
Selama dua hari, Jenna berlatih memegang senapan dan menembak siang dan malam. Siang dia berlatih bersama Adrian dan biasanya mereka akan banyak membuang waktu dengan bertengkar. Sedangkan malam hari, dia akan berlatih bersama Kamila, yang ternyata sangat pandai menggunakan senapan.
"Wah, Kamila. Kau benar-benar keren. Kalau kau seorang pria, aku sudah menyatakan cintaku padamu," kata Jenna mengungkapkan kekagumannya pada wanita berparas ketimuran itu.
"Tidak boleh! Kau hanya boleh cinta padaku, Jenna!" tukas Ortega. Pria vampir itu segera menutup kedua mata Jenna dengan telapak tangannya yang besar.
Jenna tertawa dan berusaha mengelak. Ortega semakin mengeratkan pelukannya. Volkov ikut tersenyum melihat kelakuan absurd kedua makhluk yang dia sayangi itu.
Tetapi tidak dengan Adrian. Dia mencibir dan membuang mukanya ke arah lain. "Cih! Vampir Brengsek!" dengusnya kesal.
Berbeda lagi dengan Zac. Zac dalam mode vampir adalah seorang pria yang menyenangkan. Saat dia menjadi seorang manusia, dia juga sudah menyenangkan dan saat ini, aura positifnya seakan meningkat berkali-kali lipat.
Namun, dia jarang berbicara dengan Jenna. Sampai malam itu, Jenna menghampiri Zac dan menyapanya. "Zac, hei! Cih, kau sombong sekali!"
Artemis menatap Jenna dengan tatapan tidak suka. Dia merangkul lengan Zac posesif. "Mau apa kau?"
Jenna menjulurkan lidahnya ke arah Artemis. "Bukan urusanmu! Aku sudah lama tidak bicara denganmu, Zac. Ayo, kita mengobrol sebentar,"
Gadis itu menarik lengan Zac yang bebas dan membebaskannya dari cengkeraman Artemis yang tampak gusar.
"Bagaimana kabarmu, Zac?" tanya Jenna.
Zac tampak sumringah, dia menyeringai lebar. "Luar biasa. Bagaimana denganmu?"
"Aku baik. Apa Kamila baik kepadamu?" tanya Jenna lagi. Dia ingin tau, apa yang mereka lakukan selama mereka hanya berdua saja.
Zac mengangguk. "Dia baik sekali. Dia mengajariku macam-macam, Jen. Beradaptasi dan mengenal semua kolega serta silsilah keluarganya. Menurut Kamila, jika duatu waktu ada yang bertanya kepadaku tentang silsilah keluarga klan kita, aku bisa menjawabnya. Dia juga mengajariku cara mengendalikan diri dan menggunakan kekuatanku,"
Kedua alis Jenna saling bertautan. "Kekuatan? Kau memiliki kekuatan seperti Ortega?"
"Entahlah. Tapi Kamila selalu mengatakan itu adalah kekuatanku," jawab Zac. Seakan membaca pikiran Jenna, Zac tersenyum. "Lihat aku!"
Jenna mengikuti ke arah mata Zac pergi. Dia hanya memandang Adrian dan tiba-tiba saja Adrian mengerang kesakitan. Tanpa sadar, Jenna membuka mulutnya. "Wuah, kau hebat sekali, Zac,"
"Kamila yang melatihku. Aku dilarang menggunakan taringku saat melawan feral. Kamila takut, aku akan menjadi seperti mereka. Jadi dia melatih segala potensi yang ada di dalam diriku," sahut Zac lagi.
"Apa Kamila sehebat itu?" tanya Jenna, kini dia menatap wanita yang sedang membidik target dengan senapannya. Kamila memang tampak keren.
Zac mengangguk. "Ya. Tidak hanya Kamila yang membantuku. Lucy dan beberapa vampir yang tak kau kenal. Aku akan mengenalkan mereka kepadamu saat acara pesta dansa esok hari,"
"Benarkah? Aku sudah tidak sabar kalau begitu, hehehe," timpal Jenna, meringis senang.
