Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 11



"Ka-, kau!" tukas Vlad. Melihat kekuatan Ortega yang tiba-tiba muncul setelah dia menghissap darah Jenna, wajahnya seperti tertampar oleh sesuatu yang keras.


"Dari mana asalnya kekuatanmu itu?" tanya Vlad pada Jenna. Dia menghampiri gadis kecil itu. Namun, Vlad menghempaskan Jenna untuk menjauh hanya dengan menggunakan gerakan matanya.


Ortega melepaskan ikatan tubuhnya dan menyerang Vlad. "Jangan sentuh gadisku !" tukasnya, tetapi sebuah sinar berwarna merah menghempaskan tubuh Ortega sebelum pria itu menyerang Vlad.


Tubuh Ortega melayang dan menabrak dinding yang berada di belakangnya. "Aarrgghh! Sialan!"


Artemis muncul dengan jubah hitamnya. Tatapan kebencian dia pancarkan ke arah Ortega. "Hanya demi seorang manusia, kau menyerang ayahku! Apa yang terjadi padamu, Ortega? Ingatlah, kita pernah saling mencintai!"


Ortega memegangi dadanya, dia meringis kesakitan, tetapi dia sanggup untuk bangkit kembali. "Aku ingat! Tapi aku tidak ingat kau menolongku. Hanya satu kali kau menolongku, yaitu saat Volkov menyerangku di hutan itu,"


"Berbeda dengan gadis manusia itu, dia menolongku walaupun dia takut dan tidak mengenalku. Dia memberikanku tumpangan saat aku seorang asing baginya," ucap Ortega, kedua matanya tegas menatap Jenna. "Jika kau lihat tadi apa yang dia lakukan, dia membiarkanku untuk menghissap darahnya, supaya aku bisa kuat dan bangkit untuk melindungi diriku sendiri,"


Artemis berjalan mendekati Vlad. Dia melihat Volkov yang masih terikat dan tak sadarkan diri, sedangkan Jenna, manusia itu baik-baik saja. Bahkan sanggup berdiri tegak dan tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya.


Dia kembali memandang Ortega, luka-luka itu kemungkinan perbuatan ayahnya. "Ayah, kita harus menbunuh gadis manusia itu. Sebelum dia mengendalikan Ortega lebih jauh," bisik Jenna.


"Aku akan memancing Ortega supaya dia tetap fokus padaku dan Ayah dekati Jenna. Begitu ada kesempatan, tusukan saja langsung pedang itu ke jantungnya," sambung Jenna dalam bisikan.


Vlad mengangguk setuju. Maka, mereka berdua pun bertukar posisi. Artemis mendekati Ortega yang sedang duduk dengan napas terengah-engah.


"Ortega, kembalilah. Kembalilah padaku dan kembalilah pada kami," pinta Artemis. Dia mengulurkan tangannya dan berusaha meraih tangan Ortega.


Dengan susah payah, Ortega bangkit berdiri. Tanpa sepengetahuan Artemis, dia melirik cepat ke arah Vlad yang sedang mendekati Jenna.


"Ayolah, Sayang. Kita bisa membangun kerajaan kita di dunia kita sendiri tanpa harus mengusik dunia manusia ini," ucap Artemis lagi.


Seberapa banyak dan seberapa lembut Artemis mengajak Ortega untuk berbicara, tetapi pria vampir itu tidak memperdulikan gadis yang sudah dianggapnya sebagai mantan kekasihnya.


Sementara itu, Jenna yang tiba-tiba saja didekati oleh Vlad bergerak mundur. "Apa yang akan kau lakukan padaku, Vampir Jahat?"


Vlad tampak tertarik pada Jenna, pedang yang saat awal dia acungkan, kini dia lupakan. "Manusia macam apa kamu ini? Kau membuat keajaiban di depan mataku,"


"Aku tidak tau! Kenapa kau menbawaku ke sini? Apa salahku? Aku tidak pernah mengusikmu atau siapapun!" tukas Jenna geram. Perasaan takutnya menguap, digantikan dengan perasaan marah dan kesal yang memuncak cepat.


"Kau penyihir! Kau pasti salah satu dari kaum penyihir! Kau bisa membuat kaum kami patuh kepadamu, siapa lagi yang bisa melakukan itu kalau bukan penyihir?" tanya Vlad.


Jenna tidak pernah tau nama-nama makhluk yang disebutkan oleh Vlad. Bahkan, tadinya dia menyangka makhluk-makhluk itu hanya berada di dalam buku dongeng atau layar kaca.


Dia mendengus saat Vlad mengatakan kalau dirinya adalah penyihir. "Huh! Astaga, kalau seorang penyihir maka aku tidak akan bekerja susah payah atau hidup susah. Kau boleh bertanya pada Ortega dan Volkov, bagaimana hidupku, di mana tempat tinggalku, dan bagaimana tempat kerjaku? Aku selalu berharap kalau aku memang seorang penyihir, supaya aku bisa menyihir hidupku sendiri menjadi kaya raya dan tentu saja, aku ingin hidupku damai dan aku tidak kesepian lagi,"


Vlad memandang Jenna dengan tatapan tidak percaya. "Kau manusia banyak omong! Penipu! Kenapa kau bisa merubah kaumku menjadi seekor anjing? Dan yang kedua, jelaskan padaku, bagaimana darahmu dapat mengendalikan Ortega?"


