
Sebuah tamparan keras melayang di pipi Adrian. "Apa yang kau lakukan!"
Adrian memegangi pipinya dan tersenyum. "Kau boleh menamparku ratusan kali, tapi aku cukup menamparmu sekali dengan kenyataan. Kau tidak akan bisa berada di atas sini bersama kekasih vampirmu itu, 'kan? Tapi aku bisa, Jen!"
Jenna menelan salivanya kasar. Logika gadis itu segera saja bermain di benaknya dan mendorongnya untuk mengakui hal tersebut. "Dengar! Aku sudah memiliki kekasih, mau apa pun dia, aku mencintai dan menyayanginya. Jadi, aku berharap kau bisa tau batasanmu!"
"Aku hanya ingin kau membandingkan antara aku dengan dia. Aku bisa mewujudkan apapun yang kau inginkan, aku bisa menemanimu di siang hari ataupun sore hari ataupun saat matahari baru terbit. Aku bisa mengajakmu mendaki gunung, aku bisa mengajakmu berenang di siang hari, aku bisa mengajakmu menikmati es krim di tengah jalan, apapun yang tidak bisa dilakukan untukmu, aku bisa melakukannya!" tukas Adrian panas.
Entah sejak kapan perasaan itu muncul di dalam hati Adrian. Mungkin berawal, saat dia mengetahui kalau kekasih gadis itu adalah seorang vampir. Mungkin dari situlah rasa tidak suka dan rasa cemburu itu muncul.
"Lalu? Hanya itu yang kau banggakan? Kau tidak tahu apa yang sudah ku lalui bersama dengannya dan kau memintaku untuk membandingkan antara dirimu dan dsemua yang tidak bisa dia lakukan. Kalau itu yang kau inginkan maka aku akan bertanya kepadamu, Apa kau bisa mengajakku terbang di tengah malam sambil menikmati pemandangan dan lampu-lampu kota? Apa kau bisa berburu di tengah hutan yang gelap dan memberiku rasa aman? Apa kau bisa selalu berada di barisan terdepan saat aku ketakutan atau diserang oleh sesuatu yang menakutkan?" tanya Jenna kesal. Lalu, dia pun beranjak pergi dari atap.
Namun, Adrian menahan pergelangan tangannya. "Tunggu sampai matahari terbenam, baru kau boleh pergi,"
"Lepaskan aku! Aku tidak ingin bersamamu!" tukas Jenna kesal dan dia segera berlari menuruni anak tangga meninggalkan Adrian seorang diri, di atap gedung.
Deru jantungnya bergemuruh saat dia turun. Dia merasa kesal dan marah, tetapi apa yang baru saja diucapkan Adrian membuatnya berpikir. Ortega memang tidak bisa berlama-lama saat berjalan di bawah sinar matahari. Lagi-lagi, Jenna menyingkirkan ucapan Adrian dan menendangnya keluar dari benaknya.
Jenna segera berlari lagi untuk mencari Ortega dan begitu dia melihat wajah kekasihnya, dia segera berlari ke dalam pelukan Ortega dan memagut pria vampir itu.
Ortega terkejut, dengan cepat dia membalas pagutan panas itu. "Untuk apa?"
"Tidak untuk apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku mencintaimu," jawab Jenna dan memeluk Ortega dengan erat.
Ortega mengerutkan keningnya. "Kau aneh sekali. Tapi, aku juga mencintaimu,"
Fashion week yang diadakan selama dua minggu, akhirnya selesai juga. Mereka pun kembali ke tempat asal mereka dan lagi-lagi Jenna meminta Kamila supaya dia bisa kembali ke rumahnya sendiri.
"Tidak bisa! Kontrakmu lima tahun, Jen! Begitu juga dengan Ortega dan siapa pria tampan yang satu lagi, Volkov," ucap Kamila sambil memperlihatkan surat perjanjian yang telah disepakati oleh Jenna sendiri saat itu.
"Aish!" ujar Jenna.
Kamila menatap gadis itu. Dia tidak ingin membuat Jenna marah, karena dia tahu apa yang akan terjadi kalau gadis itu meluapkan emosinya. "Dengarkan aku, Jen. Kontrak ini semata-mata hanya untuk membalas suara-suara yang telah kau dapatkan untuk menyelamatkan temanmu. Anggap saja saat ini kau sedang membalas budi mereka. Selain itu, mungkin dalam waktu 3 hari ke depan aku akan mengajak kalian ke sebuah pesta dansa yang diadakan oleh seorang temanku. Di sana akan hadir Baron dan Amstel serta beberapa klan vampir yang mungkin harus kau ketahui. Aku akan mengajak kalian semua dan memperkenalkan kalian kepada mereka. Dengan harapan, jaringan kita akan semakin besar dan luas. Sehingga, jika suatu saat kita meminta pertolongan atau bantuan, mereka senantiasa membantu kita,"
"Aku juga ingin menunjukkan kepadamu sesuatu yang sedikit menakutkan. Ketika kau berhadapan dengan vampir, maka kau harus berhadapan juga dengan makhluk-makhluk menakutkan seperti mereka." sambung Kamila lagi.