Akhirnya, hari yang telah ditunggu-tunggu pun tiba. Menurut Kamila, mereka akan datang ke pesta itu dengan kereta api. Lucy mempunyai ide untuk mengadakan fashion show di beberapa gerbong kereta yang sudah disewanya.
"Wuah, Lucy luar biasa sekali," ucap Jenna.
"Kau pembuka dan penutupnya, Jen! Siapkan pakaian terbaikmu," titah Kamila.
"Damnn!" umpat Jenna.
Mereka berangkat ke stasiun kereta api pada tengah malam. Entah perusahaan kereta mana yang bersedia menyewakan gerbongnya di tengah malam seperti ini.
Setibanya di stasiun, Jenna tercengang karena stasiun itu penuh sesak dengan para vampir. Kalung bulan sabit yang dipakai oleh Jenna, mulai berpendar-pendar menyesuaikan diri. Tak ada yang tau kalau Jenna manusia, hanya saja mereka masih dapat mencium wangi tubuh Jenna.
Saat Jenna melewati kerumunan, para vampir itu menarik napas dalam-dalam dan pandangan mereka jatuh pada Jenna yang sedang berusaha bersikap biasa saja dengan menyapa para vampir yang tampak kelaparan itu. "Hai! Halo!"
Adrian mencengkeram pundak Jenna, tetapi Ortega segera menarik gadis itu untuk mendekat padanya dan membuat Adrian kembali mencebik.
Ketika kereta datang, mereka menaiki gerbong yang sudah ditandai dengan nama-nama mereka. Jenna dan teman-temannya berada di gerbong nomor 3, bersama Kamila dan dua orang vampir pria yang terus menatapnya seolah Jenna, sebuah boneka hidup yang digerakkan oleh tuas di belakang punggungnya.
Peragaan busana pun dimulai dan Lucy mulai mengoceh pad Jenna. "Manusia satu ini! Kau hanya menbawa gaun pesta dan kaus ini? Ya, Tuhan, kuatkan aku! Kamila, anakmu ini mempersingkat umurku!"
"Bukankah kau abadi?" tanya Jenna tanpa merasa bersalah.
Ortega membuka jasnya dan menyampirkannya pada Jenna. Bersamaan dengan Ortega, Adrian juga membuka jaketnya untuk dia pakaikan pada Jenna.
Pandangan mata Ortega dan Adrian saling bertemu dan mereka saling melemparkan pandangan benci. "Aku kekasihnya! Singkirkan jaketmu!"
Untuk menghindari pertengkaran, Jenna mengambil jas Ortega dan memakainya tanpa bicara. Tak lama, Lucy datang dengan membawa blazer dan blouse serta kaus yang dianggap Jenna mewah.
Begitu suara musik di mulai, para model pun berjalan berlenggak-lenggok sambil berpegangan pada pengait tangan yang terpasang di bar kereta api.
Lucy membuat perjalanan mereka tidak terasa membosankan. Dia berhasil membuat banyak tawa dan canda sepanjang perjalanan.
Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan berbentuk kastil tua yang mirip sekali dengan kastil yang berada di dalam dongeng.
"Wah, disanakah kita akan berpesta nanti, Lu?" tanya Jenna.
Lucy mengangguk. "Yes, dan bersiaplah, Sayang. Tolong malam ini, jangan memakai kaus dengan perut terpampang ke mana-mana dan celana pendek sobek-sobek, Jenna. Vampir pun bisa membedakan mana pengemis dan mana konglomerat,"
"Hahahaha! Tenang saja, Lu. Aku tidak akan berpakaian supaya kau tidak perlu pusing mengurusku," seru Jenna bercanda.
Kereta pun berhenti di stasiun yang tak jauh dari kastil itu. Bagi mereka yang baru pertama kali ke tempat itu, mereka saling mendekatkan kepala dan berbisik-bisik. Sisanya, mereka hanya mengangumi dan mengira-ngira berapa usia kastil tua ini.
