
Beberapa hari sejak kedatangan Alena aka Artemis di dunia manusia, terutama di restoran mr. Klaus membawa warna sendiri di setiap masing-masing orang.
Karena mr. Klaus menempatkan Alena sebagai penerima tamu di depan restoran, membuat wanita itu memiliki waktu lebih banyak bersama Ortega. Mereka sering terlihat bersama atau saling tertawa saat membicarakan sesuatu.
Begitulah setidaknya mereka di mata Jenna. Ada sekelumit rasa tidak suka saat Ortega berdekatan dengan Alena. Jenna menyatakan rasa tidak sukanya itu secara terang-terangan. Dia bersikap acuh pada Ortega dan menjawab dengan ketus saat pria vampir itu bertanya kepadanya.
Suatu hari, di jam istirahat, Jenna menyendiri dan duduk di meja paling pojok, yang jarang sekali ada tamu duduk di sana.
"Ada apa dengan wajahmu, Cantik?" Volkov tiba-tiba datang dan duduk di sisi Jenna yang sedang merenung sambil memperhatikan Ortega dan Alena.
"Aku? Aku baik-baik saja," jawab Jenna.
Volkov melihat ke mana pandangan Jenna terarah. Kemudian, dia tersenyum. "Tenang saja. Vampir itu setia. Dia akan mencintaimu sampai dia mati dan bahkan dia akan membawa cintanya kepadamu ke alam kematian, di sana itu. Apalagi, gadis itu musuh bebuyutan Ortega. Aku yakin, kau lupa padanya,"
Jenna menoleh ke arah Volkov dengan cepat. "Gadis cantik itu? Aku mengenalnya? Yang benar saja, aku tidak punya teman secantik dia. Yang biasa-biasa saja, aku tidak punya. Apalagi yang cantik, hahaha!"
"Kalau begitu, kau bersamaku saja," balas Volkov. Matanya mengunci manik hazel Jenna. "Aku lebih hebat dan lebih sopan dari Vampir Jelek itu. "
"Kenapa kau memintaku untuk ikut bersamamu?" tanya Jenna.
"Ada ramalan yang mengatakan kau adalah takdir untuk salah satu dari kami. Baik aku maupun Ortega, tidak tau siapa yang akan menjadi takdirmu." ucap Volkov. Jawabannya itu mengarahkan dia pada pernyataan yang diucapkan oleh Zella kemarin malam. Saat wanita tua itu mengatakan Jenna bukan takdir untuknya. Lalu, apa yang akan terjadi jika dia tetap memaksakan Jenna untuk menjadi takdirnya? Itulah yang harus dia cari tau.
Jenna mengerenyitkan keningnya, kedua alis matanya saling bertautan. "Kenapa harus aku? Masih banyak wanita di dunia ini,"
"Kau menolongku dan Ortega. Gigitan Ortega tidak menyebabkan kematian untukmu, malah sebaliknya. Begitu pula yang terjadi denganku, aku tidak tertarik untuk memangsamu. Ada sesuatu di dalam dirimu yang membuatku sedikit takut, dan rasa-rasanya, aku harus patuh pada semua kehendakmu, Jenna. Tidak semua wanita memiliki kemampuan sepertimu," jawab Volkov menjelaskan.
Jenna semakin tak memahami maksud ucapan Volkov. "Aku tak paham kekuatan apa yang aku miliki dan mengapa aku menjadi takdir kalian,"
"Kau tau, kenapa Ortega ingin sekali membuat kerajaan vampir denganmu? Kau memiliki kekuatan yang tidak kau sadari. Seharusnya, saat ini kau sudah mati atau paling tidak, kau berubah menjadi vampir sepenuhnya. Tapi, kau malah menyerap semua kekuatan Ortega," ucap Volkov lagi. "Itu kehebatanmu,"
Jenna terdiam sejenak. Dia berusaha mengingat kekuatan Ortega yang mana yang dia serap. Kemudian, dia menggelengkan kepalanya. "Kau salah. Yang ada dia selalu berhasil menghasutku untuk membuat anak dan kerajaan vampir. Kalau aku punya kekuatan seharusnya aku bisa mencegah itu terjadi,"
Volkov mengacak-acak rambut gadis itu dan menduselkan wajahnya di pundak Jenna. "Sudah kukatakan, kau belum menyadarinya, Jenna,"
"Yang kutakutkan, peramal mengatakan kepadaku kalau ini semua bukan takdirku dan aku akan hancur jika aku tetap berada di sini. Tapi menurutku, aku tidak akan sehancur itu karena aku yakin, kau akan tetap di sisiku apa pun yang terjadi. Benar, 'kan?" tanya Volkov, kedua matanya menatap Jenna penuh harap.
