
Sinar keperakan muncul dari telapak tangan Volkov. Tak lama, sinar itu memudar, dan menghilang. Kemudian, Volkov mengambil kandang kucing dan membawanya. "Kalian ikut denganku," Volkov pun berjalan dan menghilang seperti kabut.
Setibanya di rumah Jenna, dia melihat gadis itu menangis. "Jenna, apa yang terjadi?"
"Volkov, tolong aku! Aku hanya meminta mereka untuk berhenti, tapi mereka malah membeku. Bagaimana ini?" tangis Jenna semakin kencang.
Volkov tersenyum dan memperhatikan Zac dan Ortega yang mematung, tak bergerak. "Menurutku, kita biarkan saja mereka seperti ini. Aku ingin kedamaian sebentar,"
"Jangan, nanti bagaimana kalau mereka mati? Bantu aku, Volkov!" tukas Jenna yang mulai meraung dan mendekati manusia serigala itu.
Volkov dapat mencium ketakutan dari tubuh Jenna, pria serigala itu menatap kedua manik Jenna yang kini sudah berubah menjadi ungu kembali.
"Ada darahku yang mengalir dalam laju darahmu, Jenna. Apa yang kau rasakan saat menatapku?" tanya Volkov. Kedua maniknya tidak melepaskan netra Jenna.
Warna ungu dalam manik Jenna berkilat-kilat seakan tertimp cahaya. "Tidak ada! Aku memerintahkan kau untuk menghidupkan kembali Ortega dan Zac!"
Pria serigala itu tersenyum. "Luar biasa! Kau sedang berada dalam mode manusia serigala saat ini dan aku senang mendengarkan perintahmu,"
Pria itu mengambil alih bibir Jenna dan menyesapnya. Jenna mendorong Volkov untuk menjauh, Volkov pun terpelanting dan jatuh tersungkur. "Eerrgghh! Tenagamu, luar biasa sekali. Darimana kekuatanmu itu?"
Jenna berjalan menghampiri Volkov, matanya terus menatap tajam.ke arah manusia serigala itu. Dia mengangakat tubuh Volkov dan menggantungnya di dinding seperti sebuah jam. "Hidupkan kembali Ortega dan Zac, jika kau tidak mau kehilangan nyawamu!"
Volkov melihat bulan sabit perak itu menjadi warna merah, semerah darah. "Ortega! Luar biasa!" gumamnya.
Seketika itu juga, warna mata Jenna berubah menjadi merah. Dia menunggu jawaban Volkov dengan tatapan lapar. Menyadari adanya bahaya, Volkov menyerah. "Redakan emosimu, mereka akan menjadi normal kembali,"
Seketika itu juga, Jenna menurunkan Volkov dan menghampiri Zac serta Ortega. Matanya berubah kembali menjadi hazel. Dia mengisi kembali paru-parunya dengan oksigen dan menghembuskannya panjang.
Sejurus kemudian, dinding tak terlihat itu luruh. Zac dan Ortega kembali bergerak dan melanjutkan perkelahian mereka.
"Berhentilah!" tukas Jenna. "Aku ingin bekerja. Zac, ayo, kita jalan sekarang!"
Zac tersenyum dan menjulurkan lidahnya pada Ortega. "Aku pemenangnya!"
"Cih! Sialan! Aku ikut! Aku juga akan bekerja dengan kalian!" tukas Ortega dan dia pun menyusul Zac serta Jenna yang sudah berjalan lebih dulu.
Volkov hanya tersenyum dan menoleh memandang dua ekor kucing yang berada di dalam kandang itu. "Kalian lihat bagaimana kekuatannya? Hanya dia yang bisa merubah kalian menjadi vampir kembali,"
Sementara itu, di Shucker Restaurant. Ortega segera saja diterima oleh Mr. Klaus dengan senang hati. "Kau mau bekerja di sini? Oh, aku senang sekali. Jangan lakukan apa pun! Kau duduk saja di depan restoran ini, begitu saja kau sudah menghasilkan banyak uang untukku."
Jenna mengulum senyumnya. "Hah! Kalau aku seperti itu, boleh?"
"Boleh saja kalau kau bisa menghasilkan sebanyak yang pria tampan itu hasilkan! Heh! Kupas bawang bombainya sudah selesai?" tanya Mr. Klaus sambil cemberut.
Jenna menatap Ortega dengan iri. "Enak sekali jadi tampan! Aku juga mau menjadi cantik! Cih!"
Gadis itu berdecih saat melihat Ortega memakai seragam waitres dan membawa beberapa ikat bunga mawar berwarna merah dan putih di tangannya. Dia dapat mendengar instruksi yang diberikan oleh Mr. Klaus pada pria vampir itu. "Berikan pada setiap orang yang mampir ke restoran ini. Kau paham?"
