Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 58



"Ze-, Zella!" tukas Ortega, dia mengeluarkan taringnya dan menghadang wanita itu sebelum dia mendekati Jenna.


Seakan tidak melihat, wanita keturunan Indian itu terus berjalan dan dia berhasil menyingkirkan Ortega dari hadapan Jenna.


Dengan tongkat penyangga kakinya, wanita itu seperti membelah lautan dan muncullah sekelumit gambar tak jelas dan suara seperti berkumur di dinding. Gambar itu menyerupai potongan video yang sudah di acak.


Video itu memperlihatkan seorang gadis yang tak jelas wajahnya sedang bergandengan tangan dengan seorang pria. Gadis itu terlihat bahagia sekali. Kemudian, video itu berganti menjadi gambar seorang pria yang sedang duduk termenung dan seorang gadis lain lagi datang menghampiri dan duduk di pangkuannya.


Setelah beberapa kali berganti, video itu menghilang begitu saja dari dinding. "Kalian lihat? Tidak ada yang akan mati, hanya saja hubungan di antara kalian terputus."


"Tapi di gambar itu, kami seperti tidak saling kenal," kata Jenna.


Zella mengangguk. "Ya, benar. Tetapi ini untuk sesuatu yang benar,"


"Apanya?" tanya Ortega bodoh.


Sedangkan Adrian yang sedari tadi tak mengerti, meminta Zella untuk menjelaskan apa yang terjadi. "Bisa kau jelaskan, mengapa Jenna harus mati?"


Zella berbalik dan menatap Adrian. Wajahnya tampak sumringah saat melihat pria bertubuh kekar itu. "Oh, kau! Senang sekali dapat bertemu denganmu, Anak Manusia. Takdirmu akan bersama Jenna nantinya. Semua yang ada di sini dan bukan kehendakku, akan kembali lagi kepadaku,"


"Dia gila! Jangan dengarkan dia! Dia terlalu lama hidup sendiri, akibatnya dia menjadi seperti itu! Mengerikan! Jenna, ayo, kita pergi!" sahut Ortega. Wajahnya semakin kesal dan darahnya semakin mendidih saat mendengar ucapan Zella pada Adrian.


Tongkat Zella melayang dan nyaris saja mengenai sisi kepala Ortega. "Dengarkan aku dulu, Vampir Kurang Ajar! Aku sedang merancang masa depan yang terbaik untuk kalian bertiga! Seharusnya, aku tidak perlu bersusah-susah seperti ini, andai ini tidak menyangkut raja kami!"


"Raja?" tanya Adrian lagi. "Siapa yang menjadi raja?"


"Volkov, adalah raja kami. Sedangkan Ortega akan digadang-gadang untuk menjadi raja di kerajaan vampir, kalau tidak dihukum dan dibuang ke sini! Susunan nasibnya berubah begitu dia terkena kutukan dan terkontaminasi darah manusia ini! Kekuatannya tidak hilang, justru semakin besar dan berbahaya!" jawab Zella tajam. "Aku tidak ingin dunia ini menjadi hancur karena ulah mereka bertiga! Gadis ini masih sangat muda dan labil, apa pun emosi yang dia rasakan, akan mempengaruhi mereka berdua!"


Adrian mengernyitkan keningnya. "Mengapa bisa begitu?"


"Sihir kuno! Mungkin saja gadis manusia ini masih memiliki keturunan penyihir atau apa pun itu. Cara satu-satunya untuk memusnahkan sihir kuno itu hanyalah dengan kematian!" jawab Zella penuh drama.


Zella tidak ingin membunuh mereka bertiga, terutama Volkov. Wanita berkepang dua itu hanya ingin mengeluarkan sihir kuno yang berada di dalam darah mereka bertiga. Cara satu-satunya, mereka harus mati dan tidak ada cara lain selain itu.


"Tidak adakah solusi lain selain mati? Maksudku, kita hidup di zaman yang sudah berkembang dengan pesat, tidakkah kau memiliki cara lain?" tanya Adrian lagi. Dia pun tak ingin Jenna mati hanya untuk mengeluarkan sihir kuno yang ada di tubuh gadis itu.


Zella menggelengkan kepalanya. "Tidak ada,"


"Kuberikan waktu untuk kalian selama 24 jam, setelah itu kembali lagi ke sini dan kita akan memulai proses pemusnahan sihir kuno itu. Aku masih berbaik hati," kata Zella kepada Jenna dan Ortega.


"Haruskah hari ini?" tanya Jenna.


"Ya. Lebih cepat lebih baik," kata Zella lagi.


Dengan menyetujui keputusan itu, Ortega mengajak Jenna pergi. Dia bahkan membuat Adrian dan Volkov terpelanting karena ingin ikut bersamanya.


Sesiangan itu, Ortega mengajak Jenna ke tengah hutan yang berada di pusat kota. "Apa kau tidak masalah berada di sini?"


