HEART

HEART
Tendangan



Happy reading.


Setelah mendapatkan penolakan dari Aira, Ilham tak pernah gentar sekalipun dan tetap mengunjungi rumah sepupu Aira. Sudah lima hari Ilham selalu mengunjungi Aira tanpa absen sekalipun. Namun, Aira masih saja tidak ingin menemui suaminya itu.


“Pak, saya mohon buka pagarnya Pak.” Pinta Ilham kepada satpam di depannya.


Saat ini ialah jam makan siang Ilham. Lelaki itu memanfaatkan waktu istirahatnya untuk menemui Aira. Dan tentunya membujuk sang istri agar mau kembali bersamanya.


“Maaf Mas Ilham, kata den Reno Mas dilarang masuk ke dalam.” tutur satpam itu sambil meringis kecil.


Meskipun tidak tahu akar permasalahannya seperti apa, akan tetapi satpam tersebut sangat prihatin dengan Ilham. Lelaki yang setiap hari selalu mengunjungi rumah majikannya. Tak jarang Reno selalu memberi bogeman kepada Ilham.


“Saya mohon Pak, sekali saja.” Pinta Ilham lagi dengan wajah memelas.


Satpam yang melihat itu pun menjadi resah sendiri. Bagaimanapun hatinya bergetar saat melihat perjuangan Ilham. Terbukti kini wajah tampan Ilham sudah berubah menjadi banyaknya lebam dan luka.


“Baiklah, tapi sebentar saja ya Mas?” ujar satpam itu yang tidak tega kepada Ilham.


Sontak Ilham tersenyum haru mendapat respon dari satpam tersebut. Lelaki itu mengucap beribu syukur dalam hatinya.


Tak lama kemudian satpam itu pun membuka kunci pagar dan membuka pagarnya dengan pelan agar tidak menimbulkan suara yang nyaring. Beruntung saat ini Reno dan Mami Dita sedang tidak ada di rumah.


“Terima kasih Pak,” ujar Ilham tulus.


“Sama-sama, ayo Mas saya antar ke dalam.” ajak satpam itu yang berjalan mendahului Ilham.


Satpam yang bernama Pak Man itu pun membawa Ilham memasuki rumah majikannya. Ia membuka pintu utama dengan penuh kehati-hatian. Setelah itu, satpam tersebut menunjukkan dimana ruangan kamar yang kini ditempati Aira.


“Biasanya jam segini non Aira berada di kamarnya Mas.” ucap Pak Man menjelaskan.


“Mas Ilham sekarang masuk saja ke dalam. Saya tunggu di luar rumah sekalian memantau jika Ibu dan den Reno pulang.” titah Pak Man.


Ilham mengangguk singkat. “Saya masuk dulu ya Pak.” ujar Ilham seraya berjalan menuju sebuah kamar.


Perlahan tangan kekar Ilham memutar knop pintu kamar tersebut dengan sangat pelan.


Ceklek!


Ilham kembali menutup pintu tersebut. Lelaki itu menatap seorang wanita yang sedang terbaring di atas kasur dengan tatapan tidak percaya. Ilham sangat senang dan bahagia bisa melihat kembali istrinya.


Ilham melangkahkan kakinya mendekati ranjang tersebut. Lelaki itu duduk di tepi ranjang. Ditatapnya Aira yang sedang tertidur pulas dengan perasaan haru.


Tangan Ilham mengusap sayang rambut Aira dengan pelan. Disingkirkannya anak-anak rambut yang sudah menutupi sebagian wajah cantik Aira. Lalu, pandangan Ilham turun ke bawah. Menatap perut Aira yang kian hari kian membesar.


Kedua matanya berkaca-kaca. Ditatapnya wajah sang istri dan perut buncitnya dengan silih bergantian. Perlahan tapi pasti, tangannya terulur pada perut buncit Aira.


Ilham mengusap perut Aira dengan penuh sayang dan kehati-hatian. Seketika Ilham terpaku saat mendapati sebuah gerakan dari dalam perut istrinya. Mungkinkah anaknya mengetahui jika sang ayah sedang berada disisinya?


“Eungghh,” Aira melenguh kecil dalam tidurnya.


Ilham seketika panik bukan main. Lelaki itu berusaha bersikap tenang agar tidak menimbulkan kegaduhan yang akan membuat Aira terbangun. Saat dirasa tidak adanya tanda-tanda Aira akan bangun, Ilham menghela napasnya lega.


Lelaki itu merogoh ponsel miliknya yang berada di dalam saku celananya. Ilham pun memotret Aira yang sedang tertidur itu.


