Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 57



"Kau gila, Zella! Aku tidak akan mendengarkan kau lagi! Mulai saat ini, aku tidak akan tunduk pada peraturanmu atau peraturan klan bodoh itu!" tukas Ortega, dia bersiap-siap pergi dari sana.


"Takdir kalian-,"


"Persetan dengan takdir!" tukas Ortega lagi.


"Kalau kalian tidak memutus koneksi ini, kalian akan membahayakan diri kalian sendiri dan pada akhirnya, kalian akan mati. Semua tergantung pada waktu, Ortega! Kalian mati sekarang atau mati dengan sendirinya tapi kalian membuat orang tak bersalah ikut mati bersama kalian," balas Zella kejam.


Dia menarik Ortega untuk mendekat dengan kekuatannya dan pria vampir itu seperti tercekik. Dia berjalan sambil memegangi lehernya dan berlutut di hadapan wanita bergaya Indian itu.


"Zella, hentikan! Kau akan membunuhnya," ujar Volkov.


Zella terkesiap dan tersenyum lebar. "Lebih baik aku yang membunuhnya, bukan?"


"Kenapa kau harus membunuh kami? Tidak bisakah kau memikirkan cara lain selain kematian?" tanya Volkov lagi. Dia berjalan menghampiri Ortega dan membantu pria vampir itu untuk berdiri.


Seringai lebar kembali ditunjukkan oleh Zella. "Ada, tapi tetap saja salah satu dari kalian harus mati,"


"Biarkan aku yang mati kalau begitu," tukas Volkov.


Ortega menyerang Zella dan wanita tua itu jatuh tersungkur. "Aku tidak peduli pada takdir bodohmu itu, Wanita Tua! Aku hanya ingin bertemu dengan Jennaku!"


"Temui saja dia! Gadismu itu sedang asik merengguk surga dunia dengan pria yang baru! Yang jelas, yang sama dengan dirinya!" sahut Zella menyeringai senang.


Kedua taring Ortega yang tajam dia keluarkan dan dia bergerak secepat kilat untuk mencari Jenna. Teriakan dari Volkov sudah tidak dia hiraukan lagi.


"Kurasa, aku harus membuat perhitungan denganmu, Zella!" tukas Volkov.


Zella bersimpuh di hadapan Volkov. Bagaimana pun, serigala besar itu adalah calon raja untuk kaumnya. "Yang Mulia, aku mengatakan kebenarannya. Kalian harus mati atau gadis itu harus mati. Darahnyalah yang berbahaya,"


"Dia mati pun, darahnya masih mengalir ke seluruh relung tubuhku dam tubuh Ortega. Bodoh sekali teorimu itu, Zella! Sekarang katakan kepadaku, apa yang kau inginkan? Kau ingin menjadi raja atau ratu? Silahkan! Ambil tahtaku, aku tidak memerlukannya!" ujar Volkov tajam.


Namun jauh di lubuk hatinya, dia mengakui keterikatan di antara mereka bertiga memang membahayakan. Dia ingat apa yang terjadi di kastil kemarin. Emosi menggerakkannya untuk membunuh dan mengoyak daging Amstel serta memotong-motongnya.


Begitu pula dengan Ortega. Dia tidak tau apa yang terjadi pada Jenna. Akan tetapi, dia yakin Jenna berada di tangan yang tepat. Adrian, pria yang kuat dan mengendalikan emosi Jenna.


"Zella, apa yang akan terjadi jika kami terus memiliki koneksi seperti ini?" tanya Volkov lagi. Keningnya berkerut-kerut, saat ini dia tidak dapat memenangkan emosinya. Dia harus berpikir dengan cepat dan tepat.


Zella mengeluarkan cangkir teh serta bola kristalnya. Entah bagaimana, bola kristal itu menyala. Dia juga menyeduh teh dan meminum teh tersebut dengan menyisakan daun tehnya.


Setelah beberapa lama, dia memperlihatkan bola kristal serta gambar cangkir tehnya pada Volkov. "Kau lihat? Hasilnya sama."


Dilihat dari sisi manapun, daun teh itu tetap terlihat seperti daun teh. Volkov berusaha untuk lebih fokus, dan pada akhirnya dia menyerah. "Maafkan aku, Zella. Aku tidak melihat apa pun selain daun teh basah,"


"Buka mata batinmu, Yang Mulia! Ini gambar bintang bertabrakan!" sahut Zella.


Volkov menjauhkan cangkir berisi daun teh itu dan memiringkan kepalanya. Pria berparas tampan itu berusaha melihat sebuah bentuk bintang yang bertabrakan, seperti kata Zella tadi. Pada akhirnya, dia menghembuskan napasnya putus asa. "Maafkan aku, tapi aku tetap tidak bisa melihat bentuk bintang,"


"Jadi pada intinya, koneksi kalian harus diputus dan salah satu dari kalian harus mati. Tapi, karena darah gadis manusia itu sudah mengalir di tubuh kalian, maka kalian bertiga harus mati bersama dengan gadis itu. Tenang saja, karena kalian abadi, kalian tidak akan bisa mati dan hilang begitu saja!" ucap Zella sambil merapikan bola kristalnya.


