
"Itu kenangan kita, Jen," jawab Ortega.
Jenna menggelengkan kepalanya. "Siapa kau! Kenapa aku bisa mempunyai kenangan bersamamu?"
Ortega mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tau. Kata-kata itu meluncur saja dari mulutku, seperti hal yang tidak dapat kuprediksikan,"
"Aku tidak mengenalmu dan lepaskan aku!" titah Jenna tegas.
Ortega melepaskan Jenna dan membiarkan gadis itu pergi. Setelah Jenna jauh dari pria asing yang tadi menciumnya, dia mengusap bibirnya dan membersihkannya dengan air mengalir.
Setelah itu, dia melihat Adrian sudah menunggunya di parkiran. Tanpa basa basi, Jenna melompat ke dalam pelukan Adrian dan melingkarkan kedua tungkai kakinya ke pinggang pria yang menjadi kekasihnya dan mencumbunya panas.
"Hei, kau sudah tidak tahan rupanya?" tanya Adrian.
Jenna melepas pagutannya dan meletakkan satu jari telunjuk di bibir Adrian. "Shut up, just kiss me!"
Dengan terburu-buru, Adrian mengajak Jenna masuk ke dalam mobil dan melanjutkan permainan mereka di sana. Seakan berniat, menghapus jejak bibir Ortega dari bibirnya, Jenna mencium Adrian dengan panas. Namun, saat itu rasanya sungguh berbeda. Apa yang terjadi dengannya?
Dia hanya melihat Ortega yang berada di dalam ciumannya. Jenna membuka matanya sesaat dan kemudian, dia memejamkannya kembali. Gadis itu berusaha mengingat bagaimana wajah kekasihnya.
Adrian kini mengalihkan ciumannya ke leher Jenna dan menyesapnya serta membuat tanda cinta di sana. Sedangkan jari-jarinya tanpa henti menggelitik dua bukit kembar Jenna.
Jenna menyerah, dia membiarkan hasratnya mengambil alih dan masih berharap dia bisa membayangkan Adrian yang bermain bersamanya saat ini.
Ketika permainan mereka semakin panas, Adrian bersiap untuk memasuki permainan inti. Namun segalanya berubah saat nama Ortega keluar dari mulut kekasihnya.
"Jen, siapa Ortega?" tanya Adrian, gairahnya hilang seketika saat dia mendengar nama pria lain tercetus dari Jenna.
Jenna terdiam dan berusaha mengumpulkan napasnya. Dia memandang Adrian. "O-, Ortega?"
"Ya, kau menyebut namanya. Siapa dia?" tuntut Adrian.
Jenna tidak mungkin mengatakan kalau dia baru saja berciuman dengan Ortega dan seribu kenangan masuk ke dalam benaknya. Gadis itu masih meragukan, apakah itu kenangannya bersama dengan Ortega atau hanya sekedar imajinasinya saja?
Jenna semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tidak mungkin dia memiliki kenangan bersama pria yang baru saja dikenalnya. Tetapi, kenangan itu terasa nyata dan ciuman Ortega itu, dia merasa, dia merindukan ciuman itu. Apa yang terjadi dengannya? Siapa sebenarnya Ortega itu?
"Jen, kau baik-baik saja?" tanya Adrian saat dia melihat wajah kekasihnya tampak bingung.
Adrian pun tak mengerti, mengapa nama Ortega tercetus dari mulut Jenna? Apa karena akhir-akhir ini mereka dekat dan berdasarkan laporan Lucy, Ortega masih beradaptasi di dunia modeling dsn terkadang membuat Jenna kesal. Apakah karena itu? Tetapi, mengapa saat mereka sedang bermesraan nama itu keluar dari mulut Jenna? Apa yang terjadi?
Tak mau ambil pusing dan berharap kekasihnya hanya lelah, Adrian pun merapikan pakaiannya serta pakaian Jenna dan kemudian, dia melakukan roda besinya menembus kegelapan malam.
Keesokan harinya, lagi-lagi memori yang sejak kemarin ada di benak Jenna datang kembali ketika dia beradu pandang dengan Ortega.
Tak hanya hari itu, tetapi setiap hari dan setiap saat mereka bertemu. "Aish! Aku bisa gila!"
"Hai, Jen,"
"O-, Ortega! Jangan dekati aku!" tukas Jenna, dia menghadang kedatangan Ortega dengan telapak tangannya. "Menjauhlah!"
"Oke, aku tidak akan mendekat! Hari ini hari terakhir, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Semoga pernikahanmu berjalan lancar," jawab Ortega.
