
Plang!
Suara wajan kembali menghantam kepala Ortega. "Lepaskan dia!"
"Je-, Jenna, .... Sakitttt!" raung Ortega. Dari sudut matanya menggantung setitik air mata.
"Sejak kapan kau memilikiku?" tanya Jenna. Selama Zac dan Ortega saling memandang, Jenna menyelesaikan masakannya.
Malam ini, dia membuat ommurice (nasi goreng Jepang dengan omelette setengah matang menutupi nasi goreng tersebut) untuk mereka dan khusus untuk Ortega, dia menambahkan tumis sosis darah sepi dan jus tomat.
"Sejak kau menjadi makananku," jawab Ortega, dia sudah kembali mengekori Jenna dan memegang ujung apron gadis itu.
Zac masih berusaha mengumpulkan oksigen, napasnya hampir habis karena dia sempat ketakutan saat Ortega memandang matanya.
Jenna menghampiri Zac dan mengusap pundaknya. "Kau baik-baik saja?"
Dengan cepat, Ortega menarik tangan Jenna dari pundak Zac.
"Aku akan menginap di sini untuk menemanimu dari pria aneh itu," jawab Zac sambil menatap tajam Ortega.
Kesabaran Jenna yang hanya setipis tissue terkena air nyaris habis. "Makan saja! Tidak ada yang menginap di sini! Ortega, malam ini, kau menginap di tempat Zac!"
"Apa!" seru mereka berdua bersamaan.
Setelah mendapatkan jitakan dari Jenna, mereka berdua makan dengan tenang. Tak terdengar suara percakapan manusia, selain dentingan garpu dan sendok.
"Terima kasih makanannya, Jenna." ucap Zac.
"Enak? Sejak Mr. Klaus mengatakan kalau masakanku kurang bumbu, aku jadi tidak percaya diri," tanya Jenna muram.
Zac membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuknya. "Ini? Sempurna,"
Jenna tersenyum senang saat Zac memuji masakannya. "Syukurlah,"
Suara slurp membuat Zac menoleh ke samping. Ortega, pria aneh itu sedang menjilatti piring yang sudah tampak bersih dan mengkilap itu.
"Hei, kau menjijikan sekali," ucap Zac, dia menjauhkan tubuhnya dari pria yang dianggapnya rakus itu.
"Lezat. Lezat sekali," jawab Ortega tanpa menghentikan jilattannya pada piring itu.
Jenna yang sudah lelah membiarkan dia melakukan apa yang dia mau. "Biarlah dia seperti itu,"
"Tidak apa-apakah kau tinggal bersamanya?" tanya Zac khawatir saat dia berpamitan pulang.
Tidak mungkin Jenna mengatakan kepada Zac kalau Ortega adalah vampir tersesat yang dikutuk dan hanya bisa menghisap darahnya.
Mau tidak mau, Jenna tersenyum. "Dia tidak berbahaya. Aku sudah menjinakkannya,"
"Hahaha! Kau ini. Dia seorang pria, Jen. Dia bisa saja jatuh cinta padamu dan melakukan sesuatu yang merugikanmu," ucap Zac lagi. Kali ini, dia melihat Ortega sedang menatap Jenna dengan tatapan lapar.
Jenna sendiri sedang membayangkan kalau dia atau Ortega jatuh cinta kepadanya, lalu mereka melakukan hubungan terlarang, dan mempunyai anak. Apakah mungkin dia menjadi ratu vampir? Haish! Tanpa dia sadari, dia mengibaskan tangannya. "Itu tidak mungkin, Zacky. Kacau sekali kalau sampai itu terjadi,"
"Baiklah kalau begitu. Tapi, aku tidak tenang meninggalkanmu," kata Zac. Pria bernama Zacky Cloud itu bergidik ngeri karena Ortega terus memandangi Jenna dan lidahnya bergerak-gerak seakan Jenna seonggok daging yang lezat. "Ada apa dengannya?"
Jenna menoleh ke arah Ortega. "Dia masih lapar dan butuh makanan yang lebih berat dari ommurice tadi,"
"Waspada dan berhati-hatilah, Jen. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu," ujar Zac lagi. Tanpa diduga, dia mengecup kening Jenna. "Aku pulang,"
Wajah Jenna memerah dan tak hanya itu, seperti kilat yang tak terlihat, Ortega menggeram ke arah Zac. "Jangan pernah kau sentuh makananku seperti itu!"
Setelah motor Zac menghilang di kegelapan, Jenna melihat sekelebat bayangan hitam yang aneh. Kulitnya pun meremang. "Apa lagi kali ini?" tanya Jenna pada dirinya sendiri.
