
Happy reading.
Hari ini ialah hari dimana Aira akan memeriksa kandungannya kepada dokter. Wanita berbadan dua itu merapikan rambutnya yang digerai indah. Aira mengusap perutnya dengan lembut.
“Ra, sudah siap?” tanya Mami Dita yang kini sudah berada di ambang pintu kamar Aira.
Aira menoleh pada Mami Dita kemudian menganggukkan kepalanya. Kedua wanita berbeda usia itu pun melangkah keluar menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Pak Man.
Mami Dita membukakan pintu mobil agar Aira segera masuk ke dalam. Tak lama, ia pun ikut bergabung duduk bersama Aira di kursi penumpang.
“Jangan ngebut ya Pak bawa mobilnya.” Pesan Mami Dita kepada Pak Man.
“Iya Bu.” balas Pak Man patuh.
Mobil yang dikendarai oleh Pak Man pun melesat pergi meninggalkan area kawasan rumah mewah nan megah itu dengan kecepatan rata-rata. Membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam untuk sampai ke rumah sakit.
Mobil yang Mami Dita dan Aira tumpangi pun sudah sampai di parkiran khusus rumah sakit. Kedua wanita berbeda usia itu keluar dari mobil.
Mami Dita memegang lengan Aira agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan kepada wanita berbadan dua dengan perut sudah membuncit itu.
Aira mendudukkan pantatnya di kursi tunggu yang tersedia di depan ruangan. Wanita berbadan dua itu melirik sekitarnya dimana kebanyakan Ibu hamil yang akan memeriksakan kandungannya ditemani oleh suaminya.
“Sudah nggak-papa. Kan ada Mami.” ujar Mami Dita yang seakan mengetahui isi hati wanita hamil tersebut.
Aira menatap Mami Dita dan menampilkan senyum tipisnya. “Iya, Mi.” ucap Aira singkat.
Setelah mendapatkan nomor antrian, Aira mendesah pelan. Nomor yang ia dapat ialah nomor antrian ke 20. Sementara itu, dokter kandungan masih memeriksa nomor antrian 9.
“Ibu Aira, silahkan masuk ke ruangan.” ucap perawat perempuan.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya nama Aira pun dipanggil untuk memasuki ruangan. Aira bangkit dari duduknya dibantu oleh Mami Dita yang selalu setia menjaganya.
Seorang dokter perempuan menyambut kehadiran Aira dan Mami Dita di ruangannya dengan senyum tipis. Dokter tersebut bernama Saskia. Dokter Saskia merupakan dokter yang dahulu pernah membantu Aira saat wanita itu tak sadarkan diri.
“Selamat siang dok,” sapa Mami Dita ramah.
“Siang juga Bu.” sapa balik dokter Saskia.
“Silahkan Ra, berbaring disini.” titah dokter Saskia sembari menuntun Aira untuk berbaring di atas brankar rumah sakit.
Aira pun merebahkan tubuhnya diatas brankar dengan hati-hati. Tanpa disuruh oleh dokter Saskia, Aira lebih dulu menyingkap bajunya hingga menampakkan perutnya yang buncit. Dokter Saskia yang melihat itu pun tersenyum simpul.
“Saya periksa dulu ya Ra, kandungannya.” Izin dokter Saskia.
Tangan dokter Saskia mengambil sebuah alat khusus untuk memeriksa kandungan. Pandangan matanya menatap USG yang menampilkan satu janin yang hidup di dalam rahim Aira.
“Bayinya sehat, detak jantungnya normal, organ tubuhnya lengkap.” tutur dokter Saskia yang masih memandangi komputer USG.
Aira kembali membenarkan bajunya setelah dokter Saskia selesai memeriksanya. Perlahan Aira mendudukkan tubuhnya.
“Kira-kira kapan Aira akan melahirkan dok?” tanya Mami Dita dengan antusias.
“Perkiraan Aira akan melahirkan sekitar dua bulan lagi.” Jawab dokter Saskia yang sedang menuliskan resep vitamin untuk Ibu hamil.
“Ini vitamin yang harus kamu tebus. Ingat ya Ra, jangan kelelahan. Karena, itu bisa berdampak pada janin yang kamu kandung.” ucap dokter Saskia memberikan nasihat kepada Aira.
“Iya dok, terima kasih.” ujar Aira diiringi senyum manisnya.
“Kalau begitu, saya dan Aira pamit ya dok. Terima kasih sudah memeriksakan kandungan Aira.” ucap Mami Dita.
“Sama-sama, itu sudah menjadi tugas saya.” balas dokter Saskia.
Aira dan Mami Dita pun perlahan berjalan keluar dari ruangan dokter Saskia. Mami Dita pergi untuk menebus vitamin yang diresepkan oleh dokter Saskia tadi. Sementara itu, Aira menunggu sambil duduk di kursi tunggu.
Aira merogoh ponselnya yang berada di dalam tas. Di dalam ponselnya, hanya terdapat nomor Mami Dita dan Reno serta Nindia saja. Aira ingat jika dulu ia membuang ponselnya ke tempat sampah.
