
Fashion show malam itu berjalan dengan lancar setelah tragedi yang menyulut emosi para vampir. Ortega tampil dengan maksimal saat itu. Semua yang hadir terpukau olehnya. Jenna menjadi bagian penutup dari fashion show tersebut.
Begitu dia memulai catwalk-nya, dia dapat membedakan mana vampir dan mana manusia. Jenna berjalan dengan tegas dan kemudian berputar saat dia berada di ujung panggung. Saat itulah, para vampir itu menatapnya dengan tatapan lapar.
Tak lama, Jenna kembali ke atas panggung sambil bertepuk tangan dan diikuti oleh para model. Suara riuh rendah tepuk tangan dari para penonton, fotografer, dan para desainer memenuhi ruangan itu.
Terakhir, Lucy Brooke naik ke atas panggung dan menerima sebuah karangan bunga yang cukup besar dari Jenna.
Wanita berambut hijau dan biru itupun mengumandangkan kata sambutan. "Terima kasih kepada semua hadirin yang telah datang dan kepada para wartawan yang sudah bersedia meliput acara fashion show di tengah malam hari ini. Di acara ini, saya ingin mengenalkan salah seorang talent baru saya. Seorang pria yang masih sangat muda dengan wajah tampan dan malam ini berhasil memikat puluhan pasang mata yang melihat penampilannya. Ortega!"
Lucy bertepuk tangan untuk menyambut Ortega dan sambutannya itu, diikuti oleh semua yang hadir di dalam ruangan tersebut. "Ini adalah anak laki-lakiku. Seorang teman baik yang membawanya kepadaku dan aku hanya membantunya untuk mendapatkan batu loncatan di dalam dunia glamor ini,"
Dia merangkul pinggang Ortega yang saat itu hanya mengenakan pakaian transparant dan celana panjang kargo berwarna hitam dengan sepatu kets. Rambutnya yang berantakan, entah mengapa justru menambah kesan seksi di wajahnya.
"Satu lagi! Aku ingin memperkenalkan kepada kalian seorang gadis yang istimewa yang tadi dengan sukses menutup acara fashion show kita malam ini. Jenna Lake!" seru Lucy lagi dan dia mengulurkan tangannya ke arah Jenna dan meminta gadis itu untuk berdiri di sampingnya.
Jenna berjalan dengan anggun dan membalas uluran tangan Lucy. Dia tersenyum manis di tengah sorotan lampu blitz yang mengarah kepada mereka. "Terima kasih," sahut Jenna.
"Aku tidak pernah menyangka akan dipertemukan oleh seorang gadis istimewa seperti Jenna. Tak hanya berhasil memukauku, tapi dia juga berhasil menyihir seluruh ruangan ini saat dia berlenggak-lenggok di atas panggung. Kalian merasakannya, bukan?" tanya Lucy tersenyum lebar.
Di acara itu juga dihadiri oleh Baron dan Amstel. Tujuan Lucy mengajak Ortega serta Jenna naik ke atas panggung adalah untuk meminta dukungan dan suara bagi Kamila. Kedua pria pemimpin klan tersebut mengernyitkan hidungnya seakan mereka mencium bau busuk di dekat mereka.
"Barangsiapa yang ingin melihat penampilan mereka lagi di atas panggung ini, silahkan berikan suara kalian dengan meminum gelas yang sudah staff-ku berikan dan angkat gelas tersebut ke atas. Ready? Steady? Go!" tukas Lucy berseru.
Gelas-gelas kosong mulai bermunculan di atas. Jenna dan Ortega saling menghitung ada berapa banyak jumlah gelas kosong yang terangkat untuk mereka.
Baron pun ikut berdiri dan menghitung gelas-gelas tersebut. Mau tak mau, dia mengakui kepintaran Lucy untuk mendapatkan suara.
Setelah acara itu selesai, Baron mendekati Lucy dan yang lainnya di belakang panggung. "Malam ini, kalian menang. Tapi besok, masih ada sidang yang akan menentukan apakah makhluk yang kalian ciptakan serta gadis aneh ini akan hidup atau kupanggang! Hahahaha! Bersenang-senanglah malam ini, siapa tau besok kalian sudah tidak bisa saling bertemu! Hahahaha!"
"Kita lihat saja besok, Baron. Suara kami sebenarnya sudah memenuhi syarat yang telah kau tentukan, hanya saja, kau menganggap suara kami tidak sah dan akan meneruskan masalah ini ke persidangan. Silahkan, kami akan datang," sahut Kamila santai.
Perolehan total suara mereka untuk Zac, nyaris menembus seratus suara dan itu sudah melebihi yang ditargetkan oleh Baron, 5 suara. Baron dan Amstel memandang mereka dengan tidak suka. "Kita lihat besok!"
