HEART

HEART
11



Satu dari sekian wanita yang pernah ditemuinya, Psyche mungkin yang terlihat paling lemah dan mudah ditebak. Namun seperti bunglon, terkadang ia menganggap bahwa itu adalah kamuflase belaka. Ada sesuatu yang tidak bisa ia lihat meski wanita itu pernah ada dalam genggamannya.


Adam selalu membayangkan bagaimana jika Psyche yang bebal dan pembangkang itu bisa bertekuk lutut di bawah kakinya. Menjadi sosok yang manis dan memenuhi semua keinginannya. Tapi yang seperti Psyche bilang, ia tidak akan menjadi seperti itu sekalipun cintanya benar adanya. Wanita itu menantang harga dirinya sebagai pria. Seolah meragukan bahwa ia tidak akan sanggup membuat Psyche menjadi wanita bodoh yang melakukan segalanya untuk cinta.


Wanita itu menolak untuk dipermainkan. Sebagai gantinya Adam merasa dirinyalah yang sedang dipermainkan sekarang.


Psyche datang ke dalam ruangannya dengan ekspresi datar dan dingin. Rambut yang biasa diikat tinggi dibiarkan tergerai, sedikit bergelombang di bagian ujungnya. Ada riasan di sekitar matanya dan polesan gincu berwarna merah tua seolah membuat Adam sedang berhadapan dengan orang lain.


Ia tidak pernah mengerti...meski ia selalu berkata bahwa ia bisa menebak semua hal yang dilakukan Psyche.


"Aku tidak akan berbicara sebagai bawahanmu meski kita sedang berada di kantor sekarang."


Wanita itu berdiri angkuh di sana, setelah masuk tanpa salam dan penghormatan.


"Sungguh, aku baru tahu bahwa kau adalah wanita yang tidak mempunyai sopan santun sama sekali."


Psyche mendengus. Tidak ada sopan santun untuk ******** sepertinya.


"Kantor adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa bertemu denganmu, jadi langsung saja, aku ingin kau minta maaf kepada Leon."


Goresan tinta hitam di lembaran kertas putih itu terhenti. Setelah mengabaikan segala sopan santunnya, sekarang wanita itu menyuruhnya untuk meminta maaf kepada pria lain?!


"Katakan sekali lagi dan aku tak akan segan merobek mulutmu."


Psyche menyadarinya. Semua perlakuan dan perkataannya jelas akan membuat Adam murka. Tapi ia senang, karena ini yang ia inginkan. Memancing pria itu untuk selalu keluar dari zona amannya.


"Atas dasar apa kau berhak memerintahku?! Kembalilah ke tempatmu dan jangan mengatakan apa pun lagi jika kau masih ingin bekerja di sini!"


Pria itu menggebrak meja tanpa peringatan. Meski terkejut, beruntung Psyche masih bisa mengendalikan ekspresi wajahnya.


"Kau tahu Adam, perlakuanku padamu saat ini tak jauh beda dengan perlakuanmu pada Leon. Kau bahkan mempermalukannya di depan semua orang." Psyche mengambil satu langkah ke depan dan tak mengacuhkan ancaman pria itu. Matanya berkilat serius. "Aku sudah tak peduli lagi kau melakukannya untuk siapa dan untuk alasan apa, yang aku pedulikan adalah Leon. Dia temanku."


Setelah semua perkataan yang menyakiti harga dirinya, Psyche pergi dengan bantingan keras pada pintu. Semakin menginjak harga dirinya ke titik terendah yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun.


Adam tertawa. Secara tak sadar bolpoin dalam genggamannya telah patah menjadi dua.


.


.


.


Seperti deja vu, dalam mobil yang sama dengan seorang wanita di atas pangkuannya.


Bibir mereka saling bertaut mesra, namun rasanya berbeda dari terakhir kali ia mencecapnya. Pinggang yang kini ia rengkuh pun rasanya lebih ramping dan kecil. Dan saat ia membuka mata, bukan warna keperakan yang ia temui, melainkan hijau zamrud yang juga menatapnya sendu.


"Berhenti."


Ia tak akan menolak pesona seorang wanita cantik seperti Miranda, untuk itu ia menyambut ciumannya tanpa pikir panjang. Tapi saat ia menyadari bahwa rasanya begitu hambar, Adam kembali ke alam sadarnya. Seperti ada sesuatu yang menariknya dari ciuman itu dan tanpa sadar mendorong tubuh wanita itu untuk menjauh. Menyudahi apa pun yang mengusik hatinya—nah sejak kapan ia mulai menggunakan hati?


Pria itu mulai tak masuk akal.


"Ada apa, Adam?"


Miranda tak terima saat tautannya di lepas secara sepihak. Ia mengenal Adam lebih dari apa pun dan siapa pun. Bukan Adam yang suka berhenti di tengah jalan seperti ini.


"Tidak ada." Pria itu menjawab dengan tenang seraya memindahkan Miranda kembali ke tempat duduknya. "Masuklah."


