
Suara gemerisik langkah seseorang memasuki hutan gelap terdengar sangat jelas. Terkadang, pria itu melayang sekelebat untuk menghindari pepohonan yang merambat. Kepalanya bergerak ke sana ke mari, mencari sosok yang sudah lama dia cari.
"Volkov! Hei, di mana kau!" tukas sosok hitam itu. Rambutnya yang acak-acakan semakin berantakan karena tersapa angin saat dia terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Herannya, hal itu justru membuat wajahnya semakin tampan.
Dia terus memanggil-manggil nama Volkov. Sampai akhirnya dia tiba di sebuah pondok yang terletak di tepi laut. Pria itu kemudian berjalan mendekati pondok kayu tersebut. "Di mana Volkov?" tanya pria itu.
Para pria bertelanjang dada yang berada di dalam pondok itu terkejut melihat kedatangan pria berantakan yang berada di depan pintu pondok. "Aarrgghh! Kau vampir! Apa tujuanmu datang ke sini? Tidak ada Volkov! Lagipula, jika kau ingin menemui Raja kami, kau harus berhadapan dengan kami dulu!"
Sontak saja, pria-pria muda itu berubah wujud menjadi seekor serigala besar setinggi dagu manusia dewasa. Pria yang disebut vampir, tidak bergeming. Dia tetap berada di posisi tenangnya. "Aku tidak ingin berperang, aku hanya ingin bertemu dengannya. Katakan saja padaku, di mana dia?"
"Aku tau, kau adalah Ortega. Vampir yang terkenal karena suka melanggar dan keji!" tukas salah seekor serigala berbulu kecokelatan.
Pria bernama Ortega itu tersenyum malu. "Ah, kau memujiku sampai seperti itu, hohoho. Kalian berlebihan sekali,"
Serigala yang tadi berbicara melengoskan kepalanya. "Cih! Bodoh sekali, itu bukan pujian!"
Bunyi tepukan tangan yang cukup kencang, membuat para serigala itu dalam posisi waspada. Bulu mereka berdiri dan mereka menyeringai menyeramkan, memperlihatkan taring-taring mereka yang tajam.
"Intinya, aku datang dengan damai dan saat ini, aku dan raja kalian itu sudah berteman. Kami sudah menjadi bestie. Kalian belum tau? Apa bestieku belum menceritakan ini kepadamu?" tanya Ortega. "Jadi, katakan padaku, di mana dia?"
Para serigala itu kini berubah menjadi pria-pria muda dengan wajah klasik. "Ikuti kami!"
Ortega mengikuti para pria itu. Mereka melewati sebuah jembatan dan masuk ke sebuah hutan pinus, tak jauh dari pondok mereka. Di dalam hutan pinus itu, terdapat sebuah tenda dengan perapian di depannya.
Suara gemericik air terjun yang berada di depan tenda besar itu, seolah menyambut kedatangan mereka. Dari dalam tenda, keluarlah seorang pria tampan bertubuh kekar dengan rambut keperakan dan mata hijau.
"Ortega, kau rindu padaku rupanya, hehehe," ucap pria itu terkekeh.
Ortega mendengus. "Ambillah, jika itu membuatmu bahagia,"
Gelak tawa pria tampan itu menggelegar terdengar di seluruh penjuru hutan pinus. "Hahahaha! Baiklah, kenapa kau mencariku?"
"Aku ingin kembali pada Jenna!" ucap Ortega tegas. Mimik wajahnya tampak serius dan tatapan matanya dalam dan tajam.
Sementara itu, seorang pria tampak sedang berjalan bersama seorang gadis cantik dengan jaket putih bertudung. Manil hazelnya tampak berbinar ceria setiap kali dia tersenyum atau tertawa.
"Sampai juga akhirnya. "Terima kasih sudah menemaniku, Zac. Kuhargai waktumu," ucap gadis itu saat mereka sudah sampai di depan rumahnya.
Zac tersenyum dan menepuk pucuk kepala gadis cantik itu. "Waktuku selalu untukmu, Jen. Ya sudah, istirahatlah. Matamu sudah seperti mata panda, tidur yang cukup."
"Okei. Akhir-akhir ini, entah kenapa seperti ada yang hilang dari hidupku. Hampir setiap malam aku tidak bisa tidur karena aku memikirkan seseorang yang semu. Aku tidak tau siapa orang itu, apakah dia wanita atau pria, dan orang itu hanya berupa bayangan hitam. Anehnya, aku terbangun dan aku merasa sedih. Terkadang, air mataku mengalir tanpa alasan yang jelas. Aku menangis dan hatiku rasanya sakit sekali. Apa itu tanda-tanda kegilaan?" ucap gadis itu. Raut wajahnya tampak khawatir.
