Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 42



"Tentu saja aku butuh penjamin keselamatan teman-temanku. Baron dan Amstel sudah jelas, tapi kau? Aku tidak tau. Lagipula, nama Zac sudah kusebut akan bergabung bersama mereka, selama perubahan Zac sempurna dan dia tidak menjadi, apa itu tadi? Farel? Feral? Itulah," jawab Jenna acuh. Dia tidak butuh penjamin untuk tempat tinggal atau materi. Gadis itu hanya membutuhkan penjamin untuk teman-temannya, terutama Zac.


"Mereka lebih dari sekedar teman untukku, Nona. Mereka adalah keluargaku. Sebelum Ortega datang di dalam kehidupanku, aku hanya memiliki Zac dan dialah yang selalu menemani dan menguatkanku. Wajar saja jika kali ini, aku membutuhkan tempat berlindung yang baik," sambung Jenna lagi. Apa yang dia rasakan saat ini memang hanya keselamatan teman-temannya, termasuk Alena. Walaupun wanita itu seperti makhluk asing, tetapi bagi Jenna, Alena sudah masuk di dalam kotak kehidupannya dan sudah dia beri label dengan KELUARGA.


"Hidup ini bukan roman picisan. Tapi, aku ingin menekankan sekali lagi, kau bisa mendapatkan perlindungan total dariku. Aku harap kau tidak salah dalam mengambil langkah, pikirkan ini baik-baik," kata Kamila lagi sambil bergegas pergi meninggalkan ruangan Jenna. "Adrian, c'mon atau kau masih mau berlama-lama memegangi tangan gadis itu?"


Adrian segera menepiskan tangan Jenna dan mengejar Kamila. "Urusan kita belum selesai," tukasnya pada Jenna.


"Yep, terima kasih kembali," jawab Jenna. Kemudian, dia dja menghenyakan tubuhnya di ranjang dan menghembuskan napas panjang. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya kepada diri sendiri.


Sepanjang hari itu, Jenna tidak bertemu dengan Ortega, Volkov, ataupun Zac. Dia merasa seperti seorang tawanan yang dikurung karena melakukan suatu kesalahan. "Aarrgghh! Hei! Aku ingin pulang, keluarkan aku dari sini!"


Tak hanya berteriak, Jenna juga memukul-mukul pintu ruangannya. "Hei! Adrian! Hei! Buka pintunya! Kalian pikir, aku seperti kalian, tidak butuh makan! Aku hampir mati lemas di sini! Buka pintunya!"


Suara Jenna benar-benar keras sekali, hingga terdengar sampai ruangan tempat Ortega berada. "Jenna itu, luar biasa sekali,"


"Dia gila, ckckck," ucap Volkov lagi sambil berdecak kagum.


Ortega beranjak dari kursinya, nasib mereka tak jauh berbeda dengan Jenna. Mereka belum diizinkan keluar dari ruangan tanpa alasan yang jelas. Menurut Ortega, wajar saja jika Jenna berteriak-teriak seperti itu, dia manusia dan pasti merasa lapar. "Ini sudah hampir seharian kita berada di dalam sini. Aneh sekali, di mana Kamila?"


Karena tak sabar, Ortega dan Volkov memakai kekuatan mereka untuk keluar dari ruangan itu dan masuk ke dalam ruangan Jenna. "Demi apa pun, kau berisik sekali, Jen!"


"Ortega!" Jenna segera memeluk kekasihnya itu. "Oh, aku lega sekali akhirnya bisa melihatmu lagi! Oh, Ortega!"


"Ehem! Bagaimana denganku?" tanya Volkov pura-pura merajuk.


Jenna tersenyum dan merangkul Volkov bersama mereka. "Sekarang, aku bisa tenang karena kalian ada bersamaku lagi. Entah apa yang terjadi, aku tak tau,"


Jenna menceritakan pertemuannya dengan Baron dan Amstel, serta permintaan Kamila yang ingin membentuk klan. Gadis itu juga bercerita tentang kekhawatirannya terhadap Zac dan di mana keberadaan Zac sekarang. "Aku tidak tau di mana dia. Kita belum terlalu mengenal Kamila ini, 'kan? Maksudku, kita tidak bisa percaya begitu saja kepadanya,"


Ortega dan Volkov saling berpandangan. "Jen, kurasa Kamila bukan vampir jahat. Niatnya baik,"


"Ya, dia menawariku untuk bergabung dengannya. Kalau aku berpikir dengan memakai sudut pandang seorang manusia, tentu Baron dan Amstel lah yang akan kupilih. Mereka memiliki kekuasaan yang cukup besar. Ya, 'kan? Begitulah. Aku belum menyetujui perjanjian manapun, aku masih menimbang-nimbang," ucap Jenna. Hanya karena dia setengah-setengah, vampir-vampir itu memperebutkannya dengan dalih, dia akan membahayakan sekitar. "Lagipula, aku tidak memiliki kekuatan apa pun,"


Setelah berbicara seperti itu, Jenna tertunduk. "Aku hanya butuh bertemu dengan Zac dan makan. Rasanya, baru kemarin aku berada di dapur mr. Klaus bersama dengannya,"


"Aku akan mencari Kamila," sahut Volkov dengan wajah garang. Serigala tampan itu dapat merasakan kesedihan dan kegelisahan yang dirasakan oleh Jenna.


