
"Apa yang kau lakukan?"
Kedua orang itu bertatapan untuk sejenak.
Angin musim panas terasa dingin menyentuh kulitnya. Pria itu menyeringai, "Menemui Adam, huh?"
Miranda sempat mengira bahwa pria yang keluar dari mobil berwarna abu itu adalah Adam. Karena mereka adalah sepupu, semuanya terasa mungkin untuk memiliki kemiripan dan membuat banyak orang tertipu. Ya. Kadang Jacob dan Adam memang dianggap sebagai saudara kembar.
Tapi hati tak pernah bisa tertukar, ia tahu ke mana tempatnya ditakdirkan. Meski Miranda sadar...jatuh pada salah satu dari dua orang itu tak pernah ia inginkan untuk menjadi takdirnya.
Semua orang tahu mereka terjebak dalam labirin yang membuat mereka selalu kembali ke jalan yang salah.
"Bukan urusanmu," Miranda melewati pria itu dan berusaha untuk tak terpengaruh oleh seringainya.
Dan semua orang juga tahu bahwa Jacob tak akan melepaskan Miranda dengan mudah. Lengannya dicekal seolah tak membiarkan wanita itu mengabaikannya untuk yang ke sekian kali.
"Rasa kecewamu jelas terlihat sekali, Miranda." Jacob terkekeh, "Baru sadar kalau kau sudah tidak mempunyai kesempatan lagi, ya?"
"Katakan apa pun yang kau mau," Miranda membalas tatapan itu, tatapan yang selalu membuatnya merasa takut dan bersalah sekaligus. "Aku tidak punya waktu untuk meladenimu."
Kali ini Jacob membiarkan tangan halus itu terlepas dari genggamannya. Melemparkan sebuah lirikan singkat, Miranda benar-benar tidak membuang waktu untuk angkat kaki dari sisinya.
"Seandainya Adam tahu apa yang terjadi di antara kita malam itu..."
Miranda kembali berbalik, dengan langkah cepat dan ekspresi yang tak bisa dikatakan tenang, wanita itu berkata, "Kita selesaikan urusan kita nanti."
Jacob tersenyum puas, membelai sisi wajah rupawan sang wanita dengan jemari kasarnya. "Kau terlalu gegabah Miranda. Kau bisa mengabaikanku sekarang, tapi tak lama lagi kau yang akan mengejarku."
Keduanya tak menyadari bahwa Sophia melihat pemandangan intim itu dari balik jendela dengan wajah sendu. Ia tak melewatkan semua hal yang dilakukan Jacob pada Miranda, termasuk kecupan singkat di pipi wanita itu sebelum Jacob memasuki rumahnya.
"Aku tidak bisa, Bibi. Aku rasa sudah benar-benar tidak ada celah bagiku."
"Kau yakin, Miranda?"
"Aku selalu tidak ingin meyakininya," seharusnya ia sadari bahwa senyuman wanita itu adalah topeng untuk tangisan dalam hatinya, "Meski cinta tak terbalas itu menyakitkan, tapi memaksa Adam untuk mencintaiku hanya akan menyakitiku lebih dalam lagi."
.
.
.
Tubuhnya di dorong dengan kasar, lalu perih mulai menjalar ketika satu tindakan yang tak diduga itu meruntuhkan seluruh harga dirinya.
"Ada—"
PLAK!
Hingga Psyche yang masih berdiri di depan pintu pun ikut tertegun. Lebih terkejut lagi ketika pria Louvander itu berkata, "Ini semua hanya salah paham... Psyche." Seolah telah menyadari kehadirannya tanpa perlu berbalik sekali pun.
Wanita itu masih memegangi pipinya yang memerah, sementara kedua matanya membulat tak percaya. Satu; karena tindakan Adam, dua; karena menemukan Psyche Heartfillia di depan pintu kamar dengan bertelanjang kaki.
"Apa-apaan ini?!"
Adam mendelik setelah wanita itu berteriak, "Seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu—Karin."
Sang wanita tertawa, masih tak percaya dengan apa yang ia dapatkan di penginapan mahal seorang Adam Louvander.
"Menarik sekali," Karin menatap dua orang itu secara bergantian. Ia menunjukkan tawa sinisnya tanpa ragu, "Aku rasa aku sudah mengerti sekarang. Jadi semalam, wanita yang kau maksud itu adalah si Heartfillia ini?"
"Baguslah kalau kau mengerti," Ekspresi dan nada dinginnya adalah peringatan, seolah ingin menegaskan pada Psyche bahwa kehadiran wanita itu bukanlah kehendaknya. "Dengan begitu kau bisa cepat angkat kaki dari sini."
"Adam!"
"Kita sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi." Matanya berkilat tajam, membuat Karin tanpa sadar memundurkan langkahnya dengan tatapan gemetar. "Atau perlu kuseret kau dengan kedua tanganku ini?"
Psyche masih di sana. Menyaksikan semua itu dan menebak-nebak apakah semua hanya sandiwara semata?
"Haha..." Karin tertawa kembali, lebih keras, menggema di ruangan itu. Harga dirinya terluka, tapi amarah sudah terlanjur membakar hatinya. "Sebuah berita bagus, seharusnya aku bisa menduga bahwa kau akan berakhir dengannya juga." Tatapan sinis beralih pada Psyche, telunjuknya tertuju pada wanita itu. "Kau lihat? Adam juga akan melakukan hal yang sama padamu suatu saat nanti."
Langkahnya kasar dan tergesa. Sebelum benar-benar menghilang, wanita itu sempat membanting pintu dan mendelik ke arah Adam.
Tidak. Adam tidak pernah bersandiwara. Bukankah ia selalu mengatakan bahwa pria itu adalah pria yang paling jujur sedunia?
