
Keesokan harinya saat Jenna bangun, Zac sudah tidak ada di sisinya. Dia beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil segelas air.
Di depan pintu lemari pendingin itu terdapat secarik kertas memo.
'Hei, mr. Klaus memanggilku lebih awal. Resto kita menerima bookingan untuk sebuah acara. Tidur dan makanlah dengan baik. Okey,'
Jenna tersenyum dan kembali membuka lemari pendingin untuk mengambil susu. Malam itu dia akhirnya bisa tidur dengan nyenyak selama beberapa bulan terakhir ini.
Dia melihat meja makan dan di sana sudah ada ommurice dengan saus membentuk senyuman. Lagi-lagi, Jenna tersenyum dan menyeret kursi makannya untuk mencicip ommurice yang sudah disediakan oleh Zac.
Dia menyuap sesuap besar ommurice, "Hmmm, ini enak," katanya. Tanpa terasa, dia menghabiskan ommurice itu tanpa menyisakan satu butir nasi di atas piringnya.
Setelah mencuci piring, Jenna mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Zac. "Thank you ommuricenya. Itu enak sekali,"
Tak lama, balasan dari Zac datang. ("Good. Itu kubuat dengan penuh cinta. Oh iya, pria asing yang saat itu mengikutimu ternyata bekerja di Shucker, Jen. Kata mr. Klaus, dia baru bekerja hari ini,")
Jenna memutarkan bola matanya ke atas dan kemudian dia menghela napas lega. "Syukurlah. Sepertinya, dia tidak memiliki tempat tinggal atau pun uang,"
("Mungkin saja. Aku kebali ke dpur dulu. See ya, Jen,") balas Zac.
Ada beberapa kata-kata dari Zac yang typo dan mungkin saja, dia mencuri waktu untuk membalas pesan darinya. Jenna meregangkan tubuhnya dan berteriak sekencang-kencangnya. "Aarghh! Apa yang harus kulakukan! Jam di sini lambat sekali!"
Gadis itu kembali mengambil obat dan menenggaknya. Setelah itu dia kembali mengantuk dan tertidur. Pukul 11 siang, Jenna kembali terbangun. Dia melihat jam dan menggerutu pada jam itu, seolah-olah jam tersebut melakukan sebuah kesalahan padanya.
"Apa aku menyusul Zac saja ke Shucker? Kurasa, ide itu lebih baik daripada aku di rumah sendiri," katanya bermonolog.
Jenna pun mengganti pakaian tidurnya dengan sehelai kaus crop top dan celana jeans berwarna biru. Dia pun berjalan dengan santai dan tak ingin terburu-buru, karena dia tau saat ini di Shucker Restaurant sedang jam sibuk, apalagi mereka menerima pesanan.
Selagi asik berjalan, dia bertabrakan dengan seorang pria berambut perak dengan mata berwarna biru metalik. Jenna tersungkur. Pria itu mengulurkan tangan kepadanya. "Oh, maafkan aku. Mari kubantu,"
"Wah, tubuhmu keras sekali seperti besi," ucap Jenna, dia mengambil tangan pria itu dan segera berdiri.
Pria berambut perak itu tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan sopan. "Hahaha, maafkan aku."
"Aku baik-baik saja. Tenang saja," jawab Jenna.
"Ah, kebetulan aku bertemu denganmu. Aku ingin menanyakan alamat seseorang," ucap pria asing itu. Dia mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat. "Kau tau alamat ini?"
Jenna mengambil kertas itu dan membacanya. "Ini rumahku. Kau siapa?"
Pria itu mengambil kembali kertas yang tadi dia berikan pada Jenna. "Aku mencari temanku,"
"Temanmu? Aku tidak mengenalmu," jawab Jenna, keningnya berkerut-kerut.
Gadis itu tidak tau menahu tentang siapa teman yang dimaksudkan oleh pria berparas tampan dan berambut perak itu. Dia tidak mengenal siapa pun selain Zac dan teman-temannya yang berada di restoran. Dunia Jenna memang sesempit itu.
"Namanya Ortega. Dia memberikan alamat ini karena katanya saat ini, dia tinggal di sana," ucap pria itu lagi.
Jenna memiringkan kepalanya. "Ortega? Apakah itu pria tampan dengan rambut hitam acak-acakan dan matanya yang sehitam kegelapan?"