Saat sedang asik bermain ponsel melihat-lihat postingan bayi lucu, tiba-tiba suara pekikan membuat tubuh Aira menegang.
“Ndaa!” pekik seorang batita yang sedang berada di dalam gendongan pengasuhnya.
Kepala Aira mendongak ke atas tatkala telinganya tidak asing dengan suara anak kecil itu. Lalu, pandangannya terpaku saat melihat sosok kecil yang sedang meronta-ronta di dalam pelukan seseorang.
“I-irzan,” gumam Aira lirih.
Pengasuh yang seringkali disebut nany pun menghampiri Aira dengan membawa Irzan di gendongannya. Saat sudah berada di depan Aira, tangis Irzan memecahkan lamunannya.
“Ndaaa, hiks,” Irzan terus meronta-ronta agar diturunkan dari gendongan sang pengasuh.
Aira hanya mampu menganggukkan kepalanya singkat. Wanita itu terus menatap lekat ke arah Irzan yang sudah menangis histeris.
“Boleh saya gendong Irzan?” tanya Aira seolah meminta izin.
“T-tapi kan M-mbak sedang h-hamil, nant-“
“Tidak-papa. Tolong turunkan Irzan.” titah Aira yang tidak ingin dibantah.
Nany pun menurunkan Irzan dari gendongannya. Perlahan kaki mungil nan menggemaskan itu melangkah menuju Aira dengan langkah tertatih. Tangan kecilnya langsung memeluk erat kaki Aira.
“Hiks, hiks,” terdengar isakan kecil Irzan yang terdengar memilukan bagi Aira.
“Irzan,” panggil Aira membuat kepala batita itu mendongak menatapnya.
Sungguh, hati Aira seakan tertusuk ribuan pisau saat melihat keadaan anak batita itu. Bagaimana tidak? Wajahnya memerah karena menangis, kedua matanya sembab, hidung memerah, serta pipinya yang agak tirus. Padahal saat dulu Aira merawat batita itu, Irzan terlihat sangat berisi. Tidak seperti sekarang.
Tangan Aira membawa tubuh Irzan agar terduduk di pangkuannya. Irzan pun langsung menenggelamkan wajahnya pada dada Aira. Nany-pengasuhnya menatap haru interaksi Aira dan Irzan.
“Mbak kemana aja selama ini?” tanya nany yang kini sudah duduk di samping Aira.
“Saya di Bali.” jawab Aira seraya mengusap punggung kecil Irzan.
“Den Irzan selalu mencari-cari Mbak,” ujar nany dengan nada sedih.
Aira hanya diam menanggapi ucapan nany. Wanita itu terus mengusap punggung kecil nan rapuh yang berada di dekapannya.
“Keadaan Mas Ilham … bagaimana?” tanya Aira setelah beberapa saat ia terdiam.
“Mas Ilham belum sadar Mbak.” Nany menghela napasnya lelah.
“Mbak sudah jenguk Mas Ilham?” tanya nany.
Sontak Aira menggelengkan kepalanya. Nany yang melihat itu pun hanya mampu menghela napasnya berat. Ia tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga majikannya.
“Irzan kok kurusan?” Aira beralih mengusap rambut batita itu.
“Iya Mbak, den Irzan susah makan setelah kepergian Mbak. Di ajak main juga dia nggak mau.” ucap Nany.
“Ai, ayo kita pulang. Mami sudah menebus vitaminnya.”
Sontak Aira dan nany mengalihkan pandangannya kepada Mami Dita. Mami Dita menatap anak kecil dalam pangkuan Aira dengan tatapan menelistik.
“Dia siapa?” tanya Mami Dita dengan raut wajah tak bisa diartikan.
“Ini Irzan Mi,” jawab Aira membuat Mami Dita melototkan matanya.
“Dia bukan anak kamu Aira!” seru Mami Dita dengan suara keras.
Irzan bergerak tak nyaman dalam pangkuan Aira saat mendengar seruan Mami Dita. Dengan segera Aira kembali mengusap punggung mungil itu.
“Mi, jangan kenceng-kenceng suaranya,” ringis Aira saat beberapa pasang mata menatap ke arahnya.
Seakan tersadar oleh ucapan Aira, Mami Dita pun berdeham kecil dan kembali merubah mimik wajahnya.
“M-mbak,” gumam nany dengan suara bergetar.
Tangannya mendadak lemas saat melihat pesan yang dikirimkan oleh majikannya-Mama Lina.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Aira panik saat melihat air mata bergenang di pelupuk mata pengasuh anaknya.
“M-mas Ilham Mbak..” ujar nany dengan suara menahan tangis.
“M-mas Ilham k-kenapa?” tanya Aira yang tak bisa menyembunyikan raut wajah khawatir.
Jantung Aira berdegup sangat kencang. Wanita berbadan dua itu berusaha menahan cairan bening yang siap meluncur di pipinya. Sungguh, musibah apa lagi yang akan menghampirinya?
“Mas Ilham…” lirih nany sambil menundukkan kepalanya dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Apakah Ilham sudah sadar? Atau ... meninggal?...
...Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊...