Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 62



"J-, Jen? Apa yang terjadi padamu? Lihat, kita menikah, Jen. Akhirnya, kita menikah," tanya Adrian, suaranya bergetar karena terkejut.


Jenna terus menggelengkan kepalanya dan tiba-tiba saja dia berlari keluar dari klub malam tersebut. Napasnya terengah-engah, dia berpikir ke mana dia harus pergi.


Di tengah keputusasannya, seseorang menarik lengannya. "Hei, kau baik-baik saja?"


"O-, Ortega? Bawa aku pergi dari sini! Ke manapun!" pinta Jenna dengan pandangan mata memohon.


Ortega menggandeng tangan gadis itu dan kemudian dia mengambil kunci motornya. "Aku hanya punya ini. Naiklah, jika kau ingin ikut denganku,"


Seperti terkena mantra sihir, Jenna patuh dengan kata-kata Ortega. Dia naik ke atas motor berwarna hitam tersebut dan memeluk pinggang Ortega erat-erat.


"Jenna! Hei, Jenna! Kau mau ke mana, Jen!" terdengar Adrian memanggil namanya.


"Cepat jalan!" titah Jenna pada Ortega.


Ortega mengangguk dan segera melajukan kendaraan roda duanya menembus pekatnya malam. Pria itu tidak tau harus membawa Jenna ke mana, maka dia hanya berputar-putar mengelilingi kota itu dan kembali lagi di titik yang sama.


Sampai akhirnya dia berhenti di sebuah kafe kecil yang letaknya sedikit ke arah luar kota. "Di sini saja, tidak apa-apa?"


Jenna mengangguk dan segera turun dari motor. "Tidak masalah. Aku butuh tempat yang sepi supaya aku bisa memikirkan apa yang baru saja terjadi!"


"Aku menolak calon suamiku, hanya karena kau! Siapa kau sebenarnya?" tuntut Jenna kesal.


"Aku bukan siapa-siapa. Aku merasa pernah mengenalmu dan hubungan kita dekat," jawan Ortega.


Jenna masih memburu pria itu dengan pertanyaan. "Saat kita berciuman, apa yang terjadi? Apa itu yang berputar di kepalaku? Kenapa kau memberikan kenangan itu kepadaku?"


Ortega mengangakat kedua tangannya. "Itu bukan karena aku. Aku rasa, dulu kita memiliki ikatan. Maksudku, sebelum kita hidup saat ini,"


"Lalu?" tuntut Jenna lagi.


"Kalau kau berkenan, kita jalin saja sebuah hubungan dan kita lihat sampai berapa lama hubungan kita ini bertahan," jawab Ortega. "Tapi, bukan berarti aku menyukaimu," sambungnya buru-buru.


"Kau gila! Aku baru saja membatalkan pernikahanku dan kau mengajakku untuk menjalin hubungan! Kau gila!" tukas Jenna berapi-api.


Jenna membayangkan bagaimana situasi di klub malam yang dia tinggalkan saat ini. Dia juga membayangkan betapa bingungnya Adrian. Padahal selama ini, Jennalah yang menginginkan pernikahan ini dipercepat, tetapi justru dia yang membatalkan dan menghancurkan segalanya.


"Aku tidak tau sekarang apa yang harus aku lakukan? Aargghh! Ini menyebalkan!" gerutu Jenna lagi.


"Temui Adrian dan katakan kepadanya, kalau kau akan mengakhiri hubungan kalian," jawab Ortega tanpa merasa bersalah.


"Ck! Kegilaanmu benar-benar tidak tertolong!" ucap Jenna.


Malam itu, Jenna mengepak barang bawaannya dari hotel tempat dia menginap dan kembali ke negara asalnya seorang diri. Jenna mematikan ponselnya selama beberapa hari. Dia tidak ingin ditemui oleh Adrian, Kamila, atau Lucy.


Gadis itu hanya berteman dengan dirinya sendiri. Anehnya, bayang-bayang Ortegalah yang selalu muncul di benaknya. Dia belum pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, tetapi entah mengapa, yang dia rindukan saat ini adalah Ortega.


Maka, suatu hari Jenna menghubungi Adrian dan Ortega untuk bertemu pada satu waktu. Adrian pun segera mengiyakan ajakan kekasihnya itu.


"Jen, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Adrian. Pria itu segera memeluk Jenna erat-erat seolah-olah tidak ingin melepaskan gadis itu.


Jenna mengangguk. "Aku baik-baik saja. Aku minta maaf, maafkan aku soal malam itu. Aku merasa bersalah kepadamu,"


Jenna tidak berani menatap wajah Adrian. Namun, Adrian mengangkat dagu kekasihnya sambil tersenyum. "Tidak masalah, Jen. Selama kau baik-baik saja, aku sudah sangat bersyukur. Aku juga minta maaf kalau aku terlalu mendadak malam itu. Kupikir, kau juga menantikannya,"


Cairan bening meluncur dari pelupuk mata Jenna dan membasahi kedua pipinya. "Aku, ... Maafkan aku sebelumnya, tapi aku tidak ingin melanjutkan hubungan kita,"


"Kenapa? Aku bersedia menunggumu sampai kau siap menikah denganku! Atau kalau kau tidak ingin menikah, tidak masalah. Kita tidak akan menikah, asalkan kau bersamaku. Kumohon, jangan ucapkan kalimat itu," pinta Adrian, dia memegangi kedua tangan Jenna dan menciumi punggung tangannya.


