Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 56



Di kastil tua, Ortega dan Volkov seperti tersadar dari sesuatu. Mereka terjatuh dan melihat ke sekelilingnya. "A-, apa yang terjadi?"


Para vampir lain yang tadi sempat ingin menyerang Adrian, kini mendapatkan kembali kesadaran mereka. "Apa yang terjadi?" tanya mereka kepada sesamanya.


Selagi mereka mencerna apa yang baru saja terjadi, seorang wanita berteriak. "Kyaaaaa!"


Mereka pun berlari menghampiri wanita itu. "Kenapa?"


"Ba-, Baron dan Amstel! Me-, mereka, ... Siapa yang melakukan ini pada mereka?" tanya suara yang lain.


Lucy menarik Kamila mendekat. "Itu ulah kedua anakmu," bisiknya.


Kamila berjalan mendatangi Ortega dan Volkov yang sudah bergegas keluar. "Tunggu!"


"Tidak! Aku akan tetap pergi mencari Jenna!" tukas Ortega, kemudian dia membuka pintu kastil. Beberapa vampir berteriak dan bersembunyi begitu tubuh mereka terkena sinar matahari.


Kamila segera menghadang kedua makhluk itu. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Ikut aku sebentar,"


"Apa yang ingin kau bicarakan? Bicara saja di sini!" tukas Volkov.


Kamila memijat keningnya kemudian dia menghela napas panjang. Wajahnya terlihat lelah dan suram. "Baron dan Amstel, apa itu perbuatan kalian?"


Baik Ortega dan Volkov tidak ada yang menjawabnya, selain dengan kedikan bahu. "Kami tidak tau,"


"Kepala dan tubuh mereka terpisah, jelas itu perbuatan vampir atau salah satu dari kalian. Feral tidak melakukan itu, mereka hanya menggigit dan menghissap," tukas Kamila sekarang, dia berkacak pinggang.


Volkov merubah wujudnya menjadi serigala besar, melebihi Kamila dan dia meraung memperlihatkan taring dan gigi tajamnya. "Kami hanya ingin menemui Jenna, kalian melarang kami!"


"Dua vampir tua brengsek itu, mengolok-olok kami. Haruskah kami sabar?" tanya Ortega panas.


Kamila bergerak mundur sambil mengangkat kedua tangannya. "Wow, sabar! Aku ada di pihak kalian,"


"Kalau begitu, izinkan kami keluar!" tukas Ortega lagi.


Kamila mengayunkan tangannya ke arah pintu. "Silahkan,"


Tanpa diperintah dua kali, mereka pun keluar dari kastil itu dan berlari dengan cepat sambil terus mengendus keberadaan Jenna.


"Di mana dia?" tanya Ortega. Dia berayun dari satu pohon ke pohon lain, untuk menghindar dari paparan sinar matahari.


"Aku lagi berusaha mengendusnya. Apa indera penciumanmu bermasalah?" tanya Volkov tajam.


Ortega menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya saja, aku sedang berusaha mengendalikan diriku. Bau manusia ini mengalihkan perhatianku. Aku lapar,"


Volkov berdecak kesal. "Bodohnya!"


Mereka menghirup dalam-dalam harum tubuh Jenna. "Stasiun!"


Kedua makhluk itu berlari menuju stasiun. "Mereka pernah ke sini. Baunya tajam sekali,"


Ortega memegang kursi stasiun dan dia seperti tertarik ke dalam masa lalu. Dia melihat Jenna bertarung mati-matian melawan feral hanya untuk menyelamatkan Adrian yang ditarik oleh beberapa feral.


Tak lama, Ortega kembali ke saat dia bersama Volkov. "Dia pernah berada di sini. Ayo, kita cari penginapan dekat sini,"


Sementara itu di sebuah penginapan,


Jenna menatap Adrian yang berlumuran darah. "A-, Adrian?"


Suara gadis itu bergetar, air matanya berkumpul di pelupuk mata cantiknya. Siap untuk meluncur. Dia kembali memegang pipi Adrian. Kedua mata pria itu terpejam dan napasnya tersengal-sengal.


Jenna beranjak dari atas tubuh Adrian, dia merobek gaun renaissance-nya dan dia ikatkan ke leher pria itu, untuk menghentikan pendarahannya. "Semoga aku tidak menggigitmu terlalu dalam,"


Setelah selesai, dia berlutut di sisi Adrian dan melakukan CPR kepadanya. Namun begitu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Adrian, pria itu menariknya dan memagutnya sambil tersenyum. "Kau takut aku mati? Aku senang sekali kau mengkhawatirkan aku,"


"Hmmpphh!" Jenna memberontak dan mendorong pria itu untuk menjauh. "Sialan! Tau gitu, aku biarkan kau mati saja!"


