
Adrian mendorong Jenna ke belakang dan dia segera berlari menghampiri ke arah suara. Semakin lama, semakin banyak orang yang berteriak dan suara gadis yang berteriak tadi, sudah tidak terdengar lagi. Digantikan dengan suara seseorang yang sedang menggigit sesuatu yang keras.
Jenna berlari mengikuti Adrian dari belakang, langkahnya terhadang oleh orang-orang yang berhamburan dan berteriak histeris. "Adrian!"
"Tetap di situ, Jen! Jangan mendekat!" tukas Adrian. Dia mengambil senapan yang berada di ikat pinggangnya dan membidik makhluk aneh berwarna abu-abu dengan mata merah dan telinga seperti kelelawar.
Suara senapan dan bau mesiu mengiringi bunyi menyakitkan dari makhluk aneh tersebut. Jenna menutup mulutnya saat Adrian kembali menembak dua orang yang merintih meminta tolong padanya.
Jenna menelan salivanya. "K-, kau membunuh manusia itu?"
"Aku menyelamatkan mereka. Kau lihat bekas gigitan ini? Jika aku tidak menembak mereka, mereka akan berubah menjadi seperti makhluk jelek ini," jawab Adrian dengan suara dingin.
Jenna sangat terpukul saat melihat darah mengalir di mana-mana seperti sungai. "Ta-, tapi, kau tidak harus menembak mereka. I-, ini terlalu, ...."
Seluruh tubuh Jenna bergetar, ini pertama kalinya bagi Jenna melihat seseorang ditembak di tempat. Ini lebih mengerikan daripada melawan makhluk bersisik ikan itu.
Adrian memeluk tubuh Jenna dan menenangkannya. "Maafkan aku, kau harus lihat semuanya, Jen,"
Jenna terisak dan masih gemetar di dalam dekapan Adrian. Laki-laki itu membiarkan Jenna meluapkan rasa takut dan emosinya di dalam pelukannya.
Setelah tenang, Adrian membawakan gadis itu sebotol air mineral dan sebatang cokelat untuk membuatnya kembali tenang. "Makanlah dulu,"
Jenna mengambil cokelat yang telah dipotong oleh Adrian dan memasukan cokelat itu ke dalam mulutnya. Begitu, cokelat itu lumer di mulutnya, hatinya sedikit merasa tenang dan Jenna sudah tidak setakut tadi. "Terima kasih,"
Adrian memberikan waktu sejenak untuk Jenna supaya gadis itu bisa mencerna dengan baik apa yang baru saja terjadi. Dia tidak berusaha untuk mengajak Jenna untuk berbicara dan Adrian terus menunggu, hingga gadis yang tatapan matanya kosong itu, siap bicara dan berjalan kembali.
Hari mulai sore, Jenna masih terdiam dan tak berbicara satu patah kata pun. Akhirnya, Adrian menggenggam tangan gadis itu dan mengajaknya berjalan. "Jen, yuk,"
Jenna mengangguk dan membalas genggaman tangan Adrian tanpa sadar. Saat ini, dia hanya ingin kembali dan menemui Ortega. Namun, dia tidak dapat melakukannya karena mereka masih memiliki satu pekerjaan yang harus mereka lakukan.
"Kau sudah baik-baik saja?" tanya Adrian lembut.
Wajah Jenna masih tampak pucat pasi, tetapi sudah terlihat lebih baik dari beberapa belas menit yang lalu. Dia mengangguk perlahan. "Ya,"
Adrian mengacak-acak rambut Jenna dan mengajaknya pergi ke butik pakaian yang diperintahkan oleh Kamila, tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Jenna.
Sama seperti Adrian, Jenna mulai nyaman dengan tangan hangat Adrian yang menggenggamnya. Tak lama, mereka memasuki sebuah butik yang dipenuhi dengan gaun pesta berwarna-warni cerah dan tergantung dengan rapi, memanjakan mata siapapun yang memandangnya.
"Masuklah lebih dulu dan pilih satu atau dua gaun yang menurutmu bagus. Aku akan ke seberang sana sebentar untuk mengambil beberapa tuksedo serta set suit untuk para pria," kata Adrian. "Nanti aku akan menjemputmu di sini. Tunggu sampai aku datang!"
Jenna mencengkeram jari Adrian dan tak ingin melepasnya. "A-, apakah kau akan lama?"
Adrian tersenyum. "Tidak, aku akan mempercepat fittingnya,"
Jenna mengangguk dan dia pun masuk ke dalam butik tersebut. Seorang wanita menyambutnya dengan ramah. "Selamat datang, Nona. Apa yang Anda cari?"
"Hmmm, aku mencari gaun untuk pesta dansa dengan tema Renaisans," jawab Jenna canggung. Sesekali dia melihat ke mana Adrian pergi dan setelah pria itu tak terlihat, Jenna menjulurkan kepalanya setiap dua menit sekali.
Wanita bercepol itu membawa Jenna ke rak gaun yang mengembang lebar seperti gaun seorang putri. "Silahkan pilih, mana yang kau sukai, Nona,"
"Haruskah aku mencobanya?" tanya Jenna.
"Tentu saja kau harus mencobanya, Nona Cantik! Ah, aku akan menunggu di luar karena di toko kami belum ada ruang ganti," jawab wanita itu dan dia pun meninggalkan Jenna dengan sebuah gaun berwarna krim di tangannya.