Sementara itu, Jenna dan Adrian sedang menunggu instruksi selanjutnya dari Kamila. Akhirnya, Adrian dapat menghubungi Kamila dan wanita timur itu mengatakan supaya Adrian dan Jenna tetap di tempat merek saat ini dan jangan pergi ke manapun.


"Amstel dan Baron mati," ucap Adrian pada Jenna.


Jenna mengatupkan mulutnya dengan kedua tangannya, kedua mata gadis itu melebar. "Benarkah? Ulah feral?"


Adrian menggelengkan kepalanya. "Ortega dan Volkov,"


"Salah satu dari mereka marah luar biasa," Jenna berusaha mengingat emosi yang membuatnya sulit dikendalikan semalaman kemarin.


Adrian mengusap pucuk kepala Jenna dengan sayang. "Yang penting kau baik-baik saja saat ini, Jen. Aku senang kau sudah kembali normal,"


Jenna mengangguk-angguk. "Ya, ikatan yang terjadi di antara kami bertiga sedikit menyeramkan dan kami tidak tau bagaimana memutus ikatan tersebut,"


"Bukankah seharusnya kalian tidak boleh berjauhan kalau terikat seperti itu?" tanya Adrian.


"Entahlah," jawab Jenna sambil mengangkat kedua bahunya.


Selagi mereka asik mengobrol, sesuatu menabrak jendela kamar Jenna. Gadis itu tercengang saat melihat apa yang menabraknya.


"Ortega!" tukas Jenna, dia segera membukakan kaca jendela kamarnya untuk mempersilahkan kekasihnya itu untuk masuk ke dalam sebelum dia meleleh karena panas matahari.


Setelah pria itu masuk ke dalam, Jenna segera memeluknya. "Oh, syukurlah kau selamat. Aku menunggu kabarmu dari malam. Di mana Volkov?"


Seolah tidak bertemu setahun, Ortega memagut bibir Jenna panas dan melupakan kehadiran Adrian di sana. "Aku merindukanmu, Jenna."


"Aku pun begitu. Kau belum menjawab pertanyaanku, di mana Volkov?" desak Jenna.


"Dengar, kita harus melarikan diri berdua saja! Kita harus pergi ke suatu tempat di mana hanya ada kita saja berdua!" ajak Ortega.


Jenna menatap Ortega kebingungan. "Ke-, kenapa? Ada apa, Ortega?"


"Apa kau diincar oleh polisi karena pembunuhanan yang telah kau lakukan? Baron dan Amstel, kalian yang membunuhnya, 'kan?" tanya Adrian.


"Ini tidak ada hubungannya dengan mereka dan kumohon, jangan ikut campur!" tukas Ortega tajam.


Adrian mendengus, menikmati bagaimana Ortega tersudut dengan pertanyaannya. Wajah Ortega terlihat gusar dan bingung. "Kalau tidak ada hubungannya, kenapa kau mengajak Jenna untuk pergi bersamamu? Biarkan dia di sini dan hidup bersamaku. Aku sanggup membahagiakan dia!"


"Tidak, dia akan bersamaku!" tukas Ortega mempertahankan Jenna untuk tetap ada di sisinya.


Jenna yang kebingungan, terus memegangi kedua tangan Ortega. Gadis itu tidak tau apa yang menyebabkan kekasihnya panik seperti itu. "Apa yang terjadi, Sayang?"


"Zella! Zella berkata kita harus mati, atau kau yang harus mati! Aku tidak mau keduanya, makanya aku mengajakmu pergi!" jawab Ortega.


"Kenapa?" tanya Jenna dan Adrian bersamaan.


"Koneksi sialan itu! Zella tau tentang koneksi antara kita bertiga dan dia mengatakan, kalau tidak segera diputus, maka akan membahayakan orang lain, terutama orang yang tidak bersalah," jawab Ortega cepat. Dia berusaha merangkum apa yang dia tangkap tentang percakapan Zella tadi.


Adrian mengerutkan keningnya. "Dan caranya adalah dengan membunuh Jenna?"


"Ya, karena darahnyalah yang mempengaruhi segala emosiku dan Volkov," jawab Ortega.


Tanpa mereka sadari, Volkov datang dan bergabung bersama mereka. "Kami tidak bisa mati, kecuali dibakar atau kepala kami dipenggal. Tapi Jenna pasti mati dan pengaruh darahnya akan hilang dari kami begitu dia mati,"


"Kalau begitu, aku akan memutus koneksi kita. Supaya kita tidak membahayakan orang lain," kata Jenna pasrah.


"Tidak!" tolak tiga suara bersama-sama.


Jenna terkejut mendengar penolakan mereka tersebut. "Lalu, bagaimana?"


"Ada satu cara," suara tak tok dari tongkat kaki mengalihkan ketegangan yang menggelayut di seisi ruangan itu.


...----------------...