Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 8



Tinju mendarat di pipi Ortega. "Jangan macam-macam! Dia manusiaku!"


"V-, Volkov? Kalian berubah menjadi manusia lagi? Kenapa bisa begitu?" tanya Jenna heran. Dia mengamati wajah dan manik mata Volkov yang berwarna abu-abu. "Wah, matamu cantik sekali,"


Dalam bentuk manusia, Volkov berwujud pria tampan, dengan rambut rapi berwarna silver, mata abu-abu kehijauan, kulitnya putih mulus sekali, dan dia tampak seperti pria kaya yang ada di buku dongeng.


Berbeda sekali dengan Ortega. Ortega memiliki rambut hitam dengan panjang sebahu dan rambut itu acak-acakan tak teratur, matanya merah menyala dan kadang hitam legam seperti hutan yang gelap, kulitnya putih pucat, berbanding terbalik dengan Volkov.


Jenna membayangkan Ortega dan Volkov seperti tuan kaya raya dan pelayannya. Sayangnya, Volkov memiliki kemampuan untuk membaca pikiran. Apa yang Jenna pikirkan saat itu, membuat Volkov tertawa dan memandang remeh Ortega. "Tepat sekali pikiranmu itu, Manusia! Hahahaha! Kukira kau bodoh, ternyata kau cukup pintar,"


"Kau bisa membaca pikiranku?" tanya Jenna terkesan.


Volkov mengangguk bangga. "Tentu saja, tapi aku tidak bisa mengajarimu karena kemampuan ini diturunkan dari leluhurku,"


Baru saja, Jenna hendak meminta Volkov untuk mengajarinya membaca pikiran, pria itu sudah membacanya terlebih dahulu. "Sayang sekali, aku tidak menjadi manusia serigala. Pasti akan mengasyikan, jika aku bisa membaca pikiran orang lain,"


"Menikah saja denganku. Kita akan membuat kerajaan serigala. Dengan kemampuan manusiamu yang unik, kita bisa menguasai dunia ini, hahahaha!" ucap Volkov, wajahnya tampak puas saat dia menbayangkan imajinasi liarnya menjadi kenyataan.


Bugh!


"Hentikan khayalanmu sampai disitu, Anjing Besar! Jenna itu milikku, dia akan menikah denganku, dan membangun kerajaan vampir bersamaku!" ucap Ortega, tinjunya dia layangkan ke wajah Volkov.


Tanpa bisa dicegah, mereka berdua pun sudah saling menjambak, memukul, dan meninju! Amarah Jenna kembali menggelegak. "HENTIKAN! KALIAN MEMBUATKU MENUA SEPULUH TAHUN LEBIH CEPAT!"


Mereka berdua mematung. Tangan Ortega masih berada di kepala Volkon, sedangkan taring Volkov menancap di lengan Ortega.


"Lepaskan! Duduklah yang baik, jika ingin kuberi makan!" tukas Jenna kesal. "Atau haruskah aku merubah kalian menjadi seekor anjing lagi?"


"Tidak! Jangan!" sahut mereka bersamaan.


Dalam diam, Jenna menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Dia membuat lasagna dengan daging cincang, bayam merah, keju yang melimpah, serta extra beacon untuk Volkov dan Ortega.


"Makan yang baik dan jangan terburu-buru! Selamat makan," ucap Jenna. Dia menyuap sesendok besar kasagna buatannya dan tersenyum lebar saat melihat dua peliharaannya makan dengan lahap. Tunggu? Peliharaan? Apa itu tidak terlalu kasar? Baiklah, kedua temannya.


"Wuah, ini nikmat sekali," kata Volkov mengacungkan kedua ibu jarinya. "Kau hebat!"


Wajah Jenna memerah, dia tersipu malu. "Kalian ini, kadang membuatku tersenyum dan kadang membuatku kesal. Ckckck!"


Seperti biasa, Ortega menagih darah Jenna. "Ayolah, Jennaku. Berikan kepadaku darahmu yang lezat itu."


"Kau membuang-buang darahku untuk sesuatu yang tidak berguna! Darahku adalah sumber kehidupanmu dan pusat energimu, tapi kau malah memakai darahku untuk berkelahi! Pantas saja kau cepat lapar! Bagaimana kalau aku kekurangan darah karenamu?" tuntut Jenna kesal.


Lagi-lagi Ortega menarik baju Jenna dan mengekor pada gadis itu.


"Apa yang ada di dalam darahmu, Manusia? Kau tidak seperti manusia pada umumnya," tanya Volkov yang sedari tadi mengamati bagaimana Ortega menjadi tergantung pada darah Jenna.


Jenna mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau,"


"Setelah aku menggigitnya, aku tidak bisa menghissap darah manusia lain selain dia. Dan aku juga tidak bisa membunuh Jenna, aku tidak bisa menghissap darahnya sampai habis. Aku pun tidak mengerti, kenapa bisa begitu," ucap Ortega serius. Matanya tak lepas dari setiap pergerakan Jenna.


Volkov ikut mengawasi Jenna dan sama seperti Ortega, dia pun tidak mengerti bagaimana seorang manusia bisa mengendalikan mereka berdua. Seorang vampir dan manusia serigala.


"Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tertarik, Ortega. Biasanya, setiap manusia yang memandangku, mereka tidak akan bisa bergerak lagi seperti lumpuh dan aku bisa dengan mudah memangsanya. Tapi, gadis manusia ini, tatapanku tidak mempengaruhi dia. Hebat sekali, aku jadi menyukainya," ucap Volkov.


Kedua gigi taring Ortega muncul begitu saja. "Dia milikku, Volkov! Jangan pernah menginginkan dia untukmu!" raungnya.


"Jangan mulai lagi, Ortega! Aku akan keluar sebentar, dan sesekali aku ingin mengajak kalian. Apa kalian tidak memiliki pakaian? Selain jubah aneh ini?" tanya Jenna sambil mengangkat pakaian Ortega dan Volkov di tangannya.


Ortega dan Volkov saling memandang dan kemudian, mereka mengangkat kedua bahu mereka. "Kami tidak perlu berpakaian. Ayo, kita temani Jenna!"


Dengan secepat kilat, Jenna melongok keluar. "Ah, silau sekali," kata gadis itu. Dia melihat Ortega memakai topi cap dan kacamata hitam, sedangkan Volkov, berdiri dengan gagahnya. Sinar ketampanannya menyaingi panasnya sinar matahari.


"Hei, kalian tidak bisa keluar dengan wujud manusia tanpa pakaian! Untuk sementara, berubahlah menjadi anjing kecil! Kumohon," pinta Jenna.


Dan,


Plop!


Sosok Ortega dan Volkov pun menghilang, digantikan dengan dua ekor anjing kecil yang menyalak dengan kesal. Ekor mereka bergoyang cepat, tanda tak suka.


"Ikut aku! Masuklah ke dalam tas!" Jenna memasukan dua ekor anjing kecil itu ke dalam tasnya dan kemudian, dia bergegas pergi ke suatu tempat.


Pertama, Jenna pergi ke restoran tempat dia bekerja. "Hai, Mr. Klaus,"


"Jenna Sayang, senang melihatmu. Bagaimana kabarmu, Anakku?" tanya Mr. Klaus. "Tapi, bukankah hari ini kau masih libur?"


"Ya, aku hanya ingin mengatakan padamu, besok aku akan kembali bekerja dan aku sudah mempersiapkan diriku dengan sebaik mungkin," ucap Jenna kepada Mr. Klaus.


Kedua mata mr. Klaus membulat. "Benarkah? Ah, kalau begitu, aku akan menunggumu dengan sabar hingga esok hari,"


Kini perhatian mr. Klaus teralihkan pada dua ekor anjing kecil yang berada di tas Jenna. "Inikah yang membuatmu menjadi bersemangat?"


"Hahaha," Jenna tertawa kering. "Sepertinya, aku hanya akan mengganggu jika terus berada di sini. Aku pamit pergi dulu, permisi,"


"Sampai besok, Jenna Sayang," sahut Mr. Klaus gembira dan tak lupa, dia melambaikan tangan kepada Ortega dan Volkov yang berwujud anjing kecil berwarna putih dan hitam itu.


Jenna melanjutkan perjalanannya ke pusat perbelanjaan. Dia segera menuju toko yang menjual pakaian pria. Setelah memilih, Jenna mengambil lima pasang pakaian.


"Pakailah pakaian ini, aku akan merubah kalian menjadi manusia," ujar Jenna. Gadis itu meletakkan Ortega dan Volkov di dalam kamar ganti.


Plop


Dua ekor anjing kecil itu membesar dan berubah menjadi dua manusia tampan dan gagah. Ortega segera mengendus sekelilingnya. "Hmmm, wangi manusia. Aku jadi lapar,"


"Kita tidak makan di sini! Pakai pakaianmu, cepat!" titah Jenna tegas.


Dengan patuh, mereka berdua pun memakai pakaian yang baru saja dibeli oleh Jenna. Jenna tersenyum puas saat mereka keluar dari kamar ganti dengan sudah memakai pakaian baru.


"Ayo, kita cari makan!" ucap Jenna.


Seluruh wanita yang melewati mereka atau berpas-pasan dengan mereka, tersenyum dan mengerlingkan matanya kepada Ortega dan Volkov.


"Jaga mata kalian!" tukas Jenna tajam. Entah mengapa, dia tidak suka jika kedua pria itu digoda oleh wanita lain, selain dirinya.


'Tentu saja, aku yang memberikan mereka makan, tempat tinggal, serta pakaian!' tutur Jenna dalam hati.


Mereka menikmati waktu mereka, sampai seorang wanita tak sengaja menabrak Ortega. Wanita itu anggun dan cantik sekali.


"Oh, maafkan aku." ucap wanita itu. Dia tersenyum pada Ortega. "Kau tampan. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu tampak tidak asing bagiku,"


"Mereka belum pernah bertemu denganmu, permisi!" balas Jenna, dia segera menarik tangan Ortega dan Volkov untuk segera menjauh dari wanita cantik itu.


Wanita itu tersenyum. "Ortega, akhirnya aku menemukanmu dan gadis itu, benar-benar harum sekali,"


...----------------...