Jenna menggelengkan kepalanya dan memeluk Ortega dengan erat. "Aku mengkhawatirkanmu, Ortega. Aku takut sesuatu yang buruk menimpamu,"


"Aku akan baik-baik saja selama kau baik-baik saja, Jen. Kau tau, kita terhubung, 'kan? Kita saling merasakan satu sama lain. Aku tidak ingin memutus koneksi ini. Ini membuatku merasa dekat denganmu," sahut Ortega, dia mendekap kekasihnya sambil menyandarkan dagunya di atas kepala Jenna.


Ortega mengangguk sambil mengecup pucuk kepala Jenna dengan lembut. "Ya, mereka menyebalkan. Aku rasa, kau akan melakukan hal yang sama jika kau berada di posisiku. Dan apa yang terjadi padamu malam itu?"


Jenna menceritakan saat dia melarikan diri bersama Adrian dari kastil tua itu. Dia bercerita bagaimana feral menyerang mereka begitu mereka keluar dari kastil. Jenna juga bercerita tentang Adrian yang ditarik oleh ferral dari bawah kolong rel kereta api.


Saat Ortega dan Volkov marah, Jenna pun bercerita di waktu yang sama, dia pun hendak mencelakai penjaga hotel dan berhasil menggigit Adrian. "Aku merasa buruk padanya. Maksudku, aku telah menggigit dan menghissap darahnya. Itu gila! Bahkan, aku menghancurkan setengah ruangan kamar kami,"


"Ya, aku tau. Tapi yang terpenting sekarang, kau selamat, Jen," ucap Ortega.


"Ya, kau benar," balas Jenna.


Kedua netra mereka saling bertemu, Ortega mempersempit jarak di antara keduanya dan mengambil alih benda kenyal Jenna serta menggerakkannya sedikit.


Jenna segera membalas pagutan kekasihnya itu. Dia merubah posisi duduknya dan kini, dia berhadapan dengan Ortega. Mereka saling berpagutan dalam dan panas.


Matahari mulai berganti, di tengah hutan, sepasang makhluk sedang mereguk kenikmatan surga dunia. Tidak ada lagi yang mereka tahan. Semua rasa mereka lepaskan malam itu.


"Apa sebaiknya kita tidak pindah?" bisik Jenna, suaranya tercekat. Pakaian gadis cantik itu sudah berantakan.


Ortega mengangguk setuju dan dia mengajak Jenna untuk pergi ke sebuah penginapan dan melanjutkan permainan panas mereka di sana.


Mereka berdua mengulang permainan mereka dari awal kembali. Sama seperti tadi, Jenna tidak menahan seperti biasanya.


"Apakah aku boleh, ... Kalau kau melara-," tanya Ortega saat mereka hendak melakukan penyatuan.


Jenna mengangguk perlahan dan wajahnya tersipu malu. "Silahkan, kita tidak tau apa yang terjadi besok,"


Tanpa ragu, Ortega melanjutkan pagutannya dan menghujamkan benda pusakanya ke dalam liang milik Jenna yang sudah siap menerima miliknya.


Satu dessahan keluar dari bibir Jenna diikuti dengan dessahan-dessahan lain. Mendengar itu, Ortega semakin mempercepat gerakannya. Hingga mereka mencapai puncak bersamaan.


"Andaikan ini kita lakukan beberapa bulan yang lalu, aku rasa kita sudah bisa membangun kerajaan vampir, Jen," ucap Ortega lagi sambil mengecup bibir dan kening Jenna.


"Katakan saja, kita tidak akan mati besok. Ayo, kita lakukan lagi!" sahut Jenna dengan senyum menggoda.


Ortega pun segera mengulang apa yang tadi dia lakukan terhadap Jenna. Gadis itu pun siap menerima cinta yang diberikan oleh kekasihnya itu.


24 jam, waktu yang diberikan oleh Zella akhirnya habis. Jenna dan Ortega harus kembali ke hotel tempat Zella menginap.


Volkov menganggukan kepalanya pada Jenna dan Ortega. Sedangkan Adrian, dia sibuk membaca buku tebal yang lembarannya sudah menguning dan rapuh. Dia membuka lembar per lembarnya dengan sangat hati-hati.


"Kalian sudah siap?" tanya Zella.


"Belum! Jangan lakukan itu! Aku belum siap kehilangan Jenna! Bisakah kau memberikan 24 jam lagi supaya aku bisa bersama dengan Jenna? Kumohon," tanya Adrian.


Zella menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa! Mereka harus segera dipisahkan! Kalian siap?"


Ketiga orang itu saling bergandengan tangan. Zella berdiri di hadapan mereka dan dia mengarahkan tongkatnya ke arah mereka. Tiba-tiba saja, cahaya putih menyilaukan mengenai mereka bertiga dan dalam sekejap, cahaya itu memenuhi kamar tempat mereka menginap.


...----------------...