
Zella berjalan mondar-mandir sambil terus memperhatikan nyala bola kristalnya. Sesekali dia duduk dan mengusap dagunya, sekali waktu dia kembali berdiri dan berjalan mondar-mandir lagi. Kedua alisnya saling bertautan sehingga membentuk seperti sebuah arang patah yang panjang.
Wanita tua berkepang dua itu menggumam dalam kesendiriannya. Terkadang, dia bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. Terkadang pula, dia tersenyum dan tertawa. "Bagaiama kalau benar begitu?" dia terdiam, berpikir, tak lama dia tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Hahaha! Tapi, itu tidak mungkin! Tidak ada yang seperti itu,"
Dia menghabiskan waktu malamnya hanya untuk melakukan itu. Sampai akhirnya, dia memukul telapak tangannya sendiri. "Apa mungkin, ...? Ya, pasti begitu!"
Kemudian, dia berlari dengan tergopoh-gopoh untuk mengambil sebuah buku besar dan cepat-cepat dia membuka buku itu, membolak-balik halamannya sambil dia baca dengan cepat lembar demi lembar.
Tibalah dia pada sebuah halaman, yang berisikan gambar seorang wanita dengan dua orang pria yang mengapitnya. "Inikah? Selama ribuan tahun, apakah akan terjadi lagi?"
"Cinta segitiga yang mustahil di antara tiga makhluk yang berbeda! Luar biasa, a-, apakah ini yang akan terjadi? Akhir dari kisah ini akan sangat menyedihkan," ucap Zella resah. Dia menggigit pinggiran kukunya yang sudah pipih dan grepes.
Kedua tangannya dia remat-rematkan sampai mengeluarkan keringat. "Aku hanya mengkhawatirkan serigala kecilku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya. Aku harus bertindak sebelum ikatan di antara mereka semakin dalam. Demi kaki serigala, aku tidak percaya ini benar-benar terjadi!"
Sementara itu, Jenna dengan sabar menunggu Volkov untuk membuka matanya. Semalaman tadi, manusia serigala itu tak sadarkan diri. Dia seperti tertidur. Entah apa yang terjadi, Jenna pun tidak mengerti.
Yang dia tau saat Volkov memeluknya, ada rasa sakit yang sangat menyesakan di dadanya. Apakah itu rasa sakit dari Volkov? Karena setelah itu, kekuatan Volkov tiba-tiba menghilang dan dia terjatuh tak sadarkan diri.
Di saat yang sama, Jenna mencari Ortega. Tidak mungkin dia membawa Volkov ke rumah sakit. Pasti tulang dan struktur organnya berbeda dengan manusia, 'kan?
Jenna menghembuskan napasnya. "Hei, Volkov. Apa kau baik-baik saja? Bangunlah,"
Seakan mendengar permintaan Jenna, pria berwajah klasik itu pun perlahan membuka kelopak matanya. Dia menempelkan tangannya di pipi Jenna. "Hei, aku baik-baik saja. Aku tidak tau apa yang terjadi, tap-,"
Suara pintu tiba-tiba terbuka dengan keras sehingga mengejutkan Volkov dan Jenna. Ortega masuk ke dalam, wajahnya sangat pucat, dan dia tidak dapat berdiri tegak. Dengan dibantu oleh Artemis, pria itu terus mengerang kesakitan dan memegangi dadanya.
Segera saja, Jenna memasang posisi waspada. "Apa yang kau lakukan kepadanya, Alena?"
"Manusia bodoh ini benar-benar masih lupa padaku, yah?" dengus Artemis mencemooh.
Jenna mengambil Ortega dari tangan Artemis, tetapi wanita itu menahannya. Kedua matanya membesar dan dia mengeluarkan suara berbisik nyaris seperti sebuah desisan. "Dia milikku!"
Ortega melepaskan tangannya dari Artemis, dan dia menjatuhkan diri pada Jenna. "To-, tolong aku, sa-, sakit sekali,"
"Ka-, apa yang terjadi denganmu, Ortega? Mana yang sakit? Katakan kepadaku!" tanya Jenna panik begitu dia melihat wajah Ortega yang kesakitan.
Suara Jenna tercekat dan dia nyaris saja menangis melihat kondisi Ortega seperti itu. Belum lagi Volkov yang masih terlihat lemah. "Kalian ini kenapa, sih? Kalian membuatku bingung dan takut,"
Kedua pria itu memeluk Jenna bersamaan. "Jangan takut, Jen. Kami baik-baik saja,"
Artemis melihat pemandangan itu dengan tatapan jijik dan mengejek. "Cih!" sahutnya!
