Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 28



Seorang pria dengan rambut keperakan datang ke apartemen Zac yang saat itu sedang menunggu kedatangan Jenna, seorang gadis yang dia cintai.


"Hei, Manusia," ucap pria berambut perak itu.


Zac terperangah. "Si-, siapa kau?"


Pria itu masuk begitu saja ke dalam apartemen Zac, tanpa memperdulikan larangan dari si tuan rumah. Dengan anggunnya, pria itu menyibakan jubahnya dan duduk di salah satu kursi makan.


Kemudian, begitu Zac mendekat dia mengendus ke tubuhnya. "Hmmm, kau harum sekali. Aku jadi lapar. Tapi, aku tidak akan memakanmu karena tujuanku ke sini bukan untuk makan. Jadi hari ini kau bisa tenang dan melanjutkan hidupmu seperti biasanya,"


"Apa maksudmu? Kenapa kau harus memakanku? Lagi pula siapa kau?" tuntut Zac. Dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik. Dia juga berusaha untuk mengintimidasi lawannya dengan tatapan mata yang tajam dan berharap pria itu segera pergi dari apartemennya.


Zac merasakan kengerian begitu pria asing itu masuk ke dalam apartemennya. Walaupun pria itu tampan, tetapi dia mampu membuat suasana seram di semua sudut apartemen Zac.


Pria tampan itu kemudian berdiri dan berjalan mendekati Zac. "Aku akan mengatakan hal ini satu kali dan selebihnya aku tidak peduli, apakah kau mendengarnya atau tidak. Ini tentang Jenna. Jangan pernah kau tunggu manusia itu lagi karena dia sudah bukan seperti yang kau kenal. Jika kau tetap bersikeras dan berusaha untuk mendekat dengannya maka hidupmu akan berada dalam bahaya,"


"Apa yang kau ketahui tentang Jenna? Dan Kenapa juga aku tidak boleh menunggu atau mendekatinya? Apa hubunganmu dengan dia?" desak Zac. Ketakutannya sirna begitu saja, digantikan oleh sebuah emosi yang kini berkobar-kobar di dadanya begitu dia mendengar nama Jenna disebut. "Aku mencintainya, jadi tidak mungkin aku menjauh dari gadis itu. Kecuali, peringatan ini kau berikan kepadaku karena kau memiliki sebuah maksud untuk mendekatinya juga. Kalau begitu, harusnya kaulah yang menyerah, bukan aku! Karena aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan dia!"


Pria asing itu mendengus dan dia tersenyum mengejek kepada Zac. "Aku tidak peduli apakah kau mencintainya atau tidak. Aku hanya memperingatkan kepadamu, kalau Jenna yang sekarang, bukanlah Jenna yang kau kenal. Aku? Mencintainya? Ya, aku memang menyukainya. Bahkan, aku ingin menikah dengannya dan membuat keturunan yang banyak supaya kami bisa membangun sebuah kerajaan. Aku akan menjadi raja, dan Jenna akan menjadi ratunya. Itulah impianku,"


Wajah Zac memerah, tangannya terkepal dengan kencang. Dia meraih leher pria asing itu dan mencengkeramnya, tangannya yanh terkepal, kini berada di depan wajah pria tampan yang masih nampak santai itu. "Kau! Sejak kedatanganmu tadi, kau sudah membawa nama Jenna dan aku tidak suka itu! Sekarang, kau berhayal untuk menjadikan Jenna seorang ratu di kerajaanmu! Kau gila!"


Bogem mentah yang sedari tadi sudah disiapkannya, mendarat dengan mulus di wajah pria asing itu. Alih-alih pria itu terpelanting, tangan Zac serta buku jarinya yang sakit. Zac pun meringis menahan sakit yang dia rasakan. "Makhluk apa kau?"


Pria itu menyunggingkan senyumnya. "Sudah kukatakan, aku seorang raja! Ini hari keberuntunganmu dan aku sedang berhibernasi, jadi, lain kali saja aku akan mencicipimu. Sampai jumpa lagi, Manusia,"


Pria asing berambut perak itu pun menghilang, meninggalkan Zac yang masih dipenuhi tanda tanya.


