Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 60



Perhelatan fashion week tahun ini, Kamila dan Lucy benar-benar meminta waktu Jenna untuk berada di sisi para model mereka. Terutama Ortega. Menurut Jenna, pria itu kurang siap untuk menjadi seorang model. Namun karena menurut Lucy, dia memiliki paket lengkap, akhirnya Lucy mengajak Ortega untuk mengikuti acara fashion besar ini.


"Dia kaku, tidak dapat bergerak cepat, terlihat sekali kalau dia masih amatir di bidang ini, Lu!" protes Jenna sambil memperlihatkan catatannya kepada Lucy dan Kamila.


Lucy mengambil note book Jenna dan membacanya perlahan. "Dia hanya seorang pedagang kain di pasar, Jen. Wajar saja kalau dia masih terlihat amatir. Tapi dari catatanmu, dia berkembang setiap harinya,"


"Memang! Tapi sedikit," jawab Jenna ketus.


"Sedikit itu sudah effort, Jen. Biarkanlah dia belajar. Baru 7 hari dia bergabung bersama kita. Santai saja," jawab Kamila sambil tersenyum.


Jenna berdecak lalu bergegas pergi. Beberapa rencana sudah dia tulis di kepalanya malam itu. Salah satunya adalah dia ingin menghabiskan waktu bersama calon suaminya, Adrian. Dia sudah membayangkan apa yang ingin dia lakukan bersama dengannya.


Akan tetapi, Ortega tiba-tiba datang menghampirinya. "Hei, bisa kita bicara?"


Jenna mengayunkan kepalanya. "Duduk saja,"


"Aku minta maaf kalau selama ini aku selalu merepotkanmu. Aku tidak pernah menyangka akan berada di sini bersama ratusan orang-orang hebat," sahut Ortega memulai percakapannya.


Saat pria tampan itu menatapnya, ada sesuatu yang janggal bergerak di hati Jenna. Rasa sakit, rasa rindu, rasa bahagia, rasa sedih, semua berkumpul menjadi satu. Tetapi, Jenna berusaha untuk tetap terlihat profesional. "Yah, teruslah belajar. Aku tau masalahmu dari Lucy dan kuharap kau bisa meningkat setiap harinya jika kau benar-benar ingin berkecimpung dalam jangka panjang di dunia ini,"


"Apa kau akan tetap di sini?" tanya Ortega. "Maksudku, apa kau akan berada di sini sampai kau melihatku menjadi seorang model yang hebat?"


"Tentu saja! Kau mengusirku?" tanya Jenna tajam. Dia melipat kedua tangannya di dada dan mencebik.


Alih-alih menjawab, Ortega tersenyum. "Syukurlah. Aku suka padamu. Kau memang terlihat kasar dan barbar, tapi kau membuatku menjadi lebih baik,"


Jantung Jenna seakan jatuh ke lantai saat melihat senyum Ortega. Entah bagaimana, dia merasa pernah dekat dengan pria yang sedang tersenyum kepadanya itu. "T-, tidak usah tersenyum padaku! Buktikan saja kau bisa! Dan, jangan menyukaiku! Aku sudah memiliki calon suami!"


"Lalu?" tanya Ortega bodoh.


Jenna beranjak dari kursinya. "Pokoknya tidak boleh!"


Keesokan harinya, suasana di belakang panggung. Khususnya ruang ganti, mulai terlihat ramai dan penuh dengan suara pekik dan hiruk pikuk.


Namun tidak dengan Jenna, gadis itu masih berkutat dengan kekasihnya di atas ranjang hotel. Suara cecapan dan dessahan memenuhi kamar itu. Tak hanya itu, tangan mereka saling mencari dan bermain di titik-titik sensitif masing-masing.


"Kau tidak akan terlambat?" tanya Adrian pada calon istrinya.


Jenna menggeleng. "Terlambat atau tidak, aku tidak peduli."


"Hahaha! Baiklah, ayo kita selesaikan ini," ucap Adrian sambil kembali fokus pada tubuh Jenna.


Di saat Adrian hendak menghujamkan benda pusakanya, Jenna membayangkan Ortegalah yang saat ini sedang bersama dengan dirinya. Sekeras apa pun dia berusaha, tetap saja wajah Ortega yang terlihat.


Jenna pun ketakutan, dia mundur ke belakang dan menghindari Adrian. "Stop! Berhenti dulu!"


"Hei, kau kenapa?" tanya Adrian lembut.


