
Sementara Ortega, Volkov, dan Artemis sedang mengisi berbagai macam dokumen yang memusingkan, Kamila Sayeed mulai meneliti Zac.
"Adrian, jika manusia ini kujadikan vampir, kau tidak cemburu, 'kan?" tanya Kamila. Dia sudah menyiapkan taring tajamnya dan bersiap menggigit Zac yang mulai tidak bernapas.
Wajah Adrian terlihat kesal. "Kau pikir saja sendiri! Aku mengabdi padamu bertahun-tahun bahkan aku menyerahkan seluruh hidupku untukmu, dan kau memilih pria itu untuk mendampingimu!"
"Kau akan tetap menjadi pendampingku, Adrian. Kenapa kau meragukan itu? Ini demi rasa kemanusiaan. Aku tidak pernah paham pada manusia, kenapa aku harus menyelamatkan pria ini? Cih! Andai saja, gadis manusia itu tidak istimewa, aku akan menjadikan mereka berdua santap malamku," tukas Kamila.
"Kau harus belajar dari kami, Kamila. Bagaimana kau bisa jatuh cinta jika kau tidak ingin memiliki ikatan dan tidak membuka hatimu?" tanya Adrian sambil membersihkan darah di ceruk leher Zac. "Sudah selesai, kau bisa memulainya. Aku akan menunggumu di luar,"
Adrian bergegas untuk keluar ruangan bawah tanah rumah Kamila itu. Namun, Kamila mencegatnya. "Adakah kemungkinan kau akan jatuh cinta pada gadis manusia itu?"
"Hmmm, bisa saja kalau kau tak kunjung membuka hatimu untukku," jawab Adrian santai sambil melengos pergi.
Kamila mencebik. Akan tetapi, dia tidak bisa berlama-lama karena ada seorang manusia yang menggantungkan hidup padanya. Dia memperhatikan manusia yang pucat dan tak sadarkan diri itu. Tak lama, Kamila sudah menghujamkan taringnya ke ceruk leher Zac.
"Bangunlah, Makhluk Yang Tak Abadi. Kau ditunggu oleh seseorang yang istimewa," bisik Kamila sambil menutup peti di mana Zac dibaringkan.
Di kediaman Baron dan Amstel, Ortega, Artemis, dan Volkov sudah menyelesaikan dokumen-dokumen yang harus mereka isi.
"Baiklah, kembalikan manusia itu!" titah Ortega pada Baron dan Amstel.
Pria tua berwajah tegas itu membaca dokumen yang diisi oleh Ortega. "Usiamu? Masih 312 tahun. Masih terlalu muda untuk memutuskan menikah dan membuat kerajaan dengan seorang manusia. Apalagi dengan keturunan setengah manusia. Kita tidak tau, apakah gadis itu berbahaya atau tidak,"
Volkov merubah wujudnya menjadi seekor serigala besar dan menunjukan giginya yang tajam pada kedua pemimpin klan tersebut. "Jenna tidak berbahaya!"
Beberapa vampir berpakaian seperti pengawal maju menghadang Volkov dalam bentuk serigala. Mereka mengacungkan senapan panjang untuk menghentikan gerakan berbahaya dari Volkov.
"Sesungguhnya, kitalah yang berbahaya. Bukan manusia itu! Lepaskan dia atau-," ancam Ortega. Kedua bola matanya berubah menjadi merah dan dia mengeluarkan taringnya. Tak hanya Ortega, Artemis pun mengeluarkan kedua taring tajamnya.
Baron dan Amstel tertawa. Mereka seakan menikmati pertunjukan yang sedang dimainkan oleh para tamu tengah malam mereka itu. "Atau apa, Anak Muda?"
"Kau berniat melawan kami hanya dengan bermodalkan tekad dan cinta? Hahahaha! Tidak akan ada kesedihan jika segala hal dapat dimenangkan hanya dengan dua hal tersebut," ejek Amstel sambil mengusap janggutnya. Dia sama sekali tidak bergeming, di tengah ancaman Ortega. Bagi pria tua itu, tamu-tamunya hanyalah sekumpulan anak muda kemarin sore.
Baron beranjak dari kursinya dan dia menghampiri Volkov, mengelus lembut surai serigala itu. "Kami akan mencari tau apakah teman manusia kalian itu berbahaya atau tidak. Setelah kami memastikan kalau dia aman, kami akan melepasnya,"
"Kembalilah dan katakan pada Kamila, kami masih menahan satu teman kalian," ucap Baron lagi dan dia pun pergi dari ruangan itu diikuti oleh Anstel dan para pengawal mereka.
Di sebuah ruangan yang seperti kamar tidur, Jenna berbaring di atas ranjang. Sesuatu telah membuatnya tak sadarkan diri pagi itu.
Baron dan Amstel masuk ke dalam kamar itu dan mengangkat tangan mereka pada kening Jenna tanpa menyentuhnya.
Jenna membuka kedua matanya perlahan dan dia sangat terkejut saat melihat Baron dan Amstel berdiri di depannya. "Di mana Ortega dan yang lainnya!"
"Mereka sudah kembali, kaulah yang masih berada di tempat kami," ucap Amstel. Dia mengambil salah satu tangan Jenna dan menggenggamnya.
