Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 54



Ortega tidak memperdulikan ucapan Baron. Pria vampir itu tetap berjalan menuju pintu kastil. Sebelum dia sampai pintu, tubuhnya tertekuk ke belakang. Dia mengerang kesakitan. "Enngghhhh! Ekkkkkk!"


"Hentikan!" tukas Volkov, dia memincingkan kedua matanya ke arah Amstel untuk menghentikan kutukannya pada Ortega.


Seberkas cahaya perak berhasil mematahkan kutukan Amstel dan Ortega terbatuk-batuk. Pria itu mengatur napasnya kembali dan menyerang Amstel dengan cahaya yang dia keluarkan dari telapak tangannya. "Sialan kau, Kakek Tua!"


Amstel terpelanting begitu terkena kekuatan dari Ortega. "Brengsek!"


"Biarkan aku keluar, atau aku melebur kalian semua menjadi abu!" tukas Ortega. Kemarahannya dengan cepat memuncak.


Volkov menarik Ortega dan menenangkannya. "Tenangkan dirimu. Aku mohon pada kalian, biarkan dia keluar, aku yang akan tetap di sini untuk menggantikannya. Kumohon, Yang Mulia,"


Baron tertawa puas melihat Volkov memohon kepadanya. "Berlututlah, Anjing Besar!"


Volkov tidak bergeming. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Sampai, ada suatu kekuatan entah darimana yang memaksanya untuk berlutut.


"Hahaha! Berlututlah, Anjing Besar! Kalau kau tidak suka, menggonggonglah! Aaauuuu! Hahaha!" ejek Amstel.


"Baron, hentikan! Apa-apaan kalian! Mereka tidak melakukan kesalahan apa pun, mengapa kalian menyiksanya!" tukas Kamila tegas. Dia tidak terima, anak-anaknya dijadikan mainan oleh pemimpin klan yang besar kepala itu.


"Ups, mommy marah. Hahaha!" Amstel semakin mencemooh Kamila.


Kesabaran Ortega telah habis. Matanya kini memerah, deru napasnya semakin cepat, dan wajahnya mengeras. Volkov berusaha melawan koneksi yang ditimbulkan oleh Ortega sekuat tenaga. Namun, sulit sekali. Menahan emosi yang saling terikat sama seperti menahan gelombang laut yang tinggi.


"O-, Ortega. Kumohon, jangan keluarkan emosimu. Ingat Je, ...."


Namun segala usaha yang dilakukan Volkov untuk menahan emosi Ortega sia-sia saja. Tiba-tiba saja, jendela yang terbuat dari kaca tebal pecah, lampu gantung yang berada di ruang makan terjatuh dan tak hanya lampu di ruang makan, tetapi semua lampu yang berada di kastil itu terjatuh dan dalam hitungan detik, kastil itu menjadi gelap gulita.


"A-, apa yang terjadi! Ortega, inikah perbuatanmu? Hentikan sekarang juga! Volkov! Volkov!" Kamila berteriak memanggil kedua pria yang sudah dianggap sebagai anaknya itu.


"Percuma, Kamila. Mereka bertiga saling terhubung. Ini adalah gabungan kekuatan Volkov dan Ortega. Di suatu tempat, Jenna juga pasti merasakannya," sahut Artemis. Dia mengajak Zac untuk keluar dari tempat itu. "Ayo, kita harus segera keluar dari sini!"


Kamila menyalakan penerang dari ponselnya, tetapi tiba-tiba saja suara orang berteriak terdengar memenuhi ruangan itu. Dan orang itu seperti tercekik. "Heeekk! To-, tolong! He-, hen, ... Heeekkkk!"


Tak lama, pria itu sudah tak terdengar lagi suaranya. Lagi-lagi suara yang sama terdengar. "Whoaaa, aarggh! Heeeekkkkk!"


"Lucy! Lucy! Kau di mana?" panggil Kamila, panik. Suaranya tercekat dan dia diselimuti oleh ketakutan, melebihi ketakutannya terhadap feral.


Alih-alih menemukan Lucy, dia malah menemukan Ortega dan Volkov yang sedang melayang dengan wajah mengerikan yang bersinar di dalam kegelapan. "O-, Ortega, kendalikan dirimu!"


Seseorang menarik Kamila ke kolong meja makan. "Ssst! Mereka sungguh mengerikan! Aku rasa, Baron dan Amstel mati,"


"Apa?" desis Kamila. "Itukah suara yang tadi kudengar?"


