
Volkov dan Ortega segera menarik Jenna untuk mundur dan menjauh. Kamila mencoba menahan Zac yang hendak menyerang. Namun, begitu dia melihat orang-orang di sekelilingnya, kesadarannya perlahan berangsur pulih. "A-, apa yang terjadi? Di mana aku?"
"Kau berada di rumah Kamila, Zac dan apakah kau mengingatku?" tanya Jenna, dia memberanikan dirinya untuk maju dan berdiri di hadapan Zac.
Begitu Jenna mendekat, Zac kembali mengeluarkan taringnya dan menggeram. "Rrrrrr! Aku lapar!"
Kamila meminta Ortega untuk membawa Jenna keluar dari ruangan itu sampai Zac tenang. Akan tetapi, bukannya tenang, Zac justru menepiskan tangan Kamila dan kabur.
"Zac!" pekik Jenna dan Artemis.
Kedua gadis itu berlari mengikuti Zac. Namun, Zac berlari sangat cepat. "Argh, rumah ini terlalu besar! Kira-kira di mana dia?"
"Kalau dia vampir, dia akan bersembunyi dari panas. Tidak mungkin dia akan bersembunyi di tempat yang terkena sinar matahari. Hanya ada dua kemungkinan, kamar mandi dan gudang," jawab Artemis. "Itu yang akan aku lakukan untuk bersembunyi. Kau, carilah di kamar mandi dan akh akan mencarinya di gudang!"
Jenna mengangguk mantap, kedua matanya tajam, dan penuh tekad. Keberaniannya seolah meningkat seratus persen, belum lagi jiwa tarung gadis itu yang juga bertambah besar.
"Zac!" Jenna membuka kamar mandi bawah, tetapi tidak ada Zac di dalam sana.
Dia terus memanggil-manggil Zac sambil mencari kamar mandi yang lain. "Zac! Ini aku, kau tidak perlu takut!"
Perlahan, Zac muncul dari kamar mandi yang lain. Kedua matanya masih merah dan wajahnya tampak linglung. "Apa yang terjadi? Aku lapar sekali,"
Jenna mengambil jarak saat berdiri dengannya. "Kau masih mengingatku, Zac?"
"Jenna? Apa yang terjadi, Jen?" tanya Zac. "Rasanya tubuhku jadi aneh sekali,"
"Wajar saja, kau vampir sekarang, Zac. Kau baik-baik saja? Apa yang kau rasakan?" tanya Jenna, perlahan dia mendekati Zac. "Maafkan aku, aku yang membuatmu menjadi seperti ini. Aku tidak tau kalau ternyata Alena itu vampir seperti Ortega. Dia keterusan menghissap darahmu dan dia lakukan itu tanpa maksud mencelakaimu," jelas Jenna lagi. Kini, gadis itu sudah berdiri tepat di hadapan Zac.
Zac memperhatikan kedua tangannya, memegangi wajahnya, meneliti bagian tubuhnya yang bisa dia lihat dan dia sentuh. "Kau tau, that's cool, Jen. Aku merasa seperti superhero yang baru saja dilahirkan. Aku bisa mendengar tetesan air, suara Alena yang memanggilku, suara deru napasmu, aku bisa mencium bau orang-orang yang tadi di ruangan bawah tanah, dan kuakui baumu harum sekali, Jen. Bahkan, mataku bisa melihat dengan tajam! Ini keren sekali, tapi aku lapar. Sangat lapar!"
"Kau harus bisa mengendalikan rasa laparmu, Zac. Kau vampir yang baru saja dilahirkan," ujar Jenna, senang rasanya melihat Zac tidak menjadi monster mengerikan yang ditakuti oleh Baron dan Amstel pagi ini. "Ayo, kita kembali ke ruang bawah tanah!"
Zac mengangguk. Jenna mengambil tangan sahabatnya itu dan menggenggamnya erat. Tangan Zac yang biasa hangat, kini sedingin es. 'Aku akan melindungimu, Zac dan aku yang akan menjadi penghangat untukmu.' ucap Jenna dalam hati.
Mereka berdua pun kembali ke ruang bawah tanah. Selagi mereka berjalan, Artemis datang dan segera memeluk Zac. "Maaf! Maafkan aku, Zac. Ini semua salahku," ucap wanita itu sambil menangis.
Menurut cerita Artemis, awalnya dia berniat hendak mencium Zac. Namun, saat itu dia sedang lapar dan begitu ciuman Artemis mengarah pada leher Zac, tanpa sengaja, dia mengeluarkan taringnya dan menghujamkannya pada ceruk leher Zac. Dia tidak dapat mengendalikan rasa laparnya saat itu.