Entah apa yang dilakukan oleh pria berjanggut itu, tetapi dahinya berkerut-kerut, seolah dia sedang berpikir keras. "Hmmm, aku tidak bisa membaca masa depanmu dan bahkan, aku tidak bisa membaca pikiranmu. Kekuatan apa itu, Manusia?"
Baron tertarik mendengar ucapan Amstel, dia memincingkan kedua matanya dan menatap Jenna dengan tajam. Tak terjadi apa-apa.
"Apa yang kau harapkan?" tanya Jenna, seakan membaca pikiran dan tindakan Baron.
"Tidak. Aku hanya merasakan apa yang kau rasakan," jawab Jenna jujur. Sama seperti saat dia merasakan ketakutan Zac dan Volkov, begitulah rasanya.
Kedua pria vampir itu bersiul. "Wohoho, luar biasa! Apa yang menyebabkan kau menjadi setengah manusia seperti ini? Apa kau berbahaya?"
Jenna mengangkat bahunya. "Aku tidak tau. Sejauh ini, aku tidak memiliki catatan kriminal selain catatan hutangku pada bosku. Aku juga belum pernah menyerang seseorang ataupun makhluk lain. Ah, kecuali makhluk setengah ikan yang saat itu ramai dibicarakan. Mereka menyerang orang-orang tak bersalah dan menghissap darah mereka sampai kering. Kalian tau berita itu?"
"Hmmm, kami tau dan sebelum kami bertindak, berita itu sudah menghilang. Kami pikir, itu hanya sebuah kabar burung. Apakah kau yang menghancurkannya?" tanya Amstel.
Jenna mengangguk. "Ya, kami bertiga tepatnya."
Baron dan Amstel memperhatikan Jenna dengan antusias. Mereka terlihat tertarik sekali kepada gadis itu. Apalagi kepada warna mata Jenna yang berubah-ubah, yang baru saja kedua pria itu sadari.
"Matamu. Apakah ada artinya?" tanya Baron.
"Entahlah, aku tidak tau. Mata asliku berwarna hijau hazel dan sejak Ortega dan Volkov memasukkan darah mereka ke tubuhku, mereka berubah warna dan kami saling terhubung. Kau tau, seperti memiliki ikatan. Apakah kalian sudah bisa melepasku? Kurasa saat ini sudah hampir pagi," jawab Jenna sekaligus bertanya.
Baron dan Amstel mengangguk-angguk kagum. Mereka menjauh sedikit dari Jenna untuk berdiskusi. Kedua vampir dewasa itu saling berbisik dan mengangguk, sesekali mereka melihat Jenna dari sudut mata mereka, lalu kembali berbisik-bisik.
Setelah diskusi yang tampaknya cukup rumit, mereka melepaskan Jenna dengan syarat. "Kau kami lepaskan. Sejauh ini, kau kami anggap tidak berbahaya. Tapi, kau harus membantu kami untuk beberapa hal. Tidak! Tidak sekarang, maksud kami untuk ke depannya jika terjadi sesuatu, semacam itu,"
Jenna mengangguk. "Baiklah. Aku juga mengajukan syarat kepada kalian. Temanku seorang manusia, kemarin Alena yang tak kusangka ternyata dia adalah vampir, menghissap darah temanku itu dan saat ini, temanku bersama Kamila Sayeed. Aku meminta Nona Sayeed untuk menghidupkannya kembali dan otomatis, temanku itu akan menjadi vampir seperti kalian juga, 'kan? Aku mau, terimalah dia dalam klan kalian. Bagaimana? Kurasa ini pertukaran yang cukup bagus,"
Baron dan Amstel kembali berpikir dan tak lama mereka mengangguk setuju. "Selama dia menjadi vampir dan jika, hanya jika, dia berubah menjadi semacam Feral, kami akan membunuhnya,"
Jenna tak tau apa itu feral dan supaya perjanjian ini cepat selesai, Jenna menyetujuinya. "Oke,"
Baron serta Amstel menumpuk tangan mereka dan Baron mengambil tangan Jenna untuk dia tumpuk di atas tangannya. "Ini perjanjian kita, siapapun yang melanggar, akan mati,"
Sinar merah muncul dari antara tangan mereka dan memancar ke seluruh kamar tersebut.
Sementara di ruang bawah tanah Kamila,
Ortega, Artemis, dan Volkov sudah berkumpul di sana. Mereka menunggu Jenna dilepaskan sekaligus menunggu Zac terbangun.
Tak lama, Jenna pun datang. "Bagaimana?"
"Sebentar lagi. Kau mau membuka penutup petinya?" tanya Kamila kepada Jenna. "Atau, kalau kau takut kau bisa mengalihkan tugas itu kepad-,"
"Aku tidak takut dan aku yang akan membuka tutup itu!" tukas Jenna.
Mereka menunggu dalam diam. Jenna berharap dalam hati, supaya Zac berubah menjadi vampir dan bukan makhluk lain yang tadi disebutkan oleh pemimpin klan.
Lima belas menit kemudian, Kamila mengangguk ke arah Jenna. "Bukalah. Kau masih memiliki darah manusia jadi jangan terlalu dekat dengannya. Dia akan merasa sangat lapar dan akan sulit beradaptasi terhadap semuanya,"
"Oke," Jenna melangkah maju.
Dia menggeser penutup peti tersebut dan begitu melihat Jenna, Zac menggeram, siap menerkam Jenna. Kedua matanya memerah dan taringnya dia keluarkan. "Rrrggghrrrrr!"
...----------------...