Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 7



Suara pukulan dan hantaman samsak serta kata-kata umpatan, terdengar nyaring pagi itu. Seorang gadis kecil dengan punch mitt di kedua pergelangan tangannya, wajahnya garang tak kenal takut, sedang meninju samsak yang ada di hadapannya. "Dasar Vampir Mesum! Vampir Kurang Ajar! Tak tau diri! Vampir Sialan! Aku benci! Aku benci kau!"


Setelah puas melampiaskan kekesalannya pada samsak berwarna biru itu, gadis itu berhenti dan menjatuhkan dirinya di lantai dengan napas terengah-engah.


"Semangat sekali, Jenna," goda sang pemilik tempat olahraga itu sambil tersenyum.


Jenna mengambil tumblernya dan menenggak minuman yang ada di tumbler tersebut. "Ya, aku sedang mengumpulkan tenaga untuk membunuh orang jika orang itu sewaktu-waktu menyerangku, Tom,"


"Jatuh cinta rupanya, ya?" goda pria bernama Tom itu sambil mengacak-acak rambut Jenna yang tergelung berantakan.


Satu tinju kecil mengenai lengan Tom. "Siapa bilang aku sedang jatuh cinta?"


"Hahaha! Anggap saja itu doa dan harapanku," ucap Tom sambil berlalu.


"Cih!" tukas Jenna kesal.


Perutnya mulai berkumandang menyanyikan sebuah mars rasa lapar yang sudah sangat dikenalnya. Ingin sekali dia kembali ke rumah, tetapi dia tidak mau bertemu dengan Ortega.


"Andai aku bisa merubahnya menjadi seekor anak anjing, pasti akan mengasyikan," harap Jenna dalam hati.


Langkahnya berat menyusuri jalan menuju rumahnya. Tiba-tiba saja terdengar suara ramai dari dalam rumah kecil itu. Jenna mempercepat langkahnya dan membuka kunci rumah tersebut.


Betapa terkejutnya dia, saat melihat Ortega dalam wujud vampir menyeramkan dan seekor anjing besar sedang bertarung dengan dahsyat.


Alih-alih takut, emosi Jenna justru meledak. "APA YANG KALIAN LAKUKAN, MAKHLUK BODOH! HENTIKAN!"


Ortega segera merubah wujudnya menjadi manusia kembali. "Volkov, kita sudahi dulu. Makananku datang,"


Volkov berbalik ke arah Jenna dan menatapnya dengan kedua mata serigalanya yang berwarna abu-abu. "Kau seorang manusia?"


"Ya, dan kau? Anjing besar? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jenna.


Volkoh berubah wujud menjadi manusia. "A-, anjing besar? Kau benar-benar meremehkanku, Manusia?"


"Tidak ada yang meremehkanmu atau vampir konyol itu! Aku hanya ingin kedamaianku kembali! Ortega, rapikan rumahku!" titah Jenna tegas. "Aku lapar! Kalau kau lapar juga, rapikan rumahku seperti sedia kala, setelah itu, ayo, kita makan bersama!"


Dengan patuh, Ortega menuruti perintah Jenna. Volkov mendengus senang, dia mengejek Ortega. "Huh! Kau menjadi budak manusia kecil ini rupanya,"


Secepat kilat, Ortega memandang Volkov dengan maniknya yang merah menyala. "Apa yang kau katakan? Dia makananku, jadi aku harus berbaik hati padanya!"


Mencium akan adanya kerusuhan lagi, Jenna bersungguh-sungguh berharap dalam hati supaya mereka berdua berubah menjadi anjing kecil atau bahkan seekor anak anjing.


Plop!


Seperti sihir, harapan Jenna menjadi kenyataan. Ortega dan anjing besar itu tiba-tiba menyusut menjadi dua ekor anjing kecil. Ukuran mereka tak lebih besar dari sebuah cangkir kopi.


Suara gonggongan mereka nyaring dan terdengar ketakutan. "Heh! Kalian benar-benar berubah menjadi anjing kecil menggemaskan? Wah, lucunya!"


Jenna menggendong anjing-anjing kecil itu dan meletakkannya di atas meja. Kemudian, gadis itu melihat salah satu dari anjing itu terluka. "Hei, kenapa kakimu?"


Gadis itu memperhatikan kedua anjing kecil yang berada di atas meja makan dan sedang mendengking-dengking ketakutan. "Oh, kau adalah Ortega. Dan kau, hmmm, siapa tadi namamu? Vilkov? Oh, Volkov! Kakimu terluka, aku akan mengambilkan perban untukmu,"


Dengan lembut, Jenna mengobati kaki anjing kecil itu dan membebat kakinya dengan perban. "Untuk sementara, kau tidak bisa jalan dulu. Makanya, jangan bertengkar! Inilah akibatnya, jika kalian bertengkar!"


Setelah selesai sarapan dan memberikan anjing-anjing kecil itu sosis darah sapi, Jenna meninggalkan mereka di rumah. Dia kembali berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu berliburnya.


