Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 32



Suatu pagi, seorang gadis cantik memasuki sebuah restoran kecil di ujung sebuah gang perumahan. Langkah gadis itu membawa semua pria menoleh untuk memandangnya.


"Waw, dia cantik sekali. Siapa dia?" tukas seorang pria yang berpas-pasan dengan gadis itu.


Beberapa pria mengikutinya hingga ke restoran. Dengan senyum menawan, gadis itu berbicara kepada seorang pria yang menjadi penerima tamu di restoran itu. "Hai, Tampan. Bolehkah aku bertemu dengan bos-mu?"


"Artemis? Aku tidak terkejut. Karena aku tau kau memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menemukanku," kata pria tampan itu.


Dengan anggun, Artemis menyentuh tulang selangka Ortega dan mendorongnya lembut. "Kau seperti suara hatiku yang selalu memanggil-manggil namaku, Sayang. "


Ortega mengambil tangan Artemis dan mengunci pergelangan tangan kecil itu. "Kalau sampai kau membawa makhluk lain ke tempat ini, aku tidak akan tinggal diam, Artemis!"


"Huh! Tenang saja, kedatanganku kali ini bukan untuk mengambilmu, tapi untuk kedua manusia itu," bisik Artemis tepat di telinga Ortega.


Ortega segera menoleh dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Artemis. "Kalau kau menyentuh mereka, apalagi gadisku, aku bersumpah akan mematahkan kepalamu, Sayang,"


Semilir angin datang membawa aroma para manusia dan menyapa indera penciuman vampir wanita itu. Dia mengendusnya dalam-dalam dan kemudian, Artemis tersenyum. "Oh, menarik. Gadis itu menjadi setengah abadi. Aku semakin ingin memilikinya,"


"Jauhi dia!" tukas Ortega.


Artemis tersenyum. "Kita lihat nanti,"


Tak lama, Mr. Klaus keluar dan melihat antrian di pintu masuk restorannya. Dia tersenyum lebar, wajahnya sumringah seperti mendapatkan sekarung emas batangan. "Wah, wah, wah! Kaukah pegawai magang baruku? Alena?"


"A-, Alena?" tanya Ortega. Dia memberikan tatapan ancaman kepada Artemis.


Namun, Artemis seolah tidak melihatnya dan dia tersenyum membalas Mr. Klaus. "Ah, iya, Tuan. Saya Alena. Saya yang ingin bekerja di sini kalau Tuan ada lowongan pekerjaan,"


Wajah Mr. Klaus memerah tanpa sebab dan dia menyeringai malu-malu. "Hahaha, panggil saja Mr. Klaus, tidak perlu pakai Tuan. Aku belum sampai di tahap itu, hehehe. Kau cantik sekali, Alena. Karena itu, aku akan menempatkanmu bersama dengan Ortega. Lihat saja, pelanggan baru yang kau bawa ini. Aih, senang sekali aku, Sayang,"


Tiba-tiba saja Mr. Klaus menepuk kedua tangannya. "Para chef, bersiaplah! Jamuan makan akan dimulai!" Sambil tersenyum, dia memberikan buku menu pada tamu-tamu pria Artemis.


Jamuan makan itu berlangsung dengan lancar, cepat, mengalir dengan rapi, dan tidak ada kesalahan yang diperbuat oleh Jenna ataupun Zac.


Ketika jam tutup restoran tiba, Mr. Klaus masuk ke dalam dapur. Wajahnya sangat bahagia. "Kurasa, aku sudah memakai hari keberuntunganku seumur hidup hanya untuk hari ini. This is the best day of my life. Kalian luar biasa! Give applause for us!"


Tanpa sadar, Jenna dan Zac saling berpelukan seperti biasa jika mereka berhasil menyelesaikan jamuan hari itu dengan sukses dan tanpa ada kesalahan. "Hahaha, yes!"


Saat netra mereka bertemu, mereka segera melepaskan pelukan mereka. "Ehem, maaf aku tidak, ...."


"A-, aku juga, maafkan aku," ucap Jenna cepat-cepat.


Mr. Klaus merangkul keduanya sambil tertawa lebar. "Hahaha! Ada apa dengan kalian? Bergembiralah!" Pria tambun itu mengajak Jenna dan Zac keluar dari dapur. "Hari ini, kita akan makan malam bersama. Untuk menyambut Ortega dan pegawai baru kita yang telah membawa banyak tamu hari ini, Alena,"


Gemuruh tepukan tangan dari pekerja di restoran itu memenuhi segala penjuru ruangan. Dan sesuai janjinya, Mr. Klaus mentraktir seluruh makan malam mereka hari itu. Namun tetap saja, Jenna dan Zac yang memasak.