Miranda menatap pria itu untuk beberapa saat, kemudian mendengus pelan. "Aneh sekali, seperti bukan dirimu saja."


Kedua pupil hitamnya melebar. Sekelebat bayang Psyche yang memeluknya dengan begitu mesra seolah tergambar jelas di hadapannya.


"Adam?"


Lalu suara Miranda kembali terdengar, menghapus bayangan itu dalam sekejap.


"Kau kenapa, sih?" katanya setengah kesal.


Adam memejamkan matanya sejenak sebelum melirik wanita itu. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa sosok itu bukanlah wanita berambut gelap dengan sepasang mata berwarna perak.


Napasnya tertahan saat ia bertanya, "Bagaimana perasaanmu padaku, Miranda?"


Wanita itu sempat terenyak. Namun kembali menormalkan ekspresi terkejutnya dan terkekeh pelan. "Setelah semua ini kau bertanya tentang bagaimana perasaanku?" Ada nada sinis yang ia temukan di sana. "Menurutmu bagaimana, Adam?"


"Aku bertanya padamu."


Melihat wajah serius pria itu mau tak mau membuat Miranda ikut terbawa arus. Ia benci situasi tegang seperti ini. Karena Adam tidak pernah seserius ini sebelumnya.


"Aku akan tetap diam jika itu bisa membuatmu berada di sisiku. Bukankah kehadiran satu sama lain sudah cukup daripada ungkapan cinta yang malah membuat semuanya makin rumit?" Miranda mencoba untuk menemukan dirinya di dalam dua manik hitam itu. Apakah keberadaan dirinya kini mulai diperhatikan oleh Sang Pria, ataukah, sebenarnya Adam sedang mencoba mencari dirinya sendiri...


"Kau selalu ada untukku dan kau tidak pernah membicarakanku seperti mereka, bagiku itu sudah cukup, Adam." Miranda menghela napas. Membawa pandangannya ke arah lain setelah ia tak menemukan apa-apa di sana. "Tidak peduli bagaimana orang-orang membicarakanmu juga—bahkan kita, selama kita bahagia mengapa kita harus mempermasalahkan perasaan?"


"Lalu bagaimana dengan Psyche?" Adam melemparkan pertanyaan yang tak terduga.


Miranda mengerjap. Ada sesuatu yang berdengung keras di telinganya saat Adam menyebut nama wanita itu.


"Apa kau pernah memikirkannya, Miranda? Sebagai sesama wanita, kupikir kau—"


"Bukankah kau hanya penasaran padanya?" Miranda menyahut dengan cepat. "Sama seperti yang lain. Kau berhubungan dengan mereka karena kau penasaran saja. Mencari tantangan. Bedanya mereka denganku, mereka tak mau perasaan mereka terombang-ambing tanpa ikatan yang pasti."


"Dan kau melakukan hal yang sama padaku."


Keduanya terdiam. Hanya saling melirik dari ekor mata mereka.


Terasa aneh ketika mereka berbincang tentang hal yang tidak pernah mereka singgung sama sekali. Lebih aneh karena Adam yang memulai. Mereka sama-sama tahu seperti apa mereka.


Mungkin apa yang Miranda katakan benar, meski tanpa ikatan mereka masih bisa berhubungan baik hingga sekarang. Tetapi, mengapa sekarang Adam merasa cemas akan sesuatu yang ia tidak tahu apa itu. Sebagian besar dalam dirinya tidak merasa senang. Tidak nyaman.


Miranda tersenyum hambar. Ia menatap jalanan gelap di depan sana. Seperti itulah hubungan mereka selama ini. Orang-orang tidak bisa melihat dengan jelas hubungan apa yang terjadi di antara keduanya.


"Apa kau mulai merasa bahwa semua ini tidak benar, Adam?" Wanita itu kembali bersuara, "Apakah hatimu telah goyah?"


Lama tak ada jawaban. Miranda melihat pria itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela sambil sedikit menyandar pada kursi. Tidak ada tanda-tanda bahwa Adam akan menjawab, jadi Miranda rasa semua percakapan ini telah berakhir.


Sebelum semuanya terungkap dengan jelas, ia berpamitan kepada pria itu. "Aku akan masuk. Terima kasih sudah mengantarku pulang."


Adam hanya melirik sedikit ketika Miranda menutup pintu dan berlalu tanpa berbalik lagi.


Wanita itu selalu tegap ketika berjalan. Tidak pernah terlihat lemah dan memerlukan bantuan orang lain untuk menopangnya. Dan bagaimana Miranda menyikapinya dengan segala pengertian, itu membuat Adam merasa nyaman.


Semua akalnya menyukai wanita itu, menyebut Miranda sebagai wanita sempurna yang cocok untuk mendampinginya. Tapi kenyataannya berbalik, ia bahkan memikirkan wanita lain di saat berciuman dengannya.


Ia malah memikirkan Psyche yang selalu dimakinya dan disebutnya sebagai wanita pembangkang.


Adam takut. Ia mulai tak mengenali dirinya sendiri.