Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 59



Satu tahun kemudian,


Di sebuah gedung bertingkat yang megah dan mewah, tampaklah kehidupan perkantoran yang cukup sibuk. Beberapa orang berlalu lalang dengan membawa beberapa cup kopi di tangannya dan satu tas besar roti lapis di tangan yang lainnya.


"Pagi, Grace. Pesananmu satu kopi hitam tanpa gula dan roti lapis dengan roti gandum isi tuna, keju, beacon, dan pickels," sapa si pembawa makanan itu.


"Thank's," ucap Grace tanpa melihat ke arah pembawa makanan.


Beberapa lainnya sedang mendorong rak kecil berisi gaun serta beberapa potong pakaian dalam beberapa model. Sedangkan yang lainnya, terlihat tenang di ruang rapat.


"Jadi, kau bisa mengatur acara itu tepat waktu, 'kan? Aku tidak akan mentolerir keterlambatan setengah detik pun! Kau paham, Jen?" tanya seorang wanita dengan kacamata tebal dan wajah timur yang khas.


"Sejauh ini, predikatmu cukup baik. Jangan sampai, kau menodai prestasimu!" sahutnya lagi.


Seorang gadis dengan kacamata hitam di pucuk kepalanya serta kalung bulan sabit nenggantung indah di lehernya, mengangguk. "Aku tau dan kau tau, 'kan, aku sudah menyerahkan seluruh hidupku di sini, bersamamu."


"Thank you, Jenna, aku hanya mengantisipasi kesalahan. Kau tau sendiri bagaimana Lucy, 'kan? Pagi ini juga akan mengumumkan rencana minggu fashion kita di beberapa negara dan kuharap, kita bisa bekerja sama serta memperluas circle kita. Tolong kerja sama dari kalian. Sekian rapat hari ini, selamat bekerja," ucap wanita pemimpin rapat pagi itu.


Semua yang ada di ruangan itu mengangguk dan segera membubarkan diri. Gadis bernama Jenna keluar paling akhir, dia menghampiri wanita pemimpin rapat itu dan berbisik padanya. "Kau akan mengadakan fashion week dalam waktu dekat ini?"


Wanita yang memiliki kecantikan yang unik itu mengangguk. "Ya, ada masalah?"


"Kau lupa, aku akan menikah? Ayolah, Kamila! Seluruh kantor ini tau kalau aku dan Adrian akan menikah," keluh Jenna. "Kami sudah mengundur pernikahan kami hanya karena jadwalmu yang padat,"


Kamila memutar kursinya hingga netranya bertemu dengan manik kecokelatan milik Jenna. "Aku tidak lupa. Silahkan kalau kau ingin menikah. Tidak ada larangan, 'kan? Menikahlah saat waktu kalian luang,"


Kamila melambaikan tangannya ke arah luar pintu, memberi tanda untuk Jenna agar segera keluar dari ruang rapat tersebut.


Hubungan Jenna dengan Adrian sudah cukup lama dan mereka merencanakan akan menikah dalam waktu dekat ini. Namun entah mengapa, setiap kali mereka sudah menentukan tanggal, ada saja yang membuat mereka terpaksa memundurkan jadwal pernikahan mereka.


Jenna hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar komentar dari Kamila. "Baiklah, aku akan menikah di acara fashion week. Seluruh dunia akan tau kalau asistenmu menikah dengan CEO perusahaanmu,"


"Baiklah, baik! Menikahlah setelah fashion week!" tukas Kamila panas.


Seringai lebar terpatri di wajah Jenna yang sempat mengeras. Dia merayakan kemenangannya seperti pemain sepak bola yang berhasil memasukkan bola ke gawang lawan. "Yes!"


Malam itu, Adrian menunggu Jenna yang masih melakukan konferensi meeting bersama desainer lain yang ikut serta dalam acara fashion week. Kali ini, ada Lucy yang ikut rapat bersama mereka.


Setelah selesai, Adrian memberikan satu cup cokelat hangat penuh marsmallow untuk kekasihnya itu. "Untukmu yang sudah bekerja keras hari ini dan berhasil meminta waktu pada Kamila untuk kita menikah,"


"Kita harus menunggu dua minggu setelah fashion week itu selesai. Maafkan aku, tapi seharusnya kau sebagai CEO perusahaan ini, bisa mengendalikan anak buahmu supaya tidak menuntut pekerjanya terlalu keras!" protes Jenna kesal.


Adrian tersenyum dan dia melayangkan ciuman lembutnya di bibir Jenna yang sedang memberengut itu. "Lucy ingin membawa senjata rahasianya saat fashion week nanti. Karena itu, dia meminta maaf pada kita karena kita terpaksa mengundur pernikahan kita lagi,"


"Senjata rahasia? Apa itu? Aku baru dengar," tanya Jenna, dia memandang sosok wanita cantik yang menurutnya terlalu kurus yang masih berada di dalam ruang rapat bersama Kamila.


Adrian mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Ahhh, aku ingin pulang. Kau tinggal di sini atau ikut denganku? Hahaha!"