Jenna kembali menghembuskan napasnya panjang. "Hhaaahh! Wajar saja dia tampan! Dia vampir yang tidak bisa mati, yang tidak memiliki kerutan atau jerawat! Huh!"
Zac merangkul pundak Jenna. "Ya memang, tapi dia tidak bisa merasakan cinta seperti kita,"
Setiap kali dia melihat Ortega, hatinya terasa panas dan terbakar. Sampai Zac harus menutup jendela yang memisahkan antara dapur dengan meja restoran.
"Fokuslah dan cicipi masakanmu sebelum kau berikan pada waiters," ucap Zac. Dia memandang ngeri saat Jenna menaburkan garam di rissoto kerangnya.
"Ah, maaf. Terima kasih sudah mengingatkanku," balas Jenna. Dengan susah payah, dia kembali fokus pada masakannya.
Setelah segalanya selesai di malam itu, dan sebelum mereka keluar dari dapur, Zac mengajak Jenna untuk berkencan. "Ayo, kita kencan!"
"Kencan? Sejak kapan aku menjadi kekasihmu?" tanya Jenna sambil melepaskan apronnya.
"Sejak hari ini," jawab Zac singkat.
Jenna hanya menggelengkan kepalanya. Dia hanya menganggap Zac sebagai kakak yang selalu bisa dia andalkan.
Dan entah sejak kapan, dia berdebar saat melihat Ortega. Dia tidak suka melihat pria itu tersenyum pada wanita lain, senyum Ortega hanya untuknya dan baginya, itu sebuah pelanggaran jika Ortega membagi senyum manisnya pada orang lain.
Bibirnya mencebik kesal saat dia keluar begitu saja dari restoran tanpa berpamitan. Bibirnya tertarik ke atas, saat Ortega mengejar dan memanggil namanya. "Jenna! Kenapa kau meninggalkan aku? Apa kau tidak melihat ada pria yang paling bersinar hari ini di restoran?"
"Tidak! Mungkin terhalang oleh sinar!" jawab Jenna ketus.
Ortega menggenggam tangan Jenna dan berjalan berdampingan dengan gadis yang sedang merajuk itu. "Kau adalah sinarku, Jenna. Kalau kau tidak ada, sinarku juga akan menghilang,"
"Kau bicara apa, sih?" tanya Jenna galak. Dia menyembunyikan rona merah di pipinya saat Ortega menggodanya seperti itu.
Saat malam tiba, tidur Jenna gelisah. Dia terus sibuk membalikan badannya ke kanan dan ke kiri. Hawa panas seakan menusuk tubuhnya, padahal saat itu alat pendingin ruangan itu diaktifkan.
Sayangnya, tidur Jenna yang tak nyenyak itu berlangsung hampir setiap malam. Saat pagi hari tiba, dia tidak ingat kenapa tidurnya bisa berpindah tempat. Beruntungnya, dia tidak merasakan kantuk saat bekerja.
"Karena ada darahku dan darah Ortega yang berkumpul menjadi satu dan mengalir di dalam tubuhmu," jawab Volkov. "Itu sebabnya, tubuhmu mempunyai kekebalan seperti kami. Tidak lelah, tidak mengantuk, dan hanya bergerak saat lapar,"
Jenna terdiam, dia berusaha mengingat apa yang dia lakukan malam itu dan kenapa tidurnya bisa berpindah tempat.
Ketakutannya semakin menjadi saat dia melihat berita yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Berita itu mengatakan, beberapa orang telah meninggal secara tak wajar saat malam tiba. Kematian mendadak orang-orang itu sedang diselidiki oleh pihak kepolisian.
"Menurut berita, kematian mereka bukan karena dibunuh. Bahkan manusia biasa tidak akan sanggup melakukan pembunuhan ini."
"Ya, si pembunuh menghissap darah korbannya sampai habis,"
Begitulah desas-desus yang Jenna sering dengar akhir-akhir ini saat dia keluar rumah. Apa itu ulahnya? Apakah ini karena darah vampir dan darah manusia serigala yang mengalir di dalam tubuhnya?
Apalagi saat dia mengingat kata-kata Volkov. Sejak Ortega dan Volkov memasukkan darah mereka ke dalam tubuhnya, Jenna tidak merasa lelah ataupun mengantuk. Yang ada hany rasa lapar. Apakah ini berarti dia pelaku pembunuhan tersebut?
Jenna menelan salivanya dengan kasar. Dia segera berlari pulang untuk mencari Volkov. Setelah bertemu dengan pria manusia serigala itu, dia menceritakan ketakutannya. Saat itu, Ortega juga sedang berada di sana.
"Kau merasa kau yang melakukan pembunuhan itu?" tanya Volkov.
Jenna mengangguk. "Ya, dan bagaimana kalau itu benar-benar aku yang melakukannya? Aku takut sekali, apa yang harus aku lakukan, Volkov? Tolong aku!"
...----------------...