
Malam itu, Jenna menunggu Zac di apartemen milik pria itu. Dia duduk di sebuah sofa panjang dengan kedua tungkainya ditutupi selimut tipis. Suara televisi yang memperlihatkan sebuah animasi, membuat gadis itu terkadang tertawa terbahak-bahak.
Tanpa terasa, sang pemilik kamar pun akhirnya tiba. "Hei, kupikir kau tidak jadi datang,"
"Aku harus sehat sebelum Klaus Gendut itu mencari penggantiku, 'kan?" sahut Jenna. Dia melongok ke dalam kotak bungkusan yang dibawa oleh Zac untuknya. "Wah, roti kayu manis! Terima kasih, hehehe,"
Zac membalas ungkapan terima kasih Jenna dengan senyuman. "Kenapa kau tidak istirahat di kamar?"
"Itu kamarmu. Nanti malam, aku saja yang tidur di sofa. Tadi aku sudah mencobanya, lagipula aku ingin sesekali merasakan berbaring sambil menonton televisi," jawab Jenna, menyeringai lebar.
Senyum Jenna membuat wajah Zac memerah. Ada satu hal yang dari dulu ingin dia sampaikan kepada gadis itu. Namun, dia takut, Jenna akan berubah kepadanya. Saat ini, dia hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan Jenna selama dia bisa.
"Zac, kau sudah makan malam?" tanya Jenna. Perutnya mulai bergemuruh dan dia menyadari kalau dia lapar sejak mencium aroma roti kayu manis favoritnya.
Zac segera berjalan ke dapur. Dia membuka laci dapur dan melihat adakah sesuatu yang tersisa di sana. Setelah mengambil satu bungkus pasta, dia membuka lemari pendingin dan menemukan ayam cincang, beacon, dan whipped cream.
Pria itu mengeluarkan panci dan mulai menyalakan kompor. Dia mengambil segenggam pasta panjang dan memasukkannya ke dalam panci yang mulai berbuih.
"Jen, bisakah kau ke supermarket di bawah? Aku kehabisan mozarella." tanya Zac.
Jenna yang sedang asik mengunyah roti, segera mengangguk mantap dan meninggalkan rotinya dengan penuh kasih di atas meja makan. "Owe, aku atan te pawah. Tunggu, yah,"
Gadis itu pun berjalan dengan santai hanya mengenakan kaus oversize dengan tudung dan dua kantung di depannya.
Begitu dia sampai di lantai bawah, terdengar suara seorang pria memanggil namanya. "Hei, Jenna, Jen!"
Jenna menoleh memandang pria itu dan dia berdecak kesal. "Ck! Kau lagi! Kenapa kau tau aku berada di sini? Kau mengikutiku?"
"Tidak. Tapi, hatiku yang membawaku sampai ke sini," kata pria itu tersenyum.
Namun Jenna yang tak terbiasa dengan bujuk rayu, tak mempan dengan gombalan receh seperti itu. "Cih! Hatimu tetap di tempatnya. Setauku, organ hati tidak memiliki kain untuk berjalan. Masih terlalu sore untuk mabuk!"
Jenna masuk ke dalam supermarket dan mengambil keju parmesan bubuk, beberapa tumpuk keju mozzarella, dan bubuk cabai serta beberapa kaleng kopi non kafein.
Mengingat saat ini dia memiliki penggemar, maka dia membelikan penggemarnya satu kaleng susu pisang. "Karena aku gadis yang baik, kutraktir kau susu pisang. Ini yang paling mahal yang ada di sini. Ah, aku memang baik hati,"
Pria asing itu menerima susu pisang pemberian Jenna dengan mata berbinar. "Kurasa ini pesan semesta. Kau benar-benar cinta sejatiku, Jenna. Kau tau aku kelaparan,"
Jenna memandang pria itu dengan tatapan heran. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa maksudmu dengan pesan semesta? Kau benar-benar kelaparan? Baiklah, aku akan belikan kau ramen,"
Gadis cantik itu keluar dari antrian barisan kasir dan berbalik menuju counter mie instan dalam bentuk cup. Dia mengambil satu cup mie, dua onigiri, satu lembar keju yang baru saja dia beli, dan membantu pria itu untuk menyeduh mie instan tersebut. "Bukalah tiga menit lagi. Aku mau membayar belanjaanku,"
Pria itu menatap Jenna dengan penuh haru dan memeluknya. "Terima kasih, Jenna Cantik. Kau baik sekali. Aku rasa kau akan menjadi cinta sejatiku,"
"Tidak usah berlebihan! Sana buka tutup cup ramenmu, sebelum ia terlalu matang!" tukas Jenna sambil mendorong pria itu menjauh.
