
Suasana di kastil tua malam itu sangat mencekam. Darah mengalir di mana-mana, potongan tubuh berceceran di seluruh ruangan makan tersebut, belum lagi suara gigitan dan teriakan yang menambah suasana mengerikan di dalam kastil tua itu. Yang tak kalah seru adalah suara tembakan yang bergaung nyaring di ruangan itu.
"Volkov, bisakah kau pergi dari sini Dan tolong awasi ke mana Jenna pergi bersama Adrian?" tanya Ortega. Dia terus menggigit dan mengoyak feral-feral yang mendekat ke arahnya. "Aku takut terjadi sesuatu kepadanya dan tidak ada satu orang pun yang bisa aku hubungi untuk memberitahuku bagaimana kabar Jenna,"
"Dia akan baik-baik saja, Ortega. Kita bisa merasakan kalau terjadi sesuatu padanya, dan sampai sejauh ini kita masih baik-baik saja. Itu berarti Adrian berhasil meredam emosinya, 'kan?" sahut Volkov sambil mengarahkan tembakannya ke arah feral yang terseok-seok datang mendekat.
Ortega tidak dapat mendengar ucapan Volkov dengan baik saat satu feral mendekat ke arah Zac. "Zac, belakangmu!"
Dengan sigap, Zac memutar tubuhnya dan mematahkan leher feral itu, kemudian dia menembak kakinya. Darah berwarna hitam segera menganak sungai, membasahi lantai. "Thank's. Di mana Jenna?"
"Aku memintanya pergi bersama Adrian. Aku sudah bersumpah untuk melindunginya dan tadi, hanya itu cara tercepat yang terlintas di benakku dan sekarang, aku setengah menyesalinya," jawab Ortega, wajahnya dipenuhi kecemasan.
Zac menepuk pundaknya. "Jenna seorang gadis yang kuat, kau tidak perlu risau. Aku yakin, dia tidak akan pergi jauh dari sini. Pikirkan yang baik-baik saja,"
Namun perkiraan Zac itu meleset. Begitu, Adrian membawa Jenna keluar, mereka dikejar oleh segerombolan monster menjijikan berwarna abu-abu itu.
"Shitt! Kupikir, di luar sini, sepi! Ternyata mereka banyak sekali!" tukas Adrian, dia mengarahkan tembakannya dan mereload peluru dengan cepat.
Jenna yang masih menangis, jatuh tersungkur. Seorang feral mendekati dan meraih pergelangan kakinya. "Kyaaa! Adrian!"
Gadis itu berusaha menendang tangan feral tersebut dan begitu terlepas, Jenna menghantamkan sebuah batu besar yang dia lihat ke kepala monster itu. Tak lama, darah hitam keluar dari kepala feral yang sudah remuk. "Yaiks!"
"Jen, cepat! Mana senapanmu? Kau bisa menembak, 'kan?" tanya Adrian.
Jenna mengambil shot gun yang memiliki daya rusak tinggi dan menarik pelatuknya, kemudian dia mengarahkan senapannya itu ke salah satu feral yang berjalan terhuyung-huyung. Satu buah tembakan yang dilontarkan Jenna, tepat mengenai kening si feral. Ia mengeluarkan suara berkerak, lalu rubuh ke tanah.
Tembakan demi tembakan di lepaskan oleh Jenna dan Adrian, suara desing peluru terdengar membahana di sekitar pelataran kastil tua itu. Sampai akhirnya, mereka berhasil menghabisi feral yang mengejar mereka.
Akan tetapi, mereka tidak memelankan langkah mereka. Mereka terus berlari sampai stasiun.
"Hah, ini gila!" ucap Jenna dengan napas terengah-engah. Dia berpegangan pada pilar besar yang ada di stasiun. Gadis itu berusaha mengatur napasnya yang nyaris habis.
Adrian mengangguk. "Aku setuju. Ini gila! Aku seperti berada di seri Walking Dead,"
"Lalu? Kita menunggu di sini?" tanya Jenna lagi. "Aku haus, kau punya air?"
Adrian menggeleng untuk menjawab kedua pertanyaan Jenna. "Kita tidak bisa menunggu di sini, terlalu berbahaya. Kita tidak tau bagaimana di dalam sana, Jen. Kita harus pergi dari sini,"
"Tidak mau! Aku akan menunggu Ortega di sini! Kalau kau takut, silahkan kau pergi saja sendiri!" tukas Jenna, dia menampik tangan Adrian yang hendak menggandengnya.
"Kita tidak tau dia masih hidup atau tidak!" balas Adrian kesal.
Tangan Jenna melayang di pipi Adrian. "Jaga ucapanmu! Atau, kau yang akan mati malam ini!"