"Kami tidak sengaja bertemu tadi malam, saat aku kembali ke kios itu." pria itu berbalik, belum merubah ekspresinya sama sekali. "Dia sedikit mabuk dan bercerita bahwa dia telah bercerai dengan suaminya."
Psyche menunduk. Kepalanya terasa lebih pusing dan tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga ketika Adam mendekat, Psyche masih mematung dengan tatapan yang tak pernah beralih dari lantai kayu di bawah kakinya.
"Aku tahu, kau tidak pernah mempercayai siapa pun, seperti diriku." Adam berbisik pelan, dengan gerakan kaku tangannya meraih wanita itu ke dalam pelukan. "Tak perlu mempercayainya jika kau tidak mau."
Psyche menelan ludah. Dahinya bersentuhan dengan dagu pria itu. Lalu ia mendongak, menatap ke arah Adam yang tengah menatap ke arahnya juga.
Mereka sama-sama mencintai, tapi tidak pernah mempercayai satu sama lain. Itu sama saja tidak berarti apa-apa. Fondasinya pun tidak ada, bagaimana mereka bisa membangun hubungan ini menjadi lebih kuat?
Kepercayaan itu lebih mahal dari cinta. Kau bisa jatuh cinta pada seorang ********, tapi tidak pernah bisa mempercayainya sampai kapan pun. Maka selama itu juga, kau tidak pernah membutuhkannya dalam hidupmu.
Mungkin Adam hanya tidak ingin mengakui bahwa ia mulai mempercayai wanita itu, karena nyatanya ia tidak ingin melibatkan Psyche dalam kesalahpahaman. Juga, saat ia mabuk-mabukan setelah melepaskan wanita itu dengan tangannya sendiri.
Adam tidak pernah 'sejujur' itu, jika Psyche tahu. Ia enggan terlihat lemah dan payah. Setidaknya harus mempertahankan sedikit harga dirinya sebagai seorang lelaki. Mengais sisa-sisa yang telah runtuh sejak ia berlutut di bawah kaki Psyche dan menangis untuknya.
"Hanya satu yang benar-benar aku percayai selama ini," Psyche berjinjit, menarik leher Adam dan ******* bibirnya singkat. Menghapus bekas bibir wanita itu dari miliknya. "Kau tidak pernah mencintainya, sekalipun dia adalah wanita yang pernah kau banggakan di hadapanku dan membandingkannya."
Adam mengerjap, "Kau masih mengingat hal itu?"
Psyche buang muka, "Selalu, Adam. Wanita tidak akan pernah bisa melupakan hal yang membuat hatinya sakit."
"Kalau begitu, bagaimana cara menyembuhkannya?"
.
.
.
"Maaf aku terlambat,"
Itu lebih baik daripada Miranda menolak ajakannya untuk bertemu di salah satu kafe yang tidak terlalu ramai.
Leon tersenyum tipis sambil menegakkan tubuhnya. "Tidak masalah." Tangannya mengibas ringan, "Perlu kupesankan sesuatu?"
Miranda menggeleng, "Tidak usah, aku juga tidak bisa berlama-lama di sini." Ia tidak mungkin mengatakan bahwa telah menghabiskan dua cangkir teh di Mansion Louvander sebelum bertemu pria itu. "Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?"
Miranda tampak gelisah dan terburu-buru dalam sudut pandang Leon. Ketenangan dan kedewasaan yang selalu ditampilkannya hilang, ia berharap semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan Adam ataupun Psyche.
"Aku menyukaimu," kata Leon tanpa basa-basi dan Miranda seolah tak begitu terkejut dengan pernyataan itu. "Kau pasti sudah tahu dari awal 'kan?"
Ia tahu hati wanita itu untuk siapa, tapi ia tak ingin menyerah sebelum Miranda memberikan jawabannya sendiri.
Miranda menggeleng pelan, senyumnya terlihat dipaksakan. Dulu ia akan senang menerima banyak pernyataan seperti ini dari seribu pria. Berbanding terbalik setelah ia ditolak satu pria, semuanya malah terasa merepotkan.
Lebih dari itu...alasannya bukan masalah Adam lagi. Untuk itu ia memilih untuk melepaskan seseorang yang tak tidak pernah ada dalam genggamannya. Juga, mematahkan satu hati lagi, sebelum mengakhiri semuanya.
"Aku tidak bisa, bukan karena seseorang yang aku cintai, tapi karena aku tidak ingin melibatkanmu dalam semua ini."
Di antara semua pria yang pernah dikenalnya, Leon adalah pria yang selalu memberikan senyum hangat tanpa topeng dan kepura-puraan. Mungkin semua orang bisa menyukainya, tapi melindunginya lebih penting. Terlalu kejam untuk memanfaatkan kebaikan hatinya.
"Aku tahu, Miranda," tanpa diduga sang pria tersenyum tulus, "Aku hanya ingin kita bisa berteman baik meski kau tahu...aku adalah sahabat Psyche."
Ah, Psyche.
Psyche yang telah mengambil perhatian Adam darinya.
"Aku mengerti," Miranda tersenyum pahit, "Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak membenci wanita itu."
Ia hanya tidak mau mengakui kekalahannya sendiri.
"Syukurlah," Leon menghela napas lega, "Aku harap kau bisa berbahagia, Miranda."
Kepala wanita itu terangkat, tak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulut seorang pria yang selalu merasakan cinta sepihak.
Sekali lagi Leon tersenyum, "Bahagia tak selalu berarti mendapat apa yang kita inginkan." Pria itu membawa pandangannya ke arah jendela. Melantunkan sebuah doa untuk satu orang wanita lagi yang jauh di sana. "Kalau jalannya sudah seperti ini, mungkin saja Tuhan tahu bukan dia yang kita butuhkan."