
"Ternyata buruk sekali sikapmu, Adrian! Kau selalu menginginkan milik orang lain!" sahut Jenna panas. "Saat aku baru mengenalmu, kau menginginkan kekayaan dan keabadian Kamila. Lalu, tiba-tiba saja kau menginginkanku! Kau buruk sekali, Adrian! Aku benci sekali padamu!"
"Bencilah aku sebanyak kau bisa, Jenna! Habiskan semua rasa bencimu dan jangan sisakan sedikit pun kebencianmu padaku itu, setelah itu, kau bisa mencintaiku dan melupakan vampir bodoh itu!" balas Adrian lagi.
Mata Jenna tampak berapi-api, dia berusaha keras mengendalikan emosinya. Dia tidak ingin segala sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Tak hanya dia, tetapi kemungkinan besar, semua vampir dan makhluk lain yang berada di sekitar sini akan terkena imbasnya.
Alih-alih marah, Jenna mengepalkan kedua tangannya sekuat tenaga dan mencengkeramkan jari-jarinya di dalam telapak tangannya. "Dia tidak bodoh, Adrian! Aku akan melaporkan ini pada Kamila! Aku akan meminta dia untuk tidak menemuiku lagi!"
Dengan langkah cepat, Jenna berjalan menuju ruangan Kamila dan mengetuknya perlahan. "Kamila,"
"Masuk," seru suara di dalam.
Jenna membuka pintu yang terbuat dari kayu ek itu dan melihat wanita berwajah manis khas timur itu baru saja beranjak dari pembaringannya. "Maaf aku mengganggumu, Kamila. Aku ingin mengatakan sesuatu,"
Kamila melihat ke arah pintu, Adrian tampak terengah-engah karena mengejar Jenna dan dia segera mengetahui apa yang sedang terjadi. "Karena dia?"
Jenna mengangguk. "Ya. Aku hanya ingin dia menjauh dari hidupku dan tidak ikut campur dalam semua urusanku! Bisa? Aku punya ponsel, kau bisa langsung menghubungiku jika kau memerintahkanku untuk melakukan sesuatu,"
"Aku memang meminta dia untuk menemanimu membeli gaun untuk pesta dansa yang akan diadakan besok lusa," sahut Kamila lagi. "Aku tidak mungkin meminta kekasihmu untuk menemanimu, 'kan? Begitu pula denganku,"
Jenna menghembuskan napasnya kasar. "Tapi, bukan berarti dia bisa seenaknya juga, 'kan? Bisakah aku pergi sendiri?"
Kamila menggelengkan kepalanya. "Aku menyerahkan kartuku padanya. Lagipula, dia mewakili ketiga teman priamu,"
"Huufftt! Aku berharap ini yang terakhir kalinya aku berhubungan dengan dia," kata Jenna dan kemudian dia keluar dari ruangan Kamila dengan membenturkan pundaknya pada bahu Adrian.
Kamila mengedikkan kepalanya, meminta pria bertubuh kekar itu untuk masuk. Adrian pun menurut dan duduk tepat di hadapan Kamila.
Segera saja, Kamila mengeluarkan dua taringnya dan meminta Adrian untuk berbaring. "Ini hukumanmu, Adrian! Kau telah lancang mengangganggu anakku!"
"Aargghh!"
Sementara itu, Jenna meminta izin kepada Ortega. Dia mengetuk pintu kamar pria vampir yang sedang terlelap itu dan menyelinap masuk perlahan. Jenna mengecup bibir Ortega. "Hei, aku keluar sebentar. Aku akan segera kembali,"
"Hei, aku akan menunggumu," bisik Ortega membuka matanya dan menarik ceruk leher kekasihnya dan memasukan gadis itu ke dalam ciumannya.
Jenna mengangguk kecil. "Thank's, beristirahatlah dan sampai jumpa nanti malam," ucapnya, setelah itu dia pun bergegas keluar untuk menemui Adrian yang telah menunggunya di mobil.
Adrian tak langsung mengajak Jenna membeli gaun, dia mengajak gadis itu menikmati siang di pusat kota. Pria itu membelikan Jenna slushy serta corndog dan ketika mereka melewati kedai es krim, Adrian memaksa gadis itu untuk masuk ke dalam.
Karena harga dirinya terlalu tinggi, Jenna menolak walaupun jauh di dalam hatinya, dia benar-benar ingin menikmati es krim di hari sepanas ini. Orange slushy hanya mengotori kerongkongannya, tetapi tidak dengan es krim.