Adrian menyudutkan Jenna, sampai gadis itu jatuh terduduk di kursi panjang stasiun. "Coba saja! Aku atau kekasih vampirmu yang mati lebih dulu!"
Pria itu mempersempit jarak di antara mereka, tetapi Jenna menendangnya dengan sekuat tenaga hingga Adrian jatuh terjerembab di atas rel kereta dengan suara yang memekakkan telinga. "Brengsek!"
Tepat saat itu, Jenna mendengar dari kolong rel suara beberapa orang berjalan dan menggeram. "Grrrmmm! Grrrmmm!"
Tangan-tangan kurus dan kuku panjang dengan cepat menarik kedua kaki Adrian. "Whoaaa!"
Namun, Jenna tidak ada di kursi tempat dia duduk tadi. Adrian semakin panik. Dia takut, Jenna tertangkap oleh monster-monster aneh itu. "Jen! Jenna!"
Tak lama, terdengar suara ledakan senapan beberapa kali dari kolong rel. "Adrian, lari cepat!"
Tangan yang mencengkeram Adrian kini terlepas. Pria itu beranjak dan meraih senapannya, kemudian menyusul Jenna ke bawah rel.
Gadis itu sedang memiting satu feral dengan kedua kakinya dan dia menembak feral lain yang mendekat ke arahnya. "Hei, bantu aku, Brengsek!"
Tanpa menunggu perintah dari Jenna lagi, Adrian mengisi pelurunya dan menembak sebanyak senapannya bisa menampung peluru.
Setelah memastikan semua feral tertembak, dia membantu Jenna untuk berdiri. "Aku baru tau, kau hebat sekali memiting seperti itu," ucap Adrian sambil mengusap hidungnya saat melihat kedua paha Jenna tersingkap dari gaunnya.
Jenna merapikan gaunnya. Bagian bawah gaun itu mengembang dan membuat Jenna kesulitan untuk berjalan atau berlari. Mau tidak mau, dia harus mengangkat gaunnya setinggi lutut, baru dia dapat berjalan. "Aku harus mengganti pakaianku, tapi tasku ada di dalam,"
Adrian dan Jenna memandang kastil tua itu dari kejauhan. Mereka berdua berharap, mereka yang ada di dalam dapat bertahan dan memenangkan pertempuran.
"Kita cari tempat penginapan terdekat. Kau bisa memakai kausku dulu. Kurasa bisa menutupi tubuhmu sampai selutut," ucap Adrian, mengulurkan tangannya untuk menggandeng Jenna.
Jenna membalas uluran tangan pria bertubuh besar dan berjanggut itu. "Teman?"
Adrian mengangguk. "Yup,"
Mereka berdua pun berjalan mencari penginapan yang tak jauh dari tempat itu. Beruntunglah, masih ada penginapan yang buka menjelang pagi hari.
"Kami hanya punya satu kamar. Mau ambil atau tidak?" tanya pria penjaga itu.
"Tidak!"
"Ya, kami ambil!"
Dua jawaban berbeda keluar dari mulut Adrian dan Jenna secara bersamaan. Mereka saling bertukar pandang dan si penjaga tak mau ambil pusing. Dia mencatat nama Adrian dan menyerahkan kunci kamar kepadanya. "Kalian seperti habis berperang. Nah, ini kunci kamar kalian, istirahatlah dan lanjutkan peperangan kalian di ranjang. Hahahaha!"
Adrian mengambil kunci kamar itu dan menarik tangan Jenna untuk masuk ke dalam kamar bersamanya. "Mau tidak mau, suka tidak suka, saat ini, kau harus bertahan denganku, Jen. Mungkin saja setelah ini, kau bisa jatuh cinta padaku,"
"Tidak akan!" ketus Jenna sebal.
Sementara itu, peperangan melawan feral di kastil pun telah usai. Jumlah mereka berkurang cukup banyak. Pakaian mewah dan indah mereka, kini berbau amis darah dan berubah menjadi warna merah kehitaman yang menjijikan.
"Aku akan mencari Jenna," tukas Ortega.
Namun Kamila menahannya. "Tidak bisa! Untuk sementara ini, kau cukup berbahaya jika berada di dekatnya. Lebih baik, kita mencari tau, siapa yang melepaskan feral sebanyak itu?"
"Aku tidak peduli! Aku tetap akan mencari Jenna!" desak Ortega.
Suara tembakan terdengar mengudara, semua orang melihat ke arah si penembak. "Baron?"
"Tidak ada yang boleh keluar dari tempat ini! Siapapun dan apa pun itu!" titahnya, wajahnya tampak misterius. Entah ada misteri yang sedang dia sembunyikan.
...----------------...