
"Klan? Jadi, putriku masuk ke dalam klan itu? Aku tidak pernah tau ada begitu banyak kaum kita di dunia manusia dan mereka hidup berdampingan. Apakah ini tanda-tanda akhir zaman telah dekat?" tanya seekor kucing sambil melompat ke atas kursi malas dan menjilati kakinya dengan asik.
Seorang wanita berpenampilan indian dan bersuara parau, mengangkat kucing itu dan meletakkannya di atas meja. "Segala tindak tanduk mereka, di awasi ketat oleh pemimpin klan tersebut. Jika mereka melakukan pelanggaran, tak akan ada ampun. Itu yang aku tau,"
"Apakah kau bisa melihat bagaimana nasib putriku, Zella?" tanya kucing hitam itu. Dia berjalan mondar-mandir dengan keempat kakinya, seakan merasa khawatir.
"Selama putrimu berada di dekat gadis manusia itu, mereka akan aman. Hanya saja, aku masih belum bisa mengetahui kekuatan apa yang ada pada gadis itu, sehingga dia dapat mempengaruhi emosi kaum kita dengan luar biasa," jawab Zella. Wajahnya tampak risau dan keningnya terus berkerut-kerut.
Kucing hitam itu kini berbaring di atas meja sambil sesekali menggoyangkan ekornya. "Adakah kemungkinan kita bisa menemui mereka? Aku ingin mengajak putriku kembali. Oh, pria manusia yang disukai oleh putriku, bagaimana dia?"
"Putrimu membuatnya mati dan pemimpin klan mereka, membuat pria manusia itu menjadi seorang vampir baru," jawab Zella. Kini dia menaburkan daun teh di dalam cangkir dan menggoyangkan cangkir tersebut. "Segalanya telah berubah, Vlad. Kulihat garis takdir putrimu menyambung dengan garis takdir pria ini,"
Kucing hitam bernama Vlad itu seakan tertawa, menertawakan wanita tua yang sedang mengamati cangkir teh. "Sejak kapan kau menjadi pengamat daun teh? Hahaha, katamu itu cara kuno yang hanya dilakukan oleh penyihir zaman dulu, hahaha!"
"Diam kau, Kucing! Tidak ada salahnya aku mencoba segala metode. Bola kristalku tampaknya tidak bekerja dengan baik, aku tidak bisa membaca atau melihat ke dunia sana," jawab Zella kesal.
Zella hanyalah seorang peramal yang memiliki garis keturunan seorang manusia serigala. Wanita itu selalu merendahkan kaum peramal yang memiliki keturunan penyihir karena banyaknya metode yang mereka pakai. Mulai dari bola kristal, daun teh, menghitung bulan dan bintang, mengamati mata batin, dan lain-lain yang membuat Zella berpikir hal itu terlalu merepotkan.
Wanita itu biasa meramal hanya dengan menggunakan bola kristal. Namun entah mengapa, akhir-akhir ini bola kristal itu tidak memberikan hasil yang memuaskan kepadanya.
Maka, dia mencoba beralih ke daun teh. Dia harus melihat bagaimana nasib kerajaan vampir selanjutnya. Apakah semua vampir akan bergabung dengan manusia dan menghasilkan keturunan campur? Bagaimana dia akan mempertahankan keturunan darah murni, kalau semua vampir menikah dengan manusia?
Apalagi sekarang, putri yang seharusnya menjadi seorang ratu ikut turun ke dunia manusia dan bergabung bersama sebuah klan. Zella merasa, situasi saat ini sangatlah kacau.
"Untuk sementara ini, kita hanya bisa memantau dari sini, Vlad. Hanya gadis itu yang bisa kita andalkan," jawab Zella suram.
Sementara itu, Jenna, Ortega, dan Volkov berjalan berlenggak-lenggok di atas karpet merah dengan anggun. Wajah Volkov yang seperti lukisan, benar-benar sanggup menyihir para penonton yang menghadiri acara fashion show tersebut.
Tak ada waktu untuk mereka bicara selama beberapa hari ini, karena padatnya jadwal mereka. Lucy seolah memerah tenaga mereka sampai habis.
"Aku protes!" tukas Jenna setelah acara itu selesai. "Kalian benar-benar memanfaatkan tenaga dan waktu kami! Seratus suara kemarin tidak sepadan dengan waktu yang kami habiskan di sini!"