Jenna mengangkat kedua bahunya. "Andai saja aku bisa menjelaskan kepadamu tentang hal itu. Tapi sayangnya aku juga tidak mengerti mengapa mereka bisa berubah menjadi seekor anjing saat aku hanya memohon atau mengapa aku bisa mengendalikan Ortega hanya dengan darahku!"


"Karena itu aku harus segera melenyapkanmu, Manusia! Aku harus membunuhmu sebelum kau bisa mengendalikan kaumku lebih banyak lagi!" ucap Vlad, dia menghunuskan pedang itu tepat ke jantung Jenna.


"Jenna! Volkov, bantu aku! Bangunlah, Volkov! Waaaa!" Ortega segera mengibaskan tangan dan dari tangan itu muncul asap hitam yang lama kelamaan membentuk sebuah pedang. Dia mengarahkan pedang itu ke arah Vlad dan menusuk jantung Vlad.


Vlad terjatuh. Darahnya bergabung dengan darah Jenna. Pekikan histeri datang dari Artemis. Dia berteriak memanggil nama ayahnya saat dia melihat Vlad terjatuh. "AYAH!"


Ortega yang menggila, kembali menghunuskan pedangnya pada tali yang mengikat tubuh Volkov. "Bangunkah, Volkov! Bangunlah, Serigala Pemalas!"


Entah karena darah Jenna yang mengalir, atau karena sihir Vlad menghilang, Volkov tersadar. "A-, apa yang terjadi?"


"Banyak, bantu aku untuk membawa Jenna. Dia tertusuk Pedang Kutukan dari Vlad. Aku butu bantuanmu," pinta Ortega.


"Apa!" tukas Volkov.


Mereka lupa kalau Artemi masih ada di sana dan kini dia membalas serangan Ortega. Nasib baik berpihak pada Ortega, kekuatan Volkov kembali, dan dia dapat membaca pikiran Artemis.


Saat Artemis hendak mengarahkan pedangnya ke leher Ortega, Volkov menghempaskan wanita itu dengan kedua tangannya. "Ortega, menyingkirlah!" tukas Volkov bersamaan dengan cahaya keperakan yang menghempas tubuh Artemis.


Artemis pun terpelanting. Dia lupa akan peringatan Zella untuk tidak menyentuh darah Jenna. Wanita vampir itu merangkak dan meraih pedangnya. Dia melemparkan pedang itu dengan seluruh kekuatan yang dia miliki. "Matilah kalian, haaaah!"


Namun sayangnya, Ortega dan Volkov sudah menghilang dengan membawa tubuh Jenna. Setibanya mereka di rumah Jenna.


Darah Jenna masih terus mengalir. "Kita harus bagaimana?" tanya Ortega panik.


"Tidak ada cara lain, selain memasukan imunitas kita ke dalam tubuh Jenna," jawab Volkov.


Ortega menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak! Bagaimana kalau nanti dia berubah?"


Volkov memandangnya kesal. "Kau mau dia mati atau hidup! Kita harus bergerak cepat sebelum dia mati kehabisan darah! Paling tidak, kau bisa mengeluarkan kutukan itu dari tubuhnya!"


Benar kata Volkov, Jenna terkena Pedang Kutukan dan cara mengeluarkan kutukan itu adalah dengan menghissap darahnya.


Ortega pun menancapkan taringnya di luka Jenna yang tertusuk pedang, begitu pula Volkov. Dia menggigit Jenna dan memasukan imunitas tubuhnya ke dalam darah Jenna.


Tak lama, darah Jenna berhenti. Namun, Jenna belum terbangun. "Jenna! Jenna, bangunlah!" pinta Ortega. Tak sabar, dia mengangkat kepala Jenna dan mencium bibir pucat gadis itu.


Keajaiban pun datang. Seperti putri di negeri dongeng, Jenna membuka matanya dan mendorong Ortega untuk melepaskan ciumannya. "O-, Ortega! Rapatku!"


"Syukurlah, Jenna!" Volkov memeluk tubub gadis itu dengan erat. "Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?"


Jenna menggeleng. Dan saat itulah, Ortega dan Volkov melihat kerlingan manik Jenna berubah menjadi warna ungu. Seperti seorang penyihir.


Sementara itu di rumah Artemis. Zella datang setelah keributan mereda. Dia tidak menemukan apa pun di sana selain dua ekor kucing berwarna hitam dan putih dengan bola mata berbentuk bulan sabit yang mengeong dan mendekati Zella.


"Sudah kukatakan, jangan sentuh darahnya," ucap Zella dan kemudian, dia menggendong kucing-kucing tersebut ke dalam pelukannya.


...----------------...