
Artemis mendaratkan ciumannya pada bibir Zac. Dia mengerakkan benda kenyal itu dengan kasar dan rakus. Seolah-olah dia kelaparan dan menemukan makanan yang lezat berada di hadapannya.
Namun, bukannya membalas ciuman Artemis, Zac justru tersenyum. Hal ini membuat Artemis bingung dan kesal. "Kau salah! Begini cara mencium seseorang,"
Dengan lembut, Zac menempelkan bibirnya pada Artemis dan menggerakkannya perlahan. Pria itu memejamkan kedua matanya, menikmati setiap cecapan yang dia berikan pada wanita cantik itu.
Tak lama, Zac melepaskan ciumannya. Ada keheningan yang canggung selama beberapa menit setelahnya. "Ehem! Aku akan membuatkanmu makanan!"
Artemis terhenyak di sofa Zac dan dia hanya terdiam sambil memperhatikan pria berambut ikal itu mondar-mandir di dapur, sibuk dengan bahan-bahan makanan yang ada di kedua tangannya.
Beberapa menit kemudian, Zac datang dengan membawa dua piring berisi gnocchi pasta. "Ini untukmu. Semoga kau menyukainya,"
Ketika Zac mulai lahap memasukan suapan demi suapan gnocchi ke mulutnya, Artemis hanya memperhatikan pria yang sedang makan yang ada di hadapannya itu dan membuat Zac salah tingkah.
"Buka mulutmu," titah Zac dan dia memberikan suapan pertama pada Artemis. "Bagaimana, enak, 'kan?"
Wajah Artemis memerah di bawah penerangan sinar lampu berwarna jingga itu dan dia mengangguk perlahan. Zac tersenyum puas. "Hehehe, aku membuatnya dengan penuh cinta. Jadi, kau harus menghabiskan makanan ini. Oke?"
Tiba-tiba saja, Artemis teringat sesuatu dan jantungnya seperti berhenti berdetak. Apakah Zac dipengaruhi oleh kekuatan vampirnya yang dapat memikat pria? Artemis pun memeriksa manik biru pria itu. Tatapan pria itu tidak kosong, tidak seperti pria lainnya. "Kenapa kau baik padaku?"
Zac mengangkat wajahnya dan memandang Artemis. "Apakah seseorang perlu alasan untuk berbuat baik?"
"Cih!" Artemis mengalihkan pandangannya sambil berdecih kesal.
Entah mengapa dia merasa kesal tanpa sebab. Hanya dengan melihat laki-laki tampan yang sedang tersenyum kepadanya itu membuatnya kesal.
Sementara itu, Zella berjalan dengan terburu-buru menuju bola kristalnya. "Meeh! Artemis sudah mulai terjerat cinta manusia! Dia ingin kembali dengan alasan untuk membawa Ortega kembali, tapi kenapa dia yang terjebak dalam cinta manusia! Aarrggghhh, bisa habis keturunan murni kita!"
"Kau resah sekali, Zella!" seekor kucing hitam datang dan bergabung bersama wanita berkepang dua itu.
"Putrimu, Vlad! Sepertinya dia terjerat cinta seorang manusia. Kau harus bertindak!" titah Zella panas. "Darah murni kita sudah hampir punah! Aku tidak tau apa yang terjadi nantinya, jika kaum kita habis karena menikah dengan manusia-manusia lemah itu! Bertindaklah, Vlad!"
Vlad mengeong keras. "Dengan wujud seekor kucing? Apa yang bisa kulakukan, bahkan aku rasa waktuku hampir habis, Zella,"
Vlad melangkah lemah dengan langkah kucingnya dan dia memanjat sebuah kursi tinggi dan duduk di atas kursi itu. Tak sengaja dia melihat apa yang sedang dibaca oleh Zella. "Inikah ramalan dan takdir yang kau katakan itu?"
"Ya, inti darah. Ortega dan Volkov serta manusia itu saling memberikan inti darah. Itu yang membuat mereka terkoneksi. Jika yang satu sakit, maka yang lain akan merasakan sakit yang sama. Yang aku khawatirkan, jika salah satu dari mereka mati, maka yang lain pun bisa mati. Gadis manusia itu kini setengah abadi. Bukan berarti dia tidak bisa mati, 'kan? Sementara ini, kita harus melindungi gadis manusia itu, Vlad," jawab Zella suram.