Setelah kedua pria itu tenang, Jenna menghembuskan napasnya lega. Mereka sudah tidak mengerang kesakitan lagi.
"Bagaimana keadaan kalian? Apakah masih terasa sakit?" tanya Jenna. Kedua pria itu menggelengkan kepalanya dan mereka sama-sama menyandarkan kepala mereka di paha kanan dan kiri Jenna. "Sebenarnya, apa yang terjadi pada kalian?" tanya Jenna lebih kepada dirinya sendiri.
Tidak ingin melihat pemandangan mesra di depan matanya, Artemis memilih keluar. Padahal hari itu sudah hampir malam, di mana akan rawan sekali jika dia, seorang vampir, keluar di malam hari. Keinginannya untuk berburu akan lebih besar, dibandingkan dengan siang hari.
Benar saja, dia menghirup dalam-dalam aroma harum manusia yang berlalu-lalang di sekitaran lingkungan Jenna. Wanita itu mencengkeram pagar rumah Jenna kencang-kencang sambil berusaha menahan untuk tidak menyerang satu manusia pun.
Beruntunglah dia, di saat dia mulai menyerah, seseorang datang menyapanya. "Hei, Alena,"
Artemis masih memegangi pagar dengan kuat. Dia menoleh sebentar dan tatapannya semakin merana saat dia melihat siapa yang menyapanya. "Ha-, hai Zac,"
"Kau baik-baik saja? Keringatmu banyak sekali," tanya Zac, dia merangkul pundak Artemis dan memapahnya. "Kau yakin kau baik-baik saja?"
Artemis berpegangan erat pada lengan Zac dan mengangguk. Zac cepat-cepat membawa Artemis masuk ke dalam rumah Jenna. Namun, Artemis menahan Zac sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau di sana,"
Akhirnya, Zac membawa Artemis ke apartemen miliknya. Dia berlutut membelakangi Artemis. "Naik saja ke punggungku. Kau tidak akan sanggup berjalan sejauh itu, naiklah,"
Artemis sedikit ragu, tetapi Zac menarik kedua tangan gadis itu dan dengan sigap mengangkat tubuh Artemis ke punggungnya. "Kau tidak seberat Jenna, jadi tenang saja kau tidak perlu memikirkan apakah aku kelelahan atau tidak,"
Ada gelenyar aneh yang tiba-tiba saja Artemis rasakan. Awalnya, dia berpikir itu karena rasa dahaganya akan darah manusia, tetapi ini berbeda. Bukan debaran lapar ataupun debaran karena ingin berburu. Apa ini?
Artemis menepuk pundak Zac. "Turunkan aku! Aku sudah baik-baik saja,"
"Tidak! Sebentar lagi kita akan sampai," tolak Zac dengan lembut. Pria muda itu mengeratkan tangannya supaya Artemis tidak berontak dan berusaha untuk turun.
Wajah Artemis terasa panas, dia tidak paham apa yang terjadi. Namun saat ini yang dia rasakan, hanyalah sebuah rasa yang nyaman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Tak lama, mereka sampai di apartemen Zac. Pria itu menurunkannya. "Masuklah dan kau bisa beristirahat di manapun kau mau. Nah, katakan padaku apa yang sedang ingin kau makan?"
Tatapan Zac membuat Artemis kesal dan marah. Dia tidak ingin marah, tetapi perlakuan Zac yang manis kepadanya entah kenapa membuat dia ingin membawa pria itu. "Tidak usah! Aku ingin pulang!"
Zac menangkap tangan Artemis. "Kau masih pucat, makanlah dulu setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Apa yang ingin kau makan?"
'Manusia ini! Kenapa dia tidak takut kepadaku dan kenapa juga dia baik kepadaku? Dia tidak boleh baik padaku, karena aku akan lemah seperti Ortega dan Volkov!' tukas Artemis dalam hati. Dia tidak ingin semua rencananya gagal hanya karena perasaan aneh yang dia rasakan ini. Tidak! Dia tidak ingin hancur!
Dalam usahanya yang terakhir, Artemis mendorong Zac dan menyudutkannya di sudut dapur. "Bagaimana kalau aku ingin memakanmu, Zac?" Alih-alih menancapkan taringnya, dia melakukan sesuatu yang lebih mengerikan daripada membunuh Zac saat itu.
...----------------...