Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 47



Beberapa hari setelahnya, Zac masih belum bisa pulang ke apartemennya. Kamila masih ingin mengajarkan pria berparas tampan itu tentang kehidupan vampir yang akan dijalani oleh Zac.


"Ini akan berbeda sekali dengan kehidupan manusiamu, jadi aku belum bisa melepasmu sendiri, Zac," ucap Kamila.


"Ada aku! Aku bisa mengajarinya. Bukan begitu, Zac?" sahut Artemis.


Artemis sudah mengumumkan diri kalau dia bukanlah Alena. Dia kembali ke dunia manusia untuk mengejar Ortega dan membalaskan dendam pada Jenna, tetapi ternyata dia malah jatuh cinta kepada Zac. Wanita itu terang-terangan mengakui tujuan dia kembali datang ke dunia manusia.


"Tetap tidak! Dia tetap harus tinggal di sini sampai dia cukup siap kubiarkan mandiri!" tukas Kamila dan dia meminta Zac untuk mengikutinya.


Untuk Jenna, Kamila memberikan dia sebuah mansion yang dekat dengan tempat tinggalnya dan gadis itu memprotes habis-habisan. Karena dia tidak mau berhutang budi kepada siapa pun. "Aku kembali ke rumahku saja,"


"Kau tetap di sini!" balas Kamila tajam.


"Tidak! Aku kembali saja! Jika aku berdekatan denganmu, kau bisa mengawasi setiap gerak gerikku. Bahkan setiap helai napasku, akan kau awasi! Bukan kau tepatnya, tapi pria itu!" tukas Jenna lagi, dia memandang sengit ke arah Adrian yang segera mengalihkan pandangannya.


Jenna paham sekali, Kamila akan mengutus asisten kesayangannya untuk mengawasi dirinya. Itu yang akan Kamila lakukan.


"Kau dan Ortega sudah terikat kontrak dengan Lucy Brooke sebagai talent di agensinya. Bersikaplah profesional sedikit, Jenna!" seru Kamila tak kalah panas. "Soal Adrian, aku tidak akan meminta dia untuk mengawasimu, dia akan tetap bekerja denganku!"


"Bagus!" balas Jenna.


Ortega dan Volkov datang dan bergabung bersama mereka. Mereka berdua memperhatikan dengan seksama percakapan panas yang terjadi antara Jenna dan Kamila.


"Soal kontrak itu, kau belum menanyakan kepadaku apakah aku setuju atau tidak," sambung Jenna lagi. "Aku rasa Ortega juga tidak tau menahu soal kontrak itu. Ya, 'kan Ortega?"


Ditanya secara mendadak seperti itu, Ortega pun gelagapan. "Eh, apa? Kontrak apa, Sayang?"


"Sudahlah! Lupakan!" tukas Jenna tak sabar.


Akhirnya dengan bergumam kesal Jenna menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil melipat kedua tangannya. Bibirnya mencebik kesal. Dia menggerutu tidak jelas, pandangannya dia alihkan ke luar jendela.


"Ingat, jangan bertindak sesukamu, Jen! Karena aku yang akan bertanggung jawab atas segala tindak tandukumu! Kuharap kita bisa bekerja sama dalam hal ini," kata Kamila keras memperingatkan.


"Hmmm," jawab Jenna singkat.


Setelah kepergian Kamila, Jenna menumpahkan kekesalannya pada Volkov dan Ortega. Dia menceritakan segalanya kepada mereka, tentang kekesalannya karena pada akhirnya mereka akan terus di awasi oleh klan yang menguasai mereka.


"Kita sudah sejauh ini. Apa yang sudah diperjuangkan oleh kita dan mereka, tidak dapat kita tarik kembali, 'kan?" ujar Volkov bijaksana.


Jenna menghela napasnya panjang. "Yah, kau benar,"


Ortega mengecup kening kekasihnya dengan sayang. "Bersabarlah, Sayang,"


Dan Volkov menambahkan kecupan itu di pipi Jenna. Namun, Ortega mendorongnya kasar. "Dia kekasihku,"


"Dia gadisku," kata Volkov merengkuh Jenna dalam pelukannya.


Jenna mendorong mereka berdua untuk menjauh dari dirinya. Hidup di mansion Kamila sama saja hidup di dalam penjara. Dia tidak bisa hidup bebas seperti di rumahnya sendiri ataupun berjalan-jalan setelah dia kembali kerja. Lagi-lagi dia menghembuskan napasnya panjang.


"Ayo, kita berjalan-jalan. Kau bisa memakai kekuatanmu untuk membuat kami tahan sinar matahari," sahut Ortega.


