
Di suatu malam yang tidak begitu dingin dan tidak begitu hangat juga, sekelebat tiga bayangan hitam berjalan menembus kegelapan.
Tak jauh di depan mereka, makhluk-makhluk aneh dengan wajah dipenuhi sisik ikan sudah siap menghadang langkah mereka dengan posisi siaga. Seorang wanita berambut keriting berwarna merah dan berjubah hitam, tampak memimpin barisan manusia sisik ikan itu, dengan tongkat keemasan disampirkan di pundaknya.
Beberapa detik kemudian, makhluk-makhluk aneh itu saling berhadapan. "Hei, kalian!" seru wanita yang memakai jaket bertudung hitam. "Kalian curang sekali, memakai senjata! Kami datang dengan tangan kosong!"
"Dan damai!" ucap seorang pria di belakang wanita itu menambahkan. Kemudian, pria itu berbisik, "Harusnya, kau tambahkan itu. Kau tidak mau bertarung, 'kan?"
Gadis itu menggelengkan. "Maaf, aku lupa," balasnya dengan berbisik juga.
Wanita bertongkat itu tertawa puas. "Hahaha! Kupikir malam ini, aku akan mendapatkan lawan yang sepadan denganku, ternyata hanya tiga makhluk aneh. Cih! Apa kalian?"
Gadis bertudung hitam itu mengerenyitkan keningnya dan berbisik lagi. "Apakah dia kesulitan berbahasa? Kenapa dia bertanya apa kita?"
"Sssttt! Sudahlah, kalian ini! Posisi kita sedang genting! Bisakah kalian bersikap profesional sedikit, supaya kita tampak disegani dan ditakuti?" tanya pria berambut keperakan yang sangat tampan.
Gadis bertudung hitam dan pria berambut hitam dengan mata merah mengangguk. "Baiklah, profesional!" sahut mereka bersamaan.
"Pertanyaanmu itu salah, Makhluk Ikan! Seharusnya, kau bertanya siapa kami!" tukas gadis bertudung hitam itu.
Hembusan angin mengirimkan harum tubuh si gadis bertudung hitam kepada wanita bertongkat. Dia mengendus dalam-dalam. "Kau, manusia?"
"Hah! Berani sekali seorang manusia menemui kami! Kau tidak menonton berita atau membaca televisi? Ah, maksudku, seperti itulah!" sambung wanita bertongkat itu lagi.
Gadis bertudung itu maju ke depan dengan gagah berani. "Lalu, kenapa jika aku seorang manusia? Seharusnya, aku yang bertanya kepadamu, mengapa kau menyerang manusia yang tak bersalah dan menebarkan ketakutan di mana-mana?"
"Jenna! Hei, sadarlah!" tukas dua pria yang berada di belakangnya. Mereka berusaha menarik mundur lengan gadis bernama Jenna itu.
Jenna menepiskan tangan mereka. "Aku sedang marah! Dia meremehkanku! Belum tau dia rasanya di fillet kemudian di goreng!"
Wanita bertongkat itu tertawa mengejek. "Kau satu-satunya manusia yang mempunyai bau yang semerbak! Darahmu pasti nikmat sekali, Manusia! Dan dua makhluk di samping kanan dan kirimu itu, ...."
Dia menarik napasnya dalam-dalam dan mengendus harus tubuh kedua pria yang mengapit Jenna. "Hmmmm, kalian bukan manusia. Wow, menarik sekali,"
"Kau, vampir!" kata wanita bertongkat itu menunjuk pada pria berambut hitam dan bermata merah. Kemudian, dia mengendus lagi dan otot wajahnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman mengerikan. "Hmmm, kau! Kau yang kami cari! Hmmm, manusia serigala?"
Wanita itu kemudian berkacak pinggang dan memandang mereka bertiga dengan kagum. "Wow! Wow! Perpaduan yang luar biasa dengan kombinasi yang manis antara manusia, vampir, dan manusia serigala. Andaikan aku punya waktu untuk mendengarkan cerita kalian, aku pasti akan mengajak kalian untuk minum teh bersama! Sayang sekali, aku harus segera membunuh kalian berdua dan manusia itu, aku akan memikirkan bagaimana menggunakan manusia itu!"
"Hei, lindungi Jenna!" tukas si pria berambut keperakan, dia segera berada di barisan terdepan untuk melindungi gadis manusia yang dia sayangi itu.
"Kita bersama-sama, Volkov! Mereka banyak sekali!" tukas si rambut hitam.
Volkov berusaha berpikir dengan cepat. Dan begitu dia mendengar perintah sekarang dari mulut wanita pembawa tongkat itu, dia segera mendorong Jenna ke pinggir. "Ortega! Lindungi dia!" Setelah itu, dia menahan pasukan makhluk-makhluk bersisik ikan seorang diri.
"Cih! Aku juga mau kelihatan keren, tau! Je-, Jenna! Kau di mana? Sial, aku kehilangan dia!" ucap Ortega kesal.
