
Malam itu, Volkov meminta izin pada Jenna untuk menyelidiki tentang Artemis dan Vlad. Dia berjanji akan kembali secepatnya. "Darahmu pasti mempengaruhi mereka juga, Jenna,"
"Begitukah? Lalu, mengapa kalian tidak berubah? Dan mengapa mataku menjadi ungu?" tanya Jenna. Beberapa kali dalam hari itu dia bercermin hanya untuk memastikan warna bola matanya.
Volkov mendekat ke wajah Jenna dan memperhatikan mata gadis itu dengan seksama. "Apa kau yakin, kau bukan seorang penyihir?"
Ortega memisahkan mereka berdua dan dia mengacungkan jari penunjuk ke hidung Volkov. "Jarakmu terlalu dekat, Serigala! Menjauhlah sedikit!"
"Aku tidak peduli kau penyihir atau bukan, mulai tadi saat kau dengan sukarela memberikan darahmu padaku, aku memutuskan untuk mencintaimu," ucap Ortega, dia mengecup pipi Jenna dan memeluk gadis kecil itu dengan sangat erat.
"Kau juga jangan seperti itu!" tukas Volkov, dia mendorong Ortega untuk menjauh. "Baiklah, aku pergi dulu. Aku berjanji akan mengabari kalian secepatnya."
Sebelum dia pergi, dia berbalik, dan,
Cup!
Satu kecupan dia sapukan ke bibir Jenna. "Berhati-hatilah pada Vampir Mesum ini! Jaga dirimu dan, oh, aku punya sesuatu untukmu,"
Volkov memberikan Jenna seuntai kalung dengan liontin bulan sabit kepadanya dan memakaikan kalung itu di leher Jenna. "Ini untukmu dan aku berharap, kau tidak akan pernah melepaskan kalung ini. Anggap saja ini jimat untuk melindungimu,"
Jenna memegang liontin bukan sabit berwarna ungu itu. "Terima kasih. Jaga dirimu, Volkov,"
Setelah kepergian Volkov, Ortega menatap Jenna dengan tatapan nakal dan liar. "Itu tandanya, kita berduaan lagi, Jenna. Aaah, senangnya!"
"Awas saja kalau kau berani macam-macam!" tukas Jenna. "Aku lelah dan aku mau tidur!"
Keesokan paginya, ada sesuatu yang menggelitik di leher Jenna. Namun, kedua mata wanita itu masih berat, sehingga dia hanya menggeliat lemah. "Mmpphh,"
Jenna kembali menggeliat saat dia merasakan sesapan di lehernya. Belum lagi, ada sesuatu yang terasa aneh tapi nikmat menggerayangi tubuhnya. Satu dessahan lolos dari mulut Jenna.
Dia pun membuka matanya. Wajahnya memerah saat dia melihat Ortega berada di atas tubuhnya. Pria vampir itu asik menyesap leher dan jari-jari tangannya sibuk bermain di pucuk bukit Jenna.
"Vampir Sialan!" Jenna memberikan tinju mentahnya pada Ortega.
Kekuatan Jenna meningkat dua kali lipat, Ortega tak hanya terhempas, tetapi dia juga terpelanting, dan jatuh tersungkur. "Errgghh!"
Jenna segera berlari untuk menolong Ortega. "Hei, hei! Maafkan aku. Kenapa kau bisa sampai terpental seperti itu?"
Ortega mencebik. "Mana aku tau! Tanyalah pada kekuatanmu!"
"Aku memukulmu seperti biasa tapi kenapa kau terpental jauh. Apa punggungmu baik-baik saja?" tanya Jenna. Sejurus kemudian, Jenna teringat pada apa yang tadi telah dilakukan oleh Ortega. Dan dia cepat-cepat menarik penyesalannya. Alih-alih menyesal, dia menjitak kepala Ortega. "Kau juga, sih! Mesum! Siapa yang suruh berbuat mesum seperti tadi?"
Jenna merinding saat dia mengingat di mana tangan Ortega tadi berada. "Sudahlah, lupakan!"
"Baiklah, besok pagi aku akan membangunkanmu dengan ciuman selamat pagi!" jawab Ortega tersenyum lebar.
"Jangan sembarangan!" tukas Jenna lagi. Dia berlalu pergi dan tiba-tiba saja, Ortega memeluknya dari belakang.
Jenna dapat merasakan napas Ortega di ceruk lehernya. "Kemarin, aku takut sekali. Aku takut kehilanganmu. Baru kali ini aku merasakan perasaan takut seperti itu,"
Jantung Jenna pun berdetak cepat, seolah sedang ada sebuah parade di dalamnya. Dia terdiam dan tidak tau bagaimana cara menanggapi Ortega. "Kemarin, aku pun takut. Aku takut kalau aku tidak bisa bertemu dengan kalian lagi,"
Ortega semakin mendekap erat gadis manusia itu. "Mulai hari ini, aku akan selalu mendampingi ke manapun kau pergi, Jenna."
Sayangnya, keintiman mereka pagi itu harus berhenti karena suara ketukan pintu di rumah Jenna.