Lucy mengangguk. "Ya, kurasa mereka masih dikendalikan oleh sesuatu."


"Jenna! Mereka bertiga harus ditenangkan, kalau tidak, mereka akan membahayakan kita juga," ucap Kamila dalam bisikan.


"Kalau aku jadi kau, aku akan mengikat mereka bertiga untuk tetap berada di sisiku. Mereka senjata yang luar biasa untuk kita, Kamila. Apa kau sadar itu?" tanya Lucy. Kamila dapat melihat seringai di wajah wanita bertubuh semampai itu.


Sementara itu, Jenna sudah menghancurkan setengah dari isi kanar hotel, tempat dia dan Adrian menginap. Gadis itu bahkan membuat Adrian ikut melayang dan menggantung di dinding.


"Jenna! Aku tak tau apa yang terjadi padamu, tapi hentikan! Kendalikan dirimu!" titah Adrian.


Jenna seperti tidak sadar, kedua manik matanya terus berubah dari merah ke ungu, dan liontin bulan sabit yang dia pakai, berpendar-pendar dan menyala.


Tiba-tiba saja, cairan bening bergulir dari sudut mata gadis itu dan membasahi kedua pipinya. Dia menatap Adrian tajam, seolah meminta pria itu untuk melakukan sesuatu yang dia juga tidak paham, apa yang dimaksud dengan sesuatu itu.


Adrian berusaha menghindari tatapan Jenna. Dia berharap, dengan dia menghindari tatapan mata gadis itu, dia bisa bebas dan membantu Jenna.


Namun, tenaga Jenna kuat sekali. Adrian sama tidak dapat bergerak di bawah kendali Jenna. Tiba-tiba saja, Jenna terjatuh dan memegangi dadanya. Dia berbaring sambil meringkuk dan menekuk tubuhnya. "To-, tolong! Ini sakit sekali,"


Adrian mendarat dengan sempurna dan segera berlari memeluk gadis itu. "Apa yang bisa aku bantu?"


Jenna menggelengkan kepalanya. "Sa-, sakit sekali!"


Lagi-lagi mata Jenna berubah menjadi kemerahan dan dia melempar Adrian hingga pria bertubuh kekar itu membentur pintu dengan keras. "Aarggh! Je-, Jenna! Kendalikan emosimu!"


Saat ini, ketiga makhluk yang saling terhubung membutuhkan bantuan sebelum mereka mencelakakan diri mereka sendiri.


Zella meremat-remat telapak tangannya. "Mereka bertiga bisa mati, Vlad. Apa yang bisa kita lakukan?"


Kucing hitam bernama Vlad mengeong-ngeong. Zella menatap kucing hitam itu. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau hanya bisa mengeong? Atau, jangan-jangan, ...? Tidak mungkin!"


Zella menelan salivanya kasar dan dia menggendong kucing hitam itu sambil terus mengerenyitkan keningnya. "Kumohon otakku, berpikirlah! Bagaimana supaya aku bisa memutus koneksi di antara mereka? Oh, tolong aku!"


Dia berjalan dengan terburu-buru dan mengobrak-abrik buku yang telah dia tumpuk rapi di rak kayunya. Tak hanya itu, dia membolak-balik halaman demi halaman untuk mencari sesuatu yang dapat menjawab pertanyaannya.


Setelah hampir satu jam mencari, dia tidak menemukan apa pun. Zella terduduk di lantai sambil memandang buku-buku tebal yang berserakan di lantai. "Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?"


Selagi dia berpikir, lampu di bola kristalnya mengeluarkan suara desisan, seperti tersambar petir. Zella segera beranjak dan melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba saja, wajahnya berubah menjadi cerah. "Buku itu!"


Dia kembali berjalan dengan cepat ke sebuah rak kecil yang hanya berisi beberapa buku dan dia menarik buku yang paling tebal dan paling berdebu dari rak itu dan dia meniup debunya dari buku tersebut.


"Sihir kuno ternyata, huh," sahutnya tersenyum.


Dia pun membawa buku itu ke atas meja dan mulai membuka lembar per lembar, sambil sesekali dia membacanya dengan sangat perlahan dan hati-hati, takut ada sesuatu yang akan dia lewatkan.


Tak beberapa lama, dia menepuk halaman dari buku itu. "Aha! Ini dia! Ta-, tapi! Tidak, ini terlalu menyedihkan! Aku tidak bisa! Tidak bisa! Kenapa harus seperti ini?"


...----------------...