Gadis itu masuk ke dalam dan segera disambut oleh Ortega. "Aku meminta jatahku,"
"Aku lelah, besok saja! Lagipula, aku sudah keluar banyak uang untuk membelikanmu sosis darah sapi dan seharusnya kau sudah kenyang!" tolak Jenna tegas. Dia bergegas merebahkan tubuhnya di ranjang. "Aah, nikmatnya,"
Ortega mengekorinya dan berbaring di samping gadis itu. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jenna.
Pria aneh itu tak menjawab, tetapi dia melingkarkan tangannya di pinggang Jenna dan mendusel-dusel selayaknya seekor kucing yang manja.
Setiap kali Jenna menyingkirkan tangan dingin Ortega, setiap kali juga pria vampir itu melingkarkan kembali tangannya tanpa lelah.
Tengah malam tiba, tanpa diketahui Jenna ataupun Ortega, bayangan hitam masuk melalui dinding rumah itu dan dia memperhatikan kedua makhluk yang sedang tertidur itu.
Keesokan paginya, Jenna terbangun karena sesuatu yang menyenangkan menguasai tubuhnya. Suara cecapan terdengar dari belakang tubuh Jenna.
Jenna berusaha membalikkan tubuhnya, tetapi Ortega menahannya. Pria itu sedang asik mengecup punggung Jenna tanpa satu inci pun dia lewati. Piyama tidur Jenna sudah tersingkap sampai atas.
Baru kali ini, Jenna merasakan sensasi aneh yang membuatnya merasa ketagihan seperti ini. "O-, Ortega, apa yang kau lakukan?"
Kali ini, Ortega membiarkan Jenna membalikkan tubuhnya. Kecupan Ortega pun kini seakan menjajah tubuh bagian depan Jenna.
Ciumannya mendarat di perut Jenna, seinci demi seinci benar-benar tak ada yang terlewatkan oleh Ortega. Bibirnya semakin naik, sampai di dua buah gundukan padat dan dengan lembut, Ortega mengecupnya.
Seakan terhipnotis, Jenna tak berdaya di bawah kungkungan Ortega. Dia menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh vampir itu.
Tanpa terasa, bibir Ortega sudah sampai di ceruk leher Jenna. Vampir itu tidak mengeluarkan taringnya, dengan lembut, Ortega mengecup dan menyesap ceruk leher Jenna dan membuat tanda merah di sana.
Satu dessahan lolos begitu saja dari bibir mungil Jenna. "Aah, Ortega,"
Dengan perlahan, sesapan itu berubah menjadi hissapan yang kuat. Jenna sama sekali tidak merasakan sakit saat Ortega mengeluarkan taringnya dan menghissap darah gadis itu.
Alih-alih berteriak kesakitan, Jenna terus mengeluarkan dessahan nikmat. Sampai, taring Ortega hilang dan vampir mesum itu kembali melakukan hal yang tadi dia lakukan.
Sesaat setelah Ortega melepaskan ciumannya, Jenna pun tersadar. Dia menatap Ortega dengan marah. "Apa yang kau lakukan padaku, Vampir Mesum! Mana ada vampir membuat kiss mark seperti ini! Kau benar-benar Pria Mesum!"
Ortega membawa Jenna melayang. "Kau menikmatinya, Jenna. Akui saja itu,"
Wajah Jenna memerah. "Aku dalam keadaan tidak sadar karen kau melakukan sesuatu yang membuatku tidak sadarkan diri!"
Ortega menjatuhkan tubuh Jenna dan menangkapnya. Kemudian dia membaringkan gadis itu di ranjang. Perlahan, dia mendekati wajah Jenna dan mendaratkan ciumannya pada benda kenyal berwarna kemerahan itu.
"Hmmpph! Menjauhlah dariku!" dengan segala kekuatan yang ada, Jenna mendorong Ortega menjauh darinya.
"Kau sudah sadar rupanya? Kalau dipikir-pikir, kau selalu bisa menarikku dengan pesona manusiamu, Jenna," sahut Ortega sambil tersenyum. "Bagaimana kalau kita mendirikan kerajaan vampir di Bumi?"
Satu bogem mentah mendarat di pipi Ortega yang pucat. "Jangan ngaco!"
Karena murka dan kesal karena Ortega, Jenna pun pergi tanpa membuatkan sarapan yang sudah dia rencanakan kemarin. "Vampir Bodoh!" tukas gadis itu.
Sementara itu, Ortega yang sedang mengompres pipinya dengan ice gel, dikejutkan oleh bayangan hitam yang berubah wujud di depannya.
"Rupanya kau sedang bersenang-senang di Bumi, ya," sahut bayangan hitam itu.
...----------------...