Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 34



"Sejak kapan kau menjadi pelindung manusia? Kau tau, 'kan kalau manusia itu makhluk paling rendah di dalam rantai makanan kita? Apa karena mereka lemah dan rendah, kau merasa terpanggil? Hahahaha!" kata Artemis mengejek dan mentertawakan pria itu.



Pria itu berdiri dan memperlihatkan sebuah globe pada Artemis. "Kau lihat, bola ini berputar? Kedudukan kaum manusia saat ini, berada di atas. Apa kau tidak tau, kaum kita semakin sedikit. Banyaknya pernikahan campur membuat kaum kita tetap ada. Tanpa perkawinan campur itu, kita habis dan musnah. Apa kau tidak berpikir sampai sejauh itu?"



Artemis melipat kedua tangannya di depan dada. "Itukah yang kau maksud dengan takdir? Sehingga kau dan Ortega berlomba-lomba mendapatkan hati gadis manusia itu? Wah, hebat sekali kalau begitu,"



"Tapi, lama kelamaan, aku dan Ortega jatuh cinta kepada manusia cantik itu. Itu takdir, bukan?" tanya pria itu lagi sambil tersenyum.



"Volkov, kau percaya dengan takdir? Kau akan hancur kalau kau percaya dengan takdir. Segala sesuatunya berasal dari usaha bukan takdir! Seperti aku ingin mendapatkan Ortega, aku tidak mungkin menunggu dia datang kepadaku, 'kan? Zella mengatakan, takdirku bukan bersama Ortega. Tapi, aku mencintai dia dan akan aku patahkan takdir itu," ucap Artemis dengan nada kesal.



Volkov mendengus. Wajah tampannya kini tampak garang dan seram. "Lalu, apa hubungannya dengan kedua manusia itu?"



"Apakah otakmu tertutup oleh cinta? Sampai kau tidak bisa berpikir? Huh!" jawab Artemis mencemooh. Dia memegang pelipisnya sendiri untuk mengejek Volkov. "Tentu saja aku akan memakai mereka untuk mendapatkan Ortega,"



Seringai lebar dan senyum penuh kepuasan terlukis di wajah Volkov. "Terima kasih, kau sudah membocorkan rencanamu. Jadi, siapa yang bodoh kali ini? See ya, Artemis, hehehe!"


Beberapa hari setelah itu, Volkov mendatangi Jenna yang saat itu sedang menyiapkan makanan sebelum dia bekerja. Jenna tak pernah bisa mengetahui kedatangan Volkov yang sangat tiba-tiba. Reaksi terkejut Jenna menjadi hiburan tersendiri untuk Volkov.


"Hai, Cantik," sapa Volkov dengan suaranya yang berat.


"Wowh! Kenapa kau selalu mengejutkanku?" tukasnya dengan tubuh sedikit bergetar, menjatuhkan segala yang dipegangnya, dan dia akan membungkuk rendah untuk menenangkan jantungnya yang berdebar.


Raut wajah kaget dan kedua mata hazelnya tampak cantik dan menggoda saat itu, menurut Volkov dan dia selalu menyukai hal itu.


Volkov tersenyum, dengan kekuatan manusia serigalanya, dia merapikan barang-barang yang jatuh ke tempatnya semula. "Aku selalu suka responmu, hahahaha! Maafkan aku,"


"Ada apa? Kau sudah makan? Mau makan bersamaku?" tanya Jenna sambil membawakan dua piring kosong ke meja makan.


"Di mana vampir kesayanganmu itu?" tanya Volkov lagi dengan maksud menggoda.


Namun reaksi Jenna di luar dugaan Volkov. Wajahnya memerah dan dia tampak kesal. "Alena tadi datang ke sini dan dia menjemput vampir bodoh itu!"


"Alena? Jadi, kau benar-benar menyukai vampir itu?" tanya Volkov dingin. Inikah yang dimaksud oleh Zella, kalau Jenna bukan takdirnya?


Jenna duduk di samping Volkov dan menautkan kedua tangannya. "Aku tidak tau. Aku belum pernah merasakan sesuatu seperti menyukai seseorang atau hal-hal semacam itu. Jadi, aku tidak tau bagaimana rasanya menyukai seseorang,"


"Apa yang kau rasakan saat ini? Kau bisa jujur kepadaku," desak Volkov lebih dalam. "Aku butuh jawabanmu,"


"Kita tidak usah memikirkan hal itu. Nah, ini makanlah dulu dan katakan padaku, kenapa kau datang pagi-pagi sekali?" tanya Jenna, wajahnya semakin merona kala dia membayangkan kenyataan bahwa dia menyukai Ortega.