"Jenna! Kau baik-baik saja? Jenna!" terdengar suara pria dari luar dan pria itu mengayunkan kenop pintu, berusaha untuk masuk.
Jenna segera melepaskan lengan Ortega yang melingkar di pinggangnya. "Zac! Itu Zac!"
"Singkirkan lenganmu!" Jenna segera membukakan pintu untuk Zac. "Hai, Zac,"
Saat itu, kedua mata Jenna berubah menjadi normal, berwarna hazel. "Masuklah,"
Zac pun masuk ke dalam. "Kau sakit?" pria itu mengarahkan telapak tangannya ke kening Jenna. "Kau baik-baik saja? Apa yang kau rasakan?"
Wajah Jenna memerah. "A-, aku baik-baik saja."
"Lalu, kenapa kemarin kau tidak datang rapat dan tidak bekerja? Aku datang ke rumahmu pun, rumahku gelap dan kosong. Apa yang terjadi?" tuntut Zac.
Sebelum Jenna sempat menjawab, Zac memeluknya erat. "Jangan pernah membuatku khawatir lagi, Jenna. Hubungi aku kapan pun kau membutuhkanku. Kau paham?"
"Awas! Jangan sembarangan memeluk wanita, apalagi dia masih gadis!" Ortega melepaskan pelukan Zac dan mendorongnya untuk menjauh.
Zac menepiskan tangan Ortega. "Kau! Kau masih di sini! Untuk apa kau masih tinggal bersama Jennaku?"
"Jennaku? Apa aku tidak salah mendengar? Dia Jennaku, milikku!" tukas Ortega tak mau kalah.
Keinginan saling membunuh terlihat jelas di kedua mata pria itu. Manusia melawan vampir. Jenna sudah mengetahui siapa yang akan jadi pemenangnya. Dia segera melerai mereka, tetapi, Jenna terpelanting karena Ortega tak sengaja mendorongnya.
Emosi Jenna dengan cepat menggelegak, seperti gunung berapi yang akan meletus. "HENTIKAN, KALIAN BERDUA!"
Mereka berhenti, bahkan tidak bergerak sama sekali. Jenna mengerjapkan matanya dan menghampiri kedua pria yang kini mematung itu. "Hei! Hei, kenapa kalian diam saja?"
Gadis itu menyentuh, memegang, bahkan mencubit Zac dan Ortega, tetapi tidak ada yang terjadi. Dia pun panik. Jenna berlari keluar untuk mencari pertolongan.
Namun, begitu dia keluar dia terantuk dinding yang tak terlihat. "Ouch, apa ini?"
Jenna mundur perlahan, apa yang terjadi? Ada apa ini? Gadis itu menelan salivanya kasar. Dia ketakutan. Tiba-tiba, kalung bulan sabit pemberian Volkov berdenting perlahan dan bersinar.
"Oh, Volkov? Apa kau mendengarku? Aku takut! Bisakah kau datang? Volkov! Halo! Volkov!" Jenna terus berteriak-teriak memanggil manusia serigala itu. Akan tetapi, tidak ada yang terjadi.
Butiran bening jatuh dan bergulir di kedua pipinya. "Apa yang harus aku lakukan? Volkov, tolong aku!"
Di suatu tempat lain yang cukup jauh dari tempat Jenna berada, seorang wanita tua sedang memberikan makan pada kedua ekor kucingnya yang cantik.
"Gadis itu benar-benar ajaib. Kutukanmu berubah menjadi kekuatan yang tak tertandingi dalam tubuh gadis manusia itu." wanita tua itu kemudian berjalan melihat bola kristalnya yang berpendar-pendar.
Dia memperhatikan Jenna dari bola ajaibnya. "Hebatnya, dia tidak menyadari kekuatan yang ada dalam dirinya. Ini menarik. Tapi, tunggu dulu! Kalung itu!"
"Ya, aku memberikan kalung itu kepadanya, Zella. Ternyata kau yang berada di belakang semua tragedi ini. Apa tujuanmu?" tanya seekor serigala besar berwarna abu-abu yang dengan cepat menyusut dan berubah wujud menjadi seorang pria tampan.
"Tu-, Tuan Muda Volkov? Kupikir Anda, ...."
"Sudah mati?" tanya Volkov. "Aku tidak akan mati, sampai gadis manusia itu yang memintaku untuk mati!"
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Zella lagi.
Volkov terus berjalan dan berjongkok di depan kandang kucing yang sedang asik makan. "Kutukan itu berubah menjadi kekuatan dan aku mencampur darah serta imunitasku ke dalam darahnya,"
"A-, apa!" Zella terbelalak terkejut.
"Dia tetap manusia, Zella. Hanya saja dia akan menjadi seorang manusia sempurna yang abadi," jawab Volkov lagi sambil tersenyum.
Kedua bola mata Zella membulat sempurna dan wajahnya tampak sangat ketakutan. Dia menjauh dari Volkov seakan takut serigala itu akan menggigit dan mengoyak dagingnya sampai habis.
...----------------...