"Hahahaha! Kau menggemaskan sekali, Jenna! Aku tidak pernah tau kau punya sisi seperti ini," kata Adrian. Dia mengusap air matanya yang terjatuh karena dia tertawa.


Di lain tempat, pencarian Ortega dan Volkov terhenti karena mereka bertemu dengan seorang wanita tua berkepang dua yang membawa seekor kucing hitam di gendongannya. "Kalian, ikuti aku!"


"Zella? Kami mencari Jenna, waktu kami hampir habis, kami ingin tau apakah dia sudah sadar? Karena kami berdua baru saja-," tanya Volkov.


Ucapannya terpotong karena Zella membuatnya berhenti berbicara dengan kekuatan sihirnya. "Dia baik-baik saja! Aku ingin kalian ikut aku, sekarang!"


Dengan kekuatannya yang tak terlihat, Zella menarik Volkov dan Ortega dan memaksa kedua pria itu untuk mengikutinya.


Tibalah mereka di sebuah bangunan kosong yang sudah lama tidak dihuni dan di lewati orang. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian dan ini menyangkut hidup dan mati gadis kalian itu,"


"Jenna? Ada apa dengannya? Aku sudah pernah membunuhmu sekali, jangan sampai aku membunuhmu untuk kedua kalinya!" kata Volkov tajam.


Pria berambut perak itu sudah kembali berubah wujud menjadi serigala berbulu putih dengan corak hitam dan dia melolong dengan buas di hadapan Zella.


Sedangkan Ortega, pria vampir itu terus menatap Zella dengan tatapan lapar. "Katakan saja langsung, Wanita Tua, sebelum aku memakanmu! Kebetulan aku sedang lapar!"


Zella mendengus senang. "Huh! Persiapkan hati kalian, ini bukan kabar baik. Dan jika, kalian membunuhku, kalian yang akan rugi karena nasib kalian ada di tanganku!"


"Dia gila, Volkov! Jangan dengarkan dia dan ayo, kita lanjutkan mencari Jenna!" tukas Ortega memandang wanita tua itu dengan tatapan prihatin.


Volkov bergegas keluar dari bangunan kosong itu sambil menggelengkan kepalanya. Namun baru saja mereka melangkah, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menyerang mereka.


Mereka jatuh tersungkur dan mengerang kesakitan. "Eerrgghh!"


"Ze-, Zella! Hentikan! Apa yang kau mau?" tanya Volkov sambil menahan rasa sakitnya.


Zella tertawa tanpa menghentikan rasa sakit yang dia berikan untuk kedua pria yang meringkuk kesakitan yang ada di hadapannya itu. Wajahnya tidak menampakkan belas kasihan sama sekali.


"Koneksi di antara kalian, harus segera diputus. Aku melihat dari bola kristal, apa yang terjadi di kastil malam itu dan itu mengerikan! Kalian membunuh dua vampir dan mempengaruhi vampir lain yang jumlahnya ratusan. Itu hebat sekaligus gila!" seru Zella, kedua matanya berkilat-kilat.


Wanita itu menghentikan rasa sakit pada Volkov dan Ortega dan dia melanjutkan kembali peringatannya. "Kekuatan kalian bertiga adalah kekuatan yang luar biasa yang dapat dipakai untuk menguasai dunia! Baik itu dunia kalian ataupun dunia manusia,"


"Tidak usah banyak omong! Katakan saja inti permasalahannya pada kami!" titah Ortega.


"Aku sudah mengatakannya tadi, koneksi di antara kalian harus diputus!" jawab Zella tak sabar.


"Aku tidak mau!" tukas Ortega keras kepala.


Volkov memegang pundak Ortega, memintanya untuk sabar dan berpikir. "Setelah dipikir, memang kita harus memutus koneksi ini. Tapi, bagaimana caranya?"


Zella tersenyum dengan sudut bibirnya. "Mudah saja. Darah kalian bertiga menyatu di dalam tubuh kalian masing-masing. Aku hanya punya satu cara,"


"Dan?" tanya Ortega.


"Kalian bertiga harus mati," jawab Zella. Seringainya semakin lebar. Entah apa yang membuat wanita itu senang bukan main saat dia meminta ketiga makhluk itu untuk mati.


...----------------...