Sementara itu, Jenna masih bersama dengan Ortega. Dia mematung saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu seperti mencerna informasi yang telah Ortega berikan.


"Ja-, jadi? Ka-, kau adalah vampir? Begitu juga denganku? Aku berubah menjadi vampir karena ulahmu yang berusaha menolongku? Begitu?" tanya Jenna, tatapan matanya kosong. Namun, mulutnya terus mengoceh dan bertanya.


Tiba-tiba saja, dia membaringkan kepalanya di atas meja dan terisak. "Hiks, kuharap aku bermimpi dan seseorang akan membangunkanku,"


Baru saja Ortega hendak membelai rambut Jenna, seketika itu juga gadis itu menggebrak meja dengan cukup kuat. "Woah! Kalau begitu, aku akan hidup abadi? Aku tidak akan menua? Aku akan kebal dari semua penyakit? Waaaahhh, ini luar biasa sekali! Aku bisa kaya raya dalam lima tahun! Hebat sekali!"


Setelah berbicara dengan bersemangat, Jenna kembali berbaring di atas meja makan. "Tapi, aku tetap saja akan hidup sendirian! Zac nantinya akan mati,"


Ortega yang sedari tadi berniat menenangkan Jenna, menjadi bingung melihat reaksi Jenna yang menurut vampir itu terlalu menggemaskan.


Mood gadis itu berubah hanya dalam hitungan detik. "Je-, Jenna, kau sudah selesai?"


Jenna membelalakkan kedua matanya ke arah Ortega dengan galak. "Apa! Apa maksudmu dengan selesai!"


"Ma-, maksudku, aku masih ingin menjelaskan lagi. Karena tampaknya kau salah paham," jawab Ortega.


Saat Ortega belum selesai menjelaskan apa yang terjadi pada Jenna, gadis itu sudah bereaksi atas informasi yang diberikan oleh pria vampir tampan itu.


"Kau bukan vampir sepenuhnya, Jen. Kau setengah manusia dan setengah vampir. Yang harus kau lakukan adalah, mengendalikan dirimu saat lapar. Kita bahkan bisa saling menyerang jika kau tidak bisa mengendalikan rasa laparmu. Bahkan, kau bisa membunuh seseorang yang tidak bersalah," lanjut Ortega lagi.


Lagi-lagi Jenna menggebrak meja. "Zac! Ah, aku tidak aman lagi tinggal bersamanya. Aku harus segera pindah!"


"Bukan kau yang tidak aman, Jenna. Tapi, Zac yang tidak aman," ucap Ortega sambil tersenyum.


"Apalah itu! Dan sekarang, aku lapar! Aku mau makan!" sahut Jenna. Dia memejamkan kedua matanya dan mengepalkan tangan untuk menahan rasa lapar yang menderanya.


Hidungnya mengendus-endus seolah-olah mencari sesuatu. "Bau darah di mana-mana! Aarrgghh, aku bisa gila!"


Gadis itu bangkit dari kursi makan dan mengambil daging mentah yang tadi dibawanya dan memakannya tanpa menawarkan makanan itu pada Ortega. Jenna memasukan makanannya ke dalam mulut hingga mulutnya terlihat penuh sekali.


Dengan cepat dia mengunyah dan menelan makanan-makanan itu. Namun, rasa laparnya masih belum terpuaskan. Dia mencari-cari makanan di dalam kulkas. "Arrgghh, apa yang harus kulakukan terhadap rasa laparku? Tolong aku!"


Dia meremat ujung bajunya. Ramai manusia yang berlalu lalang di depan rumah Jenna yang memang di pinggir jalan, membuat Jenna tersiksa. Kedua bola matanya kini berubah menjadi memerah.


"Aarrghhh! Tolong aku, Ortega!" rintih Jenna.


Ortega memeluk Jenna dengan kuat, supaya gadis itu sanggup bertahan. "Gigit saja aku, Jenna! Gigitlah aku!"


Tanpa diperintah dua kali, Jenna segera menggigit lengan Ortega dan menghissap darah vampir itu dengan rakus. Namun setelah beberapa menit yang singkat, dia memuntahkan darah Ortega dan dia tak sadarkan diri di dalam pelukan Ortega.


...----------------...