Tiga jepretan foto berhasil Ilham lakukan. Setidaknya, Ilham bisa mengobati rasa rindunya kepada Aira setelah melihat foto tersebut.


Drrttt drttt


Bunyi pesan masuk dari ponsel Ilham membuat lelaki itu menatap ponselnya dengan raut wajah serius. Tak lama, helaan napas berat terdengar dari lelaki itu.


“Mas akan kembali lagi,” gumam Ilham menatap Aira yang masih terpejam.


Cup!


“Ayah pulang dulu ya sayang.” bisik Ilham tepat di perut Aira.


Ilham beranjak dari duduknya. Lelaki itu melangkah keluar dari kamar yang ditempati Aira. Setelah membuka pintu kamar tersebut, tak lupa Ilham menutupnya kembali dengan pelan.


Ilham menghampiri Pak Man yang sedang berdiri di dekat pintu utama rumah. Lelaki itu mengulas senyum tipis saat mengingat kebaikan satpam tersebut kepadanya hari ini. Sungguh, Ilham tidak akan pernah melupakan kebaikan lelaki paruh baya tersebut.


“Pak,” panggil Ilham.


Pak Man menoleh pada Ilham. Ia menghela napasnya lega setelah menyadari Ilham di sekitarnya.


“Syukurlah Ibu dan den Reno belum datang.” ujarnya seraya mengelus dadanya lega.


“Ini untuk Pak Man karena telah membantu saya bertemu dengan istri saya.” ucap Ilham sambil menyodorkan lima lembar uang berwarna merah.


Tangan Pak Man terangkat. Lelaki paruh baya itu menolak uang pemberian dari Ilham.


“Tidak usah Mas. Saya ikhlas membantu Mas Ilham.” ucapnya dengan ramah.


“Tidak, Pak Man harus menerima uang ini. Anggap saja ini rezeki untuk Bapak.” Ilham membawa telapak tangan Pak Man dan menyimpan uang tersebut di telapak tangan lelaki paruh baya itu.


“Terima kasih banyak Mas Ilham,” ucap Pak Man yang terharu.


“Justru saya yang seharusnya berterima kasih.” timpal Ilham.


Ilham melirik jam tangannya sekilas. “Kalau begitu, saya pamit pulang Pak. Saya ada meeting sebentar lagi.” Pamit Ilham kepada Pak Man.


“Hati-hati Mas Ilham. Semoga Mas Ilham selalu berada dalam lindungan-Nya.” sahut Pak Man.


“Saya minta tolong jangan memberitahu Aira dan Reno jika hari ini saya datang kesini.” Pinta Ilham sebelum lelaki itu menaiki mobilnya dan melesat pergi menuju kantornya.


Pak Man menatap kepergian mobil Ilham dengan tatapan sulit diartikan. Seharusnya ia tidak boleh ikut campur dalam masalah yang dihadapi keluarga majikannya. Akan tetapi, lelaki paruh baya itu tidak tega saat melihat Ilham.


“Semoga masalah ini cepat berlalu. Dan semoga, Mas Ilham segera disatukan kembali dengan non Aira.” gumam Pak Man.


Lelaki paruh baya itu pun kembali menutup pagarnya dan tak lupa menguncinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sepanjang jalan menuju kantornya, Ilham tak berhenti menampilkan senyum lebar. Lelaki itu sepulang dari rumah sepupu Aira terus menampilkan raut sumringah. Pandangannya memang fokus kepada jalanan, akan tetapi hati dan pikirannya terfokus pada Aira seorang.


Mobil yang ditumpangi lelaki itu berhenti tatkala lampu merah menyala. Ilham merogoh ponselnya dan membuka galeri. Sebuah foto yang dipotretnya beberapa menit yang lalu membuat senyumnya tak pernah luntur sekalipun.


“Ah, Aira makin cantik saja.” desis Ilham menatap foto Aira yang sedang tertidur.


Memang, Aira itu sangat cantik meskipun ia sedang tertidur. Apalagi semenjak kehamilannya, aura dalam diri wanita berbadan dua itu seakan menguar kemana-mana. Tak jarang, banyak para lelaki saat di Bali yang mendekatinya.


“Tunggu Mas, sayang.”


“Mas akan membawamu dan calon anak kita pulang.”


“Kita akan bersama-sama lagi.” gumam Ilham menatap foto tersebut dengan sorot rindu dan teduh.


Setelah lampu hijau menyala, Ilham kembali menyimpan ponselnya dan melajukan mobilnya menuju kantornya dengan kecepatan rata-rata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Mau bilang apa sama Mas Ilham? ...


...Pak Man? ...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😍