
Happy reading.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Selepas makan malam, Aira hanya berdiam diri di kamar barunya. Ya, saat ini Aira tengah berada di kediaman keluarga barunya.
Wanita berbadan dua itu mengedarkan pandangannya pada sekitar kamar. Kamar yang ia tempati saat ini ialah bekas kamar kedua orang tuanya. Meskipun sudah 24 tahun berlalu, akan tetapi kamar ini masih dirawat dan dijaga.
Aira melangkah kecil mendekati sebuah nakas di samping tempat tidur. Tangannya terulur mengambil sebuah pigura kecil. Senyum simpul ia tampilkan di wajahnya yang semakin bersinar.
“Mama,”
“Papa,” gumam Aira tatkala melihat pigura tersebut.
Aira sungguh tidak menyangka jika tulisan takdirnya akan seperti ini. Wanita itu ingin marah, kecewa, bahkan tidak terima. Namun, bukankah Tuhan sudah mempersiapkan semuanya untuk makhluknya?
Aira percaya, jika suatu saat nanti … Ia akan merasakan kebahagaiaan yang saat ini tidak wanita itu dapatkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini ialah hari terakhir Ilham dan Devan berada di Bali. Kerja sama yang mereka jalin dengan salah satu perusahaan industri ternama berjalan sempurna. Saat ini, Ilham dan Devan tengah mengunjungi pusat perbelanjaan untuk membeli oleh-oleh.
“Dev, beli sebanyak yang kamu mau. Hari ini, saya yang traktir kamu.” ujar Ilham.
Devan tersenyum simpul setelah mendengar perkataan atasannya. “Baik, Pak.” Jawabnya.
Ilham dan Devan pun berjalan berlainan arah. Devan berjalan menuju tempat makanan khas oleh-oleh dari Bali. Sementara itu, Ilham melangkahkan kakinya menuju stan pakaian. Lelaki itu melihat-lihat pakaian di sekitarnya dengan tatapan bingung.
Tangan kekarnya meraih salah satu pakaian seperti dress selutut berwarna putih. Ilham pun tanpa pikir panjang meraih lima set dress selutut. Setelah itu, ia melangkah menuju pakaian khas anak-anak. Ilham membelikan Irzan lima set pakaian.
Langkah Ilham terhenti saat mata lelaki itu menatap berbagai macam pakaian bayi di depannya. Tangannya meraih salah satu pakaian mungil nan menggemaskan itu. Ilham menjadi ingat dengan calon anaknya.
Senyumnya mengembang lebar tatkala lelaki itu mengingat perut istrinya yang membuncit. Dikembalikannya lagi pakaian bayi tersebut pada tempat asalnya.
“Nanti saja deh, beli sama Aira.” Putusnya setelah memikirkan sesuatu.
Sebenarnya, Ilham ingin sekali membeli pakaian bayi yang terlihat menggemaskan itu. Namun, lelaki itu mengurungkan niatnya. Lebih baik nanti saja membelinya bersama sang istri tercinta langsung.
Setelah dirasa cukup dengan belanjaannya, Ilham pun duduk di kursi yang tersedia di dalam pusat perbelanjaan itu. Tak berapa lama, Devan datang menghampiri Ilham dengan membawa beberapa oleh-oleh yang dibelikannya.
“Mari kita bayar dulu.” ajak Ilham berdiri dari duduknya menuju kasir.
Setelah mengantri lumayan lama, tibalah giliran Ilham dan Devan untuk membayar belanjaan mereka masing-masing.
“Totalnya 30.000.000,00 Pak.” ucap kasir tersebut setelah menghitung semua belanjaan Ilham dan Devan.
Ilham mengeluarkan kartu black card miliknya, dan diserahkan kartu tersebut kepada kasir. Kasir perempuan itu pun menerima kartu tersebut dengan tangan bergetar. Bagaimana tidak? Kasir tersebut baru pertama kali memegang kartu itu.
“Te-terima kasih.” ucap sang kasir dengan kikuk.
Ilham dan Devan pun berjalan keluar dari pusat perbelanjaan itu dengan menenteng masing-masing kantong kresek berisi oleh-oleh. Ilham memasuki mobil dan duduk di kursi samping kemudi.
Sementara Devan duduk di kursi kemudi. Tak lama, mobil yang mereka tumpangi pun melesat pergi meninggalkan kawasan pusat perbelanjaan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Nda,” ujar Irzan dengan nada lirih.
Mama Lina menghela napasnya lelah. Sudah dua hari yang lalu Irzan selalu memanggil-manggil nama Aira. Terkadang, batita itu akan menangis setelah mulutnya bertanya-tanya dimana Bundanya.
Yang membuat Mama Lina aneh ialah, Irzan tidak pernah menanyakan keberadaan Ibu kandungnya.
