Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 22



"Kau mengenal pria itu?" bisik Zac, sambil melihat pria dengan blazer panjang hitam yang berjalan di belakang mereka.


Pria asing itu bersiul-siul dan sesekali menggumamkan sebuah nada aneh yang sedikit menyeramkan. Jenna menengok ke belakang dan dia bergidik ngeri melihatnya. Namun, pria itu tersenyum kepada Jenna. "Aku tidak mengenalnya. Kupikir itu salah seorang kenalanmu,"


Zac menggelengkan kepalanya. "Aku tidak punya kenalan seperti itu. Ah, ayo, kita harus cepat-cepat! Hari ini aku hanya mendapatkan izin setengah hari dari mr. Klaus,"


Dengan diikuti oleh pria aneh, mereka pun berjalan menuju rumah sakit terdekat. Setelah sampai di rumah sakit, Jenna segera di periksa dan diberikan sejumlah obat serta vitamin.


"Kalau obat ini habis, tapi Nona masih mengalami mimpi buruk dan kesulitan tidur, silahkan datang lagi ke sini dan temui Psikolog yang akan saya rekomendasikan untuk Nona." ucap dokter itu.


Jenna menelan salivanya, kedua bola matanya membulat. "Sa-, saya tidak gila, 'kan, Dok?"


Dokter itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Untuk saat ini, belum. Hahaha! Tidak ada orang gila di dunia ini, Nona. Yang ada hanyalah manusia yang kehilangan akal budi dan hati nuraninya,"


"Untung saya masih punya keduanya, hehehe. Baiklah, kalau begitu. Terima kasih atas bantuannya, Dok. Kami permisi dulu," ucap Jenna. Rasa khawatir dan takutnya sirna begitu saja saat dia mendengar penjelasan dari dokter yang telah memeriksanya.


Setelah segala urusan rumah sakit selesai, Jenna meminta Zac untuk pergi bekerja. "Pergilah, aku baik-baik saja,"


"Kau harus pulang ke apartemenku. Ini kuncinya," kata Zac sambil memberikan sebuah kartu berwarna silver kepada Jenna.


Jenna mengambil kartu itu dan menyimpannya di dalam tas. "Thank's. Aku ingin mencari udara segar terlebih dahulu sebelum aku pulang,"


Zac merendahkan wajahnya hingga dekat sekali dengan Jenna. "Aku sungguh-sungguh tidak tau siapa pria itu. Semoga dia bukan penguntit. Menjauhlah darinya, Jen,"


"Pasti. Aku juga takut, walaupun dia tampan tapi wajahnya sedikit menyeramkan," balas Jenna. Matanya melirik ke arah pria asing yang tersenyum lebar kepadanya. "Haish!" desis Jenna saat netra mereka saling bertemu.


Setelah Zac pergi, Jenna pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya lebih dahulu, untuk mengambil pakaian yang telah ia masukkan ke dalam koper kemarin malam. Hari itu dia memutuskan untuk tinggal bersama Zac sementara waktu, sampai dia benar-benar bisa sembuh dan sirkumdian hidupnya kembali normal.


"Jenna! Jenna! Jenna! Hei, Jen!" pria asing itu terus memanggil namanya, bahkan terkadang dia membuat sebuah lagu dari nama Jenna. Sambil berdendang, pria itu berdansa sepanjang jalan.


Jenna memandang pria itu dengan kesal. "Berisik! Aku tidak tau siapa kau dan aku juga sama sekali tidak mengenalmu! Kenapa kau terus membuntutiku seperti ini, huh!"


"Aku tau, kau pasti lupa kepadaku, Jenna. Memang itu yang seharusnya terjadi. Tapi, aku tidak pernah melupakanmu. Bahkan, saat aku memejamkan mataku pun, kau selalu berlarian di otakku. Kau terus memanggil namaku. Itu sebabnya, aku tidak pernah melupakanmu," jawab pria asing itu.


Jenna mengacuhkan pria itu hingga dia sampai di rumahnya. Gadis itu mengambil koper yang sudah dia packing di kolong ranjangnya dan menariknya keluar.