Jenna kembali mengeluh kasar. "Aku sedang dalam kondisi tidak stabil, aku takut melakukan kesalahan yang akan merugikan kalian,"


Selagi mereka asik mengobrol dan banyak mengeluh, Adrian datang. "Jen, ikut aku!"


"Cih! Manusia Kulkas datang!" tukas Jenna semakin memberengutkan wajahnya.


Ortega menghampiri Adrian dan memberikan peringatan kepada pria itu dengan menunjukkan kedua taringnya yang tajam. "Jangan terlalu kasar kepada gadisku! Dia gadis yang baik, bicaralah yang lembut kepadanya. Kau bisa?"


"Apa hakmu? Aku tidak takut kepada taringmu yang lembut itu! Gadis itu memang harus ikut denganku apa pun yang kau katakan!" balas Adrian lagi. Taring Ortega tidak membuatnya gentar atau takut.


Wajah Ortega semakin menyeringai lebar. Jenna dan Volkov yang mengetahui akan adanya bahaya, segera menenangkan Ortega. Volkov menjauhkan Adrian dari pria vampir itu, sedangkan Jenna memagut Ortega dengan panas demi mengalihkan emosi kekasihnya. "Aku akan ikut sebentar dengannya, kau tidak perlu khawatir. Kalung ini akan memberitahukan kalian kalau aku berada di dalam bahaya, 'kan?"


Ortega mengangguk tak berdaya. "Cepatlah kembali, kita teruskan ini nanti malam," Pria itu melanjutkan pagutannya pada Jenna dan rasanya sulit sekali melepaskan pagutan itu.


Tak lama, Jenna dan Adrian sudah menemui Kamila di ruangan kerjanya. Jenna sempat melihat Artemis dan Zac tertidur di ruangan mereka. "Mereka makhluk nocturnal yang akan aktif di malam hari,"


"Yap. Untuk itulah aku memanggilmu tanpa sepengetahuan teman-temanmu," ucap Kamila. "Aku dan Lucy memiliki sesuatu yang sedang kami kembangkan bersama dan anggap saja ini hadiah untukmu,"


Kamila membuka laci lemarinya dan mengeluarkan dua buah suntikan dengan cairan berwarna merah di ujungnya. "Ini serum yang sedang kami kembangkan. Serum ini bisa membantu kami berjalan di bawah sinar matahari selama lima jam saja. Setelah itu, kau kembali menjadi seperti ini lagi,"


"Apa kau memikirkan ingin kembali menjadi manusia?" tanya Jenna.


Kamila tersenyum. Matanya tampak sayu dan sedih. "Siapa yang tidak ingin menjadi manusia? Saat ini aku sudah memiliki segalanya dan aku merasa lelah. Aku tidak tau apalagi yang ingin aku raih,"


Jenna merasakan kesedihan dan kesepian Kamila. Wanita itu terlihat lelah dan putus asa. Segala yang dia rasakan tersampaikan kepada Jenna dengan baik dan Jenna memeluk Kamila untuk membesar hatinya. Dia juga tidak tau andaikan segala sesuatunya berhasil dia raih, termasuk mimpi dan cita-citanya, apalagi yang ingin dia lakukan di dunia ini.


"Kenapa kau menunjukkan serum itu kepadaku?" tanya Jenna setelah dia melepaskan pelukannya pada Kamila.


"Kau bisa berikan ini pada Ortega atau Volkov atau siapapun yang ingin kau ajak jalan," jawab Kamila lagi sambil memberikan satu buah serum kepada Jenna.


Jenna duduk di sebuah kursi sambil mengamati serum itu. "Kau tau, Ortega dan Volkov bisa berjalan di siang hari asalkan mereka berjalan bersamaku. Mereka beranggapan kalau itu berasal dari kekuatanku. Tapi sesungguhnya, aku tidak memiliki kekuatan apa pun,"


Kamila menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Kau istimewa, Jenna. Bukan karena kau setengah-setengah, tapi apa yang ada di dalam dirimu itu istimewa,"


"Baiklah, aku akan ambil serum ini. Entah untuk siapa, tapi akan tetap kusimpan. Terima kasih. Dan, tolong katakan pada asistenmu untuk bersikap lembut padaku," ucap Jenna sembari memandang Adrian yang sedang memandangnya juga.


"Dia hanya bersikap tegas," jawab Kamila lagi. "Tapi nanti, akan kusampaikan permintaanmu padanya,"


Jenna menganggukan kepalanya. "Thank's. Apakah hanya ini yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Tentu saja tidak! Lucy menawarkanku untuk hadir di fashion week di luar negeri. Kau keberatan jika kalian bertiga ikut denganku?" tanya Kamila.


...----------------...