Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 17



Suasana di ruangan unit gawat darurat di sebuah rumah sakit malam itu tampak cukup sepi oleh pasien yang berkunjung. Hanya terdengar beberapa perawat dan dokter yang berjaga di ruangan itu, sambil sesekali melihat kondisi seorang gadis yang baru saja melakukan operasi.


"Untung saja tadi aku menelepon Jenna. Apa yang terjadi jika aku tidak menelepon? Dia akan mati!" tukas seorang pria tampan dengan warna mata sebiru langit. "Firasatku sudah tidak enak saat Jenna mengatakan, dia akan membasmi kejahatan dan kalian bukannya melarang tapi malah justru mendukung keputusan dia! Itu bodoh sekali!"


"Aku yakin setelah ini dia pasti akan bersemangat tentang seragam. Apalagi tadi kata kalian dia berhasil membunuh ratu aneh itu, 'kan?" tanya pria itu.


Ortega tidak sedikitpun melepaskan perhatiannya pada gadis yang sedang terbaring lemah itu. "Iya, memang dia berhasil tapi dia terluka, 'kan? Kami tidak dapat menyembuhkannya, Zac,"


"Wajar saja kalian tidak dapat menyembuhkannya. Luka tusukannya cukup lebar dan dalam, maka itu dokter menjahit lukanya, supaya tertutup dan mau tidak mau, Jenna harus dibius total supaya tidak merasakan sakit," jawab Zac ketus.


Di malam saat Jenna, Ortega, dan Volkov sedang berhadapan dengan para makhluk bersisik itu, Zac mencoba menelpon Jenna, karena tiba-tiba saja dia memiliki firasat yang tidak enak tentang gadis yang dia cintainya itu. Apalagi setelah mengetahui kondisi Jenna dan keinginannya untuk membasmi kejahatan. Zac semakin merasa tidak nyaman dengan jawaban Jenna siang itu.


Maka, dia menelepon Jenna dan betapa terkejutnya dia, saat -entah itu- Ortega atau Volkov yang menjawab panggilannya dan mengatakan kalau Jenna terluka. Darahnya mengalir cukup banyak. Mereka berdua panik karena tidak dapat menghentikan darah yang keluar dari pundak Jenna.


Sejurus kemudian, Zac menyusul di mana Jenna berada dan membawa gadis yang saat itu sudah pucat ke rumah sakit. Nyaris saja nyawa Jenna melayang karena kehabisan darah, dan untung saja Zac datang tepat waktu.


Sekarang, mereka tinggal menunggu Jenna sadar. Baik Zac maupun Ortega tidak saling bicara. Sedangkan Volkov, dia sedang menghukum dirinya sendiri entah di mana.


"Hei, Vampir. Ada yang ingin aku tanyakan. Kenapa makhluk-makhluk aneh itu bisa masuk ke dalam dunia kami?" tanya Zac.


Ortega menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku dan volkof belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaanmu itu. Yang pasti kami berdua akan bertanggung jawab atas keluar masuknya makhluk-makhluk yang mengganggu tatanan hidup duniamu,"


"Kenapa kalian tidak kembali saja dan membiarkan Jenna hidup seperti sebelum ada kalian?" tanya Zac lagi.


Ortega kini menatap kembali Jenna yang masih belum sadarkan diri. "Untuk sementara waktu, aku tidak bisa kembali, sampai dia mendapatkan kembali kehidupan yang normal. Lagi pula untuk saat ini, Jenna adalah satu-satunya manusia yang bisa kuhissap darahnya. Bisa dikatakan, dia benar-benar makananku,"


"Kenapa kau bisa mengatakan dia makananmu? Bagaimana nanti kalau dia kehabisan darah atau dia berubah menjadi sepertimu? Apa kau tidak memikirkan masa depannya?" tuntut Zac.


Jujur saja sejak awal Ortega tidak memikirkan sampai sejauh itu. Dia bahkan tidak terpikirkan, bagaimana cara dia kembali ke dunia asalnya. Hanya saja saat ini, tidak hanya hidupnya yang terpaut pada gadis manusia yang sedang terbaring itu, tetapi juga hatinya.


Perlahan-lahan, Jenna berhasil mencairkan hati Ortega dan membuatnya terus memikirkan gadis itu, bahkan pernah suatu hari selama semalaman, Ortega tidak tidur hanya untuk memandangi Jenna.


