
"Ja-, jadi, kau benar-benar seorang vampir? Kenapa kau bisa terkena matahari? Kenapa kau bisa berjalan-jalan di siang hari? Sepertinya aku bermimpi," ujar Zac saat Ortega menyelamatkan nyawanya dari serangan Jenna.
Kini, Jenna sedang merenungkan kesalahannya. Dia maku berhadapan dengan Zac setelah dia berusaha untuk menggigit pria itu. Sulit bagi Jenna untuk mengendalikan dirinya sendiri saat ini.
Untunglah saat itu, Ortega datang dan menenangkan Jenna supaya dia tidak menyerang Zac.
"Aku dikutuk dan dibuang ke dunia manusia. Jenna menemukanku dan menolongku karena dia kasihan padaku. Di malam saat aku menggigitnya, aku berubah menjadi sosok vampir yang baru. Aku tidak bisa menghissap darah manusia, selain darah Jenna," kata Ortega lagi. "Entah kenapa setelah aku mengambil darahnya, dia bisa mengendalikanku,"
Zac memandang Jenna yang mengalihkan pandangannya saat kedua netra mereka saling bertemu. "Jenna yang itu? Bukankah katamu tadi, ...."
"Yah, sejak awal bertemu denganku, sudah banyak keajaiban yang terjadi di dalam diri Jenna. Bahkan dianggap sebagai seorang penyihir karena bisa mengendalikan aku dan seorang manusia serigala," kata Ortega menjelaskan.
Kedua bola mata Zac membulat sempurna saat mendengar Ortega menjelaskan tentang Jenna. "Wow! Just, wow! Manusia serigala? Apa lagi itu? Apakah aku benar-benar bisa bertemu dengan manusia serigala di dunia nyata dan di siang hari seperti ini?"
Jenna berjalan menghampiri kedua pria berbeda jenis itu. Dia menarik kalung liontinnya dan memperlihatkannya kepada Zac. "Apakah kau lihat kalung ini? Jika warnanya berubah maka, kepribadianku juga berubah. Kelebihan kalung ini adalah, aku bisa memanggil Volkov sang manusia serigala hanya dengan menyebutkan namanya di depan bulan sabit. Tanpa ponsel dan tanpa kuota. Luar biasa, bukan?"
Jenna mendekati Zac lagi, lebih dekat dari sebelumnya. "Kau takut padaku? Maaf, sejak beberapa hari yang lalu aku sudah mencoba untuk menceritakan hal ini kepadamu tapi kau tidak percaya. Maafkan aku juga karena aku tidak bercerita kepadamu kalau aku saat ini bukan manusia sempurna seperti bayanganmu. Aku melakukan ini dengan satu alasan. Aku tidak ingin kehilanganmu, Zac. Kau sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri dan aku tidak mau kau takut padaku, "
"Tapi sekarang semuanya sudah berubah dan kau sudah tahu siapa aku sesungguhnya. Aku tidak akan memaksamu untuk berteman lagi denganku. Itu hakmu, kau juga boleh takut, kok," sambung Jenna.
Zac memutar tubuhnya dan memeluk Jenna dengan erat. "Apa pun bentukmu, aku tidak akan takut kepadamu. Walaupun suatu saat nanti kau berubah menjadi sebuah brokoli, rasa sukaku, tak akan berkurang kepadamu, Jenna,"
Butiran bening yang daritadi sudah berkumpul di pelupuk mata Jenna, kini bergulir satu persatu dan terjatuh di pundak Zac. "Thank you, Zac. Thank you,"
"Lalu tentang alasan mengapa kau tidak bisa keluar malam, Apa itu semacam ritual atau ada sesuatu?" tanya Zac, perlahan dia melepas pelukan Jenna.
Jenna menggelengkan kepalanya. Entah kenapa saat itu dia mencari tangan Ortega dan setelah menemukan tangan dingin itu dia menggenggamnya dengan sangat erat seolah takut terpisahkan. "Tidak, itu karena, aku ingin membasmi kejahatan."
Baik Zac dan Ortega tertawa saat mereka mendengar jawaban Jenna. "Pfftt! Hahahahaha!"
Malam hari pun tiba. Sesuai janjinya, volcome sudah berada di rumah Cina dan bertanya kembali kepada Gadis itu untuk meyakinkan Apakah dia benar-benar ingin ikut atau tinggal?
"Tentu saja aku ikut! Apa pun yang sudah keluar dari mulutku tak akan kutarik kembali!" kata Jenna dengan mantap. Sedetik kemudian, raut wajahnya berubah. "Tapi, bagaimana kalau mereka berhasil membunuhku? Aaarrghhh! Aku akan mati muda! Mati di usia 21 tahun dan ciuman pertamaku dicuri oleh Vampir Mesum yang menumpang hidup di rumahku. Hiks, menyedihkan sekali,"
Volkov memandang Ortega dengan tatapan membunuh. "Kau mencuri ciuman pertamanya? Makhluk macam apa kau ini!"
