Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 31



Beberapa hari kemudian, Jenna dan Ortega kembali bekerja di restoran Mr. Klaus. Setiap kali, Jenna bertemu dengan Zac, pria itu selalu menghindari tatapan mata Jenna. Menurut Jenna, itu merupakan sesuatu yang baik. Mengingat kondisi gadis itu yang belum stabil dan dia masih belum bisa mengendalikan rasa laparnya.


Selama bekerja, Jenna mengenakan masker untuk menghindari rasa laparnya akan darah manusia. Sebaliknya, Ortega selalu berada di sisi Jenna. Bahkan, dia harus diseret oleh Mr. Klaus, supaya dia tidak hanya menjadi tukang pencuci piring di dapur.


"Aku mencuci piring saja, Mr. Klaus," kata Ortega.


Namun, Mr. Klaus tidak mau mendengarkan ocehan Ortega. Dia menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak, Anak Tampan. Kau adalah maskot restoran kami dan kau aset untukku, jadi tempatmu di depan, bukan di dapur,"


"Tidak! Aku malu, Mr. Klaus," sahut Ortega berusaha membujuk bos restoran itu.


Lagi-lagi, keluhannya tidak didengarkan oleh pria setengah botak dan bertubuh tambun itu. "Kalau kau malu, kau tidak bisa hidup. Gengsi dan malu itu tidak bisa dimakan, kau tau? Asah keberanianmu dan taklukan rasa malumu,"


"Haha," balas Ortega garing.


Akhirnya, mau tidak mau, Ortega ditempatkan di depan pintu masuk restoran itu sebagai penerima tamu dan jika ada tamu yang meminta servis lebih dari Ortega, seperti misalkan foto bersama atau mengajak pria itu untuk makan bersama atau bahkan, berpura-pura menjadi kekasih Ortega selama beberapa waktu, tentu saja ada bayaran lebih yang harus mereka berikan kepada Mr. Klaus.


Sementara itu di dapur, Ortega meninggalkan suasana canggung di antara Jenna dan Zac. Dapur yang biasa ramai, kini sepi dan tidak ada canda tawa. Tim mereka saling berpandangan, sebisa mungkin tidak melakukan kesalahan.


"Zac, maafkan aku," Jenna mendekat dan berbisik kepada Zac di saat mereka sedang sibuk masak.


Zac menghindar tanpa bicara. Jenna mengikuti pria itu dari belakang. Apa yang dilakukan oleh Zac, dilakukan oleh Jenna juga.


Gadis itu terus berusaha membuat Zac bicara kepadanya, sampai dia lupa memberikan bumbu pada masakannya. Pada akhirnya, suara Mr. Klaus menggema. "JENNA LAKE! Bagaimana kau memasak makananmu, Nona Lake! Aku tidak pernah melihat udang sepucat ini dan HAMBAR! Apa saja yang kau lakukan di dapurku? Mengacau?"


Jenna segera mendatangi Mr. Klaus yang wajahnya sudah sangat memerah. "Ma-, maaf, Mr. Aku lupa untuk cross check saat makanan itu keluar tadi,"


"Jangan ulangi lagi! Kembali ke dapur dan cicipi! Cicipi! Cicipi! Selalu cicipi sebelum kalian keluarkan makanan itu!" tukas mr. Klaus tegas.


Jenna mengambil posisi siap. "Baik, Mr. Klaus!"


Dapur pun kembali berjalan dan kali ini, Jenna benar-benar fokus supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mr. Klaus tipe atasan yang tidak akan sungkan menegur bawahannya di depan orang banyak, bahkan dia akan tega mempermalukan mereka di muka umum.


Selama seharian itu, jamuan makan pun berjalan dengan lancar. Jenna juga tidak melakukan kesalahan lagi dan dia juga tidak mengekori Zac setelah mr. Klaus memarahinya.


Sepulang kerja, Zac dan Jenna berpapasan. Namun, Zac melewatinya begitu saja. Entah kenapa ada rasa sakit di dalam hati Jenna saat melihat perubahan sikap Zac yang cukup drastis itu.


Ortega merangkul Jenna dan mengajaknya kembali. "Dia sedang dalam fase berusaha menerima. Lebih baik kau tidak mengganggunya,"


"Ini juga karena kau!" tukas Jenna kesal. Dia menggaruk tajam punggung tangan Ortega dan menyingkirkan tangan itu dari bahunya.


"Kau menyakitiku, Jen!" protes Ortega lagi sambil meniup punggung tangannya yang kini tampak kemerahan dan ada darah di garis luka tersebut.


Jenna memandang Ortega tajam. "Yang boleh memanggilku dengan nama itu, hanyalah Zac!"


