
Happy reading.
Sudah empat hari berlalu semenjak kedatangan Ibu mertuanya. Artinya, sudah satu minggu Ilham berada di rumah sakit dengan kondisi yang masih sama. Koma.
Kedua tangan Aira menggenggam cangkir berukuran sedang yang berisikan cokelat panas kesukaannya. Wanita itu menyeruput sedikit cokelat panasnya.
Walaupun sudah satu minggu berlalu pasca kejadian kecelakaan itu, namun Aira masih sangat merasakan trauma. Aira selalu menolak jika Mami Dita atau Reno mengajaknya keluar rumah dengan dalih mencari udara segar.
“Ra, jangan melamun.” tegur Reno menatap Aira dengan tatapan tak terbaca.
Aira menoleh sekilas kepada Reno. Lalu wanita itu kembali menatap ke depan. Saat ini, mereka sedang berada di ruang keluarga. Dimana terdapat beberapa sofa, satu buah televisi, dan sebuah karpet berbulu.
Aira meletakkan cangkirnya di atas meja. Wanita itu menatap lurus pada televisi yang sedang menayangkan sebuah film dokumenter. Arah pandangannya memang mengarah pada televisi, akan tetapi pikirannya melayang bercabang kemana-mana.
“Mami kemana?” tanya Aira sembari menatap sekitarnya tak menemukan keberadaan Tantenya.
“Mami lagi ada acara sama teman-temannya.” Jawab Reno yang diangguki kepala oleh Aira.
“Em, Ra.” Panggil Reno dengan nada sedikit ragu.
Aira menaikkan salah satu alisnya. “Kalau ada yang mau ditanyain, bilang aja.” timpal Aira ringan.
Reno menghembuskan napasnya yang terasa berat. Lelaki itu menyandarkan punggungnya pada sofa yang kini ditempatinya. Matanya menatap wanita berbadan dua di depannya dengan tatapan sulit diartikan.
“Are you okay, Ra?” beo Reno dengan nada pelan.
Aira menampilkan senyum simpul. “I’m okay,” sahutnya singkat.
“Jangan bohong Ra. Aku tahu sekarang kamu sedang tidak baik-baik saja.” ucap Reno yang membuat Aira terdiam seribu bahasa.
“Perempuan itu jika dirinya mengatakan baik-baik saja, berarti dia sedang berbohong.” lanjut Reno dengan wajah serius.
“Memangnya aku kenapa?” tanya Aira balik.
“Aku tahu Ra, pasti sulit untuk menerima semua ini. Tapi aku mohon, kamu masih punya Aku, dan Mami. Kamu bisa menceritakan semua keluh kesahmu, semua hari beratmu kepada kami.” Sarkas Reno menatap Aira dengan sorot teduh menenangkan.
“It’s okay kalau kamu nggak mau cerita sekarang. Asalkan, kamu jangan pendam semua kesedihan yang sedang kamu alami. Keluarin semuanya Ra,” tutur Reno lembut.
Aira menatap lelaki di depannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Wanita berbadan dua itu meremas kuat tangannya. Tak lama kemudian, ia mengangguk sambil tersenyum samar.
“Makasih … makasih udah selalu ada buat aku.” gumam Aira dengan suara bergetar menahan tangis.
Reno beranjak dari duduknya mendekati Aira. Lelaki itu membawa sepupu perempuannya ke dalam dekapannya. Tangannya mengusap punggung Aira lembut berusaha menenangkan wanita berbadan dua itu.
“Kamu itu sudah aku anggap seperti adik sendiri Ra,” ujar Reno yang masih mengusap punggung Aira.
“Ya walau pun seharusnya aku memanggil kamu dengan embel-embel ‘kakak’,” celetuknya lagi membuat Aira terkekeh kecil.
Reno tersenyum tipis melihat sepupunya yang berada dalam dekapan hangatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam sebuah ruangan yang tercium bau obat-obatan, terdapat tiga orang yang berada di ruangan itu. Wanita paruh baya itu menatap putranya yang kini terbaring lemah dengan banyaknya jarum yang terpasang di tubuhnya.
Sudah satu minggu Ilham tidak sadarkan diri. Tentu kedua orang tuanya merasa sangat terpukul dengan hal ini. Supir truk yang merupakan pelaku sudah diamankan dan dijatuhkan hukuman selama lima tahun.
