
Ortega bertekad untuk membuat Jenna membalas cintanya. Dia mengajak Jenna untuk kembali ke rumah dan tinggal bersamanya.
Saat Jenna keluar dari rumah sakit, Ortega segera mengajaknya kenbali. Namun, usahanya itu mendapat perlawanan dari Zac.
"Tidak! Dia ikut denganku!" tukas Zac dan menarik tangan Jenna untuk ikut bersamanya.
Ortega mengerucutkan bibirnya. "Tidak! Dia bersamaku, Manusia!"
Jenna yang tak tahan dengan perdebatan mereka pun menengahi kedua pria itu dan memutuskan keinginannya sendiri. "Aku ikut dengan Zac! Kau boleh tinggal di rumahku! Hanya saja, kau wajib membayar iuran sampah, iuran listrik, dan iuran keamanan! Jangan lupa, tagihan air dan listrik!"
Ortega mencebik, bukan karena dia diwajibkan untuk membayar, melainkan karena Jenna memilih untuk ikut bersama Zac. Dia pun berjalan dengan langkah gontai dan lunglai. "Arrgghh! Dia benar-benar memiliki kekebalan."
"Dia manusia yang pintar, Ortega. Pakailah cara manusia untuk memenangkan hatinya. Bersainglah dengan manusia itu," ucap Volkov sambil tersenyum mengejek Ortega.
"Cih! Cara manusia ini terlalu lamban," protes Ortega.
Volkov mengibaskan jubah putihnya keperakannya. "Hahaha, menyerah sajalah Ortega. Manusia itu makhluk paling kompleks dan mereka sulit ditaklukkan. Sudah kukatakan kepadamu, sewaktu kau ingin kembali lagi ke sini, 'kan?"
"Aku pasti bisa! Anjing Besar Sombong! Cih!" Ortega pun berdecih dan menghilang dari hadapan Volkov dalam sekejap mata.
Beberapa hari setelah Jenna keluar dari rumah sakit, Ortega benar-benar mengikuti saran dari Volkov untuk bersaing cinta dengan cara manusia.
Itu melelahkan menurut Ortega. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan nyaris satu bulan, Ortega tidak mengalami progress yang cukup baik.
Sayangnya, karena janji yang telah dia ucapkan saat itu sudah tercatat, Ortega tidak dapat menariknya kembali. Nasib sialnya itu, kini menjadi bahan ejekan Volkov.
"Bagaimana kau bisa mendekatinya, jika yang kau lakukan hanyalah sekedar hai, selamat pagi, selamat sore, dan sampai jumpa? Huh! Hahaha!" ejek Volkov.
Wajah Ortega yang pucat, kini sedikit memerah. Untuk menjaga harga dirinya, dia tetap mempertahankan pandangannya sejajar dengan Volkov. "Da-, darimana kau tau itu?"
"Aku mengikuti Jenna ke manapun dia pergi. Kecuali malam hari, dia milikmu. Tapi, apakah kau tidak ingin mengatakan kalau adalah vampir yang tidak seram yang menangkap mimpi buruknya tiap malam?" tanya Volkov. Kemudian, dia mengusap-usap dagunya. "Kalau aku jadi kau, aku akan mengungkapkan hal itu kepadanya. Ya, semuanya demi harga diriku,"
Ucapan sombong Volkov segera diruntuhkan oleh Ortega. "Untuk apa? Sampai kapanpun, harga diri tidak akan bisa di makan! Diberi kecap pun, tidak bisa! Jadi, aku tidak perduli dengan harga diri itu!."
Berkat tekadnya yang kuat dan kemauannya yang keras, Ortega akhirnya bisa sedikit membuat perhatian Jenna teralihkan. Baru kali ini sepanjang ratusan tahun hidupnya, Ortega berusaha untuk mendapatkan sesuatu.
Sementara itu, Jenna juga sudah dapat tidur nyenyak. Dia pun sudah tidak pernah lagi bermimpi tentang bayangan hitam yang terbang berkelebat, mengejarnya, dan memanggil namanya.
Saat ini Jenna berpikir, itu karena efek obat anti halusinasi yang diberikan oleh dokter kemarin. Hidupnya pun jauh lebih baik. Tak pernah ada di dalam bayangan Jenna, setiap malam Ortegalah yang selalu menghalau dan menangkap mimpi buruknya.
Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati gadis itu. Entah kenapa setiap kali dia melihat Zac, dia membayangkan betapa nikmatnya menggigit leher pria itu dan menghissap habis darahnya.
Pikiran liarnya tentang Zac, dia buang jauh-jauh dan ketika pikiran itu menyelusup ke dalam benaknya, Jenna segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dan kembali fokus pada apa yang dia lakukan saat itu.