"Tenang saja. Aku masih hidup," ucap Zac santai. Dia menenangkan Artemis dengan menghadiahinya seringai lebar di wajah tampannya yang masih terlihat pucat itu.
Ketika mereka sampai di ruang bawah tanah, Kamila meminta mereka semua meninggalkan ruangan itu. "Ada yang harus aku ajarkan kepada teman kalian, seperti cara mengendalikan rasa laparnya, serta apa saja yang harus dia hindari untuk tetap bertahan,"
"Selain bawang putih dan matahari, apakah ada lagi?" tanya Jenna.
Kamila mengangguk. "Yes, kalian bisa menemui kami sekitar dua puluh menit lagi. Saat ini, beristirahatlah,"
Sementara itu, Kamila menyediakan sebuah ruangan untuk para tamunya. Adrian yang mengantar mereka menuju ruangan tersebut. "Ah, untukmu tidak di sini, Nona. Silahkan, ikuti aku,"
Jenna tidak bergeming. "Aku bisa bersama dengan mereka di sini. Tidak usah repot-repot,"
Adrian menatap tajam pada Jenna. "Kau ini keras sekali! Kau manusia, 'kan? Apa kau tidak takut dengan mereka? Ini siang hari, mereka pasti akan memilih untuk tidur,"
"Aku sudah biasa hidup bersama dengan mereka! Aku tidak takut, lagipula, mereka biasa bekerja di siang hari seperti manusia! Aku di sini saja!" seru Jenna tajam.
Adrian mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. "Ikut sajalah! Aku tidak tau apa yang akan Nona Sayeed katakan kepadamu, tapi dia menyuruhku untuk memisahkanmu!"
"Katakan saja pada Nona Sayeed-mu itu, kami selalu bersama dan selama ini, tidak ada yang berbahaya," ucap Ortega angkat bicara.
Karena tak sabar, Adrian mengunci ruangan di mana Ortega dan Volkov berada, dan dia menarik tangan Jenna, memaksa gadis itu untuk ikut dengannya. Dia memasukkan Jenna ke satu ruangan tak jauh dari ruangan Ortega. "Tunggu di sini! Setelah ini Nona Sayeed akan menemuimu, dan jangan ke mana-mana!"
"Cih! Kau hanya pesuruh ternyata!" sindir Jenna gusar. Gadis itu merasa kesal karena Adrian memaksanya untuk masuk ke dalam ruangan yang terpisah dengan kekasih dan temannya itu.
Adrian menyudutkan Jenna dan menggebrak satu tangannya ke dinding di atas kepala Jenna. "Jaga ucapanmu, Gadis Kecil! Aku melakukan ini karena satu tujuan!"
"Ya, hidup abadi dan kekayaan," jawab Jenna. Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa dia sadari. Dia dapat merasakan apa yang diinginkan oleh Adrian Renees ini.
Lagi-lagi, Adrian memukul dinding dengan kencang, hingga kepalan tangannya terluka. "Tidak usah ikut campur! Aku tidak tau kau ini apa, tapi aku peringatkan kepadamu untuk tidak ikut campur urusanku!"
"Tidak ada yang ikut campur urusanmu. Segala yang ada padamu, berteriak lantang kepadaku." jawab Jenna santai.
"Gadis Aneh!" tukas Adrian dan dia pun bergegas pergi.
Namun, Jenna menangkap tangan Adrian yang terluka. "Tanganmu harus disembuhkan sebelum bertambah parah, ini memar,"
Di dalam ruangan itu, ada lemari pendingin kecil dan Jenna membuka lemari pendingin itu dan mengambil satu minuman kaleng, kemudian dia kompres buku jari Adrian. "Lain kali kalau mau ngamuk, jangan pukul dinding, rubuhkan saja sekalian dinding itu,"
"Cih! Tidak usah ikut campur!" kata Adrian lagi. Akan tetapi, wajahnya memerah.
Setelah di rasa cukup, Jenna melepaskan tangan Adrian. "Kamila Sayeed, apa yang dia inginkan dariku? Apakah kau punya bocoran tentang itu?"
"Kau istimewa dan Nona-ku tertarik padamu. Mungkin, dia ingin membentuk klannya sendiri dan mengajakmu bergabung dengannya." jawab Adrian. Ada rasa cemburu terdengar di suaranya.
Jenna mengangguk-angguk. "Sayangnya, aku sudah terikat dengan orang lain,"
"Baron dan Amstel. Benar begitu? Apa yang kau tukar?" Kamila tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan bergabung bersama Jenna dan Adrian. "Apakah teman-temanmu? Aku bisa memastikan keselamatanmu, asal kau bergabung denganku, Nona Kecil. Bagaimana?"
...----------------...