"Tentu saja! Aku menyayangimu, Volkov dan kau harus selalu ada di sisiku. Tidak boleh kemana-mana, kecuali kalau kau bertemu dengan serigala betina, aku baru akan mengizinkanmu untuk berkencan sesekali," jawab Jenna sambil tersenyum lebar.
Volkov merangkul gadis mungil itu ke dalam pelukannya. Beberapa menit kemudian, Zac memanggil Jenna untuk kembali menyiapkan sajian makan malam. Mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke dapur.
Beberapa waktu kemudian, Zac mendatangi Jenna dan dia bertanya tentang Alena. "Kau sudah berkenalan dengan Alena?"
"Wanita cantik yang menurutku biasa saja itu? Tidak, belum. Aku tidak tertarik kepadanya. Kenapa?" jawab Jenna.
Wajah Zac bersemu merah. "Tidak apa-apa. Dia cantik,"
Jenna berdecih dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Seharusnya dia mencurigai Alena saat itu. Namun, dia berpikir itu hal yang biasa, ketika seorang pria mengagumi seorang wanita cantik. Tetapi kemudian, dia teringat ucapan Volkov yang mengatakan kalau dia sudah pernah mengenal Alena. Sampai saat ini, dia tidak tau di mana dia pernah berkenalan dengan Alena.
Seharian itu, Zac mendekati Alena dan bahkan dia mengantar Alena untuk pulang. Malamnya, Jenna bertanya tentang Alena pada Ortega.
Ortega menarik tangan Jenna untuk mendekat. "Kau cemburu kepadanya? Ah, aku senang sekali kalau begitu, hehehe,"
Jenna memutarkan kedua matanya ke samping sambil menghela napas. "Haish! Bukan begitu. Volkov memberitahuku kalau aku pernah mengenalnya,"
"Memang dan saat ini ingatanmu sedang berkabut dan bertumpuk, jadi kau lupa. Yang jelas, dia berbahaya. Alena bukan wanita biasa, Jen," jawab Ortega dengan wajah serius.
"Apakah dia sama sepertimu?" tanya Jenna, hatinya berharap Ortega akan menjawab tidak.
Ortega mengangguk. Hati Jenna mencelos. "Shitt! Pantas saja dia cantik sekali! Seharusnya dari awal, aku sudah curiga padanya! Karena dia langsung mendekatimu!"
"Kau cemburu?" tanya Ortega tersenyum menggoda.
"Ti-, tidak! A-, aku ha-, ...."
Ortega mendudukan Jenna di pangkuannya. "Kalau kau cemburu, apakah tandanya kau sudah menyukaiku?"
Gadis cantik itu tidak dapat menyembunyikan rona merah yang menjalar di kedua pipinya. "Aku tidak menyukaimu! Aku hanya tidak suka kau dekat dengannya,"
Jenna memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Ortega. "Baiklah, aku tidak akan dekat dengannya. Apakah kalau begitu, kau mau menjadi kekasihku?"
"Heh! Darimana kau mendapatkan bahasa manusia seperti itu?" tanya Jenna sedikit terkejut.
"Dari para gadis yang berkunjung ke restoran," jawab Ortega polos.
Wajah Jenna semakin memerah dan dia menyentuh cuping hidung Ortega cepat. "Jangan bergaul dengan para gadis manusia! Mereka berbahaya!"
"Contohnya, kau. Kau pun berbahaya, Jenna. Seperti sekarang, aku ingin sekali menyentuh dan menciummu. Bagaimana ini?" tanya Ortega.
Jenna mendekati wajah Ortega dan mengecup bibir pria vampir itu dengan lembut. "Be-, begitu saja,"
Sementara itu, Zac mengantar Alena sampai di depan apartemen gadis itu. "Sampai sini saja," kata Zac.
"Kau tidak ingin masuk?" tanya Alena.
Zac menjadi sakah tingkah. Lalu dia menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Rasanya tidak enak sekali jika langsung masuk sedangkan kita belum begitu saling mengenal,"
Alena berjalan ke samping Zac dan menggandeng tangan kekar pria itu. "Aku tidak masalah, Zac. Mau masuk?"
Jantung Zac berdetak dengan cepat. Namun, tiba-tiba seorang pria memanggil nama Alena dari lantai kamar apartemennya. "Lena! Masuk sekarang!"
Alena segera menoleh ke arah suara pria tersebut dan memincingkan kedua matanya. Wajahnya dipenuhi kemarahan. Tetapi dengan cepat, dia mampu mengendalikan dirinya sendiri. "Kurasa lain kali saja. Bye, terima kasih,"
Begitu Zac pergi dan menghilang, Alena melayang dengan cepat ke lantai kamarnya. "Kau benar-benar pengganggu!" tukasnya kepada pria itu.
Pria itu tersenyum. "Aku baru saja beralih pekerjaan menjadi malaikat pelindung pria itu. Jadi, aku akan terus mengawasi setiap gerak gerikmu, Artemis,"
...----------------...