Seorang pria dengan pakaian seperti pangeran datang menyambut mereka. Lucy berbisik pada Jenna. "Dia adalah Remmy Lafayette,"
Jenna menyapa Remmy dengan ramah. Begitu pula dengan yang lain. Di luar dugaan, suara Remmy lembut sekali seperti wanita. Dia menjelaskan tentang acara selama tiga hari dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.
Jenna ditempatkan bersama Artemis dan Ortega. Tak ada waktu istirahat untuk mereka. Mereka pun segera mengganti pakaian mereka dengan pakaian zaman Renaisans yang telah disiapkan.
Setelah semuanya siap, Kamila dan Lucy mengajak Jenna, Ortega, dan Volkov untuk berkeliling dan berkenalan dengan vampir lain untuk memperluas jaringan mereka.
"Jen, dia pelatihku juga. Tuan Marvel Kroks," ucap Zac.
Kamila tersenyum bangga pada Zac. Seorang pria berwajah seperti katak, datang dan menghampiri mereka. "Kamila dengan anak-anaknya yang cantik dan tampan, hahaha! Senang berkenalan dengan kalian,"
Jenna kesulitan untuk mengenal mereka. Menurut Kamila, jumlah vampir yang datang ada sekitar 400-an orang dari 512 vampir yang terdaftar. Jenna juga bertemu dengan Baron dan Amstel yang mencebik ke arahnya.
Setelah acara ramah tamah, pesta dansa pun dimulai. Ortega segera menarik tangan Jenna dan berdansa di hadapan Adrian. Dia sengaja memamerkan kemesraan mereka malam itu pada Adrian.
Tibalah saat untuk makan malam, para tamu pun segera memenuhi kursi makan berbentuk lingkaran besar. Nama-nama mereka sudah tertulis di atas meja, sehingga tidak sulit untuk menemukan tempat mereka.
Selagi asik makan, seorang pelayan wanita berteriak histeris dan terdengar suara berkeretak keras dari belakang. Kamila, Lucy, Baron, Amstel serta Volkov segera berlari ke arah suara. Dan betapa terkejutnya mereka karena ferl berhasil memasuki kastil itu. Tak hanya satu, tetapi segerombolan feral memasuki ruang makan dengan wajah kelaparan dan air liur menetes-netes dari sudut bibir mereka.
"Jen, lari!" tukas Ortega kepada Jenna. Dia sudah mengeluarkan taringnya dan matanya berubah menjadi merah.
Jenna menggelengkan kepalanya. "Aku sudah pandai menembak, aku akan membantumu!"
Suara teriakan histeris kini bergaung di seluruh ruangan makan, disertai dengan suara senapan serta gigitan. Banyaknya suara erangan, rintihan, dan pekikan, membuat suasana di dalam kastil itu semakin mencekam.
Ortega tau, kawanan mereka tidak sanggup mengalahkan feral-feral tersebut. Dia mencari Adrian, dan dia menemukan pria itu sedang menembak tanpa henti ke arah feral dan pelayan manusia yang telah tergigit.
Ortega menarik Adrian mundur. "Larilah! Ajak Jenna pergi dari sini! Kumohon jaga dia! Bawa dia ke tempat aman! Shitt, ini pertama dan terakhir kali aku menyerahkan kekasihku padamu! Cepat, bawa dia pergi dari sini!"
"Aku tidak mau, Ortega! Aku akan tetap bersamamu! Kita bisa mengalahkan mereka bertiga! Ayolah! Aku tidak mau pergi!" tukas Jenna menolak. Dia mulai menangis.
Ortega memagut bibir gadis itu. "Aku akan segera menemuimu! Pergilah!"
"Tidak, Ortega!" tolak Jenna lagi.
Ortega mengangguk pada Adrian dan Adrian memanggul tubuh Jenna di pundaknya. "Tidak! Turunkan aku! Ortega! Lepaskan aku! Turunkan aku, Adrian! Tidak mau!"
Jenna terus memberontak, tetapi Ortega sudah menutup pintu kastil itu rapat-rapat. Kali ini adalah pertarungan yang sesungguhnya dengan musuh yang nyata. "Tunggulah, Jenna. Aku akan segera menemuimu!"
...----------------...