"Kalau kau kesepian atau merasa sedih dan sendiri, kau bisa menghubungi aku kapan pun, Jen. Aku akan selalu ada untukmu," sambung pria itu lagi.
Jenna mengangguk. "Terima kasih, Zac,"
Tiba-tiba saja, Zac mengecup kening Jenna dan kembali memeluknya. "Selamat istirahat, Jenna,"
Menjelang malam, Jenna terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Gadis itu tampak seperti orang yang baru saja mandi tanpa dikeringkan. Napasnya memburu dan dia memeluk kedua lututnya erat-erat. "Aargh, shitt! Kenapa siluet hitam itu lagi! Siapa dia? Kenapa dia selalu datang di mimpiku? Tidak bisakah dia membiarkanku tidur nyenyak? Tidak taukah dia kalau aku kurang tidur, aku akan kurang darah dan pingsan?"
Dia beranjak dari ranjangnya dan mengambil segelas air dingin untuk melegakan dahaganya. Setelah meminum satu gelas lagi, dia kembali ke ranjangnya dan berusaha untuk kembali tidur.
Jenna berusaha memejamkan kedua matanya, tetapi dia justru mendengar seseorang memanggil namanya. Gadis itu pun kembali membuka matanya lebar-lebar. "Eergghh! Bayangan sialan!"
Dia kembali beranjak dari ranjang dan membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Jenna menghirup udara malam yang menyapanya, dia juga memejamkan kedua matanya untuk membiarkan angin malam berhembus lembut di wajahnya.
"Apakah aku harus pindah ke apartemen Zac? Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini! Kewarasanku dipertaruhkan saat ini!" dengan satu anggukan mantap, malam itu juga dia mengepak beberapa helai pakaiannya. Setelah selesai, dia mengambil ponsel lipatnya dan mengirim pesan pada pria yang sudah bersama dengannya sejak lama.
"Besok pagi-pagi sekali, bisakah kau menjemputku? Sepertinya, aku akan gila jika aku hidup sendiri di sini! Aku ingin waras, kesehatan mentalku lebih dari segalanya! Hahaha!"
Setelah mengirimkan pesan itu pada Zac, Jenna sedikit merasa lega. Dia pun berusaha untuk kembali tidur dan berhasil.
Namun, dalam tidurnya dia bermimpi banyak sekali cahaya berpendar-pendar dan seseorang terus memanggil namanya. Kali ini, orang itu memanggilnya dengan jelas. Keringat dingin kembali membasahi tubuhnya, sampai suara ponsel membangunkannya.
Jenna pun terbangun dengan napas terengah-engah. Dia meraih ponselnya dan mengangkat panggilan itu. "Ha-, halo,"
("Jen, aku sudah di depan pintu rumahmu. Kau baik-baik saja, 'kan?")
Jenna menjauhkan dawai lipat itu dari telinganya dan melihat siapa yang menelepon di pagi-pagi buta seperti ini. "Zac, kau tau sekarang jam berapa? Kau benar-benar mengganggu tidurku! Baiklah, aku akan membukakan pintu untukmu,"
("Jen, kurasa kau tidak baik-baik saja. Kau tau sekarang pukul berapa? Hampir pukul sembilan! Dan kukatakan pada mr. Klaus kalau kau sakit hari ini dan aku hendak menbawamu ke rumah sakit!") tukas Zac.
Jenna mengusap-usap matanya dan kembali melihat jam. Pukul 8.55 pagi. Jenna memejamkan kedua matanya dan dengan langkah gontai, dia berjalan menuju pintu. "Zac, kurasa aku benar-benar gila dan tidak sehat,"
"Kuantar kau ke rumah sakit sekarang! Ayo!" sahut Zac. Dia segera melepaskan jaketnya dan memakaikan jaket itu pada Jenna.
Namun baru saja mereka hendak pergi, seorang pria tersenyum dan menghadang mereka. "Gadis itu tidak perlu ke rumah sakit karena dia hanya membutuhkanku. Aku adalah obat baginya. Bukan begitu, Nona Jenna Lake?"
Pria tampan itu mendatangi Jenna, mengambil tangannya, dan berlutut di hadapan gadis itu sambil mengecup punggung tangannya. "Kau merindukanku?"
...----------------...