Lucy melepaskan kacamatanya, lalu dia memijat tulang hidungnya perlahan. "Kamila tidak memberitahukan kepadamu kalau acara ini berlangsung selama dua minggu?"
"Aku tidak peduli, mau dua atau tiga minggu atau berapa lama pun! Tapi, kau wajib memberikan kami waktu istirahat!" ucap Jenna berapi-api.
Lucy tersenyum. "Kalian immortal. Tidak akan merasa lelah, 'kan? Itu juga yang kurasakan,"
"Kau melupakan fakta, bahwa aku masih manusia! Sialan!" tukas Jenna marah. Dia bergegas keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu kasar.
Gadis itu berlari ke atap gedung bertingkat itu dan berteriak sekuat tenaga. "Vampir Sialan! Shitt!"
Jenna terkejut dan menoleh ke sumber suara. Dia semakin memberengutkan bibirnya saat melihat darimana suara itu berasal. "A-, Adrian? Maaf, aku tak tau kalau kau ada di sini." ucap Jenna. Kemarahannya bangkit kembali saat mengetahui pria itu baru saja bangun tidur. "Lagipula, kenapa kau tidur di atap, Manusia Pemalas!"
"Aku butuh ketenangan, Wanita Barbar!" balas Adrian. Dia menggeliat dan merentangkan tangannya, lalu bangkit berdiri. "Di bawah sana ramai sekali. Kalian para vampir, bekerja siang dan malam, padahal uang kalian sudah berlimpah. Konyol,"
"Aku bukan vampir!" tukas Jenna. Sekarang dia paham, mengapa Kamila ingin menjadi manusia. Lelah. Itulah jawabannya.
Adrian mengunci manik gadis yang sedang mencebik ke arahnya itu. "Setengah,"
Dengan cepat, Jenna menendang tulang kering Adrian dengan sepatu hak tingginya. "Rasakan tendangan setengah dari kekuatanku itu!"
Adrian mengerang sambil memegangi kakinya. "Aargghh! Kudoakan kau cepat tua, Jenna! Aarrggg, sialan! Kakiku!"
"Tidak akan! Aku setengah-setengah!" balas Jenna puas. Dia melihat pria yang sedang kesakitan itu dari sudut matanya, dan dia sedikit merasa bersalah karena mungkin dia menendangnya terlalu keras. Harga diri Jenna yang terlalu tinggi, menghalanginya untuk meminta maaf.
Tak lama, mereka berdua duduk bersandar pada talang air. Mereka menikmati angin senja yang menyapa lembut wajah mereka. "Ah, nyaman sekali seperti ini," ucap Jenna memejamkan matanya untuk membiarkan jiwanya mendapatkan ketenangan lebih banyak.
"Jen, kau dan vampir itu, apakah hubungan kalian serius?" tanya Adrian tiba-tiba.
Jenna segera membuka kedua matanya. "Entahlah. Aku tidak tau kemana kami akan membawa hubungan kami,"
"Lalu? Pria dekil satu lagi? Apa dia juga jatuh cinta kepadamu?" tanya Adrian lagi.
"Sebut namanya, Bodoh! Volkov! Tidak, kami seperti adik kakak, saling melindungi. Dia pria terlembut yang pernah kutemui," jawab Jenna.
Perlahan, Jenna dapat merasakan sesuatu masuk ke dalam dirinya. Perasaan dan pikiran Adrian. Kemudian, dia beranjak dari posisinya dan menatap pria itu tajam. Dia menutup mata pria itu dengan tangannya. "Hei, bisakah kau belajar menutup pikiran dan perasaanmu?"
Adrian mengambil tangan mungil Jenna dan menggenggamnya. "Tidak. Kau tau apa yang kupikirkan?"
Jenna mengangguk. "Ya, terdengar jelas sekali. Awalnya seperti suara semut, tapi lama kelamaan semakin jelas diikuti dengan sebuah gambaran yang jelas sekali,"
"Apa itu?" tanya Adrian.
"Aku. Kau memikirkanku dan perasaanmu seperti air sungai yang mengalir dengan tenang. Apa maksudnya itu?" tanya Jenna lagi. Entah mengapa, jantungnya berdebar-debar saat tatapan mereka saling mengunci seperti saat ini.
Adrian memperkecil jarak mereka dan dia mengecup bibir Jenna lembut. "Kau masih belum tau apa yang kurasakan?"
...----------------...