"Entahlah, ada sesuatu yang menggangguku dan aku tidak tau apa itu," jawab Jenna, dia menarik rambut yang berada di sisi kepalanya. Tidak mungkin Ortega mempengaruhinya hanya karena dia mengatakan suka padanya!


Adrian memeluk kekasihnya itu dan mengecup pucuk kepala Jenna dengan sayang. "Hei, kau baik-baik saja? Atau kau perlu beristirahat? Aku akan mengabarkan pada Lucy kalau kau tidak bisa datang hari ini,"


Ide itu membuat Jenna sedikit lega, tetapi dia ingat tanggung jawabnya. Kemudian, dia menggeleng. "Aku harus datang, Sayang. Hari ini aku memegang 6 orang. Lebih baik aku jalan sekarang dan menyelesaikan permainan kita dan si juniormu ini nanti malam. Kau tidak masalah dengan itu, 'kan? Maafkan aku, Sayang,"


"Tidak masalah. Selesaikan pekerjaanmu, setelah itu aku akan menyelesaikan pekerjaanku bersamamu," jawab Adrian. Dia kembali memagut bibir Jenna lembut.


Tak sampai 30 menit, Jenna sudah sibuk mengurus ini dan itu dan segala keperluan yang dibutuhkan Lucy untuk para modelnya. Dia sudah melupakan apa yang mengganjalnya pagi tadi. Akan tetapi, setiap kali netranya bertemu dengan Ortega, jantungnya terdengar ramai sekali.


Jenna mengakui, hari ini Ortega sangat bagus. Dia sanggup bergerak lebih cepat tanpa bersenggolan dengan yang lain, cara jalannya sudah cukup baik, dan tidak tampak kaku. Karena usahanya itu, dia berhasil membuat Lucy senang sekali dan memamerkannya setelah acara selesai.


"Jenna, hei!" Ortega menghampiri Jenna yang sedang merapikan peralatan dan perlengkapannya.


Jenna mengangkat wajahnya sesaat dan kembali tenggelam dalam kesibukannya.


"Jen, kau melihatku tadi? Aku tidak melakukan kesalahan sedikit pun! Itu semua karenamu, Jen," tanya Ortega, wajahnya tampak kemerahan karena senang.


"Ya, aku melihatnya," jawab Jenna singkat tanpa mengangkat wajahnya demi menyembunyikan kegugupan dan hatinya yang terus bergemuruh.


"Begitu saja?" tuntut Ortega.


Jenna menghembuskan napasnya dan berbalik menatap pria itu. "Lalu, apa yang kau inginkan?"


"Ucapan selamat atau kerja bagus," jawab Ortega lagi dengan senyumnya yang menawan.


Jenna mengangkat tangannya dan mengacak rambut Ortega. "Kerja bagus,"


Ortega tidak begitu saja melepas tangan Jenna, dia menangkap pergelangan tangan gadis itu. Netra mereka saling bertemu. Perlahan, Ortega mengecup telapak tangan Jenna. "Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku seperti merindukanmu, Jenna Lake,"


Jenna menelan salivanya. "Le-, lepaskan! Kau tau aku akan menikah sebentar lagi! Lepaskan!"


Namun Ortega tidak melepaskan tangan Jenna. Dia meletakkan kedua tangan Jenna di pundaknya dan mengangkat gadis itu duduk di atas meja kayu. Ruangan gelap dan sunyi membuat Jenna semakin berdebar-debar. Dan hal yang ditakutkan oleh Jenna adalah, apakah Ortega mendengar suara jantungnya?


"A-, apa yang kau lakukan?" tanya Jenna. H


Mata Ortega mengunci manik hazel Jenna. "Entahlah. Aku juga tidak tau, yang aku tau, aku merindukanmu dan aku menginginkanmu, Jen. Kita sudah seperti saling mengenal sejak lama dan begitu aku melihatmu, aku ingin selalu melakukan ini padamu,"


"Kau gila!" tukas Jenna, dia berusaha melepaskan diri dari pria tampan itu. Namun usahanya sia-sia, Ortega tak hanya mengunci maniknya, melainkan gerakan tubuhnya juga.


"Bagaimana kalau memang kita pernah bertemu?" tanya Ortega lagi, dia mengarahkan tangannya di dada Jenna. "Jantungmu bertalu-talu, Jen,"


Ortega mendekati wajah Jenna dan menyapukan bibirnya pada bibir gadis itu. Segera saja, kenangan tentang mereka berdua muncul seperti sebuah film yang dipercepat di benak mereka.


Jenna melepas pagutannya, jantungnya kini lebih berdebar dari sebelumnya. "A-, apa itu?"


...----------------...