HEART

HEART
Pernyataan Yang Mengejutkan



Happy reading.


Setelah mendapat kabar dari salah satu bodyguardnya, Reno langsung memberi tahu Maminya. Tepatnya hari ini, lelaki itu dan Maminya akan berangkat ke Bali. Padahal waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.


Seharusnya, Reno dan Mami Dita sudah dari kemarin berangkat menuju Bali. Hanya saja karena ada sebuah meeting dadakan, mereka membatalkan keberangkatannya.


Reno dan Mami Dita saat ini sudah berada di dalam pesawat. Keduanya memakai kelas ekonomi agar nyaman. Tak terasa, dua jam kurang mereka di dalam pesawat.


Setelah pesawat landing, Reno dan Mami Dita segera membawa barang-barang mereka. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di hadapan keduanya. Mami Dita membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang. Sementara Reno duduk di samping kursi kemudi.


Setelah memberi tahu alamat yang akan dituju, pria yang memakai baju serba hitam itu pun segera melajukan mobilnya menuju alamat tersebut.


Kurang lebih satu setengah jam menempuh alamat yang dituju. Setelah sampai, Reno dan Mami Dita keluar dari mobil. Keduanya berjalan beriringan melewati beberapa rumah. Langkah kaki Reno terhenti di depan sebuah rumah yang terbilang kecil.


Keduanya berjalan mendekati rumah yang terlihat kecil namun nyaman itu. Reno mengetuk pintu rumah dengan tergesa-gesa.


Tok tok tok!


Tidak ada sahutan dari sang pemilik rumah. Tidak ingin menyerah begitu saja, lelaki itu kembali mengetuk rumah tersebut.


Tok tok tok!


“Iya sebentar!” sahut pemilik rumah itu sedikit berteriak.


Reno dan Mami Dita yang mendengar sahutan itu mendesah lega. Keduanya berpikir jika orang yang mereka cari sedang tidak ada di rumah. Bisa bahaya, pikir mereka.


Ceklek!


Terlihat seorang wanita dengan perut buncitnya membuka pintu rumah. Wanita itu mengeryitkan dahinya tatkala melihat tamu yang datang ke rumahnya. Tubuhnya seakan kaku saat mendapati pelukan dari seorang wanita.


“A-Aira,” ucap Mami Dita dengan lirih.


“M-masuk dulu Tan,” ajak Aira kepada Mami Dita dan Reno.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah kontrakan Aira. Mami Dita dan Reno mendudukkan tubuhnya di atas karpet yang tersedia di ruang tamu. Sementara itu, Aira menuju ke dapur untuk membawa air minum kepada tamunya.


Reno dan Mami Dita mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Keduanya saling bertatapan seolah sedang memikirkan hal yang sama.


Tak lama kemudian, Aira datang dari arah dapur dengan membawa sebuah nampan di tangannya. Wanita itu meletakkan dua gelas berisi air putih di atas karpet.


“Maaf Tan, di rumah Aira nggak ada apa-apa.” ujar Aira sambil meringis kecil.


“Nggak-papa, justru Tante yang seharusnya minta maaf. Maaf sudah mengganggu waktu kamu pagi-pagi begini.” timpal Mami Dita.


“Nggak ganggu kok Tan,” sahut Aira.


Reno hanya terdiam sejak Aira duduk di depannya. Lelaki itu memandang lekat wajah Aira. Kedua mata lelaki itu berkaca-kaca mengingat siapa identitas sebenarnya wanita di depannya.


“Em, kalau boleh tahu. Tante ada keperluan apa ya datang ke rumah?” tanya Aira.


Mami Dita menghela napasnya pelan. Wanita yang sudah memasuki usia kepala lima itu menatap sang keponakan dengan tatapan hangat.


“Tante ….. Tante mau memberi tahu sesuatu sama Aira.” jawab Mami Dita.


Kening Aira kembali mengeryit. “Soal apa ya, Tan?” tanyanya.


“Saya ini ….. Tante kamu Aira.” ucap Mami Dita dengan lugas.


Cukup lama Aira terdiam setelah mendengar perkataan yang diucapkan Mami Dita. Kepalanya seakan berputar memikirkan sesuatu.


“M-maksudnya, gimana ya?” tanya Aira setelah beberapa saat terdiam.


“Kamu adalah sepupuku.” ucapan Reno mampu mengalihkan pandangan Aira dari Mami Dita.


“Kamu masih keluarga kita Aira.” timpal Mami Dita.


Aira tersenyum simpul mendengar ucapan lelaki itu. “Aku nggak tahu siapa kedua orang tuaku. Dan, kalian bilang ….. kalau aku adalah keluarga kalian?”


“Tapi, maaf. Aku nggak begitu percaya..” Aira menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Mami Dita yang melihat respon Aira pun terdiam. Wajar saja jika Aira tidak mempercayai ucapannya. Mengingat jika mereka baru saja bertemu beberapa hari yang lalu.


“Tante, tahu pasti kamu tidak akan percaya dengan yang diucapkan Tante.” ucap Mami Dita.


“Kamu harus lihat foto ini.” Mami Dita merogoh tas bermereknya dan mengeluarkan sebuah foto yang terlihat sudah usang namun masih dapat terlihat.