"Kau yakin mau pergi? Aku datang untuk menemanimu, Jenna," ucap pria itu lagi memohon Jenna untuk tidak pergi.


"Menemaniku? Pernahkah seseorang memberitahukan kepadamu, jangan bicara pada orang asing? Bahkan, kau masuk ke dalam rumahku tanpa seizinku!" tanya Jenna gusar.


Pria itu berkacak pinggang dan menyudutkan Jenna. "Aku hanya ingin menemanimu sampai kau ingat padaku."


Seperti tak sabar, pria itu menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi Jenna dan mengambil alih bibir gadis itu. Dia melummatnya dengan rakus.


Saat awal bibir mereka bertemu, Jenna mendorong pria itu untuk menjauh. Namun, sekelebatan ingatan berputar cepat di dalam benak Jenna seperti sebuah film yang diputar dengan cepat.


Entah kenapa, tiba-tiba Jenna merasakan kerinduannya kini terobati. Segalanya menjadi lebih jelas, bayangan hitam yang selalu datang di mimpinya adalah pria yang saat ini sedang memagutnya dengan panas.


Suara dering telepon membuat Jenna mendorong pria itu dan segera mengangkat panggilan teleponnya. "Ehem! Ya, Zac,"


("Kau baik-baik saja?") tanya Zac. Suaranya terdengar khawatir.


"Emmm, ya. Ehem! Aku sempat tertidur tadi, mungkin pengaruh obat itu yang membuatku tertidur," jawab Jenna berbohong. Dia tidak tertidur, hanya saja dia baru menyadari sesuatu saat dia menatap pria asing yang sedang menatapnya. "Zac, aku tutup dulu sebentar. Aku kaget saat ponselku berbunyi,"


("Maaf, aku tidak tau kalau kau tidur. Aku hanya ingin bertanya apa kau sudah sampai di apartemenku atau belum. Baiklah kalau begitu, istirahatlah dan kabari aku,") pinta Zac, kemudian dia mengakhiri panggilannya dengan Jenna.


Jenna mengangkat telapak tangannya saat pria aneh itu kembali mendekat. "Dengarkan aku! Aku tidak mengenalmu, hanya saja aku merasakan sesuatu yang aneh saat kita tadi, kau tau? Dan, saat ini aku sedang sakit. Mungkin nyaris gila, dan aku harus segera sembuh. Jadi, biarkan aku menyembuhkan diriku sendiri, setelah itu, kau boleh beredar di sekitarku lagi! Ah, kau boleh tinggal di sini karena aku baik! Jangan merusuh!"


Jenna menarik kopernya dan bergegas keluar untuk memanggil taksi.


Setelah kepergian Jenna, pria asing itu tampak shock dan tidak tau harus apa. Sebelum dia menemui Jenna, dia telah mempertimbangkan keputusannya ini dengan matang.


Dua hari sebelumnya,


"Kalau kau ingin bertemu Jenna, maka kekuatanmu akan kembali hilang. Lagi-lagi, peraturan tentang darahmu dan darah gadis manusia itu tidak boleh bersatu, akan berlaku kembali atau, kau akan dikendalikan olehnya."


"Volkov, apakah aku tetap menjadi vampir penghissap darah?" tanya pria tampan berambut hitam.


Volkov mengangguk. "Ya, begitu tubuhmu menyatu dengan darah Jenna, maka kau akan terus kelaparan seperti saat itu dan kau akan tergantung terus kepadanya,"


"Bagaimana caraku menjadi seperti Jenna?" tanya pria berambut hitam itu lagi.


"Hahahaha! Kau bergurau, Ortega. Kita tidak akan pernah bisa berubah menjadi manusia. Kecuali ada dewa baik hati yang melihat tulusnya cinta kalian. Lagipula, ingatan Jenna tentang kita terhapus sepenuhnya, jadi, dia tidak akan mengingat satu pun tentang kita," jawab Volkov, dia masih tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan konyol dari teman vampirnya.


Ortega terdiam dan tampak berpikir. "Bagaimana caraku untuk membantu Jenna mengingat tentangku,"


"Mudah saja. Cinta sejati," jawab Volkov. "Kau sanggup membuatnya jatuh cinta kepadamu?"


...----------------...