Jenna sudah mengetahui apa yang ingin Kamila tunjukan kepadanya. Ferral. Suatu makhluk yang gagal menjadi vampir dan mereka sudah mati. Hampir serupa dengan zombie, tetapi perilaku mereka seperti vampir.
Jenna terdiam. Kata-kata Kamila ada benarnya. Mereka sekarang memasuki sebuah kehidupan dan komunitas baru. Otomatis, mereka harus memperluas jaringan pertemanan mereka dan mempelajari lebih dalam tentang kehidupan baru yang saat ini sedang mereka jalani. "Ya, kau benar. Aku hanya sedikit frustrasi dengan rutinitas ini,"
"Aku tau. Bersabarlah, Jen. Kalau kau mau pergi keluar, aku akan minta oada Adrian untuk menemanimu," ucap Kamila. Pada akhirnya, dia dapat bernapas lega karena paling tidak saat ini, dia berhasil menjelaskan kepada Jenna tentang tujuan sebenarnya, mengapa mereka masih berada di tempat itu.
Jenna menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak perlu. Aku bisa minta Ortega atau Volkov untuk menemaniku,"
Setelah berbicara dengan Kamila, Jenna keluar dan mencari Ortega. Berhubungan hari itu masih siang dan musim panas, Jenna ingin mengajak kekasihnya untuk berjalan-jalan dan mencari es krim.
Namun begitu dia melihat ke dalam kamar Ortega, kekasihnya itu tampak terlelap. Jenna pun masuk dengan perlahan dan menggeser lengan Ortega dan berbaring di sampingnya.
Ortega membuka matanya sesaat. "Hai, Jen. Oh, aku mengantuk sekali. Mataku berat,"
Jenna mengecup bibir Ortega dan memintanya kembali tidur. "Tidurlah, Sayang. Aku akan menemanimu,"
Tetapi, Ortega justru membuka kedua matanya. "Apa yang kau ingin lakukan? Ayo, kita lakukan!"
Dengan kedua tangannya, Ortega mengangkat tubuh mungil Jenna dan mendudukkannya di pangkuannya. Dia memagut kekasihnya dengan panas. "Sudah berapa lama aku tidak menciummu?"
"Sudah lama sekali, Ortega," jawab Jenna cepat dan kembali melanjutkan pagutan panas mereka.
Sepasang kekasih itu, saling melepaskan rindu tanpa bicara. Walaupun setiap hari mereka bertemu dan tinggal satu atap, tetapi kesibukan mereka membuat mereka terpisah begitu jauh.
Suara cecapan dan dessahan segera saja memenuhi kamar itu. Dengan Jenna yang duduk dipangkuan Ortega, memudahkan pria itu untuk semakin merengkuhnya.
Jari-jari tangan Ortega mulai berlarian dan menelusup ke balik pakaian Jenna. Baru saja, dia hendak meningkatkan level permainan, sebuah ketukan di pintu kamarnya terdengar.
"Shitt!" tukas Jenna. "Tidak usah dibuka, kita lanjutkan saja,"
Ortega tertawa dalam bisikan. "Kurasa, kau benar-benar merindukanku, Jen,"
"Sangat," jawab gadis itu. Kedua matanya masih menatap Ortega dengan penuh harap.
Ketukan di pintu itu terdengar lagi. "Aku akan membawamu kabur malam ini. Bersiap-siaplah di atap, tengah malam nanti, Jen," bisik Ortega.
Jenna tersenyum dan mengangguk. "Oke, sampai jumpa di atas malam nanti,"
Ortega dan Jenna berjalan bersamaan dan membuka pintu untuk tamunya. Emosi Jenna kembali membuncah saat dia melihat seseorang yang dibencinya. "Kau benar-benar perusak kesenangan orang lain, Adrian!"
"Ada perlu apa kau kemari?" tanya Ortega dingin.
"Kamila membutuhkan Jenna," jawab Adrian singkat dan dia menarik tangan Jenna menjauh dari kekasihnya begitu saja.
Jenna berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Adrian. "Kau bohong! Aku tau, Kamila tidak mencariku! Apa yang kau inginkan!"
"Kau!" jawab Adrian panas.
...----------------...