Setelah dia membayar semua belanjaan, dia kembali menghampiri pria asing yang sedang asik makan itu. "Hei, makanlah yang benar. Bye,"
Jenna pun kembali ke kamar Zac dengan membawa satu tas penuh barang belanjaan. Zac menyambutnya dengan senyum kecut.
Hati Jenna mencelos. Dia terlalu banyak menghabiskan waktu bersama penggemarnya tadi dan nyaris melupakan Zac yang sedang membuatkan makan malam untuknya. "Maaf, aku hanya mencari minuman untuk menemaniku malam ini,"
"Kau harus tidur! Tidak ada minuman apa pun selain vitamin dan obat. Sebentar lagi pasta ini akan selesai. Bersiaplah!" ucap Zac lagi.
Malam itu, Jenna berharap dia akan tidur nyenyak. Karena dia sudah berada di tempat yang tepat dan dia tidak seorang diri.
Setelah minum obat, Jenna pun tertidur. Awalnya, hanya gelap dan tenang. Gadis itu segera memasuki alam bawah sadarnya dengan nyaman. Namun setelah beberapa saat, dia dikejar oleh sebuah bayangan hitam lagi. Bayangan itu terus memanggil namanya.
Jenna mulai gelisah, dan tubuhnya bermandikan peluh. Suara igauan Jenna, terdengar oleh Zac. Pria itu segera terbangun dan memegang tangan Jenna dan membelai keningnya. Dia berusaha menenangkan Jenna dari mimpi buruknya.
"Jen, ada aku di sini yang akan menjagamu. Tidurlah, Sayang," bisik Zac di telinga Jenna.
Tiba-tiba saja, Jenna membuka kedua matanya dengan napas tersengal-sengal, seolah-olah dia habis berlari. Dia segera menggenggam erat tangan Zac dan menoleh menatap manik pria itu.
"Za-, Zac, ...."
"Ya, kau bermimpi buruk. Mau kuambilkan air?" tanya Zac lembut.
Akan tetapi, tangan Jenna masih menggenggam erat tangannya, seakan tidak boleh dilepaskan. "Baiklah, aku akan menunggu hingga kau tenang,"
Perlahan, napas Jenna mulai teratur dan dia melepaskan genggaman tangannya. "Maafkan aku, Zac. Aku pasti berteriak parah sekali sampai kau terbangun,"
"Tidak masalah. Aku akan mengambil air untukmu," Zac bangkit dan berjalan ke dapur. Dia membuatkan cokelat hangat untuk gadis yang sedang memandang televisi dengan tatapan kosong itu.
"Minumlah, Jen. Supaya kau tenang dan hangat," ucap Zac, dia duduk di samping Jenna dan memberikan gelas berisi cokelat hangat itu kepadanya.
Jenna menyesap cokelat itu dan merasa jauh lebih baik. "Cokelat always better ya, Zac,"
Zac tersenyum. "Aku akan mengambil kasur lipat dan menemanimu tidur di sini,"
Tak lama, Zac keluar kamar dengan menyeret kasur lipat berukuran sedang. Dia kembali lagi ke kamar untuk mengambil bantal dan selimut, setelah meletakkan kasur itu tepat di bawah sofa.
"Kau sudah siap untuk tidur kembali?" tanya Zac.
Jenna mengangguk. "Ya, maafkan aku karena merepotkanmu,"
"Tidurlah," ucap Zac.
Jenna pun kembali memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Zac yang terulur ke arahnya. Kali ini, Jenna dapat tidur lebih tenang.
Bukan karena Zac, tetapi karena seseorang menemani tidurnya malam itu. Seseorang itu memanjat ke depan jendela kamar Zac dan dengan kekuatan gaibnya, dia menembus jendela itu dan duduk di kepala sofa tempat Jenna terbaring.
"Tidurlah yang nyenyak, Jenna. Aku sudah berada di dekatmu untuk mengambil semua mimpi burukmu," bisik orang itu. Dia bernapas lega, begitu melihat napas Jenna yang mulai teratur lagi.
...----------------...