"Maafkan aku," balas Jenna. Dia mengalihkan pandangannya. Dia tidak ingin melihat orang yang pernah dia cintai menangis. Entah apa yang terjadi dengan hatinya, tetapi Jenna tidak ingin melanjutkan hubungannya dengan Adrian.


Tak lama, dia beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Adrian yang masih menangis meratapi kepergiannya.


"Hei, Jen," sapa Ortega ketika gadis itu menemuinya.


Pria muda itu segera tau kalau Jenna mengalami hari yang cukup berat. Dia memeluk gadis itu dan memberanikan diri untuk mengecup pucuk kepalanya. "Kau baik-baik saja?"


"Ayo, kita resmikan hubungan kita!" tukas Jenna tegas.


"Heh!" balas Ortega.


Beberapa bulan kemudian,


Sebuah pesan dari seseorang membuat heboh semua orang yang berada di sebuah ruangan. Mereka saling berbisik dan terpana tak percaya saat membaca pesan itu.


"Ini gila!" tukas seorang wanita.


"Apakah dia tidak punya hati?" sahut yang lain.


Seorang pria menatap lemas pesan tersebut. Dia segera menghenyakan dirinya ke kursi kerjanya. Tatapan matanya kosong seketika. Dia terus memandangi pesan itu seakan tak percaya.


"Adrian, you oke?" tanya Kamila.


"What you think?" Adrian balas bertanya sambil menunjukkan pesan itu.


Kamila mengangguk. "Aku tau, tapi aku berharap dia mabuk sehingga membuat sensasi seperti ini,"


"Entahlah," jawab Adrian lagi. "Aku menunggunya, Kamila. Aku selalu menunggunya,"


"I know," jawab Kamila, berusaha menghibur Adrian dari keterpurukannya.


Tak lama, seorang wanita lain datang dengan terburu-buru dan masuk ke dalam ruangan Adrian. "Hei! Hei! Benarkah Jenna akan menikah? Dengan siapa?"


Adrian dan Kamila mengangkat kedua bahunya. "Dia sedang mabuk, Lu,"


Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Dia tidak akan sekonyol ini saat mabuk. Dia tidak akan segila ini!"


"Ini sudah lebih dari sekedar bukti, Lu!" tukas Kamila.


"Ta-, tapi bagaimana dengan Adrian? Mereka masih saling mencintai, 'kan? Jenna hanya butuh waktu untuk sendiri, atau aku akan berbicara dengannya," ucap Lucy, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Jenna.


Namun, Adrian mengambil ponsel tersebut dan menggelengkan kepalanya kepada Lucy. "Biarkan dia, Lu. Aku hanya ingin melihatnya bahagia,"


Kamila dan Lucy saling berpandangan. Mereka tidak tau apa yang terjadi dengan teman mereka itu. Kabar pernikahannya yang mendadak membuat satu kantor terkejut. Setelah kabar tentang putusnya hubungan Jenna dengan Adrian, Jenna memutuskan untuk mengambil cuti dan tiba-tiba saja, mereka mendapatkan kabar kalau Jenna akan segera menikah. Yang menjadi pertanyaan mereka semua adalah, dengan siapa Jenna menikah?


Sementara itu, di sebuah gedung apartemen,


Jenna membangunkan seorang pria yang masih tertidur nyenyak di balik selimut putih yang menutupi seluruh tubuhnya yang atletis. "Hei,"


Pria tampan itu membuka sebelah matanya. "Hei,"


"Halo, Tuan Vampir. Kau sudah siap hari ini?" tanya Jenna sambil mengecup bibir pria itu.


Pria itu berbalik dan merentangkan tubuhnya. "Wow, kau sudah siap, Nona Vampir? Kau tampak cantik sekali, Jen. Tapi kurasa, gaun cantik itu tidak akan bertahan lama ditubuhmu. Dan mengapa kau memanggilku Tuan Vampir?"


"Karena gigi taring kecilmu yang menggemaskan ini, Ortega," jawab Jenna.


Ortega beranjak dari ranjangnya dan memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh kekasihnya itu. "Bagaimana, aku tampan, 'kan?"


Jenna tersenyum. "Seperti katamu, jas dan tuksedomu itu, tidak akan bertahan lama di tubuhmu,"


Pasangan kekasih yang sudah siap dengan gaun pengantin serta tuksedo hitam itu berjalan dengan bergandengan tangan untuk merayakan hari pernikahan mereka.


...----------------...