Dia pun melayang dan mencari Jenna. Tak lama, dia menemukan gadis itu. Mata Jenna berubah menjadi merah. "Dia siap menggila!" seru Ortega lebih kepada dirinya sendiri.
Wanita pemegang tongkat itu mengarahkan tongkatnya ke arah tubuh Jenna. Namun dengan secepat kilat, Jenna menghindari tongkat itu.
Gadis itu memicingkan kedua mata merahny dan wanita bertongkat itu terlempar ke udara dan jatuh terpelanting dengan suara dentuman yang cukup besar.
Wanita bertongkat itu berdiri dengan bantuan tongkatnya. Napasnya terlihat tersengal-sengal. "Manusia Pintar. Sekarang, aku tau kenapa dua makhluk bukan manusia itu menempel kepadamu. Kau memiliki kemampuan yang luar biasa dan tidak dimiliki oleh manusia lain pada umumnya!"
Jenna kembali memincingkan kedua matanya dan membuat wanita itu melayang. Tak lama, dia pun menyusul wanita itu melayang. "Tidak usah banyak omong! Apa tujuanmu datang ke dunia manusia?"
"Jenna!" seru Ortega saat dia menemukan Jenna yang sudah melayang bersama dengan wanita bertongkat itu.
Sementara itu, pertarungan antara Volkov dan manusia bersisik ikan mengalami ketidakseimbangan. Volkov melawannya seorang diri dan para makhluk aneh itu, terus bermunculan seperti tak ada habisnya.
"Apa ini? Kenapa kalian tidak bisa mati! Ortega! Aku lelah! Bantu aku!" tukas Volkov. Dia mulai kewalahan melawan para makhluk sisik ikan itu.
Ortega berlari dan menerkam para makhluk aneh itu. Tak hanya menerkam mereka, tapi juga menggigit dan mengoyak daging mereka dengan kasar.
"Pedangmu, Bodoh! Keluarkan pedangmu!" tukas Volkov lagi.
"Oh, pedang!" Ortega mengumpulkan kekuatannya pada satu telapak tangan dan asap hitam keluar dari telapak tangannya itu. Di tengah kepulan asap hitam itu, Ortega memasukan tangannya dan mengambil sebuah pedang dari tengan kepulan asam hitam.
Dalam sekali tebas, dua sampai tiga makhluk dapat dilenyapkan oleh Ortega. Namun, sama halnya seperti Volkov, makhluk-makhluk itu bangkit dan muncul kembali dengan cepat.
"Volkov, kurasa kita harus membunuh si wanita itu barulah mereka akan lenyap," ucap Ortega. "Jenna sedang berhadapan dengan wanita itu seorang diri,"
"Apa! Orang gila Jenna itu! Kita tetap lindungi dia dan alihkan perhatian makhluk ini, setelah itu salah satu dari kita menerobos dan mencari cara untuk membunuh si Ratu Ikan itu. Bagaimana?" tanya Volkov. Ortega mengangguk setuju.
Di sisi lain, pertarungan Jenna dengan wanita ikan itu kian memanas. "Menyerahlah! Kau tidak bisa membunuhku!"
Wanita itu berdecih. "Cih! Bagaimana kalau aku bisa?" dengan sekuat tenaga, dia melemparkan tongkat itu dan tepat mengenai pundak Jenna.
"Aargghh!" erang Jenna.
"Jenna!" tukas Volkov dan Ortega bersamaan.
Wanita ikan itu tertawa liar, merayakan kemenangannya atas Jenna. "Sekarang, aku tinggal mengambil darahmu yang harum itu dan memberikan tulangmu pada anjing. Hahaha!"
Jenna berusaha menarik tongkat itu dari pundaknya. Kedua matanya berubah menjadi ungu dan tiba-tiba saja, dari kedua telapak tangannya mengeluarkan cahaya berwarna biru cantik. "Eerrgghhh! Sialan!"
Dengan kekuatan baru yang dia miliki, Jenna berhasil melepaskan tongkat panjang itu dari pundaknya dan melemparkan kembali tongkat itu ke arah wanita bersisik yang sedang tertawa di depannya. "Kukembalikan tongkat sialanmu ini!"
Tongkat itu melayang dan menembus jantung wanita itu. Kedua matanya membelalak dan dari mulutnya keluar darah berwarna merah kehitaman yang tampak menjijikkan.
"Ka-, kau! Aarrggghhh!"
Para pasukan wanita bersisik itu satu persatu menghilang bersamaan dengan pekik jerit ratu mereka. Sejurus kemudian, Jenna pun rubuh dengan darah terus mengalir dari pundaknya.
Volkov dan Ortega menghampiri Jenna dan mencoba menahan luka tusuk wanita itu. Luka itu lama kelamaan mengeluarkan asap dan Jenna pun terbatuk-batuk. "Nanti aku sembuh dengan sendirinya. Karena aku terlalu keren untuk terluka," ucapnya sambil mengedipkan mata kemudian, dia pingsan tak sadarkan diri setelah berkata demikian.
"Bagaimana ini?" tanya Ortega panik.
"Jenna! Jenna, bangunlah! Jangan mati, Jenna!"
...----------------...