Wajah Ortega yang biasa pucat kini tampak kemerahan. Sebelah matanya memandang ke arah kucing putih yang menutupi wajah dengan satu tangan mungilnya. "Aku tidak tahu kalau itu ciuman pertamanya,"
Sialnya Ortega malam itu karena jena menangkap lirikan matanya. "Oh, kau sudah pernah melakukan itu sebelumnya? Dengan, -siapa-nama-kucing-putih- itu, aku lupa!"
"Artemis," jawab Ortega singkat. "Ya, karena kami sepasang kekasih, Jenna,"
"Cih! Kalau begitu, kau cium saja dia!" tukas Jenna sambil naik ke atas ranjangnya dan menenggelamkan dirinya di dalam selimut. Hatinya terasa panas seperti terbakar api malam itu. Dia sangat tidak suka jika Ortega sudah membahas tentang Artemis.
Tunggu! 'Apa aku cemburu?' tanya Jenna dalam hati.
Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. 'Tidak! Tidak! Tidak mungkin, aku jatuh cinta pada vampir! Tidak! Hahaha! Sadarlah, Jenna! Sadar!'
Tengah malam, Jenna dibangunkan oleh Volkov. "Jenna, kau jadi ikut denganku?"
Volkov melihat tampilan Jenna. "Ah, kau benar juga. Apakah kau punya kaus dan celana panjang hitam? Tutupi dengan jaket bertudung, kau punya itu semua?"
"Oh, ide bagus. Baiklah! Ayo!" tukas Jenna.
Semangat Jenna dipatahkan oleh Ortega yang melarangnya untuk ikut malam itu. "Kau tidak tau bahaya apa yang akan menimpamu, Jenna! Tetap di rumah!"
"Tidak! Aku ikut! Aku merasa, ini tanggung jawabku karena telah menyebabkan mereka keluar dimensi," jawab bersikeras.
"Tidak ada hubungannya denganmu, Jenna! Ini terlalu bahaya! Kumohon tetaplah di rumah," pinta Ortega. Mata merahnya menatap tajam pada gadis yang ada di hadapannya itu.
Namun, Jenna tetap menggeleng. "Kalau kau tidak mau melindungiku, Volkov bisa melindungiku. Iya, 'kan, Volkov?"
Volkov mengacungkan ibu jarinya. "Aku siap!"
"Bukan masalah mau melindungimu atau tidak! Aku hanya tidak ingin kau terlibat lebih dalam dengan dunia yang bukan tempatmu tinggal, Jenna! Aku tidak mau kehilanganmu!" sahut Ortega lagi. Kali ini, raut wajahnya tampak lebih serius dari sebelum-sebelumnya.
Jenna memandang manik Ortega. "Kenapa kau tidak mau kehilangan aku?"
"Sudah jelas, 'kan, itu karena, ... Ka-, karena, ... Karena aku menyukaimu," jawab Ortega perlahan.
Wajah keduanya memerah. "Be-, benarkah itu?"
Ortega mengangguk. "Karena kau makananku, 'kan, makanya kau harus tetap sehat dan bugar," seringai lebar muncul dari wajah Ortega.
Jenna mengerucut bibirnya, wajahnya semakin merah dan seperti akan mengeluarkan asap dari ujung kepalanya. Napasnya naik turun dan tangannya terkepal. "Vampir Sialan!"
Bogem mentah dari Jenna membuat Ortega melayang dan menabrak atap rumah Jenna, hingga atap rumah itu mengeluarkan suara bergemuruh. "Tidak ada sarapan atau makan malam untukmu!"
Volkov bersiul senang sambil tersenyum.
Sementara itu tak jauh dari tempat Jenna, seorang wanita tampak sedang mengerahkan pasukannya. "Bersiaplah kalian! Aku rasa malam ini, kita akan berperang sekaligus berpesta besar. Aku mencium bau makhluk lain sedang memburu kita,"
"Apakah dia yang memiliki rambut perak, Yang Mulia?" tanya salah satu pria bertudung hitam.
Wanita itu mengibaskan jubah hitamnya dan berjalan dengan suara tongkat keemasannya yang menggema. "Salah satunya, tapi ada satu makhluk lain lagi yang ikut bersamanya,"
Tiba-tiba saja, wanita itu mengarahkan tongkatnya kepada pria yang tadi bertanya. "Gara-gara kau, mereka jadi mengetahui kita. Sekarang, kita harus menyambut tamu kita dengan baik dan kau, enyahlah ke dalam kegelapan yang paling gelap! Hiaaaaahhhhh!"
Cahaya kehijauan muncul dari ujung tongkat si wanita dan tepat mengenai jantung pria malang itu. "Aarrggghhh!"
Pria itu pun berubah menjadi abu dan menghilang terbawa angin malam.
"Bersiaplah, mereka datang!" titah wanita itu lagi kepada pasukannya.
...----------------...