Jenna segera mengalungkan lengannya pada lengan kekar kekasihnya. Mereka pun bergegas meninggalkan kantor yang sudah sangat menjemukan itu.


Setelah sisa minggu yang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara fashion week, akhirnya minggu pertama perhelatan acara adi busana itu pun tiba.


Seperti biasa, Kamila terus memanggil nama Jenn tanpa henti. Bahkan saat dia mencari sebuah peniti kecil. "Jenna, peniti di mana? Aku membutuhkannya? Apa kau lupa aku sudah menintamu untuk mengecilkan gaun Alexandre Wang ini! Badan model kita ini terlalu kecil!"


"Tapi aku vegan, Nyonya," jawab si model dengan suara kecil, nyaris merintih.


Jenna datang dengan membawa sekotak berisi peralatan darurat, seperti benang, jarum, peniti, pisau kecil untuk melubangi ikat pinggang, tali, dan lain-lain. Dia memberikan beberapa peniti kepada Kamila.


"Persetan dengan vegan kalau tulang belulangmu masih terlihat menonjol seperti itu. Untung saja, anjing tidak mengejarmu!" tukas Kamila lagi dengan panas sambil menyematkan beberapa peniti di gaun berwarna merah itu.


Fashion week kali ini mengusung tema Dark and Light. Di mana gaun-gaun yang sudah dipersiapkan kebanyakan berwarna merah, hitam, dan putih. Berbagai macam hiasan kepada serta replika sayap pun sudah disiapkan dengan baik oleh Jenna.


Adrian dengan sigap, membantu keperluan-bukan-pekerjaan- calon istrinya itu. Dia memberikan air mineral, kopi, cemilan, snack, cokelat, bahkan pelukan.


"Aku lelah sekali dan ingin acara ini cepat berakhir," keluh Jenna dalam pelukan Adrian.


Adrian mengecup pucuk kepala gadis yang memiliki tinggi tidak melebihi dadanya itu. "Bersabarlah, Sayang,"


"Bolehkah ketika kita sudah menikah nanti, kita bertukar peran. Kau jadi assisten Kamila dan aku yang menjadi bos-nya?" tanya Jenna, dia semakin mengeratkan pelukannya pada Adrian.


"Hahahaha, silahkan. Aku tidak melarang dan aku tidak menutup kemungkinan kau akan kujadikan bos di perusahaan ini," jawab Adrian.


Selagi mereka beristirahat, terdengar suara Lucy memanggil nama Jenna dengan lantang. Jenna berdecih geram. "Cih! Aku baru saja memelukmu selama satu menit, dan dia sudah berteriak seolah tak menemukanku selama satu tahun!"


"Ya, Lou!" balas Jenna tak kalah lantang.


Wajah Lucy tampak bahagia sekali. Dia menghampiri Jenna dengan menggandeng seorang pria tampan, berambut hitam, dengan mata hitam yang tajam. Lucy memperkenalkan pria tampan itu pada Jenna dengan bangga, seolah memamerkan mainan baru padanya.


"Kau tau, this my secret weapon. Wajahnya tampan sekali, bukan?" kata Lucy.


Jenna tercekat saat melihat pria itu. Entah mengapa, sepertinya dia kenal baik dengan pria yang dibawa oleh atasannya tersebut.


Jentikan jari Lucy menyadarkan Jenna. "Hei! Hei! Sadarlah! Kau memelototi kekasihku, hihihi. Dia tampan, 'kan? Aku seperti mendapatkan hadiah dari langit."


Jenna menelan salivanya kasar. "Y-, ya dia tampan," gadis itu berdeham dan berusaha untuk menguasai dirinya lagi. "Jadi, di sesi apa dia akan tampil?"


"Dia dua kali tampil. Di sesi penutupan dark, dia akan memakai vest hitam dan celana ¾ hitam, sepatu pantofel berhak berwarna hitam dan aku ingin menambahkan hiasan kepala devil serta taring palsu di mulutnya serta sepasang sayap hitam yang paling besar. Kau membawanya, 'kan?" jawab Lucy sekaligus mengintervensi Jenna.


Jenna mengangguk. "Ya, aku membawanya. Akan kusiapkan segalanya,"


Jantung Jenna tidak mau berhenti bergemuruh. Mereka seperti melompat kegirangan saat bertemu dengan pria itu. "Pria itu tidak baik untukku!" pikir Jenna dalam hati.


Namun sebelum dia bergegas, Lucy menarik tudung yang dikenakan oleh Jenna hari itu. "Kau mau ke mana? Aku belum memperkenalkannya padamu,"


"Haruskah, Lou?" tanya Jenna putus asa.


Dia terpaksa tersenyum saat si pria mengulurkan tangannya lebih dulu. Kedua netra pria itu terus menatap tajam padanya. "Ortega Suarez,"


"Jenna. Jenna Lake," jawab Jenna.


"Senang bertemu denganmu, Jen," sahut Ortega. Dia menghadiahkan Jenna senyum tampannya yang membuat jantung Jenna semakin tidak bisa diam.


...----------------...