“Bunda-nya lagi sama ayah dulu Zan,” sahut Mama Lina.
“A-au Nda!” pekik batita itu berteriak histeris.
Mama Lina menimang-nimang tubuh Irzan yang saat ini ia gendong. Beberapa kali pula Irzan menggeliat tak nyaman di gendongannya.
“Kenapa Ma?” tanya Papa Satria berjalan menghampiri istrinya.
“Ini loh Pa, Irzan nangis terus dari kemarin.” balas Mama Lina dengan tatapan memelasnya.
“Nda,” cicit Irzan dengan suara kecil.
“Coba Mama telpon Ilham kapan dia pulang.” titah suaminya.
“Mama takut ganggu dia Pa. Lagian, Ilham ‘kan hari ini pulang? Paling nanti sorean kalau nggak, malam sampainya.” tutur Mama Lina.
“Zan au Nda,” Papa Satria menatap cucunya dengan tatapan kasihan.
Lekaki paruh baya itu mengambil alih sang cucu dari gendongan istrinya. Setelah Irzan berada dalam gendongan Papa Satria, diusapnya pelan punggung kecil nan rapuh itu.
“Irzan sabar ya, sebentar lagi Ayah pulang kok.” ujarnya seraya menenangkan sang cucu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Aira bangun lebih awal seperti biasanya. Wanita itu membereskan kembali tempat tidurnya. Aira pun masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dekat ruang tengah.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Aira kembali ke dalam kamar. Aira memang seperti ini. Dirinya sudah terbiasa bangun sepagi mungkin.
Rumah masih terlihat sangat sepi. Mungkin, penghuninya masih terlelap di kamarnya masing-masing. Pikir Aira.
Wanita berbadan dua itu memandang pemandangan lewat kaca kamarnya yang menampilkan sebuah taman kecil yang dibuat kedua orang tuanya dulu. Mami Dita bercerita kepadanya, jika taman tersebut dibuat khusus untuk dirinya untuk bermain nanti.
Terdengar helaan napas panjang dari Aira. Wanita berbadan dua itu mengalihkan pandangannya lagi menatap pigura besar yang terpajang di dinding. Foto itu ialah foto pernikahan kedua orang tuanya. Dipandangnya kedua orang tua Aira dengan tatapan sayu.
“Semoga …” rasanya tenggorokan Aira seakan tercekat saat akan mengucapkan sesuatu.
“Semoga Mama dan Papa bahagia disana.” Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya perkataan itu lolos dari bibir tipis Aira.
Aira melirik ke arah pintu kamar saat mendengar suara ketukan. Wanita itu berjalan mendekati puntu tersebut. Perlahan tangannya memutar knop pintu dengan pelan.
Ceklek!
Terlihat seorang lelaki sedang berdiri di depan kamarnya. Lelaki itu memberi senyum manis tatkala melihat Aira. Aira balas dengan tersenyum tipis.
“Ayo Ra, kita ke ruang tengah.” ajak Reno yang diangguki kepala oleh Aira.
Mereka berdua pun melangkah menuju ruangan tengah. Aira dan Reno duduk di sofa berseberangan. Aira mengedarkan pandangannya saat tak melihat keberadaan Tantenya.
“Nyari Mami ya?” tebak Reno.
Aira mengangguk singkat. “Tante Dita kemana?” tanyanya.
“Jam segini Mami masih mandi Ra,” jawab Reno ringan.
Aira hanya manggut-manggut. Keheningan seketika melanda keduanya. Aira mengusap kedua tangannya mencoba menghilangkan perasaan canggung dan baru yang ia rasakan.
“Canggung ya Ra?” Reno terkekeh kecil melihat tingkah sepupunya.
Aira hanya menyengir saja.
“Nggak-papa. Wajar kok kalau kita merasa canggung.” celetuk Reno membuat seluruh atensi Aira menatap ke arahnya.
“Oh ya, aku udah denger masalah rumah tangga kamu sama Ilham.” ujar Reno dengan nada serius.
Aira sedikit terkejut saat mendengar penuturan yang disampaikan oleh Reno. Akan tetapi, wanita itu memilih bungkam dan mendengarkan ucapan Reno dengan seksama.
“Ra, kamu itu sepupuku. Keluargaku. Jadi, kalau ada apa-apa … jangan sungkan cerita sama Aku dan Mami ya?” tutur Reno lembut.
Aira terpana setelah mendengar ucapan itu. Pasalnya selama ia hidup dipanti asuhan, Aira menganggap semuanya saudaranya. Tetapi Reno berbeda, dia ialah sepupunya.
Lelaki itu masih satu darah dengannya. Aira benar-benar tersanjung mendengarnya. Ia seakan-akan memiliki seorang Kakak yang siap untuk selalu melindunginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