Wanita berbadan dua itu pun mengangkat kepalanya. Menatap kedua orang di depannya dengan pandangan sulit diartikan. Mami Dita tersenyum simpul setelah melihat respon Aira.


“Mereka ialah kedua orang tuamu, Aira.” ujar Mami Dita.


“A-apa?” cicit Aira dengan suara tertahan.


“Tante mempunyai seorang kakak yang bernama Haris. Mas Haris menikah dengan Mbak Airin, yaitu Mama kandung kamu.” Mami Dita pun mulai bercerita tentang kedua orang tua Aira.


“Tak lama setelah lima bulan menikah, Mbak Airin memberi kabar kepada kami jika beliau sedang mengandung.” Mami Dita tersenyum simpul saat mengingat kembali mendiang kakak iparnya.


“Setelah Mbak Airin melahirkan, dan saat kamu baru berusia tiga bulan, Mas Haris dan Mbak Airin pergi menuju Surabaya untuk menemui salah satu temannya. Tapi naas, saat diperjalanan ….. mereka mengalami kecelakaan.”


“Mobil Mas Haris menabrak sebuah pohon. Saat itu, para warga berdatangan untuk melihat kejadian tersebut. Salah satu warga mengecek keadaan mereka. Naas, nadi keduanya sudah tidak berdenyut lagi.” tutur Mami Dita dengan suara bergetar menahan tangis.


Reno mengusap kedua bahu Maminya berusaha menenangkan. Sementara itu, Aira kembali memandangi sebuah foto yang ada di genggaman tangannya. Air matanya sudah berlinang di pelupuk mata.


“Beruntung, ada salah satu Ibu-Ibu yang melihat keberadaan kamu. Tanpa pikir panjang, Ibu itu langsung membawa kamu yang masih bayi menuju sebuah panti asuhan terdekat. Tapi tak disangka, ia meletakkan kamu begitu saja di depan pintu tersebut."


Bahu Aira bergetar hebat. Aira terisak pelan sembari mengusap foto kedua orang tuanya yang sudah usang itu. Hatinya berdenyut nyeri. Pernyataan jika kedua orang tuanya telah tiada sungguh menggoreskan hati Aira.


Aira seringkali berdo’a agar bisa dipertemukan kembali dengan kedua orang tuanya. Akan tetapi, sepertinya permintaan Aira yang satu ini tidak bisa lagi terwujud. Sakit hatinya tidak sebanding dengan rasa sakit yang ditorehkan Ilham kepadanya.


Kabar jika kedua orang tuanya sudah tiada membuat Aira ketar ketir. Sesak.


Sungguh pernyataan kehilangan kedua orang tuanya, seperti ada badai besar yang menerpa hidupnya. Perlahan foto dalam genggaman tangan Aira terlepas. Kedua matanya tertutup sempurna. Wanita itu tak sadarkan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul satu siang, Ilham kembali mengunjungi rumah kontrakan Aira. Lelaki itu memandangi rumah berukuran kecil ini dengan tatapan sedih. Jadi, selama ini istri serta calon anaknya tinggal di rumah yang seperti ini?


Lalu, bagaimana kondisi istrinya sekarang? Aira selalu menjaga kesehatannya demi calon anaknya dan dirinya ‘kan? Pikir Ilham.


Tok tok tok!


Sudah lebih dari sepuluh menit Ilham berdiri di depan rumah kontrakan Aira. Namun, sampai saat ini sang pemilik rumah belum juga menampakkan hidungnya.


“Ra, buka pintunya,” ujar Ilham sedikit berteriak.


“Ini Mas, Ra.” ujarnya lagi.


“Mas tahu Mas banyak salah sama kamu. Tapi, Mas mohon Ra buka pintunya.” Pinta Ilham dengan suara memelas.


Ibu Tuti selaku pemilik kontrakan datang menghampiri Ilham. Wanita paruh baya itu mendengar teriakan dari dekat rumahnya. Setelah dilihat, ternyata lelaki kemarin yang mendatangi salah satu rumah kontrakannya.


“Maaf, Mas cari siapa?” tanya Ibu Tuti.


“Saya cari istri saya Bu. Aira-nya ada di rumah ‘kan?” tanya Ilham dengan tatapan cemas.


“Loh, baru saja tadi neng Aira dibawa pergi sama dua orang.” tutur Ibu Tuti.


“D-dibawa pergi?” beo Ilham mencoba memastikan.


Ibu Tuti menganggukkan kepalanya.


“Sama siapa Bu?” tanya Ilham.


Jantung lelaki itu berdegup sangat cepat. Tatapan cemas dan khawatir terpatri jelas di raut wajah Ilham.


“Ibu nggak tahu Mas siapa mereka. Tapi katanya, masih keluarganya.” timpal Ibu Tuti.


Ilham menghela napasnya kecewa. Pupus sudah harapannya untuk bertemu dengan istri tercintanya. Padahal, baru kemarin dirinya mendapat kebahagiaan karena bertemu Aira. Terlebih saat ia mengetahui jika Aira sedang mengandung buah cinta mereka.


Namun, seakan dihempaskan ke dalam jurang yang paling dalam. Tubuh Ilham sangat lemas mendengar penuturan yang disampaikan Ibu Tuti tadi. Wajahnya mendadak pias.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Aku minta maaf kemarin nggak update 😕...


...Semoga suka sama bab 27😊...


...Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 🙏🏻🤗...