“Kapan kamu sadarnya nak,” lirih Mama Lina menatap Ilham dengan tatapan sayu.
Papa Satria sedari tadi terus mengusap bahu sang istri berusaha menguatkan. Jujur, sebenarnya Papa Satria pun sama terpukulnya saat mengetahui jika putra semata wayangnya mengalami kecelakaan bahkan koma sudah satu minggu.
Papa Satria sadar jika Ilham sudah melakukan kesalahan besar kepada istri pertamanya. Mungkinkah ini pembalasan akibat perbuatan putranya terdahulu?
Papa Satria mengusap wajahnya kasar. Setelah ditinggalkan oleh istri keduanya serta putrinya yang bahkan belum bisa merasakan udara segar, kini putranya harus mengalami hal seperti ini.
Akan tetapi, bukankah setiap manusia berhak memiliki kesempatan kedua? Dan ia rasa, putranya berhak mendapatkan itu. Ilham berhak mendapatkan kebahagiaan.
“M-mama kemarin bertemu dengan Aira.” ujar Mama Lina dengan suara pelan.
Kepala Papa Satria menoleh cepat pada istrinya. “Kamu nggak salahin dia ‘kan? Kamu nggak bilang yang aneh-aneh sama dia ‘kan?” tanya Papa Satria dengan raut serius.
“Nggak Pa, justru Mama meminta maaf kepada Aira. D-dan Mama bilang kalau Ilham sedang koma.” ujarnya lirih.
Papa Satria menghela napasnya lega. “Syukur deh kalau begitu.” ucapnya.
“Perut Aira sudah besar Pa,” ucap Mama Lina seketika antusias.
“Mama nggak sangka, jika Mama akan mendapatkan cucu lagi.” ucap Mama Lina.
Senyum tipis terpatri di wajah lelaki paruh baya disampingnya.
“Sekarang kita fokus dulu pada Ilham. Nanti jika Ilham sudah sehat dan pulih, kita bicarakan sama-sama agar rumah tangga putra kita kembali utuh seperti dulu.” tutur Papa Satria bijak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BRUK!
Tas bermerek Mami Dita terjatuh di tanah setelah tubuhnya tidak sengaja menubruk seorang perempuan yang terlihat masih muda.
“Ah, maafkan saya Bu.” ujar perempuan itu seraya mengambil tas bermerek yang tergeletak di bawah.
“Sekali lagi saya minta maaf ya Bu,” ucap perempuan itu tak enak hati sambil memberikan tas Mami Dita.
“Nggak-papa,” sahut Mami Dita ramah.
“Loh, kamu ‘kan yang waktu itu ada di Panti Asuhan Pondok Indah?” tanya Mami Dita menatap perempuan di depannya dengan lekat.
“I-iya Bu, saya yang waktu itu.” balas perempuan itu meringis kecil.
“Kamu sama siapa ke Jakarta? Mau pulang ke rumah kah?” tanya Mami Dita penasaran.
“Ah, nggak Bu. Sebenarnya saya merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.” ujar perempuan itu sambil menautkan kedua tangannya.
“Oh begitu,” sahut Mami Dita mengangguk-anggukan kepalanya.
“Gimana kalau kamu bekerja di rumah saya saja? Kebetulan saya sedang membutuhkan seorang asisten rumah tangga.” cetus Mami Dita sambil menatap perempuan di depannya penuh antusias.
“Eh, gimana Bu?” tanya perempuan itu cengo. Otaknya masih berputar-putar memikirkan ucapan yang dilontarkan wanita paruh baya di depannya.
“Sudah ayo kamu ikut saya saja.” ajak Mami Dita.
Tangan Mami Dita menarik pergelangan tangan perempuan itu dan membawanya menuju sebuah mobil yang sudah menunggunya sejak sepuluh menit yang lalu. Mami Dita dan perempuan itu duduk di kursi belakang. Tak lama, mobil pun melaju dengan kecepatan rata-rata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Author note : sebelumnya aku minta maaf buat para pembaca setia cerita HEART, aku akan up 1 bab perhari nya.. karena aku harus fokus juga sama sekolahku ☹️ insya Allah jika ada waktu luang aku sempatin double up 😍...
...Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 🤗...