Ortega mengeluh. Bagaimana caranya membuat gadis itu jatuh cinta kepadanya? gerutunya dalam hati. Ortega berlari menyusul Jenna yang sudah melangkah jauh dan memeluk pinggang Jenna dari belakang.


Ortega membuat waktu berputar dengan cepat dan Jenna melihat orang-orang disekitarnya, berlalu lalang seperti sebuah potongan film yang diputar dengan cepat. "Jenna, bisakah kau melihatku saja? Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Jenna,"


Dan seperti pemandangan di sekitarnya, jantung Jenna juga berdegup dengan cepat tanpa menyisakan ruang istirahat untuknya. Lidahnya terasa kelu dan sulit sekali untuk dia gerakan.


Dia ingin berontak, tetapi gelombang yang sudah dipompa oleh Ortega menyenangkan sekali. Bahkan, Jenna ingin pria vampir itu tidak berhenti.


Perlahan, Jenna memejamkan kedua matanya saat Ortega semakin giat menjilatti bahkan menggigit kecil ceruk lehernya. Secara tiba-tiba dan entah bagaimana, Jenna tiba-tiba sudah berada di dalam rumahnya dan hanya berpakaian dalam.


"Ba-, bagaimana kau membawaku ke sini?" tanya Jenna, suaranya tercekat.


Bibir Ortega kini mendarat di pundak Jenna. "Ssttt, nikmati saja," ucapnya dan kemudian dia kembali sibuk menciumi pundak gadis itu dengan lembut.


Setiap inci tubuh Jenna tidak ada yang terlewati. Ortega benar-benar tekun membuat Jenna melayang. "Aku lapar," bisik Ortega.


Dia mengeluarkan taringnya dan dengan lembut menancapkan taringnya itu ke ceruk leher Jenna. Tangan Ortega asik bermain dengan kedua bola kembar gadis itu, dia memilin, memutar, meremmas, dan memainkan pucuk bukit yang sudah terasa mengeras itu.


Jenna semakin menekan kepala Ortega pada ceruk lehernya. Dia menggigit bibir bawahnya supaya tidak ada suara aneh yang keluar dari mulutnya.


Setelah puas menghissap darah Jenna, Ortega memutar tubuh gadis itu dan mendudukan Jenna di pangkuannya. Kali ini, Jenna mengeluarkan taringnya dan menancapkannya di ceruk leher Ortega sambil mendekap erat pria vampir itu.


Sedangkan tangan Ortega masih bermain di bongkahan padat Jenna. Begitu selesai, Jenna mendorong Ortega ke atas ranjangnya.


Sesuatu di balik celana jeans pria itu tampak mengeras dan Jenna sengaja menggerakkan tubuhnya di atas Ortega, membuat pria berambut hitam itu kelabakan.


"Kau mau bermain rupanya, Jenna?" tanya Ortega.


Dia membalikan posisi Jenna dan kini, dia berada di atas tubuh mungil gadis itu. "Aku akan turuti kemauanmu dan kita akan membuat kerajaan vampir dengan kau sebagai ratunya,"


Ortega melummat bibir Jenna yang masih menyisakan darah dan tangannya melepas satu-satunya penutup di tubuh atas Jenna.


Jenna tenggelam dalam ciuman vampir itu. Tidak ada lagi yang dia pikirkan selain Ortega dan ciumannya. Gadis itu melingkarkan kedua kakinya ke tubuh Ortega dan mendorong pria itu supaya lebih dekat dengannya.


Suasana malam itu menjadi panas, walaupun suhu diluar cukup dingin. Dessahan demi dessahan keluar dari mulut Jenna. Tubuh mereka sudah saling menempel satu sama lain dan ranjang Jenna semakin berderit seirama dengan semakin panasnya permainan mereka berdua.


Beruntunglah saat itu Volkov datang dan memisahkan mereka berdua. Dia menarik Ortega sebelum pria itu benar-benar melepaskan penutup tubuh bagian bawahnya serta Jenna. Andaikan Volkov tidak menarik Ortega, mungkin akan tercipta kerajaan vampir di kemudian hari.


"Hei, hei, hentikan!" tukas Volkov.


Jenna segera membuka kedua matanya dan menyadari apa yang sedang dia lakukan. Dengan wajah yang memerah, dia melepaskan kedua kakinya yang tadi melingkar di tubuh Ortega dan segera mendorong vampir itu untuk menjauh.


"Kau membuatku melakukan apa, Bodoh?" tanya Jenna. Dia memakai kembali pakaiannya.


"A-, aku terbawa suasana. Maafkan aku," sahutnya dan kemudian dia berdeham. "Ehem, ada apa kau datang kemari, Volkov?"


"Artemis mencarimu dan otomatis, gerbang dimensi kembali terbuka," jawab Volkov.


...----------------...



Jenna Lake