volkov yang tidak bertaring. Mungkinkah, mereka mengontrol vampir-vampir lainnya?


Adrian teringat pada Jenna, apa yang terjadi pada gadis itu? Tiba-tiba perutnya serasa mulas, membayangkan Jenna mendobrak pintu dan menggigit pria tua penjaga hotel. "Ortega, sadarlah! Jenna membutuhkanmu!"


Akan tetapi, Ortega seperti tidak paham apa yang dibicarakan oleh Adrian. Pria itu pun kembali berlari begitu beberapa vampir mengejarnya. "Shitt!"


Dia berlari dengan cepat menuju jendela kaca besar dan menutup tirainya, dia tidak ingin teman-temannya meleleh karena sinar matahari dan dia berlari lagi hingga menemukan pintu keluar.


Dalam hatinya, dia bersyukur karena telah membiarkan pintu utama itu tetap terbuka. Adrian pun keluar dan menutup pintu utama tersebut dan berlari lagi sampai ke hotel tempatnya menginap. Yang dia khawatirkan bukan Jenna, melainkan pria penjaga hotel dan tamu-tamu yang menginap di sana.


Setibanya di hotel, Adrian tidak menemukan si pria tua itu dan dia segera berlari ke kamar yang sudah dia sewa. "Shitt! Bertahanlah, Jen!"


Hatinya mencelos saat melihat pria penjaga hotel terduduk lemas di depan pintu kamarnya. "Hei, Tuan! Tuan, bangunlah! Apa yang terjadi?"


Adrian memeriksa ceruk leher pria itu dan dia menghela napas lega. Tidak ada luka bekas gigitan. "Hei, Tuan!"


Pria itu terbangun dan memegang Adrian dengan kedua tangannya yang gemetaran ketakutan. "Istri Anda, Tuan! Aku mengantarkan sarapan dan tiba-tiba saja, pintu ini terbuka dan seolah-olah ada yang menariku untuk masuk ke dalam. Istri Anda, matanya berwarna merah dan dia, ... Dia menyerangku! Makan dan segeralah pergi dari sini!"


Adrian membuka pintu itu dan Jenna sudah melayang di langit-langit, persis dengan Ortega dan Volkov. "Jenna, kendalikan dirimu! Ini aku, turunlah,"


Adrian mengulurkan tangannya ke arah Jenna dan dia menarik salah satu kaki gadis itu. Jenna terjatuh di atas pangkuannya. Kedua mata gadis itu berwarna merah darah mengerikan.


Sesaat, Adrian teringat Jenna mencium Ortega saat kekasih vampir gadis itu bertengkar dengannya. Maka, Adrian mendaratkan bibirnya pada bibir Jenna.


Seperti kelaparan, Jenna menyambut bibir Adrian dan menyesapnya dengan rakus. Pagutan Jenna membuat Adrian lupa segalanya. Gadis itu mengendalikan permainan. Dia mengangkat Adrian dan menjatuhkannya ke atas ranjang dan dia segera menduduki pria itu.


Dengan liar, Jenna kembali memagut Adrian. Ciumannya menurun ke dagu, dan sampailah dia di ceruk leher Adrian. Tanpa peringatan atau aba-aba, Jenna menancapkan taringnya di ceruk leher pria itu dan menyesapnya.


"Aargghh, Je-, Jen, ... Ka-, kau, ...." rintih Adrian.


...----------------...