Dengan satu gerakan lembut, Volkov melingkarkan kedua lengannya di pinggang Jenna dan mengusapkan kepalanya ke punggung gadis itu.


Jenna berada di dalam pengaruh seekor manusia serigala saat ini. Gadis itu menikmati setiap sentuhan Volkov pada tubuhnya.


"Kau harus menjadi takdirku, Jenna. Lupakanlah Vampir Jelek itu dan lihatlah aku," ucap Volkov berbisik lembut di telinga Jenna.


Dalam keheningan total yang memenuhi seluruh sudut rumah kecil itu, tiba-tiba saja manik Jenna berubah menjadi ungu dan dia berbalik menghadap Volkov. "Kau bukan takdir manusia ini, Serigala! Kau akan hancur jika kau menginginkan dia!"


"Siapa kau?" tanya Volkov tajam.


"Tenang saja, aku hanyalah sisi lain dari manusia ini dan aku tidak berbahaya. Jika sesuatu yang buruk terjadi, aku akan segera muncul untuk menyelamatkannya," ucap Jenna yang bukan Jenna.


Volkov memincingkan kedua matanya. "Saat bersama Ortega, mengapa kau tidak pernah muncul?"


"Manusia ini menginginkan vampir itu, Volkov. Jika dia tidak mengirimkan tanda bahaya, aku tidak akan keluar," jawab Jenna santai. Dia menyuap sesendok kentang tumbuk yang sudah dicampur dengan beacon dan irisan daging sapi.


Jenna kemudian melihat ke arah Volkov. "Kau sudah tau artinya, 'kan? Manusia itu menginginkan si Vampir, bukan kau!"


"Begitu?" tanya Volkov muram. "Dan, di mana vampir itu sekarang?"


Jenna kembali lagi menjadi Jenna. Gadis itu terkesiap, seolah-olah baru saja sadar dari sesuatu. "A-, apa yang terjadi? Kenapa kau tidak makan, Volkov? Aku sudah membuatkan untuk dua orang, tapi kenapa kalian ti-,"


Volkov memeluk Jenna erat tanpa aba-aba. Sesuatu yang menyesakkan, yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, membuat manusia serigala itu lemah. Apalagi mengingat kalau Jenna takut padanya. "Kau takut kepadaku, Jen?"


"Tidak. Ada apa denganmu, Volkov? Kau seperti bukan Volkov yang kukenal. Kau baik-baik saja?" tanya Jenna.


Volkov mengeratkan pelukannya pada gadis manusia itu. Anggukan kepalanya berubah dengan cepat menjadi gelengan kepalanya. "Aku sedang tidak baik-baik saja, Jen,"


Entah bagaimana, Jenna dapat merasakan ketakutan yang Volkov rasakan, sama seperti dia pernah merasakan ketakutan dalam diri Zac. Ini aneh sekali dan membuat gadis itu bingung. "Kau akan baik-baik saja dan kau tidak akan kubiarkan pergi ke manapun, Volkov!"


Setelah itu di sekitar lingkungan Jenna, semua anjing melolong sedih. Mereka saling bersahut-sahutan dari satu tempat ke tempat lain. Lengkingan dan lolongan mereka terdengar menyakitkan dan menyayat hati.


Kesedihan itu tidak hanya dirasakan oleh Jenna, di tempat yang cukup jauh dari tempat Jenna dan Volkov, Ortega tiba-tiba saja seperti terhujam pedang yang tajam. Dia membungkuk dan berpegangan pada sebuah pohon besar, supaya tidak jatuh tersungkur.


"Eerrgghhh! Apa ini? Rasa apa ini? Menyakitkan sekali!" air matanya tiba-tiba mengalir, tanpa dia sadari.


Artemis yang saat itu bersamanya, terlihat panik. "Kau kenapa? Jangan melemah saat kau sedang berbicara kepadaku! Bangunlah! Apakah, ... Kau menangis? Apa yang terjadi denganmu? Ortega!"


Ortega memegangi dadanya dan memukul-mukulnya sambil terus menggelengkan kepala. "Aku tidak tau, tapi ini sakit sekali. Dadaku sesak dan aku bahkan tidak bisa menghentikan laju air mataku,"


Ketiga makhluk yang saling terikat dan berhubungan itu membuat sebuah kenyataan yang tidak dapat dipahami oleh Zella, sang peramal. Setelah dia melihat segala sesuatunya dari bola kristal, dia mendengus dan menautkan kedua alisnya. "Apa ini? Apa maksud semua ini?"


...----------------...



Jenna with Volkov.


Sebenarnya, Jenna ini sayang sama Volkov tapi ya udah, kayak sayang biasa aja. Makanya, Volkov sedih banget waktu tau kalau Jenna cuma biasa aja sama dia.


Sabar yah, Volkov 🥰