"Di malam Jenna menolongku dan merawatku, ada kemungkinan kami menjadi terikat oleh sesuatu dan entah sejak kapan, aku tidak dapat lagi berburu seperti saat aku berada di duniaku. Jenna benar-benar merubah hidupku malam itu," jawab Ortega. "Tentu saja aku memikirkan masa depannya! Aku juga sadar kalau aku jatuh cinta padanya, aku tidak mungkin bisa memilikinya atau membawa dia ke duniaku,"


Entah kenapa saat Ortega mengatakan hal itu, ada sesuatu yang menusuknya dari dalam tubuhnya dan dia merasakan sakit dan pedih.


"Kau menyukainya?" tanya Zac lugas. Zac dan Jenna sudah berteman cukup lama. Dia bisa menilai pria mana saja yang menyukai Jenna. Selama ini dia selalu menyembunyikan perasaannya karena dia tidak mau hubungan persahabatan yang terjalin sudah sekian lama, hancur karena pernyataan cinta.


"Wah, ...." Zac bertepuk tangan saat mendengar jawaban dari Ortega. Kemudian dia bersiul dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah menyangka, kalau vampir ternyata bisa jatuh cinta pada seorang manusia dan apa yang kau rasakan saat ini, itu adalah cinta. Sayangnya, kau memiliki saingan dan sainganmu itu adalah aku! Aku tidak akan mudah menyerahkan Jenna kepadamu!"


Tiba-tiba saja, Jenna mengerjapkan kedua matanya, sambil sesekali mengeluarkan suara seperti rangan dan rintihan. "Eehhmm, di mana aku? Apa yang terjadi?"


Suaranya masih terdengar sangat lemah. "Kenapa di sini terang sekali?"


"Jenna, kau sudah sadar?" bisik Zac. Dia segera membelakangi Ortega dan menggenggam tangan Jenna.


Jenna berusaha mengumpulkan kesadarannya. "Di mana aku? Ortega! Mana dia? Di mana Ortega? Apa dia selamat?" tanya gadis itu sambil terus mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


"A-, aku di sini, Jenna," jawab Ortega dari sisi kiri Jenna.


Jenna segera bangun dan memeluk Ortega. Gadis itu melepaskan genggaman tangan Zac untuk memeluk pria vampir yang sedari tadi dicarinya. "Oh, syukurlah kau selamat, Ortega!"


"Hei, Jen. Aku yang membawamu ke rumah sakit karena mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan dan kau nyaris saja mati karena kehilangan banyak darah," sahut Zac. Suaranya terdengar datar, dia sedikit emosi karena Jenna hanya mencari Ortega bukan dia, penolongnya.


Jenna melepas pelukannya dari Ortega dan menoleh menghadap Zac. Dia tersenyum dengan tulus. "Terima kasih, Zac. Dua makhluk bodoh itu memang tidak bisa kuandalkan,"


"Apa maksudmu kami bodoh? Kau sendiri yang ingin ikut dengan kami! Cih! Tadi kau mencariku dan sekar-,"


Jenna menutup mulut Ortega dengan sebuah kecupan di bibir. Setelah itu, dia menempelkan jari telunjuknya di bibir pria vampir itu dan berbisik, "Sttt! Berisik! Ini rumah sakit,"


Zac tertawa kecil walaupun hati kecilnya tak terima Jenna mengecup bibir vampir aneh itu. Andai saja, dia yang menerima kecupan itu. 'Ah, sudahlah!' sahutnya dalam hati.


"Aku senang melihatmu kembali ceria, Jen. Aku mengkhawatirkanmu sejak semalaman dan ternyata kekhawatiranku menjadi nyata, karena kau benar-benar membasmi kejahatan. Berjanjilah padaku untuk tidak mengulangi kebodohanmu itu lagi, Jen," pinta Zac. Dia mengambil pergelangan tangan Jenna dan mengecup punggung tangan gadis itu.


Jenna tersenyum lebar dan memainkan mulutnya dengan gemas. "Aku tidak bisa berjanji, karena kemungkinan besar akulah yang membuka portal dimensi dunia lain. Sehingga mereka bisa keluar masuk dari dunia mereka ke dunia manusia,"


"Maksudmu?" tanya Ortega dan Zac bersamaan.


"Kalung ini. Aku rasa jika aku sering berubah-berubah, kalung ini tidak hanya bisa berkomunikasi dengan Volkov, tetapi juga memanggil makhluk dari dimensi lain untuk datang ke sini. Mau tidak mau aku harus bertanggung jawab, 'kan? Dan aku rasa, aku akan membuat seragam untuk kita berempat. Itu pasti akan menghasilkan sekali!" katanya dengan wajah berseri-seri.


...----------------...