"Kupikir, kita hanya duduk dan makan! Ternyata kita juga yang harus menyajikan makan malam! Kuberikan asin saja yang banyak!" protes Jenna kesal. Dia sengaja memasak dengan suara keras untuk meluapkan rasa kesalnya.


Jenna ikut tersenyum. "Yah, kemarin aku diculik oleh vampir sampai aku hampir saja membuat kerajaan vampir dengannya!"


"Hahaha! Tapi, berbicara soal vampir, aku ingat seseorang yang datang ke apartemenku dan dia mengatakan kalau kau adalah ratu untuk hidupnya," ucap Zac.


"Bagaimana orang itu? Berambut hitam atau perak?" tanya Jenna. Tiba-tiba saja, dia dapat membaca ketakutan Zac yang selama ini dia sembunyikan. Jenna dapat merasakan ketakutan Zac kepada pria aneh yang mendatanginya, dia takut kehilangan Jenna, dan kekhawatirannya akan masa depan yang tidak pernah Jenna tau sebelumnya.


"Hmmm, aku sudah pernah mengatakan ini kepadamu sebelumnya. Dia, ...."


Jenna memeluk Zac erat-erat. Rasa haru dan bersalah menguap dalam diri Jenna saat itu. "Aku tau, Zac dan maafkan aku,"


"Jen, aku baik-baik saja. Ah, aku jadi merindukanmu, Jen," kata Zac, dia mengalungkan kedua tangannya di punggung Jenna.


Jenna berharap dia dapat menghentikan waktu dan kembali ke masa sebelum Ortega dan Volkov datang ke dalam hidupnya. Hanya ada dia dan Zac. Hidup mereka tampak damai dan baik-baik saja.


"Ehem! Jenna, kau sudah selesai?"


Jenna menoleh ke sumber suara dan dia segera melepaskan pelukannya dari Zac. "Ah, sudah. Ada di sana, maaf aku tidak segera memanggilmu, Nay,"


Waitres itu tersenyum tersipu dan mengambil hidangan yang sudah selesai disajikan oleh Jenna dan Zac. "Kalian tidak makan? Atau, ... Aku akan memberikan kalian waktu sedikit lagi. Maaf telah mengganggu kalian,"


Jenna dan Zac saling berpandangan dan tersenyum. Setelah merapikan dapur, mereka melepaskan apron mereka dan bergabung bersama yang lain untuk makan malam.


Sementara Zac dan Artemis sedang berpura-pura menjadi manusia, Volkov mendatangi gerbang yang dibuka oleh Artemis. Gerbang itu berada di sebuah hutan yang sempat mereka datangi sebelumnya dan gerbang itu berupa lubang besar dengan cahaya berpendar-pendar yang menyilaukan.


Dengan kekuatannya, dia berusaha menutup gerbang itu. Namun, seorang wanita tua tiba-tiba saja melompat keluar dari lubang cahaya itu. "Volkov,"


"Kau! Bukankah aku sudah membunuhmu? Kenapa kau bisa hidup kembali?" tanya Volkov, dia memasang posisi siaga.


Wanita itu mendengus. "Huh! Kau pikir, aku akan mati begitu saja? Tentu tidak, Volkov. Untuk apa aku menjadi peramal selama ratusan tahun bahkan ribuan tahun jika aku bisa mati semudah itu,"


"Tadinya, kau adalah panutanku, Zella! Kenapa kau berkhianat?" tuntut Volkov kepada wanita tua itu.


Zella adalah peramal. Dia yang mengurus semua manusia serigala, mulai dari mereka kecil sampai dewasa. Zella juga yang membuat beberapa legenda terkait hubungan aneh yang terjadi dan akan terjadi di antara vampir, manusia serigala, dan manusia.


"Aku tidak pernah berkhianat. Kaulah yang tersesat, Volkov. Kau sudah nyaris menjadi raja, tapi kau malah ikut turun ke dunia manusia. Entah apa yang kau cari, aku tidak dapat memahamimu dan kemampuanmu sudah sangat berkembang pesat, kau mampu menutup pikiranmu," jawab Zella panjang.


"Aku tidak tersesat dan aku juga tidak mencari apa-apa. Aku hanya ingin datang ke dunia ini dan ya, semua ini adalah kemauanku," jawab Volkov jujur. Awalnya, dia hanya penasaran ke mana Vlad membuang Ortega dan ternyata, di dunia ini menyenangkan. Apalagi saat dia bertemu dengan Jenna. Gadis itu kini menjadi alasan utamanya untuk kembali ke dunia manusia.


Zella tersenyum dengan memperlihatkan gigi-giginya yang sedikit menghitam. "Berhati-hatilah, takdir itu bukan untukmu. Saranku, kembalilah sebelum kau kehilangan segalanya, Volkov!"


...----------------...



Visual Zac 😎