
Kadang, pertengkaran lebih baik daripada pura-pura menjadi orang asing yang tidak mengenal satu sama lain.
Tawa pria itu terdengar bagai lonceng kematian baginya. Senyumnya yang terlihat lebar saat berinteraksi dengan orang kantor malah menimbulkan perih yang tak berkesudahan.
Lalu ketika ia berpapasan dengan si merah muda, api mulai menyulut dadanya. Kecemburuan tidak pernah memberinya pilihan untuk tak menatap tajam pada Miranda. Ia selalu memikirkan bagaimana hubungan wanita itu dengan Adam selama ini. Tapi setelah perkataan wanita itu tempo hari, akhirnya ia mengerti. Yang menyedihkan ternyata bukan dirinya, melainkan Miranda dan mantan kekasihnya.
Hubungan tanpa ikatan, bukan teman ataupun kekasih, dua-duanya sama pengecut yang tak berani menanggung rasa sakit.
Dalam posisi Miranda, ia dapat memahami bahwa trauma atas kegagalan rumah tangganya membuat ia ragu untuk terikat kembali. Sedangkan Adam, pria itu terlalu buta oleh ego yang telah mendarah daging padanya.
Mereka adalah kombinasi yang cocok.
"Kulihat Adam tidak bersamamu tadi pagi." Miranda sempat berbisik ketika mereka berpapasan di kelokan. Tidak ada nada mengejek atau pun benci di sana. Hanya datar. "Apa kau berakhir juga seperti yang lainnya?"
Psyche tak perlu memalingkan wajah untuk melihat bagaimana ekspresi wanita itu. Wajah selalu bisa menipu untuk orang yang pernah terluka sepertinya.
"Tidak ada urusannya denganmu, Senior."
"Kau terlalu meremehkanku, Heartfillia." Miranda mengerling sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Dia itu sangat cantik dan dewasa. Psyche tak bisa memungkiri kebenaran itu.
"Bagaimana mungkin itu tidak menjadi urusanku..." Nadanya semakin memelan. Embusan napasnya membentur telinga Psyche yang sudah siap menerima kejutan lainnya. "Mantan kekasihmu itu mabuk semalaman di apartemenku."
.
.
.
"Kemarin kau tidak pulang ke rumah."
Sophia mengetahui bahwa ada yang berbeda dengan putranya akhir-akhir ini. Bau alkohol yang sempat tercium dari jas dan kemejanya tentu tak bisa ia lewatkan.
Adam bukan peminum. Putranya adalah orang yang menjunjung tinggi pola hidup sehat. Kecuali ketika ada sesuatu hal yang mengganggu pemikirannya.
Sejatinya alkohol bukanlah media yang tepat untuk menumpahkan segala permasalahan yang tak dapat dipecahkan. Untuk orang logis sekelas Adam pun masih belum mengerti bahwa alkohol hanya akan menimbulkan masalah lain.
"Aku menginap di rumah Jacob. Mana Ariel?" Akhir-akhir ini Ariel juga tampak aneh. Gadis berusia enam belas itu lebih sering pergi keluar rumah setelah kematian Sang Ayah.
"Pergi dengan temannya."
Adam mendelik dengan waspada. "Teman? Perempuan?"
"Lelaki."
Adam mendengus. "Bagaimana mungkin Ibu membiarkannya pergi dengan seorang lelaki?"
Seorang brengsek sepertinya tak ingin adiknya terluka. Tapi ia selalu melukai para wanita yang bersamanya.
"Kau terlalu berlebihan, Adam. Mereka hanya berteman."
Langkah lebarnya terhenti di antara tangga-tangga itu. "Tidak pernah ada kata teman di antara lelaki dan perempuan, Bu." Sorot matanya tak terbaca. Ia seolah sedang menyaksikan kilasan masa lalu yang pernah dilaluinya bersama para wanita.
Alis Sophia terangkat. "Ibu percaya pada Ariel, seperti ibu percaya padamu."
Percaya?
Ibunya mengenal ia sebagai seorang pria baik dan disiplin. Tidak pernah bermain wanita dan berbudi luhur. Ia adalah gambaran sempurna yang selalu dibanggakan Sang Ibu kepada rekan-rekan sebayanya. Kalau pun orang berkata buruk tentangnya, ibunya tak akan mungkin percaya.
"Adam..." Ibunya memanggil ragu-ragu. "Kau ada masalah?"
Pria itu menggeleng lemah. "Bukan hal besar, cuma masalah kantor." Katanya sambil menaiki tangga kembali.
"Kau bisa bercerita pada ibu, kapan pun kau mau, Nak."
Bagi seorang pria, mengeluh adalah pantangan. Pria adalah simbol kekuatan yang akan menanggung berapa pun banyak beban dengan tetap berdiri tegak.
Adam menyayangi keluarganya melebihi apa pun, tapi ia tidak pernah percaya pada orang lain. Ia menikmati hidupnya dengan caranya sendiri. Ia menjadi angkuh dan arogan, hanya untuk melindungi dirinya dari kekejaman dunia.
Oleh karena itu, baginya mencinta hanya buang-buang waktu, Ayah dan Ibunya saja bisa bahagia dengan cinta sepihak dari Sang Ibu. Mereka hidup tenteram karena Sophia adalah sosok yang patuh dan setia pada Sang Suami.
Adam selalu dicintai oleh siapa pun, ia disegani, ditakuti, sehingga kemungkinan kecil orang akan merendahkan dirinya.
Tapi semua itu ternyata tak bisa menenangkan hatinya sekarang. Ia mencoba berpikir bahwa mungkin saja yang ia rasakan hanya sebuah perasaan tak rela karena wanita itu telah memandang remeh dirinya dengan menyetujui perpisahan.
Biasanya para wanita akan menangis di bawah kakinya setiap ia mengancam akan memutuskan mereka. Lalu mereka akan menjadi penurut dan mencintainya sampai mereka merasa gila.
Dan siapa Psyche?
Dia bahkan tak terlalu menonjol tapi berani meremehkan dirinya.
Tapi kini mampu membuatnya selalu tak bisa tidur semalaman.