Ingin sekali rasanya dia punya seseorang yang bisa diajak bicara tentang pikiran liarnya itu. Satu-satunya orang yang bisa diajak berdiskusi tentang keanehannya hanyalah Ortega. Entah kenapa, pria itu dianggap sebagai expert keanehan di mata Jenna.
"Hei," sapa Jenna suatu hari.
"Tidak usah gugup begitu. Apakah kau ada waktu akhir pekan nanti?" tanya Jenna tanpa basa basi.
Hati Ortega melonjak kegirangan. "Ada! Tentu saja ada!" tukasnya dan tanpa terasa, suara Ortega meninggi karena terlalu bersemangat.
"Hmmm, kau marah? Maksudku, kalau kau tidak ada waktu, ak-,"
"Ada. Maaf, aku terlalu senang. Ada, aku punya banyak waktu untukmu, Jen," jawab Ortega menundukkan kepalanya.
Jenna tersenyum simpul. "Oke, bagus. Aku akan ke rumahmu, maksudku, tunggu aku saja di sana,"
Pria vampir itu mengukir senyum di wajah tampannya. "Baiklah, akan kutunggu. Sampai bertemu lusa kalau begitu,"
Ortega seakan terbang saat mendengar permintaan Jenna itu. Senyum pun tak hilang daei wajahnya sepanjang hari. Tips yang dia dapatkan dari pekerjaannya sebagai waitres pun menjadi dua kali lipat lebih banyak. Tentu saja hal ini membuat mr. Klaus sangat bahagia dan memberikan Ortega bonus tengah bulan.
Malamnya, Ortega menjumpai Volkov di atas apartemen Zac, seperti biasa. Dia ingin memamerkan apa yang hari ini dia dapatkan. "Kau tau, kurasa aku akan mendapatkan Jenna sedikit lagi,"
"Ya, dan kau merubahnya menjadi vampir gila sepertimu," ucap Volkov dingin.
Hati Ortega mencelos, ternyata Volkov mengetahui apa yang terjadi dengan Jenna. "Aku tidak mempunyai niat untuk merubah dia menjadi vampir. Saat itu, aku hanya ingin dia mengingatku,"
"Omong kosong! Dia menginginkan darah pria manusia itu! Apa kau gila? Kau menjadikan dia sebagai mesin pembunuh!" tukas Volkov kesal. "Aku membaca pikiran Jenna dan beberapa hari terakhir ini, dia memiliki pikiran untuk menggigit manusia itu dan menghissap darahnya hingga habis! Bagaimana jika dia kantor? Dia akan lebih menggila, Bodoh!"
Itukah sebabnya Jenna mengajakku berkencan? Karena ada yang ingin dia tanyakan? Apa dengan begitu, dia sudah mengingat, apa dan siapa aku? pikir Ortega dalam hati. Dia memincingkan matanya dan menutupi kepala dengan kedua tangannya. "Jangan baca pikiranku!"
"Darahmu membuat gadis itu berantakan, Ortega. Aku berharap dia dapat mengontrol keinginan makannya. Semakin lama, keinginannya akan semakin besar. Bantu dia," ucap Volkov, kemudian dia menghilang.
Akhir pekan pun tiba, Ortega tidak menyiapkan apa pun karena dia tau, maksud dan tujuan Jenna datang menemuinya. Ortega pun mengingat pertanyaan Jenna tentang burung yang gadis itu makan, hanya karena lapar.
Tak lama, Jenna tiba dengan membawa berbagai macam daging. Dia menyeringai tersipu saat melihat Ortega. "Hahaha, entah kenapa aku ingin makan daging dan sushi. Apa kau pernah mencobanya?"
Ortega mempersilahkan Jenna untuk duduk. "Kau tau, kurasa kau lebih menginginkan mereka untuk di makan begitu saja, bukan?"
Raut wajah Jenna tiba-tiba saja berubah. Dia menjadi panik dan menunjukan ketakutan dan kebingungan yang luar biasa. "Kurasa aku hampir gila! Aku menginginkan Zac! Aku selalu lapar dan entah kenapa, dia harum sekali dan aku ingin sekali mencoba menghissap darahnya. Aku berusaha mengendalikan diriku sendiri. Kurasa, berat badanku naik karena aku banyak makan, supaya aku tidak lapar dan menginginkan Zac! Aarrgghh! Apa yang terjadi padaku!"
Suara Jenna terdengar seperti mau menangis. "Kau sudah menjadi bagian dari diriku, Jenna."
Kening gadis itu berkeriut dan dia memandang Ortega tajam. "Apa maksudmu?"
"Aku seorang vampir dan maafkan aku, karena aku mencampur darahku di tubuhmu. Tidak banyak, saat itu aku hanya ingin kau hidup dan sehat," ucap Ortega lagi.
Jenna menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berharap, ini sebuah lelucon dan Ortega akan mengatakan, "April fool!" Namun, Ortega terdiam dengan wajah bersungguh-sungguh saat menatapnya.
...----------------...