Setelah beberapa menit berada di kamar ganti, seseorang mengetuk pintu kamar ganti tersebut. "Jen, ini aku. Kamila memintaku memilih dua gaun. Dan, aku telah memilihkan untukmu,"
"Adrian? Kau sudah selesai?" tanya Jenna lagi.
"Sudah. Buka pintumu sedikit dan cobalah gaun ini," kata Adrian lagi.
Terdengar suara kunci pintu dibuka dari dalam, dan tangan Jenna muncul dari balik pintu itu. "Mana gaunnya? Oh, cantik sekali warnanya,"
"Ya, itu warnamu, 'kan?" tanya Adrian. "Jen, aku akan menunggumu di luar. Kalau kau tidak suka, aku akan ambilkan yang lain,"
"Ya, ada apa?" tanya Adrian lagi.
"Bisakah kau tolong panggilkan wanita itu? Ah, tapi, bisakah kau menolongku? Rambutku tersangkut di resleting gaun ini. Sakit sekali," ucap Jenna.
Suara Adrian terdengar panik dan dia bergerak dengan kikuk di depan pintu kamar ganti tersebut. "Ah, i-, itu. Ba-, baiklah. Aku masuk, begitukah?"
Jenna membukakan pintu untuk Adrian. Kepalanya miring ke kiri, karena rambut panjangnya tersangkut di bagian resleting bagian tengah. "Tolong," rintihnya.
Adrian tertawa kecil saat melihat Jenna. "Hadap ke depan. Ini akan sedikit sakit, karena aku akan menarik rambutmu untuk bisa terlepas dari kaitan resletingnya,"
"Tidak masalah," ucap Jenna.
Dengan hati-hati, Adrian menarik rambut panjang Jenna satu per satu. Namun, ada beberapa helai yang memang menyangkut parah sekali di sana dan Adrian terpaksa menariknya. "Sudah,"
"Aw!" kata Jenna sambil mengusap kepalanya. "Kau benar, ini sakit,"
"Belum selesai! Angkat rambutmu," titah Adrian.
Tiba-tiba saja, Jenna merasakan jantungnya bergemuruh saat Adrian tak sengaja menyentuh punggungnya yang terbuka. Jenna dapat merasakan deru napas Adrian di tengkuk lehernya, terasa panas.
"Done! Kau cantik, ambil keduanya saja dan ikat rambutmu saat mencoba gaun!" Adrian mengambil seutas pita yang ada di gantungan gaun tersebut dan mengikat rambut Jenna dengan pita itu.
"Te-, terima kasih," ucap Jenna dengan suara tercekat.
Setelah selesai mengurus segalanya, mereka pun kembali ke mansion Kamila. Ortega segera menyambut kedatangan Jenna dengan pagutan hangat. "Aku mendengar berita buruk tadi siang,"
Adrian mencibir melihat Ortega dan Jenna saling berpagutan dan berpelukan. "Ya, dia selamat berkat aku. Terima kasih kembali,"
Volkov menepuk pundak Adrian, berusaha menenangkan pria itu sambil tersenyum. "Ya, kami berterima kasih padamu karena kau sudah menjaga Jenna kami dengan baik,"
"Cih! Kalau aku ada di sana saat itu, aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu," kata Ortega.
Di tengah keramaian itu, Kamila datang dengan wajah serius. "Aku tidak pernah mengira bahwa feral akan muncul di siang hari. Dua korban, itu banyak! Dan keduanya memiliki luka gigitan. Benar, Adrian?"
Adrian mengangguk. "Jenna juga melihatnya,"
"Kurasa, kondisinya semakin berbahaya untuk kalian terutama, untuk kau, Jenna," ucap Kamila. "Saat pesta dansa nanti, aku akan memberikan kalian masing-masing satu senapan untuk berjaga- jaga."
"Untuk Volkov dan Ortega, kalian bisa menggunakan taring kalian untuk menghancurkan feral yang sewaktu-waktu bisa datang. Tak ada salahnya mencegah, 'kan?" sahut Kamila.
Tak lama, Adrian datang dengan membawa sebuah koper dan diikuti dengan Zac serta Artemis di belakangnya. Memberikan koper itu kepada Kamila.
Kamila membuka koper itu dan melemparkan satu senapan serupa seperti milik Adrian kepada Jenna. "Sisa dua hari ini bisa kau pakai untuk latihan menembak. Adrian, ajari dia,"
"Kenapa harus dia? Kenapa tidak aku saja yang mengajarinya?" protes Ortega.
"Kalau kau bisa memanfaatkan dua hari dengan baik, kau bisa mengajarinya untuk menembak. Tapi kenyataan yang ada di lapangan adalah, kita tidak bisa menahan sinar matahari terlalu lama di atap. Kalau kau hanya ingin melihatnya, silakan. Aku tidak melarangmu untuk melihat kekasihmu," jawab Kamila tenang. "Kau bisa menggunakan senapan sebelumnya?"
Ortega mengumpat. "Shitt! Aku tidak bisa, tapi aku akan tetap mengawasi manusia brengsek ini selama dua hari!"
"Aku tidak melarang drama di sini, tapi aku tidak mau kalau kalian terpecah belah karena masalah drama cinta-cintaan ini. Paham?" tanya Kamila tajam.
Mereka pun mengangguk perlahan.
Kemudian, Kamila bergegas pergi sambil mengajak Zac untuk ikut dengannya. "Ikut aku! Ada yang harus kau pelajari mengenail ini!"
Zac melirik sesaat ke arah Jenna dan kemudian, dia mengikuti Kamila dari belakang.
...----------------...