Dengan malu-malu, Jenna memasuki kedai itu dan segera saja dia memesan es krim parfait dengan toping komplit di atasnya.
Saat cokelat parfait miliknya datang, kedua mata gadis itu berbinar-binar ceria. "Aaah, akhirnya, aku menemukan yang sudah kurindukan sejak lama,"
"Sudah berapa lama kau tidak makan es krim?" tanya Adrian.
Jenna mengangkat kedua bahunya sambil menyuap sesendok besar es krim dan menggigit roll wafer di atasnya. "Entahlah, papi inyi enyak,"
*Selamat makan
"Mercy," jawab Jenna sambil terus sibuk menyuap es krimnya sambil berjoget-joget kecil.
Setelah puas dengan segelas panjang parfait, lagi-lagi Adrian mengajak Jenna menikmati suasana siang terik di sebuah taman bermain.
Jenna berlarian ke sana kemari dan dia terlihat sangat menikmati waktu pelesiran siangnya itu. "Adrian, setelah ini kita ke mana lagi?"
Adrian merapikan rambut gadis cantik yang terkena angin itu. "Kau sudah puas atau masihkah ada tempat yang ingin kau kunjungi?"
Jenna memandang sekelilingnya dan dia menemukan seorang penjual aksesoris. "Ayo, kita ke sana,"
Adrian mengangguk dan mengikuti Jenna yang berlarian dari belakang. Sesekali Adrian tertawa kecil melihat Jenna yang tidak bisa diam. Gadis itu seperti seekor serangga yang melompat-lompat lincah kesana kemari, tanpa lelah.
Sesampainya mereka di tempat aksesoris, Jenna memilih sebuah gelang berwarna hitam dengan hiasan taring di tengahnya. "Wow, ini Ortega sekali,"
"Harga khusus untuk Nona Cantik yang datang hari ini," kata si penjual itu sambil tersenyum.
Jenna membalas senyuman penjual itu. "Jadi berapa harganya, Nyonya?"
"Untuk Nona dan Tuan yang tampan ini, kuberikan 5 dolar saja. Kau bisa mengambilnya sepasang," jawab Nyonya penjual itu. "Kudoakan semoga hubungan kalian langgeng dan tak pernah terputus seperti gelang ini,"
Jenna menyerahkan selembar uang kertas berwarna cokelat. "Terima kasih, tapi dia hanya temanku. Kekasihku berada di rumah," setelah mengucapkan itu, Jenna segera menarik tangan Adrian dan mengajaknya pergi dari sana.
Adrian mengambil salah satu gelang yang baru saja dibeli oleh Jenna dan memakai gelang itu di pergelangan tangannya.
"Hei, itu bukan untukmu! Lepaskan!" tukas Jenna, menatap pria itu dengan kesal. "Lepas, kataku!"
Adrian menyembunyikan kedua tangannya di belakang. "Tidak! Apa kau tidak dengar kata-kata dan doa penjual itu? Dia mendoakan kebahagiaan kita, Jen!"
"Aku tidak peduli! Kau bukan kekasihku! Lepaskan kataku! Atau, kau ambil saja semua gelang ini!" Jenna memasukan gelang yang satu lagi ke dalam saku celana Adrian dan berjalan pergi.
"Jen! Jenna! Apa kau tidak bisa merasakannya? Aku bisa menbuatmu tertawa dan menikmati hari-harimu sebagai manusia, Jen! Lihat aku!" desak Adrian, dia mengejar Jenna dan menghadang langkah gadis itu.
Jenna tidak memperdulikan Adrian dan terus berjalan.
Namun, Adrian tidak menyerah begitu saja. Dia terus mengejar Jenna dan menangkap pergelangan tangan gadis itu. "Baiklah, kukembalikan,"
"Tidak perlu! Aku sudah tidak menginginkannya! Kau bisa memberikan gelang itu kepada gadis manapun yang kau suka! Di mana toko pakaian brengsek itu?" tanya Jenna kesal. Wajah gadis itu tampak kemerahan karena menahan emosi dan terkena terik matahari.
Adrian menggandeng tangan Jenna dan menuntunnya. "Ayo!"
Baru saja mereka hendak melanjutkan perjalanan mereka, seorang gadis berteriak nyaring. "Tolong!"
...----------------...