"Aku akan pergi ke pusat perbelanjaan kali ini. Aku ingin membeli kalung anjing untuk mereka," kata Jenna bermonolog.


Jenna melangkahkan kakinya dengan riang menuju pusat perbelanjaan di kota itu.


Sementara itu,


"Karena Ortega mendapatkan kutukan darimu, dia hanya bisa menghissap darah gadis itu. Dia akan tergantung pada manusia yang menjadi makanannya. Begitu pula dengan Volkov kami. Ortega berhasil melukai kaki Volkov, darah Ortega yang dia dapatkan dari manusia bumi, tercampur dengan darah Volkov, sehingga Volkov kami terkena imbas kutukan darimu," jawab Zella tenang. Entah mengapa dia tersenyum saat dia memperhatikan bola kristal yang ada di hadapannya itu.


Vlad memiringkan kepalanya. "Darah manusia itu terbuat dari apa?"


Zella menggeleng-geleng perlahan. "Aku belum tau. Tapi, takdir Ortega dan takdir Volkov, kini sudah berubah,"


"Tunggu sebentar, jika Artemis nekad datang ke Bumi, apakah takdir Artemis akan berubah?" tanya Vlad. Dia mulai mengkhawatirkan putrinya yang sejak mengetahui kalau Ortega berada di Bumi, ingin menyusul vampir itu ke bumi.


"Kita tidak pernah tau, Vlad," jawab Zella pasrah.


Vlad takut, jika Artemis datang ke Bumi, putrinya itu akan berubah menjadi seekor kucing kecil. Dia bergidik ngeri. "Manusia itu, .... Kekuatan apa yang dimilikinya?"


Jauh dari tempat Vlad, Jenna sedang asik melihat-lihat di toko hewan. Dia tertarik dengan pakaian anjing kecil, sepatu anjing (bahkan, ada yang bisa menyala dalam gelap,) makanan anjing, peralatan untuk perawatan, serta berbagai macam mainan untuk anjing.


Selagi asik melihat-lihat, seorang pria menghampiri Jenna dan menutup kedua matanya. "Tebak, siapa aku?"


"Zac," jawab Jenna bosan.


Zac merangkul pundak gadis itu. "Kau memelihara anjing sekarang?"


Jenna mengangguk. "Ya, puppy cup. Lucu sekali mereka."


"Itu anjing mahal. Darimana kau mendapatkan mereka?" tanya Zac lagi.


"Aku menemukannya di depan rumahku. Mungkin, Tuhan mengabulkan doaku. Aku meminta padaNya, seorang teman yang dapat menemaniku di rumah," jawab Jenna lagi tanpa pikir panjang.


Zac menepuk pucuk kepala Jenna. "Baguslah. Lalu, di mana pria aneh itu?"


"Sudah kuusir!" jawab Jenna singkat.


Zac menghela napas lega. "Syukurlah. Aku khawatir terjadi sesuatu denganmu kalau pria aneh itu masih ada di rumahmu,"


"Tenang saja. Aku pintar bela diri dan boxing. Kau tak perlu khawatir," ucap Jenna sambil memamerkan otot trisep-nya.


"Tetap saja kalau kau kenapa-kenapa, aku khawatir," balas Zac, wajahnya merona merah saat bicara seperti itu.


Jenna menatap Zac dengan manik birunya. "Kenapa dengan wajahmu?" tanya Jenna lagi.


Zac menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ti-, tidak apa-apa!"


Setelah mendapatkan apa yang dicari, Jenna dan Zac berjalan-jalan memutari pusat perbelanjaan itu. Hingga malam tiba, Zac kembali mengantarkan Jenna pulang ke rumahnya.


Jenna memamerkan anjing-anjing kecilnya yang sedang tertidur pulas di sofa.


"Wah, mereka lucu-lucu sekali," kata Zac, mengambil salah satu anjing itu.


Namun, anjing itu menggigit jari Zac. Untung saja giginya tidak begitu tajam, sehingga hanya menimbulkan sensasi geli pada Zac.


"Kau galak sekali, Ortega! Tidak boleh seperti itu! Ini kawanku," tukas Jenna, dia memakaikan kalung berinisial huruf O pada anjing kecil itu.


Setelah selesai, dia mengambil kalung dari tasnya dan memakaikan kalung lain berinisial V untuk Volkov. "Kalian resmi menjadi milikku. Aku sudah membelikan kalian bantal, jadi nanti malam, kalian bisa tidur di bantal itu,"


Malam hari pun tiba, Jenna merayap naik ke atas ranjangnya setelah dia memberikan makan pada kedua anjing kecilnya. "Selamat tidur, anak-anakku,"


Keesokan paginya, tubuh Jenna kembali terasa berat. Dia membuka matanya dan terkejut, melihat Ortega sudah berada di atas tubuhnya tanpa memakai sehelai benang pun. Wajah tampannya menyapa Jenna pagi itu. "Selamat pagi, Jennaku,"


"Waktunya aku untuk sarapan, Jenna," kata Ortega sambil menyeringai lebar.


...----------------...