Seperti tertampar, Jenna berdiri diam dan termangu. Dia bahkan lupa kalau dia akan menikah? Benarkah dia ingin menikah di saat suasana hatinya sedang kacau?
Ortega mengangguk. "Baiklah,"
Jenna pun berusaha memfokuskan diri untuk acara terakhir di hari ini. Dia menepikan permasalahan Ortega dan pernikahannya dengan Adrian.
Begitu acara selesai, Kamila dan Lucy menyeretnya untuk merayakan selesainya acara hari itu. "Ikutlah bersama kami, Jen,"
"Aku ha-,"
"Pernikahanmu? Kami akan menbantumu. Aku bisa meminjamkan gaun untukmu, serta perhiasan yang ingin kau pakai. Aaahh, pokoknya aku akan membantumu, Jen. Ikutlah bersama kami," desak Lucy sambil menggandeng tangan Jenna dan mengajaknya masuk ke dalam sebuah klub malam.
"Adrian akan datang juga," bisik Kamila yang ada di sebelah gadis itu. "Harusnya tidak boleh memberitahukan kepadamu, tapi aku tak tahan lagi, hehehe,"
Jenna mengulum senyumnya. "Ha, baiklah,"
Suasana malam itu sangat ramai. Namun mata serta hati Jenna selalu melihat kepada Ortega. Begitu pula dengan pria yang ditatapnya. Mereka selalu beradu pandang dalam setiap kesempatan.
Tak lama, Adrian pun datang dan segera mengambil alih acara malam itu. Dia mengambil gelas wina dan mengetuk gelas itu dengan sendok. "Aku mohon perhatiannya sebentar,"
Semua mata tertuju pada Adrian dan wajah mereka pun berseri-seri kala melihat pria bertubuh tegap dan berparas tampan itu. "First, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang telah hadir dan berpartisipasi di fashion week tahun ini. Keuntungan yang kita dapatkan, tentu saja meningkat berkat para model yang sudah dengan amat sangat baik sekali membawakan pakaian yang kita produksi. Cheers untuk keberhasilan kita,"
Semua yang ada di sana, mengangkat gelas mereka dan menenggak cairan yang ada di gelas itu. Beberapa dari mereka, saling membenturkan gelas baru meminumnya. "Cheers,"
Adrian kembali berdeham, wajahnya tampak gugup seketika. "Ahem! Yang kedua, sebagian dari kalian tentu sudah mengetahui hubunganku dengan Jenna Lake,"
Mendengar namanya disebut, Jenna segera tersenyum kecil dan mengangkat gelasnya.
"Pada kesempatan malam ini, Aku ingin Jenna berdiri di sisiku," pinta Adrian.
Kamila berlarian kecil ke meja Jenna dan mengulurkan tangannya seperti seorang pangeran mengajak seorang putrinya untuk berdansa. "Silahkan,"
Jenna memejamkan matanya sesaat dan dengan tarikan napas panjang, dia menyambut uluran tangan Kamila yang mengantarnya untuk berdiri di samping Adrian.
"Thank you, Kamila," ucap Adrian.
Pria itu menggenggam tangan Jenna dan mengecupnya. "Jenna Lake, setelah sekian lama pernikahan kita diundur, akhirnya malam ini, aku akan meresmikan hubungan kita dan melangsungkan pesta pernikahan malam ini juga. Tanpa perlu gaun pengantin, kau sudah tampak cantik di mataku, Jen,"
Kemudian, Adrian memanggil Lucy untuk memimpin pemberkatan pernikahan mereka yang mendadak itu. Dia menyerahkan cincin pernikahannya pada Lucy.
"Tunggu!" potong Kamila. Wanita timur itu berlari cepat dan kembali dengan membawa veil serta buket bunga bekas penutupan fashion week sore tadi. Dia memakaikan veil tersebut di kepala Jenna dan memberikan gadis itu buket bunga tersebut. "Oke, silahkan dimulai,"
Lucy tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya ke arah Kamila. "Oke, akan kumulai. Ehem! Adrian Renees, apakah kau bersedia menjadikan Jenna Lake pasangan sehidup dan sematimu?"
Adrian mengangguk dengan yakin. "Ya, aku mau,"
Lucy kembali tersenyum. "Jenna Lake, apakah kau bersedia menerjma Adrian Renees untuk menjadi pasangan sehidup dan sematimu?"
Jenna terdiam. Entah mengapa, dalam diamnya, matanya mencari Ortega dan begitu dia menemukan pria yang dicarinya, kedua matanya tak lagi dapat berpaling. Tanpa sadar, dia menggelengkan kepalanya. "Aku-, ... Maafkan aku, aku belum bisa, Adrian,"
...----------------...