Sesungguhnya wanita tua itu menyesali, kenapa takdir mereka menjadi berubah semuanya begitu mereka memutuskan untuk kembali ke dunia manusia. Kemudian, tiba-tiba saja dia menggelengkan kepalanya. "Tidak! Ini kesalahanmu, Vlad! Kaulah yang menyebabkan takdir mereka berubah. Andai saja waktu itu, kau tidak membuang Ortega ke dunia manusia, takdir mereka akan tetap sama!"
"Aku tak tau kalau vampir itu terdampar di dunia manusia! Kupikir dia masih berada di sekitaran hutan ini!" balas Vlad sambil mengayunkan cakar tajamnya.
Zella kembali membolak-balik halaman buku yang lembarannya sudah menguning itu. "Dari kemarin, Aku mencari tahu apakah ada cara untuk mengubah takdir mereka. Tapi ternyata, sejauh yang aku temui tidak ada yang dapat menyelamatkan takdir mereka,"
Dalam keputus asaannya, dia membuang buku sebesar kitab tersebut dan berteriak lantang. Berharap dengan teriakannya, waktu dapat kembali berputar ke saat Vlad membuang Ortega ke dunia manusia.
Saat pagi hari tiba, Jenna terbangun dan mereganggakan tangan serta kakinya. "Aaagghhh," kemudian, dia melihat Ortega dan Volkov yang masih tertidur dengan lelap. "Ups, kenapa aku bisa ketiduran di sini bersama mereka?"
Dengan hati-hati, Jenna beranjak dari ranjangnya dan berjalan berjingkat-jingkat tanpa menimbulkan suara satu desibel pun.
Namun tiba-tiba, salah satu tangan mereka menangkap pergelangan kaki Jenna. "Hei, kau mau ke mana?"
Jenna sudah hapal siapa yang bersuara di bawahnya. "Kau butuh makan, 'kan, Ortega? Ini sudah pagi,"
Ortega menarik tangan Jenna dan kembali membawanya ke ranjang. "Jangan ke mana-mana,"
Karena suara benturan tubuh Jenna dengan ranjang membuat Volkov membuka matanya, waspada. Akan tetapi, begitu dia melihat Jenna yang terjatuh, dengan sigap, Volkov menangkap gadis itu dan menatapnya dengan penuh minat, seakan Jenna sebuah benda yang sangat menarik. "Pagi, Jen,"
Posisi mereka bertiga kini membuat Jenna salah tingkah dan canggung. "Emmm, ini aneh sekali,"
Jenna mencoba beranjak berdiri, tetapi baik Ortega dan Volkov menahannya. Gadis itu menelan salivanya dan jantungnya seperti berhenti berdegup. "A-, ada apa?"
Dalam sepersekian detik yang menegangkan, Jenna terkesiap saat Ortega menyesap pergelangan tangannya dan di saat yang bersamaan, Volkov menggigit kecil ceruk lehernya.
Jenna melengkungkan tubuhnya. Bola matanya kini kembali berubah menjadi merah dan hazel di saat yang bersamaan. Hujaman taring Ortega dan gigitan Volkov membuat Jenna tenggelam dalam sensasi aneh yang menyenangkan.
Rasa lapar yang saat ini menguasai mereka, membuat mereka saling menyerang dan menyentuh di waktu yang sama. Tak hanya itu, mereka pun saling memuaskan dahaga serta lapar mereka.
Tak beberapa lama kemudian, ranjang Jenna pun berderit kencang dan tiba-tiba saja rubuh karena tak kuat menahan beban di atasnya.
Warna bola mata Jenna berubah menjadi hazel kembali dan dia pun tersadar. "Hei, kalian merubuhkan ranjangku! Apa yang kalian lakukan?"
Ortega terduduk dan menyeringai nakal sambil mengusap sisa darah yang menempel di sudut bibirnya. "Bukan kami, tapi kita!"
"A-, apa maksudmu?" tanya Jenna.
Volkov juga menyeringai ke arah Jenna dan tak lupa dia menyertakan tatapan memikatnya. "Lihat saja pakaianmu,"
Jenna menunduk dan pakaiannya sudah robek dan tercerai berai di semua lapisan. Jantungnya kini berdetak cepat. "Apa yang kita lakukan?"
Ortega dan Volkov berdiri dan mengecup pucuk kepala Jenna bergantian. "Ini dan itu, hehehe,"
...----------------...
Posisinya begini 😍😍