Pria berambut perak itu mengangguk. "Ya, sudah kukira kau pasti mengenalnya,"
"Volkov," jawab pria itu tersenyum lebar.
Jenna memuji pria itu dalam hati. Dia memang tampan. Ortega berantakan, tetapi di balik penampilannya yang acak-acakan itu, dia terlihat tampan dan sedikit seksi. Sedangkan Volkov, tak bisa dipungkiri, dia seperti sebuah lukisan. Wajah tampannya sangat klasik dan sempurna.
"Hai, namaku, ...."
"Jenna Lake," kata Volkov cepat.
Jenna mengangguk. Sesaat kemudian dia terdiam. Dia seperti mengingat tentang sesuatu. "Rasanya nama kalian tidak asing dan wajah kalian juga tampak tidak asing bagiku. Sepertinya kita pernah bertemu, tapi di mana, yah? Ah, sudahlah! Aku akan mengantarmu ke rumahku,"
Raut wajah pria klasik itu tampak bahagia. "Sepertinya, kita memang pernah bertemu. Sudah kuduga, kebaikanmu masih menjadi ciri khasmu, Jenna,"
Volkov tersenyum dan dia berjalan di sisi Jenna. Mereka terus mengobrol sepanjang waktu, hingga tak terasa, mereka sudah sampai di rumah Jenna.
Gadis itu sempat membayangkan rumahnya akan berantakan dan kacau, tetapi rumah itu persis sama seperti terakhir dia tinggalkan.
"Ortega nyaris tak pernah tidur setiap malam. Jadi, kau tak perlu khawatir dia akan menghancurkan rumahmu," kata Volkov, seolah-olah membaca pikiran Jenna.
Jenna tersenyum. "Ya, bahkan dia tak tau caranya memasak. Apakah aku harus kembali tinggal di sini?"
"Kembalilah, karena saat malam tiba, aku tidak akan berada di sini," ucap Volkov lagi.
"Kenapa? Apa kau seorang pekerja malam? Dan, wajahmu ini wajah buatan? Kau begitu sempurna untuk seorang laki-laki. Ketampananmu bahkan tampak tidak nyata," kata Jenna lagi.
Dia benar-benar tidak percaya, ada pria yang lebih tampan dari Volkov. Volkov sangat sempurna, semua yang ada padanya seakan terpahat dengan baik dan penempatan anggota tubuhnya, sesuai pada tempatnya.
Volkov mengambil tangan Jenna dan menyentuhkan tangan mungil itu ke pipinya. "Apa yang kau rasakan?"
Jenna membelai wajah tampan itu. Kapan lagi dia bisa memegang pria tampan seperti ini, 'kan? Pikiran Jenna mulai liar dan entah kenapa wajahnya memerah. Namun, ada satu hal yang membuat Jenna nyaman saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Volkov.
"Kau hangat sekali," kata Jenna.
Volkov menarik kedua tangan Jenna dan mengecup telapak tangan gadis itu. "Aku merindukanmu, Jenna,"
Netra mereka kini saling bertemu. Ada rasa rindu dirasakan oleh Jenna. Dia masih berpikir, kalau dia memang pernah bertemu dengan Volkov sebelumnya.
Secepat kilat, Jenna menarik kembali tangannya. "Maafkan aku. Aku harus kembali, karena Zac pasti akan mencariku,"
"Kau tidak sakit, Jenna. Kamilah yang memanggilmu dalam mimpimu. Kamilah bayangan hitam itu," ucap Volkov lembut.
Jenna menatap pria itu dengan tajam. 'Tidak! Dia tidak berbohong!' pikir Jenna dalam hati. Gadis itu menelan salivanya, wajahnya tampak ketakutan. "A-, aku harus pergi!"
Melihat ketakutan di wajah Jenna, Volkov melepaskan tangan Jenna dan membiarkan gadis itu pergi. Entah kenapa, jantungnya terus bergemuruh dengan kencang. 'Siapa para pria itu? Kenapa mereka mencariku?' pertanyaan-pertanyaan itu terus bergema di dalam benak Jenna.
Jenna terus berjalan, sampai di depan Shucker Restaurant. Dia merasa pusing dan berputar. Dia melihat dalam samar, seseorang menghampirinya. "Zac, ...." Gadis itu pun pingsan dan tidak sadarkan diri.
...----------------...