Begitu pula dengan Ortega, mengingat koneksi di antara mereka belum terputus. Kedua makhluk itu dapat mengerti dan memahami Jenna dengan baik.


Setelah beberapa kali mereka mengetuk, tidak ada jawaban dari pemilik rumah itu. Akhirnya, mereka kembali ke ruangan atas.


"Jen!" Zac berlari menghampiri Jenna dan memeluknya. "Kau tau, ini hebat sekali! Kamila menunjukkan kepadaku apa saja yang bisa kulakukan dengan tubuh vampirku ini. Aku benar-benar merasa seperti seorang superhero, Jen!"


Jenna ikut tersenyum mendengar cerita Zac. "Syukurlah kalau begitu. Aku mengkhawatirkanmu sedari tadi, Zac. Tapi, kau baik-baik saja, 'kan?"


"Sudah hampir 24 jam dan dia tidak menunjukkan penurunan perubahan dalam wujud barunya. Artinya, proses perubahan dia berhasil," kata Kamila yang tiba-tiba saja masuk dan bergabung dengan mereka.


Sifat buruknya yang seperti petir, asal menyambar itulah yang dibenci oleh Jenna. "Bagus kalau begitu. Aku bisa katakan pada Baron dan Si Kakek Tua itu, bahwa aku tidak jadi bergabung bersama mereka,"


Senyum Kamila merekah di wajahnya. "Jadi? Kau bergabung bersamaku?"


"Ya, selama kau tidak lupa kalau aku adalah manusia dan aku harus makan!" ucap Jenna geram.


Adrian tersenyum simpul dan mengajak Jenna untuk makan bersamanya. "Ayo, makanlah bersamaku,"


Jenna mengikuti Adrian ke ruang makan, sementara yang lain menyambut kedatangan Zac yang baru dan mereka menikmati kantung darah yang sudah disiapkan oleh Adrian beberapa waktu lalu.


Di kediaman Baron dan Amstel, seminggu kemudian. Jenna membuat kening para vampir itu berkerut-kerut. "Apa maksudmu?"


"Aku memutuskan untuk bergabung bersama klan baru yang didirikan oleh Kamila Sayeed, mengingat Nona Sayeed-lah yang menciptakan Zac. Itulah tujuanku datang ke sini, untuk meminta maaf, dan mengucapkan terima kasih kepada kalian yang telah membantu kami," kata Jenna dengan lantang dan tegas.


Baron dan Amstel berbisik-bisik, kemudian mereka saling menganggukkan kepala. "Apa boleh buat. Kaum kami sudah semakin sedikit, tandanya kami harus saling mendukung, 'kan? Untuk Zac, berikan aku 5 vote yang bisa membuktikan kalau Zac benar-benar vampir sejati dan tidak akan berubah menjadi monster apa pun yang membahayakan. Kau sanggup?"


"Aku dan teman-temanku sudah ber-,"


"Di luar kau dan teman-temanmu, Sayang. Anggap saja Nona Sayeed sudah menyumbang 1 vote, dan kalian harus mencari 4 vote lagi untuk menjamin Zac," tantang Amstel. "Kalau gagal, kalian harus kembali kepada kami. Aku akan berikan waktu 1x24 jam, mulai dari besok pagi. Kalau dipikir-pikir, aku baik sekali, bukan? Hahaha! Nah, pergilah untuk berpikir,"


Kabar itu segera disampaikan oleh Jenna kepada Kamila. Wanita timur itu tampak berpikir. "Ada-ada saja. Baiklah, aku 1 suara, dokter Bryan pasti akan mau menyumbangkan 1 suaranya untuk Zac. Aarrggh! Aku pusing! Baiklah, aku akan mencari, setelah itu kau dan Adrian temani aku untuk urusan ini."


"Bagaimana dengan kami?" tanya Ortega.


"Kalian bisa menjaga Zac di sini. Dia masih harus banyak beradaptasi dan belajar. Tidak mungkin dia belajar dari seorang manusia, 'kan?" tukas Kamila. Kemudian, dia mengangguk ke arah Jenna dan Adrian untuk mengikutinya. "Berharaplah, semoga kita bisa mendapatkan 3 suara lagi. Ini sama saja dengan melawan pemerintahan. Ide gila! Huft!"


...----------------...