Keesokan harinya sebelum matahari muncul, Volkov mengajak Jenna untuk berjalan sebentar bersamanya. "Tadi malam, apa yang terjadi?"
Jenna menceritakan segalanya pada Volkov, mulai dari pertemuan mereka dengan Lucy Brooke sampai bagaimana mereka meraih hampir seratus suara.
"Aku tidak bertanya tentang itu. Aku bertanya apa yang terjadi saat kau berada di sana bersama dengan Ortega? Karena aku juga merasakannya," tanya Volkov lagi.
Saat itulah Jenna paham, maksud pertanyaan Volkov. "Apa yang kau rasakan?"
Jenna tertawa. "Kejadian itu cepat sekali. Ortega yang memulainya dan emosinya tersambung kepadaku. Ternyata, beberapa model yang bekerja dengan Lucy adalah vampir dan mereka tiba-tiba saja saling menyerang dan menggigit manusia yang berada di sana. Satu orang meninggal setahuku. Lucy cepat sekali membereskan mereka,"
"Apa yang terjadi padamu, Jen? Mengapa kau bisa mempengaruhi mereka?" tanya Volkov lagi. Kemudian, dia teringat sesuatu. "Hari ini adalah hari persidangan, aku akan memasukan perlindunganku di kalung yang kau pakai,"
Volkov menyentuh liontin bulan sabit dan menekannya. Liontin itu bercahaya dan berpendar keperakan setelah Volkov menekannya. "Kau tidak akan terbakar atau terpanggang selama perlindunganku masih ada di dalam sini. Tinggal kita sempurnakan dengan Ortega,"
Mereka pun mencari Ortega. Vampir itu tampak diam dan tenang. Berbeda dengan Zac yang aktif dan lincah. Dia bertanya soal ini dan itu kepada Artemis. Tampaknya, dia sudah melupakan Jenna.
"Ortega, ikut dengan kami sebentar," ucap Volkov.
Volkov menjelaskan dengan cepat soal perlindungan yang telah diberikan oleh Volkov kepada Jenna. Dia pun mengangguk dan melakukan hal yang sama kepada liontin bulan sabit Jenna. Kini liontin itu berpendar berwarna merah dan perak.
Tak beberapa lama kemudian, mereka berjalan menuju kediaman Baron dan Amstel. Rombongan mereka terdiri dari Jenna, Kamila, Ortega, Volkov, Artemis, Adrian (dia bersikeras untuk ikut), Zac, dokter Bryan, dan Lucy.
"Kita seperti akan bertamasya ke suatu tempat, astaga," ucap Jenna sambil menggelengkan kepalanya dan berdecak. Situasi mereka saat ini benar-benar pergi beramai-ramai. Entah apa yang terjadi, jika suara mereka dianggap tidak sah dan mereka dibakar.
"Mereka tidak akan membakar mereka. Tidak ada alasan untuk itu. Kita sudah menang secara sah," kata dokter Bryan tenang.
Akhirnya, tibalah mereka di sebuah ruangan pertemuan yang biasa dipakai oleh pemerintahan untuk mengadakan meeting atau pengambilan keputusan.
Baron dan Amstel cukup terkejut melihat rombongan yang datang bersama Zac. "Jadi? Yang mana pemuda yang bernama Zac?"
Zac mengangkat tangannya. "Saya, Yang Mulia,"
Baron mengamati Zac dengan seksama dan dia memerintahkan seorang dokter untuk memeriksa kondisi Zac, apakah akan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan atau dia tetap menjadi vampir.
Dokter itu berbisik-bisik setelah dia selesai memeriksakan Zac. Baron dan Amstel tampak tidak setuju dengan pernyataan dokter tersebut. "Benar begitu? Sudah kau pastikan dia aman?"
Dokter itu mengangguk. "Ya, Yang Mulia,"
Baron menghembuskan napas panjang dan mengetuk palu. "Sekali lagi, kita akan ambil suara. Jika ka-,"
"Untuk apa? Sudah jelas, 'kan? Kami sudah mendapatkan hampir seratus suara dan kau masih ingin mengadakan pemungutan suara. Konyol sekali. Akuilah kekalahanmu, Baron!" tukas Jenna dengan berani. Karena Baron dan Amstel inilah, dia menjadi tidak bisa bebas pergi ke mana-mana.
Baron dan Amstel saling berpandangan. "Baiklah! Baiklah! Kalian menang! Bawalah Zac bersama kalian dan ingat, klan baru kalian masih berada di bawah pengawasan kami, jadi kalian tetap harus melaporkan apa pun yang terjadi ke depannya!" tukas Amstel.
Mereka bersorak girang dan saling berpelukan. "Baik, Yang Mulia dan terima kasih," ucap Kamila tersenyum dan dia membungkukkan badannya untuk menghormati Baron dan Amstel, pemimpin klan mereka.
...----------------...